Monday, August 31, 2009

Free Writing: Semut Merah, (dulu) Teman, Maaf, dan Tuhan

Waktu nulis ini, ada beberapa semut merah berkeliaran di lantai. Tapi, saya ga malu sama mereka. Abis mereka ga berbaris di dinding sambil menatap saya penuh curiga, apalagi sambil bertanya saya sedang apa. Maka saya ga perlu menjadi malu dan menjawab menunggu pacar. Dan yang pasti, alasan kenapa saya ga malu adalah karena saya bukan Obbie Messakh! Hahaha...

Kok aneh banget ya pembuka tulisan ini. Tapi biar deh, namanya juga free writing. Tidak mau diedit. Tidak perlu diedit.

 Saya lagi inget temen. Temen yang cukup akrab. Tapi dulu. Sekarang ga lagi. Ga mau lagi. Saya belum bisa maafin dia. Berdosa ga ya? Sedang Tuhan aja Maha Pengampun dan Maha Pemaaf. Lalu siapa saya kok berani-beraninya tidak memaafkan?! Eh, tapi kan saya hanya manusia biasa, ga luput dari salah juga. Jadi bisakah saya tidak memaafkan dengan alasan bahwa saya bukan Tuhan? Bahwa saya hanya manusia? Ehm...

Teman saya juga manusia; mungkin dia dulu khilaf dan sekarang sudah insaf. Saya juga pasti punya salah sama dia, mengingat kita menuai apa yang kita tanam. Mungkin teman ini sekarang sudah berubah. Saya juga banyak berubah sejak tahun itu. Tapi, ya ampun... Emang mudah apa maafin gitu aja. Luka di hati masih belum kering. Perasaan sakit karena merasa dikhianati temen sendiri belum lagi terobati.

Sekali lagi, berlebihan kah kalau saya belum mau memaafkan? Saya tidak lagi sudi, tak lagi berminat berbasa-basi dengan temen ini. Saya ga lagi bisa melabeli dirinya sebagai temen saya. Tapi saya juga ga melabeli dia sebagai musuh kok. Saya juga males melabeli dia sebagai bekas temen lama. Aduh, jadi bingung saya! Untuk sementara saya biarin dia tanpa label aja deh. Tapi aneh juga ya kalau dia ga punya label apa-apa. Bahkan makhluk tak kasat mata aja punya label: hantu namanya...

Dipikir-pikir, kalau dulu saya ga bermasalah dengan temen ini, tentu saya ga akan ketemu dengan temen-temen yang sekarang: (salah satunya) temen-temen klab nulis! Karena bermasalah dengannya, saya lari ke tempat lain. Menyibukkan diri biar lupa dengan sakit hati. Hingga akhirnya ketemu temen-temen baru yang saat bersama mereka, saya merasa seolah "menemukan diri" saya yang lain. Wah kalau sudah begini, rasanya akan bijaksana jika saya memaafkan temen ini dan berterimakasih ya. Karena secara ga langsung, dia membuat saya menemukan tempat, temen, dan kehidupan lain yang menyenangkan, yang kemudian membawa saya ke tempat dan pengalaman baru yang tak kalah menyenangkan.

 Ah! Tapi, tetep ga bisa! Saya belum bisa bersikap biasa dan seolah ga pernah terjadi apa-apa, lalu maafin dia, terus dengan senang hati berbasa-basi lagi untuk menyambung tali silaturahmi dengannya... Jadi, Tuhan, ijinin saya untuk ga maafin dan nyambung tali silaturahmi dengan temen yang ini ya. Boleh, ya? Kan Tuhan Maha Pengampun dan Maha Pemaaf... (Lhhoo? Jadi dibolak-balik gini...). Abis dia jahat sih, sadis! *lebayyy...*. Udah ah. Pokoknya saya masih belum bisa maafin. Titik!

Wednesday, August 26, 2009

Bandung-Lampung: 21 Agustus 2009

Sepanjang perjalanan dari Bandung menuju Lampung kali ini (sebelum saya pergi ke lain negeri), seperti biasa saya memilih duduk dekat jendela. Bukan tanpa alasan: saya ingin memandang ke luar jendela sepanjang perjalanan. Kecuali jika saya mengantuk atau pusing, hingga harus tidur dan pejam mata.

