Monday, June 30, 2014

Free Writing Bersama Caca & Lala: Pizza Rasa Cinta!


Bisa dibilang ini kali pertama saya menulis bersama anak-anak. Siapa sangka, ternyata saya pun belajar beberapa hal dari mereka.

Suatu pagi menjelang siang (24/6), Caca masuk ke kamar sambil main game di HP saya. Saya pun melihat kesempatan mengajak Caca dan Lala untuk menulis bersama. Awalnya saya cerita pada Caca bahwa saya sering mengirim kuis ke majalah sewaktu masih kecil dan mendapat hadiah. Saya juga menulis artikel dan pernah dimuat juga, bahkan saya bisa jalan-jalan gratis karena saya menulis. Lalu saya menunjukkan buku kumpulan cerpen bersama teman-teman klub nulis di Bandung berjudul A to Z by Request--buku yang diterbitkan pertama yang mencetak nama saya, meski hanya menyumbang 1 cerpen saja.

Melihat nama saya tertera di sana, Caca tertarik membacanya. Ia pun membawa buku tersebut ke ruang tamu. Tak lama, mamanya datang dan melihat buku tersebut. Eh, kakak ipar pun tertarik membaca dan meminjamnya untuk dibawa pulang. Caca sempat bilang, "Yah bukunya dibawa Mama, padahal Caca pengen baca."

Mendengar ini, saya lalu mengajaknya untuk belajar menulis saja. Saya menceritakan bahwa konsepnya akan sama dengan kegiatan menulis bersama dengan teman-teman di klub nulis. Meski ragu-ragu, Caca akhirnya mau juga, termasuk Lala yang baru masuk kamar.

Seperti yang sudah disebutkan, prosedurnya mengadopsi apa yang saya praktekkan di klub nulis RLWC. Thanks to RLWC. Saya menentukan tiga tema (cupcakes, pizza, dan boneka anjing) yang ditulis dikertas lalu digulung dan diundi. Saya kasih waktu 10 menit. Selesai menulis, kami membacakan karya kami secara bergantian sesuai hasil 'hom-pim-pah'. Saya juga merekam suara mereka membacakan tulisan masing-masing.

Pada sesi pertama, Lala mendapat giliran pertama membaca. Ia begitu malu-malu membacakan ceritanya. Saat menulis pun ia banyak komentar, "Nulisnya gimana?" Saya mengusulkan, "Ya tulis aja, apa pun. Tulis aja 'duh nulis apa ya, misalnya.". Alhasil, tulisannya pun singkat saja. Di bawah ini nanti adalah tulisannya yang kedua. Setelah mendengar tulisan Aunty dan kakaknya, ia jadi lebih bersemangat menulis. Kami bahkan melewati 4 atau 5 kali sesi menulis, karena Lala minta nulis lagi dan lagi.

Berikut adalah beberapa hal yang saya pelajari kemarin:

Jujur dan apa adanya adalah hal pertama khas anak-anak. Itu pula yang saya rasakan saat saya mendengar tulisan mereka. Ada kesan tersendiri yang ditangkap oleh indera saat saya mendengar cara mereka menerjemahkan tema ke dalam tulisan.  

Meski sederhana, Caca bisa menuangkan idenya tentang "Cupcakes" di kertas dengan lancar dan jujur. 

Tulisan Caca, tema "Cupcakes"
Selain tulisan singkat di atas, Caca juga bahkan bisa menulis cerpen utuh dan selesai sebelum waktu yang ditentukan habis. Cerpen yang juga membuat saya terkesan, meski sederhana khas anak-anak. Saya tidak menyangka akan bakat mereka. Saya langsung membandingkan dengan diri sendiri; saat saya seusia mereka, belum tentu saya bisa menulis seperti itu.

Dari kegiatan menulis bersama ini, tentu saya juga berkesempatan mengenali emosi, perasaan, dan keinginan mereka. Saya jadi tahu, bahwa Caca belum pernah makan cupcakes dan bertanya-tanya seperti apa rasanya. Saya sempat bilang bahwa nanti kami akan belajar bikin cupcakes. Mereka sangat bersemangat dan terus menagih janji saya. Sayang saya belum bisa memenuhinya. Belum browsing resep dan bahannya saya belum tahu harus cari ke mana. Tapi dari game yang mereka mainkan, mereka menuliskan untuk saya resep cupcakes, hanya saja tidak ada takaran untuk tiap bahan. Duh, jadi makin merasa berdosa belum bisa ngajak mereka bikin. 

