Tuesday, December 21, 2010

Lelaki Tua di Suhu Minus Lima

Dia berdiri melongok ke bawah jembatan, dimana mengalir sungai kecil yang cukup jernih. Seluruh pakaiannya hitam termasuk topi model lama yang menutupi sebagian rambutnya yang seluruhnya putih, seputih salju di sekitar. Saya pun mengenal lelaki ini hanya sebatas tampak belakang. Atau sebut saja sebatas punggung.

Meski sekelilingnya tertutup salju dan membeku, air sungai yang mengalir di bawah jembatan sama sekali tidak terganggu. Bahkan itik-itik liar masih berenang riang di sana. Saya tidak mengira bahwa itik masih bisa berenang di air yang pasti demikian dingin.

Lelaki tua di jembatan terlihat gusar, lalu buru-buru mengeluarkan sesuatu dari kantung yang dibawanya. Remah roti. Cepat ia taburkan ke bawah jembatan. Lalu, entah apa yang dilihatnya, ia berlari menyebrang jalan sambil memegang kantung berisi remah roti yang terguncang-guncang. Saya tak bisa berhenti memandanginya meski sambil terus melangkah. Lelaki tua menuju sisi lain jembatan, ia menabur semua remah roti yang dibawanya. Begitu selesai, ia melenggang tenang seolah baru saja selesai menunaikan tugas penting. Rupanya, itik liar berenang ke sisi lain jembatan dan lelaki tua mengejar demi memberikan remah roti yang sengaja disisihkannya.

Saya pun melanjutkan langkah dengan pandangan ke depan (sebelumnya saya berjalan sambil melihat ke belakang--ke arah lelaki tua). Kedua telapak tangan tersembunyi di kantung jaket sebab sarung tangan tak cukup menangkal dingin. Saya berjalan sambil menunduk, demi menghangatkan sebagian wajah dengan cara menyembunyikannya di balik syal wool warna maroon. Minus lima derajat; suhu udara pagi ini. Begitu yang saya dengar dari berita prakiraan cuaca hari ini.

Saat-saat seperti ini, sebagian besar orang akan memilih untuk berada di rumah yang hangat sambil minum teh bunga kamomil, dan bukan berada di jalanan apalagi untuk alasan memberi makan itik liar di bawah jembatan!

***

Sepertinya saya memang diberi kesempatan mengenal lelaki tua hanya sebatas pungggung. Beberapa hari kemudian, saya melihatnya (tampak belakang) hendak menyeberang jalan. Jaket hitam dan topi hitam yang sama, yang menutupi rambut seputih salju, membuat saya yakin bahwa dia memang lelaki tua yang memberi makan itik liar di bawah jembatan.




*Musim Dingin di Hamburg, 2009

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...