Tak jarang, meski tidak ahli dalam fotografi, saya akan memotret pohon yang terlihat bagus atau rumpun ilalang yang berbunga banyak berwarna putih atau objek lain yang saya lihat. Tapi hari ini saya tidak berminat sama sekali. Saya bahkan lupa akan kebiasaan yang satu ini, jika saja tidak diingatkan oleh seorang teman yang kebetulan menelpon saat saya hendak naik bus.

Dan entah karena feeling atau kebetulan atau apalah namanya, ternyata saya pun tidak menemukan objek foto yang menarik untuk diabadikan sepanjang perjalanan. Kemarau. Kering. Pohon dan tumbuhan yang biasa hijau, kini kehilangan daun atau berubah warnanya. Sawah-sawah yang serupa karpet tebal berwarna hijau atau kuning juga tak terekam oleh mata. Rumput dan ilalang di pinggir jalan kebanyakan hangus--entah sengaja dibakar atau tak sengaja terbakar oleh api dari puntung rokok yang dibuang sembarangan. Tanah-tanah berwarna cokelat muda: kering, gersang. Sungai-sungai tak kalah cokelat dan surut airnya.

Meskipun begitu, saya tetap duduk sambil mata menembusi pemandangan luar jendela, dan sedikit membelakangi penumpang di samping. Sesekali saya mengangkat kaki dan melipatnya di atas kursi. Tak peduli jika penumpang sebelah menganggap tidak sopan karena sudah membelakangi juga mengangkat kaki ke kursi. Saya hanya ingin memandang ke luar jendela. Mengamati kehidupan yang bergerak di luar jendela seiring gerak laju bus Arimbi yang membawa saya melintasinya. Tak masalah pemandangannya hijau atau gersang, yang penting adalah memandang ke luar jendela.

Kiranya inilah separuh esensi perjalanan kali ini (dan mungkin juga setiap perjalanan): bukan pemandangannya yang terpenting tapi bagaimana menikmati pemandangan sepanjang jalan itulah yang utama!

Saturday, August 22, 2009

Saya Senang Merasa Sedih

Malam ini, seperti malam-malam sebelumnya dalam beberapa bulan terakhir, saya terbangun. Jika tidak pada (sekitar) pukul 23.00, maka saya akan terbangun pada pukul 03.00. Entah karena latah atau mati gaya, biasanya saya akan mengambil HP, membuka Facebook, atau mengecek email, dsb. Setelah itu, saya akan bisa tidur lagi. Tapi malam ini, saya ingin terjaga. Mungkin sampai sahur tiba, sahur di hari pertama puasa. Sambil mengulang dan mengingat-ingat detail mimpi yang membangunkan saya. Mimpi yang absurd, tapi sepintas merefleksikan apa yang tengah saya risaukan.

Seminggu terakhir, saya merasa penyakit lama waktu SMA kambuh: suka melamun dan merasa biru untuk alasan yang tidak jelas. Tidak jelas karena saya tidak berusaha memperjelas atau mengakui alasan yang melatarbelakangi nya; ini saya tahu. Padahal, beberapa minggu sebelumnya saya merasa begitu ceria dan percaya bahwa saya adalah seorang periang. Dan saya berbangga karenanya. Tapi belakangan, saya seolah lupa bagaimana caranya menjadi riang. Segala kata-kata bijak atau "quotes" yang biasanya bisa menyulut semangat tidak bisa membantu. Saya menolaknya. Saya sepertinya tengah menikmati ini: merasakan kesedihan. Ijinkan saya.

Saya baru ingat, rasanya sudah lama sekali tidak merasakan pergantian emosi senang dan sedih sejelas sekarang ini. Rutinitas kerja yang menyita waktu dan pikiran serta (secara tidak langsung) membatasi saya dari bersinggungan dengan "kehidupan lain", membuat saya baal rasa. Datar. Kadang ini terasa nyaman. Tapi tak jarang membuat saya merasa kesepian.