Saya jadi lebih mengenal mereka melalui media tulisan. Jika tidak melewati kegiatan ini, saya mungkin tidak pernah tahu bahwa Caca belum pernah makan cupcakes dan ia bertanya-tanya seperti apa rasanya. 

Saya juga jadi tahu bahwa meski masih kecil, Lala mengerti makna kata "Kecewa" dan bisa mengungkapkan makna kecewa dengan apik dalam sebuah cerita. Selama ini, Lala tampak jarang mengungkapkan emosinya. Ia banyak diam tapi diamnya adalah memperhatikan. Ia sangat peka terhadap lingkungan serta keadaan dan perasaan orang lain. Tapi ia jarang bicara tentang dirinya, keinginannya apalagi emosinya. Mendengar ia membacakan tulisan kecewa, saya (lagi-lagi) terkesan. 

Dalam tulisannya, tokoh aku menantikan kejutan ultah. Aku bahkan berpikir untuk berdandan cantik demi menyambut kejutan. Eh,di akhir cerita, aku harus kecewa karena kejutan yang ditunggu tak datang sebab ayah dan mama sangat sibuk. Kasian.... Saya langsung menanyakan kapan ia akan ultah, dan berjanji dalam hati akan mengingatnya. 

Tulisan Lala, tema "Kecewa"

Saya pernah membaca bawasannya feeling message atau ungkapan perasaan tentang apa yang kita alami (atau cara kita memaknai sesuatu) akan jauh lebih mengena dan menarik untuk didengar dari pada hanya ungkapan fakta tentang apa yang terjadi. Di dalamnya terdapat emosi. Feeling message memberi kita kesempatan untuk mengenali emosi seseorang lebih jauh. Hal ini terbukti saat saya mendengar setiap tulisan pengalaman mereka.

Selanjutnya yang saya pelajari saat menulis bersama mereka....hmmm... mungkin kalian pernah mendengar tips menulis bahwa sebelum menulis adalah penting menentukan siapa yang akan membaca tulisan kita (target pembaca). Selama ini, saya tahu tentang ini tapi sepertinya tidak sungguh-sungguh menerapkannya. Pentingnya tips ini baru sangat saya sadari saat saya menulis bersama mereka. Saat saya tahu pasti bahwa tulisan saya ditujukan untuk mereka atau tahu pasti siapa yang akan mendengar (atau membaca) tulisan saya, otomatis gaya bahasa, sebutan, dan cara saya menulis sudah terbentuk sejak awal.

Di tulisan saya yang bertema "Pizza", saya memilih memakai sebutan Aunty (panggilan mereka untuk saya), paman (panggilan untuk hubby-ku) dan Nyai (panggilan untuk nenek mereka) dan bukannya menyebut 'aku', 'hubby-ku', 'mama mertua-ku. Ada perbedaan besar hanya dengan mengganti panggilan (sebutan untuk tokoh) lantaran sudah tahu siapa target pembacanya--terkesan lebih spesifik dan lebih dekat.

Saya menulis: 
Suatu hari, paman pulang bawa pizza ukuran besar. Yummy. Pizzanya rasa sapi lada hitam. Enak deh. Rasanya hampir mirip semur daging buatan Nyai. Saat Aunty dan Paman makan pizza, Nyai datang. Nyai pun ditawari pizza, tapi langsung menolak. 

Akhirnya ya udah deh, Aunty pun makan 2 potong besar pizza, eh malah 3 potong! Besoknya, Aunty juga sarapan pizza. Pizzanya masih bagus kok, soalnya Aunty simpan di kulkas. Saat ingin dimakan, pizzanya dihangatkan dulu di rice cooker...... dst.

Oh ya ada kejadian lucu tentang tulisan pizza ini. Rupanya kalimat pembuka tulisan ini sangat melekat di ingatan Lala. Hingga, saat kami sudah selesai menulis dan sedang duduk bersama, Lala mengulang kalimat pembuka tersebut, "Suatu hari paman pulang bawa pizza...."

Mendengar ini kontan saya bertanya, "Terus...? Pizzanya rasa apa?" Karena di tulisan saya, rasa pizza adalah kalimat lanjutannya. Saya ingin menguji ingatannya.

Belum sempat Lala menjawab, Caca nyeletuk dengan entengnya, "Rasa cintaaaa...."