Merasakan kesedihan tidak bisa dibilang nyaman dan tidak juga membebaskan saya dari merasa sepi. Tapi paling tidak, ini membuat saya tahu saya tidak sendirian. Saya kembali bersinggungan dengan "kehidupan lain" dan kembali merasakan emosi lain yang ternyata saya rindukan.

Thursday, August 20, 2009

Musik Sampah yang Keren

Lampu remang-remang mengintip malu-malu dari balik kap handmade berbentuk cupcakes paper berukuran raksasa yang di pasang terbalik di atas tiap meja. Lampu-lampu yang menempel di pilar-pilar sepanjang jalan masuk juga tak kalah remang dan mengintip dari balik kap lampu berukuran segi panjang; cahaya lampu sengaja diarahkan menimpa hiasan cukilan kayu berbentuk motif batik, yang dipasang tepat di bawah lampu. Pada bagian "pinggang" pilar-pilar tersebut dipasang pula balon yang ditiup seadanya, berwarna merah putih. Warna yang sengaja dipilih untuk mempertegas tema perayaan 17 Agustus di Resto dan Cafe ini: Resto dan Cafe Roemah Nenek.

Pelayan yang sepertinya sudah menunggu kedatangan kami, dengan lekas tapi kikuk dan ragu-ragu mengantar kami ke meja 24. Meja yang tidak strategis; meski ia berada di depan kanan panggung, pilar-pilar yang tadi saya ceritakan menghalangi pandangan ke panggung. Makanan dan minuman dipesan. Makanan dan minuman tandas. Dan acara belum juga dimulai. Tepat pukul 19.30, tampil di atas panggung grup musik keroncongan. Mereka membawakan beberapa lagu tapi telinga saya tidak menangkap perbedaan yang signifikan antara satu lagu dan lagu lainnya. Entah karena saya tidak memperhatikan atau karena musik dan lagunya terlalu sama atau terlalu dinamis (padahal penyanyinya bergantian seorang perempuan dan seorang laki-laki yang jelas suaranya berbeda), saya tetap tak bisa membedakan apalagi mengingat lagu mereka. Saya berkata seperti ini bukan berarti penampilan mereka buruk, hanya saja suguhan musik mereka tidak memanjakan telinga saya. Terlebih lagi telinga kedua teman saya, Myra dan Nia, yang bertepuk tangan penuh semangat saat MC mengatakan, "Ya, inilah lagu terakhir" dari grup keroncongan tersebut.

Setelah MC berbasa-basi, berinteraksi dengan pengunjung Resto dan membagi-bagikan beberapa souvenir dan hadiah, tibalah penampilan Lungsuran Daun; demikian grup musik ini menamakan diri. Tiga orang di atas panggung, masing-masing memegang alat musik yang aneh bentuknya. Suara gumaman atau humming mengalun pelan dari mulut seorang yang paling tua. Ditingkah suara kecapi dan sesekali suara gemuruh seperti angin atau debur ombak di kejauhan, yang membuat saya bertanya-tanya suara apa gerangan.

Beberapa pengunjung rela meninggalkan kursi mereka dan berdiri mendekati panggung. Sepertinya mereka pun penasaran dari apa dan dari mana datangnya suara yang mereka dengar. Dua orang berkamera menghalangi pandangan saya yang enggan beranjak dari kursi. Ditengah kekesalan karena dua orang tersebut, mata saya tiba-tiba beralih ke arah jalan masuk. Seorang paruh baya berpakaian hitam-hitam, berkalung menumpuk berbentuk bulat-bulat, serta berambut keriting gondrong melangkah masuk ke arah panggung sambil menggerakkan sebuah benda yang di atasnya berlubang dan pada lubang itu, sang Bapak mengarahkan microphone. Tahulah saya darimana suara gemuruh tadi berasal.

Serupa magnet, kehadiran laki-laki yang penampilannya mengingatkan saya pada dukun atau pawang hujan ini menarik lebih banyak pengunjung mendekat ke panggung. Mang Dodo, begitu ia memperkenalkan diri. Dan Tornado adalah nama alat bersuara gemuruh yang ia bawa. Alat yang terbuat dari labu yang bagian bawahnya dilapis barang bekas (saya lupa barang bekas apa) dan berlubang pada bagian atas, tempat suara gemuruh keluar. Benda yang mengingatkan saya pada tempat minum Dewa Mabuk di serial Cina jaman dahulu kala. Mendengar suara yang dihasilkan Tornado itu, saya tak berhenti berujar, "Kok bisa sih?" Dan pertanyaan ini terus berlanjut saat Mang Dodo mengenalkan lebih banyak alat musiknya yang ia buat dari sampah.