Hahaha.... Pizza rasa cinta! Kami tertawa bersama mendengarnya.

Di tulisan lain, saya menutup tulisan dengan sebuah pertanyaan. Dan selesai saya membacanya, mereka langsung menjawab pertanyaan saya tersebut. Mungkin mereka merasa harus menjawabnya, sebab merasa tulisan saya ditujukan untuk mereka. 

***

Sudah lama saya tidak mempraktekkan free writing bersama. Kegiatan kemarin menjadi semacam nostalgia, hanya saja teman menulisnya anak-anak. Karenanya, saya 'mengalami' dan belajar beberapa hal baru. 








Saturday, June 28, 2014

Seminggu Bersama Caca dan Lala

Seminggu belakangan, sejak hubby terbang ke pulau nun jauh di sana, ada dua keponakan yang menginap di rumah sini. Ada Caca (10 thn) dan Lala (7 tahun).

Meski mereka lebih banyak sibuk main game di Ipad pamannya (hubbyku--red.) atau di HP saya, kehadiran dua bocah yang sedang libur sekolah ini membuat ramai rumah. Ada saja tingkah atau celotehan mereka yang membuat tertawa, terheran-heran, takjub, juga termasuk kesal. Tapi, kesan tersebut yang membuat hari-hari belakangan jadi lebih 'kaya'--kaya dalam hal emosi, cerita dan lainnya. 

Saat bangun pagi, hal pertama yang mereka cari adalah Ipad, dan sebelum tidur hal terakhir yang mereka lakukan adalah men-charge Ipad agar bisa langsung dipakai esok paginya. Sarapan Ipad. Bisa dibilang mereka hanya berhenti ketika harus makan, mandi atau ketika Nyai (panggilan untuk nenek mereka a.k.a mama mertua) mereka melarang. Saat Caca yang pegang Ipad, Lala akan pegang dan main game di HP saya dan sebaliknya. 

Meski hampir seharian mereka sibuk dengan game masing-masing, mereka tak pernah membiarkan saya berlama-lama sendiri. Terlebih lagi Lala. Setiap saya masuk kamar, bisa dipastikan tak lama ia akan masuk dan menyapa. Sambil membawa Ipad ia akan berbaring main game di dekat saya. Pernah pagi-pagi sekali, ditengah kesibukan main game, tiba-tiba ia mencium kening saya. Tanpa rasa berdosa. Saat saya memandanginya, ia hanya tertawa malu. Kadang saya menggodanya, "Siapa yang sayang aunty?" Lalu Lala dengan cepat menjawab, "Nggak ada."

Pernah juga suatu kali ia masuk (tanpa Ipad di tangan sebab dipakai oleh Caca), hanya untuk bertanya "Aunty kok ga keluar-keluar kamar?" Atau beberapa kali, ia sekedar datang memeluk atau ragu-ragu menciumi pipi aunty-nya yang sibuk dengan HP.

Bahkan ketika di depan TV; saat Ipad di tangan Caca, dapat dipastikan Lala akan nempel pada saya; memeluk lengan saya atau kadang-kadang melotot pada saya saat saya menasehati ia, misal saat saya menyuruh mandi atau makan atau melarang ini itu. Kami juga pernah adu melotot tapi sambil tertawa-tawa. Pokoknya kalau aunty-nya tampak diam, Lala tidak akan tinggal diam. Dengan caranya sendiri ia berusaha 'ada' untuk saya. Saya merasa disayang.

Lain Lala, lain Caca... Caca lebih sering membuat saya takjub dengan pertanyaan-pertanyaannya. Pernah dia bertanya, "Aunty, emang kalau cokelat diliatin aja bisa abis ya?" Hahahah.... Bagaimana cerita cokelat dipelototin bisa abis?

***

Sebagai orang dewasa (ceileehh...), saya prihatin dan merasa bersalah melihat mereka sibuk dengan game. Saya mengadili diri saya sendiri "Aunty macam apa saya ini, ga bisa mengajak mereka melakukan sesuatu yang bisa mengalihkan mereka dari game."

Dengan pendekatan pelan-pelan, saya berhasil mengalihkan mereka. Meski tak banyak pengalihan yang saya lakukan, paling tidak porsi main game mereka berkurang. Hari Selasa kemarin (24/6), kami melakukan ritual menulis bersama. Saya tidak menyangka dengan kemampuan mereka menulis, terlebih Caca. Ia bahkan menulis cerpen utuh hanya dalam waktu sekira 15 menit.