Kecapi yang membuka pertunjukan mereka ternyata resonatornya terbuat dari tabung mesin cuci yang dibelah oleh Mang Dodo sendiri. Dibuang sayang, ujar Mang Dodo. Inilah alasan dia menggunakan barang-barang sampah sebagai bahan membuat alas musik yang tidak biasa, yang menghasilkan efek suara yang luar biasa! Ada pula Alpedo (Alat Petik Dodo) yang menghasilkan suara yang identik dengan musik tradisional korea. Ada pula alat musik yang ia namai Indonesia Pernah Menangis, yang dibuat karena mengingat Tsunami di Aceh. Berbentuk bidang segi empat dan terbuat dari kanvas, berwarna merah putih sebagai latar, dan memiliki cekungan berwarna gelap di tengahnya, alat musik ini bersuara aneh dan keras saat Mang Dodo menggerakkannya pelan. Lagi-lagi saya berseru, "Ih kok bisa, sih?"

Selanjutnya Mang Dodo menunjukkan alat musik yang digesek seperti biola, tapi bentuknya sama sekali berbeda. Alat ini terbuat dari kayu bekas jendela, senar, dan kaleng susu. Saat Mang Dodo menggeseknya kembali terdengar suara nyaring, entah seperti suara apa tapi yang pasti mengingatkan pada alam saat mendengarnya. Mang Dodo bilang kabarnya burung-burung di Bandung mulai berkurang, dan ia berkelakar ini disebabkan oleh asap rokok. Karena tak ingin melupakan kicau burung, ia membuat alat dari bekas penghisap sisha, yang menghasilkan suara burung yang nyaring. Ada pula alat yang ia buat dari bekas pintu yang menghasilkan suara motor yang tengah "ngebut" di jalanan. Tak hanya itu, Mang Dodo kembali mengeluarkan alat musik yang terbuat dari alat cukur, yang menghasilkan suara kodok; suara yang sudah jarang terdengar sekarang ini karena sawah yang jadi habitat mereka pun pelan-pelan punah. Terakhir, Mang Dodo mengenalkan suling yang baru ia buat tadi pagi. Suling yang aneh karena bentuknya serupa tanda petir atau tanda tegangan tinggi pada tiang-tiang listrik. Sebelum membunyikan suling tersebut Mang Dodo menyempatkan membacakan pengantar sebagai berikut: Dulu saya lurus dan runcing Sekarang saya bongkok dan tua tapi masih ada bunyi untuk Indonesia.

Mang Dodo dan rekan-rekannya mengakhiri aksi mereka dengan memainkan sebuah komposisi dari alat yang ditiup bersama-sama. Penampilan Mang Dodo terasa singkat lantaran ia lebih banyak berdialog mengenalkan alat musiknya dan sesekali mengingatkan untuk lebih peduli pada lingkungan.

Setelah Mang Dodo, giliran Musik Genteng dari Jatiwangi yang unjuk gigi. Terdiri dari 3 remaja berusia belasan tahun dan seorang anak laki-laki, Musik Genteng pun beraksi. Mereka hanya menggunakan stik kayu atau bambu yang dipukul-pukulkan ke genteng dan menciptakan musik. Selebihnya, ada pula alat musik yang berbentuk seperti kendi tapi bolong di bagian perutnya. Kendi ini dipukul-pukul layaknya kendang. Saya bisa membedakan dari musik satu ke musik yang lainnya, padahal mereka hanya menggunakan stik kayu dan genteng!

Setiap orang boleh punya ide. Tapi, hanya sedikit orang yang merealisasikan ide mereka, setia memelihara dan mengembangkannya, untuk kemudian membuat perbedaan dari ide tersebut. Mang Dodo dengan Lungsuran Daun-nya dan penggagas Musik Genteng adalah salah dua dari sedikit orang tersebut. Jam tangan saya menunjukkan pukul 21.30 saat Musik Genteng mengakhiri pertunjukkan mereka. Meski masih ada Mukti-Mukti—pelantun musik perjuangan—kami memutuskan untuk pulang karena sudah terlalu malam.

Roemah Nenek masih remang-remang oleh cahaya lampu yang berpendar dari balik kap handmade berbentuk cupcakes paper berukuran raksasa, yang di pasang terbalik di atas tiap meja, saat kami pergi meninggalkannya.

Peri Tidur

Aku bertemu Peri Tidur.
Ia mengenakan gaun berwarna ungu lembut, gaun yang berkilau meski tak satu pun kulihat ada batu permata atau manik-manik yang menempel di sana. Pendek kata, ia bercahaya. Terlebih wajahnya! Semu merah muda pada pipinya menambah kesan indah pada wajahnya yang bening. Dan dua matanya terang, berkilat, dan hitam pekat.

Aku mendengarnya bersenandung. Saat itulah aku menyadari kehadirannya. Senandung yang membuat mengantuk, membuai...

"Kenapa kau tak tidur?" tanyanya pelan dan terdengar sedih. Aku berniat menoleh ke kiri dan kanan untuk memastikan apakah ia bertanya padaku, tapi aku urungkan. Rasanya bodoh sekali melakukan hal itu padahal aku tahu pasti tak ada orang lain di tempat ini.

"Kenapa kau tak mau tidur?" ulangnya. Ia memiringkan kepalanya saat bertanya demikian. Tangan kirinya memegang pinggiran bangku kayu lapuk yang ia duduki, sementara tangan kanannya ia simpan di pangkuan. Kakinya diayun-ayunkan pelan... Sungguh menggemaskan. Aku tidak bisa menimbang-nimbang apa yang menjadikannya demikian memikat. Entah apakah karena gaunnya, gerak-geriknya, suaranya, wajahnya yang bercahaya, ayunan kakinya, atau mungkin karena kayu lapuk yang didudukinya dan sekitar yang gelap gulita hingga di tengah suasana ini, ia berjaya, bercahaya—kontras!

"Kau tahu tidak, aku sudah lelah bersenandung untukmu!" lanjutnya.

"Untukku?" Kata ini meluncur begitu saja, karenanya aku agak terkejut mendengar suaraku sendiri.

"Ya, untukmu. Karena kau tidak tidur. Kenapa menolak untuk tidur?" tanyanya lagi. Kali ini ia menegakkan kepalanya juga tubuhnya. Kedua tangannya saling menggenggam di pangkuan.

"Tak bisa tidur."

"Kenapa?"

"Bukan urusanmu." Peri Tidur tampak terkejut, dan aku merasa bersalah berbicara seperti itu pada makhluk seindah dia.

"Sungguh, aku tidak bisa tidur," sambungku lebih ramah.

"Tapi kenapa, pasti ada sebabnya?" tanyanya lagi sambil menggeser posisi duduknya, seolah mengisyaratkan padaku untuk duduk di dekatnya.

Aku pun mendekat, dan terasa ada waktu yang hilang saat aku sadar aku sudah duduk di sampingnya. Aku mencium wangi bunga atau daun atau perpaduan keduanya. Mungkin juga dicampur sedikit buah karena wanginya segar dan sedikit asam seperti citrus. Kiraku, wangi itu berasal dari rambutnya yang tergerai atau dari tubuhnya atau perpaduan keduanya. Entahlah. Ia memandangiku, menunggu jawaban.

"Aku tak tahu kenapa tak bisa tidur," ujarku putus asa. Aku memang tak tahu kenapa tubuhku menolak untuk tidur. Aku bahkan tak butuh kopi untuk bisa bertahan sampai pagi.

"Bukan tak tahu. Kau mencoba melupakan dan memilih tak tahu apa-apa."

"Mungkin...," jawabku sedikit tersinggung. Meski ia cantik, ia tak berhak menghakimiku.

"Maukah menemaniku sebentar?" tanyanya pelan. Suaranya lembut. Aku memandangnya—ragu. "Aku tak punya teman. Aku selalu terjaga di saat kalian tidur. Dan aku harus tidur saat kalian terjaga, agar aku tetap terjaga saat kalian tidur keesokan malam...," lanjutnya, terdengar seperti merajuk.