Konsepnya sama dengan klub nulis yang saya ikuti; pertama akan ada tema yang diundi, setiap orang mendapat satu tema dan harus menulis dengan tema tersebut selama waktu yang ditentukan, lalu akhirnya setiap orang akan membacakan masing-masing tulisan karyanya.

Lala yang tadinya malu-malu dan ogah-ogahan jadi ketagihan menulis. Aunty-nya sudah bosan dan ngantuk, ia masih semangat ingin nulis lagi. Saya akan ceritakan karya mereka dan apa yang saya pelajari dari mereka, khususnya tentang menulis, di tulisan terpisah.

Kami juga membaca buku bersama. Caca menghabiskan novel tebal Sundea, berjudul "Dunia Adin" dalam 2 hari. Woww... Aunty aja butuh waktu berminggu-minggu. Kalau Lala ini manja, dia nggak mau baca sendiri. Saya pun membacakannya cerita dari "Salamatahari". Saya minta ia memilih sendiri cerita mana yang ingin dia dengar dengan melihat daftar judul-judul. Sejak itu, besoknya ketika akan tidur, dia akan bilang, "Salamatahari...." sambil menyodorkan buku kecil yang tadinya hanya dimain-mainkan pita kuningnya. Saya akan membacakan 2 atau 3 cerita, lalu ia pun tidur.

Kadang ia masih mengganggu saya, saat saya sibuk menerima telpon pamannya atau bbman dengan teman. Jadi dia yang balik nyuruh tidur, ya usap-usap pipi atau pencet-pencet hidung saya, sambil curi-curi cium pipi malu-malu. 

Pernah ia bilang sambil mencet hidung, "si pesek..."
"Siapa yang pesek?" tanya saya.
"Aunty..."
"Emang  Lala mancung?"
"Enggak...hehehehe..."
Saya pun terbahak mendengarnya. 

Pernah saya suruh ia lekas tidur sementara saya sibuk bbman, dia bilang: "Enggak. Saya nggak mau tidur. Saya belum siap."

Ealaaahhh....apaaa kali? hahaa....

Kami juga sempat bikin kue bersama. Mereka ingin sekali bikin cupcakes, tapi sayang saya belum bisa merealisasikan. Awalnya karena tulisan Caca yang bertema tentang cupcakes. Saya menjadikan cupcakes sebagai tema karena mereka suka main game cupcakes. Di akhir tulisan, Caca bilang belum pernah makan cupcakes. Lalu tercetus dari saya, "Mau bikin nggak? Tar kita bikin."

Dan sodara-sodara, jangan pernah menjanjikan apapun pada anak-anak karena mereka akan ingat dan menagih janji. Karena bahannya susah kayaknya, saya tawarkan bikin kue kering, mereka juga excited. Tapi sayang alatnya nggak ada. Lalu Lala meminta, "Bikin kue bolu aja, Aunty. Pake keju dan susu." Jadilah bikin bolu tapi bolu gula merah dengan sedikit keju, hahahaa....

Mereka saya beri tugas, Lala parut keju, Caca ngayak tepung, dll. Di tengah proses bikin kue, yang marut keju nyerah karena kejunya susah diparut dan beralih jadi seksi dokumentasi, motretin aunty dan kakaknya.

Pernah kami nonton Aksi Junior Indosiar, dimana ada penceramah cilik bernama Asep. Nah, selama Asep ceramah, Lala sibuk mukul-mukulin bantal kursi ke mukanya atau dilempar-tangkap beberapa kali. Saya sempat melarang karena debunya keluar semua nantinya. Saya nggak mikir aneh-aneh tentang sikap Lala.

Lalu tiba-tiba, Caca nyeletuk begini: "Kenapa sih, La kamu La? Orang lain yang ceramah kok kamu yang malu."

Mendengarnya, saya terbahak. Saya pun ikut-ikutan menggoda Lala, "Oooh...jadi Lala suka Asep ya?" Tentu saja pertanyaan ini langsung disangkal mentah-mentah sambil melotot-melotot ga jelas.

Kami juga main game Tebak Gambar bersama. Game ini kadang-kadang bikin bingung. Kalau udah bingung gamenya dialihkan ke game lain, nanti dibuka lagi, dibahas dan didiskusikan bareng-bareng jawabannya. Setelah diendapkan, sering bisa kejawab deh.

Dan masih banyak lagi 'keajaiban' mereka yang meramaikan suasana dan hari-hari saya, khususnya seminggu ini.


Tadi siang mereka pulang. Dan rumah langsung sepi. :(




NB:
Saya ingin mengingat momen bersama mereka karena itu saya menuliskannya. 



Monday, June 23, 2014

Kenangan yang Nyaris Hilang: Pulau Lembongan Bali

Pulau Lembongan sepertinya tidak terlalu akrab ya di telinga kita. Tapi, mengunjungi pulau ini saat kalian berkesempatan ke Bali akan memberikan pengalaman tersendiri. 

Pemandangan sepanjang jalan menuju Pulau Lembongan

Pulau Lembongan memang agak jauh dari pusat pariwisata Bali, untuk mencapainya harus naik perahu kayu atau speedboat dari Pantai Sanur. Atau bagi yang berkocek tebal bisa menikmati kemewahan jasa cruise (kapal pesiar) yang memang menyediakan jasa mengunjungi pulau tersebut, lengkap dengan kemewahan lain yang bisa dinikmati di cruise-nya itu sendiri. Dibutuhkan waktu sekira satu jam dengan cruise atau speedboat dan 1,5 jam dengan menumpang perahu kayu untuk tiba di pulau tersebut. 

Meski saya tidak berkocek tebal, beruntung saya bisa mengunjungi pulau cantik di Tenggara Bali ini dengan menumpang cruise, Bali Hai II Reef Cruise namanya. Tiket menunjukkan harga Rp800.000,00 dengan mendapat fasilitas untuk menikmati hampir semua kesenangan yang ditawarkan di cruise (banana boat, snorkeling, scuba diving, village tour, coral viewer, makan siang, dll). Fasilitas seperti parasailing tidak termasuk dalam paket ini. 

Bisa dibilang saya beruntung ya bisa naik cruise gratis, tapi sayangnya sebab saya sedang bekerja (meliput--red.) maka semua kesenangan tersebut tidak bisa sepenuhnya saya nikmati. Lah wong saya harus kerja nenteng-nenteng kamera dan mengabadikan gambar. 

salah satu ruangan cruise. pemandangan air laut dengan biru sembpurna dari dalam pesiar....
Ada rasa bangga tapi juga sedih sekaligus saat saya naik cruise ini. Pasalnya hampir semua penumpang cruise (mungkin 99%) adalah bule. Orang Indonesia hanyalah para pekerjanya. Saya sempet mikir jangan-jangan hanya saya penumpang yang orang Indonesia. Lalu, saya melihat satu keluarga Indonesia saja. Orang Indonesianya ke mana? Apa kurang mampu atau memang ga tertarik ya? Kalau karena kurang mampu bayar cruise yang mahal, miris amat ya... Keindahan alam kita hanya untuk orang asing. Dan kita hanya jadi pekerja, termasuk saya yang naik karena urusan kerja. 

Tufa dan suami menikmati banana boat, saya menonton. Lalu...lalu....eh ada coral viewer. Karena tak harus berbasah-basahan dan tetap aman dengan menenteng kamera, saya ikut naik fasilitas ini. Coral viewer ini memungkinkan kita bisa melihat alam bawah laut tanpa berbasah ria (tanpa harus bersnorkeling atau diving). Coral viewer memiliki ruang yang memungkinkan kita duduk manis di bangku kayu, kedua sisi ruangnya tembus pandang dan langsung menampilkan pemandangan bawah laut di kedalaman lebih 10 meter. Nah, jadi begitu masuk coral viewer, kita akan langsung turun tangga yang mengantar kita ke ruangan bawah laut tersebut. 

ini dia coral viewer
Kesenangan melihat ikan-ikan sambil muter-muter di sekitar cruise utama ini hanya berlangsung 15 menit. Saya bisa melihat banyak ikan kecil-kecil tapi sayang ga bisa difoto. Sayangnya pula, terumbu karangnya kurang indah. Menurut seorang pegawai (orang Bali), yang datang menemani saya duduk, dulunya karang di sini banyak, tapi karena apa ya lupa, jadi banyak yang rusak. Pegawai cruise ini lumayan lama juga ngajak ngobrol padahal saya lagi malas berbasa-basi. Tapi berhubung saya lagi kerja, lumayan juga cari-cari tambahan informasi dari beliau, seperti tanya-tanya tentang kedalaman coral viewer yang kami tumpangi, penyebab rusaknya terumbu karang di sekitaran, dll.