"Kau tidak menyukainya?" tanyaku heran.

"Apa?" Ia balik bertanya dan menatapku. Matanya memantulkan bayanganku.

"Menjadi Peri Tidur. Kau tidak suka?"

Peri Tidur lama memandangiku. Kemudian ia tertawa singkat, mengalihkan pandangan ke jauh langit yang penuh bintang, menyilangkan kakinya dan mengayunkannya pelan. "Aku tidak boleh bilang tidak suka, sama seperti aku tidak bisa bilang bahwa aku selalu suka menjadi Peri Tidur." Ia menoleh sambil tersenyum padaku.

Mataku berkedip cepat, karena tak mengerti dan sekaligus berusaha menghindari matanya.

"Ada banyak hal yang membuatku suka menjadi Peri Tidur, tapi ada juga yang membuatku tidak suka." 

"Maksudnya?" Aku berharap ia menjelaskan padaku hal-hal tersebut.

"Jangan memintaku merinci apa yang aku sukai dan apa yang ku benci dengan menjadi seorang Peri Tidur. Seringkali, apa yang kusukai hari ini bisa saja mengesalkanku keesokan hari, begitu pun sebaliknya," jawab Peri Tidur sambil memandang jauh ke depan. "Aku hanya harus menerima saat perasaan suka atau tidak suka datang, atau aku menyangkalnya." Lagi-lagi ia melirik mencari mataku dan tersenyum manja.

Aku lagi-lagi terkejut, ada perasaan aneh menjalari dada, entah karena mendengar kalimat terakhirnya atau karena matanya tiba-tiba menemukan mataku.

"Aku bisa apa lagi, coba? Aku tidak bisa menolak takdirku sebagai Peri Tidur." lanjutnya membela diri.

Aku hanya bisa mengangguk, menunduk. Tak tahu harus bicara apa.

"Seperti sekarang, misalnya...," Peri Tidur belum selesai rupanya. Dan ini membuatku senang karena berarti aku tak perlu mengatakan sesuatu. Aku meliriknya tanpa mencoba melihat matanya.

"Biasanya aku selalu kesal melihatmu tak juga tidur, sementara aku sudah kehabisan lagu. Aku merasa gagal. Aku tidak suka. Tapi malam ini, aku senang bisa bicara denganmu... Aku belajar menerima kamu yang tidak bisa tidur. Ini tidak mudah, tapi aku lega jadinya."

"Aku tidak mengerti...," ujarku.

"Ini melanggar peraturan. Tapi untuk malam ini, kupikir tidak masalah sesekali melanggar peraturan...," lanjut peri tidur tanpa peduli pada perkataanku. Ia mendongak ke langit. Tersenyum lebar dan lepas tanpa beban. Ia gerakkan tubuhnya ke kiri dan kanan.

Aku pun tersenyum, seolah tertular kebahagian yang tengah ia rasakan.

"Mulai hari ini, apakah kau memilih tidur atau tidak tidur, aku akan merasa suka dan tidak suka sekaligus," lanjutnya lagi sambil tetap memandang langit. "Mungkin akan lebih sulit untuk menerima kedua perasaan ini secara bersamaan, tapi tak masalah. Aku memilihnya, dan akan terbiasa."

Aku masih juga tak bisa mengerti apa yang ia bicarakan.

"Aku harus pergi sekarang," ujarnya tiba-tiba. Ia melambaikan tangan di depan mataku, tersenyum, dan pergi begitu saja.

Aku tidak sempat mengatakan sesuatu, dan menyesal karenanya. Aku mengulang-ulang apa yang dikatakan Peri Tidur tadi, mencoba memahaminya. Tiba-tiba, walaupun aku masih tidak sepenuhnya mengerti maksud Peri Tidur—untuk pertama kalinya setelah setahun terakhir—aku ingin tidur dan berhenti menjadi insomniac! Aku ingin belajar menerima mimpi-mimpi yang datang berulang. Mimpi tentang kecelakaan malam itu, tentang darah Katharina di tanganku, tentang Katharina yang meninggal di depan mata, sementara aku hanya menderita luka ringan di bagian kepala.