Selesai makan siang, saya mengajak Tufa dan suaminya untuk ikut village tour ke Pulau Lembongan. Cruise tidak menuju ke pulau ini, ia hanya berenti (stand by) di pontoon (kira-kira tempat parkir gitu deh). Kami harus menumpang speedboat lagi untuk sampai di Lembongan. Jadwal village Tour setiap 1 jam sekali. 

cantiiik...
Seorang tour guide sudah menyambut kami. Rombongan terdiri dari sekira 10 orang. Banyak rumput laut tampak dijemur di sepanjang jalan perkampungan di Pulau Lembongan. Memang banyak penduduk yang bekerja sebagai petani rumput laut.

Kami juga di antar melihat pohon yang usianya ratusan tahun, di dekat pohon banyak terdapat kuburan sementara orang-orang Bali yang belum bisa di Ngaben karena alasan biaya. Maklum biaya Ngaben bisa puluhan juta, dan sebelum dana itu terkumpul, jasad dikubur sampai waktunya nanti di bakar dengan upacara Ngaben. Bisa sampai belasan tahun, jasad tersebut belum bisa diNgaben-kan.


rombongan tour
Tour berlangsung sekira 45 menit. Kami berjalan menyusuri kampung; melihat puskesmas, mengobrol bersama pengrajin tenun ikat, melihat anak manjat pohon. Untuk para turis asing, atraksi ini menarik. Beberapa dari mereka mencoba ikut memanjat pohon dan tertawa-tawa riang karenanya. Kami juga mengunjungi toko yang menjual kain khas tradisional. Kami disuguhi air kelapa muda di toko ini. 

Selesai village tour, kami duduk di sebuah warung sambil menunggu boat yang menjemput datang. Tidak merasa bosan-bosan amat karena pemandangannya menyejukkan mata, menyenangkan hati yang gundah gulana... *apa coba? hehe....

kami duduk di bawah warung tepi pantai menunggu jemputan dan dimanjakan dengan pemandangan cantik ini
***

Kenapa kenangan ini saya bilang nyaris hilang? Saya bahkan lupa nama pulau yang sempat saya kunjungi dengan pesiar tersebut, kemewahan yang (seharusnya) bisa saya nikmati dan secara gratis pula, serta keindahan alam yang (seharusnya) sangat mengesankan saya, dan kenangan lainnya yang seharusnya terekam baik di memori mereka yang suka jalan-jalan. 

Untung ada tulisan news di web Kemenparekraf yang menjadi dokumentasi singkat perjalanan ke sana. Dari artikel tersebut, saya bisa menggali ingatan saat ke Lembongan. Ini link nya di sini

Semua hal yang sebelumnya menjadi impian dan membuat iri banyak pecinta jalan-jalan itu jadi tidak penting dan nyaris terlupakan (karena tidak dinikmati) dan sebabnya adalah karena... GALAU. Heheheh... jadi pada akhir Januari 2013 itu adalah masa yang sangat rentan (ceileh); istilahnya mah badan di mana pikiran ke mana... (aduhai curcol).

Uppss... sebelum jadi curhat colongan, dan karena galaunya sudah lewat, jadi mending bahas latar belakang penugasan saya ke sana.

Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, akhir Januari 2013, saya ditugaskan meliput dan menemani kegiatan pemenang lomba lari New York Marathon yang berlibur ke Bali, namanya Tufa dari Ethiopia. Apa hubungannya New York Marathon dan Bali dan saya? 

Jadi ceritanya ajang New York Marathon itu kan ditonton ratusan juta penduduk dunia, nah, Kemenparekraf melihat ini sebagai peluang besar untuk mempromosikan keindahan dan pariwisata Indonesia (khususnya Bali). Kemenparekraf pun menjadi salah satu sponsor untuk event dunia tersebut dengan memberi hadiah gratis jalan-jalan bagi pemenang lomba marathon. Dengan harapan, keindahan Bali akan kian tersiar melalui cerita pengalaman para pemenang lari yang diundang berlibur gratis ke Bali. 

Saya menemani mereka selama 3 hari di Bali, termasuk sehari perjalan PP ke Yogyakarta. Kala itu saya masih menjadi copywriter untuk konten website resmi Kemenparekraf. 

Demikian. :)




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...