Saturday, August 15, 2009

Cecila : Pada Suatu Senja

"Teman-teman, sebenarnya pikiran tentang ini sudah berbulan-bulan bersarang di kepalaku. Dan aku sudah tak tahan lagi menyimpannya," ujar Cecila Trefn sedih. "Hey kenapa tiba-tiba bicara seperti itu, Cecila? Ada masalah apa, kita sudah seperti saudara, jangan sungkan," ujar Mami Gocc sambil melirik Cecila Trefn yang duduk lebih tinggi di atasnya. "Apa kalian tidak merasa kalau kita demikian menyedihkan?" lanjut Cecila Trefn sambil memandangi langit di kejauhan yang mulai menguning. "Maksudmu bagaimana, Cecila?" kini giliran Wise de Spratner bersuara. "Aku jadi bingung memulainya. Aku merasa tidak berguna, tapi kenapa aku masih harus ada di sini. Seharusnya aku dibuang saja. Kadang malu rasanya dipajang terus seperti ini, padahal aku sudah rusak!" "Kita sama-sama rusak, Cecila," sambung Mami Gocc. "Justru karena rusak kita ada di sini. Kalau tidak rusak kita tentu ada di rumah yang hangat," sambung Wise de Spratner. "Paling tidak, di sini, kita tidak tercampur dengan sampah lain dan berbau busuk," sambungnya. "Selokan di bawah sana juga sama busuknya," rutuk Cecila Trefn. Mami Gocc dan Wise de Spratner serentak melongok ke bawah memandangi selokan hitam pekat yang menggenang. "Kau benar di sini memang busuk," Mami Gocc berkesah. "Dan makin hari kita makin lapuk, hancur dimakan cuaca!" tambah Cecila Trefn. "Dan papan di atas ini, sungguh menggangguku!" Mami Gocc dan Wise de Spratner yang masih memandangi selokan, langsung mengalihkan pandangan ke arah papan yang dimaksud Cecila Trefn. "Papan itu tidak mengenaimu, kan? Kau enak di atas sana, tempatmu lapang. Kau tak lihat ruang gerakku begini sempit. Aku terjepit di antara Wise dan tembok papan ini, hingga posisi badanku harus selalu miring agar lebih leluasa," Mami Gocc mengeluh. "Dan...ya...dipikir-pikir menyedihkan harus terus terjepit seperti ini," sambung Mami Gocc pelan sekali. Cecila Trefn melirik Mami Gocc, dan tidak berani berkata-kata sebab ia pun merasa kasihan melihat Mami Gocc. "Bukankah justru karena papan itu kita bermakna?" giliran Wise de Spratner bertanya pada dua sahabatnya. "Maksudmu bagaimana?" tanya Mami Gocc. "Kita dan papan itu saling melengkapi. Kita ada untuk mengukuhkan si Papan. Kita di sini membantunya agar lebih terlihat, dengan begitu akan banyak orang yang datang dan Pemilik Papan akan senang karena ia dapat pekerjaan, dan berarti dapat penghasilan." Wise de Spratner menjelaskan panjang lebar. "Kau benar, Wise," sambung Mami Gocc. "Membantu bagaimana? Kau baca baik-baik tulisan pada papan itu! Tidakkah ironis kita yang rusak ini dipajang di sini untuk mendukung si Papan? Apa kalian pikir akan ada orang yang mau memakai jasa Pemilik Papan setelah melihat keadaan kita. Pemilik Papan jelas-jelas tidak bisa memperbaiki kita, bagaimana ia bisa mempromosikan diri untuk memperbaiki yang lain?" Cecila Trefn menyangkal, suaranya meninggi. "Ah, kau juga benar. Aku sependapat denganmu, Cecila," ujar Mami Gocc. "Kita sudah tidak tertolong, Cecila," ujar Wise de Spratner sambil memandangi tubuhnya yang tinggi langsing tapi cacat—tak lengkap. Mami Gocc memandangi Wise de Spratner sedih, lalu memandangi tubuhnya sendiri, "Ya, kita memang sudah tidak tertolong, karena itu kita ditumpuk dan di sini," ujarnya pula sambil memandangi tubuhnya yang berkarat. Cecila juga ikut memandangi tubuhnya yang lapuk, berdebu, dan kehilangan baling-baling. Padahal, baling-balinglah yang membuatnya berguna—dulu. Hening. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri. Matahari di kejauhan memerah, dan bias cahayanya menodai langit sekitar. Merasa tak enak telah membuat teman-temannya bersedih, Cecila Trefn pun berujar: "Maaf, teman-teman... Aku tidak bermaksud—" "Hey...kita memang ditumpuk dan sengaja di pajang di sini... Tapi, pernah dengar tentang seni instalasi?" Wise de Spratner terdengar bersemangat. Mami Gocc langsung menyahut, "Apa itu seni instalasi? Apakah sama dengan instalasi rawat inap? Majikanku dulu pernah ke insta--" "Bukan, Mami Gocc. Aku juga tidak tahu pasti. Sewaktu aku tinggal di rumah majikanku yang seniman, aku pernah mendengar seni instalasi itu berhubungan dengan barang-barang yang ditumpuk atau disusun sedemikian rupa hingga barang-barang itu punya makna lain. Atau mewakili sesuatu yang lain, entahlah." "Lalu apa hubungannya dengan kita? Aku tidak mengerti," kembali Mami Gocc yang bertanya. "Aku juga," sambung Cecila Trefn. "Aduh bagaimana menjelaskannya, ya? Pokoknya aku pikir kita ini bisa disebut sebagai seni instalasi... Anggap saja begitu. Kita ditumpuk dan disusun di sini untuk sebuah maksud, yaitu mendukung si Papan. Agar ia lebih mudah terlihat! Kalian ingat tidak dengan Gadis Berkerudung yang sering lewat jalan ini. Hampir setahun dia lewati jalan ini, dan belakangan baru dia menyadari keberadaan kita. Bayangkan, kalau kita tak ada, ia mungkin tidak akan pernah sadar akan pentingnya si Papan, khususnya bagi Pemilik Papan. Dan kurasa bukan hanya Gadis Berkerudung yang tidak sadar dengan adanya si Papan." Mami Gocc dan Cecila Trefn saling tukang pandang, bingung. "Yaa... walaupun kita tidak layak diapresiasi, paling tidak kita bagian dari seni," lanjut Wise de Spratner sambil memandangi kedua sahabatnya, mengharap persetujuan. “Bagaimana?” sambungnya. "Ehm...kedengarannya bagus. Kita adalah bagian dari seni—seni instalasi. Bukan begitu Cecila?" Sebenarnya Cecila Trefn tidak berniat mengiyakan, tapi karena ia tak ingin merusak sore ini, ia pun berujar, "Ya...kupikir tidak ada salahnya menganggap diri bagian dari seni. Dan siapa bilang kita butuh apresiasi?! Kita bisa tetap ada, meski tanpa apresiasi." "Oh aku ingat, Gadis Berkerudung pernah memfoto kita... Apakah bisa berarti ia sedang mengapresiasi kita?" tanya Mami Gocc. "Ia mengambil foto kita sambil berkata betapa kita dan dan si Papan tampak kontradiktif," ujar Mami Gocc. "Benarkah ia pernah mengambil foto kita? Kontradiktif bagaimana?" tanya Wise de Spratner. "Dia bilang Papan ini menawarkan jasa service, tapi justru yang dipajang malah kita yang rusak. Bagaimana orang tertarik datang kemari, begitu katanya," jawab Mami Gocc. "Eh, jangan-jangan gara-gara mendengar Gadis Berkerudung itu kau jadi merasa menyedihkan Cecila?" sambung Mami Gocc. "Eh?" Cecila Trefn yang sedari tadi diam saja tampak kaget mendengar pertanyaan Mami Gocc, dan tidak menjawab apa-apa karena ia pun sibuk bertanya pada dirinya sendiri tentang hal tersebut. "Tapi, belakangan aku tidak pernah lagi melihat Gadis itu lewat jalan ini, yang sering digoda oleh pemuda-pemuda yang kerap duduk di warung sebelah itu kan?!" ujar Wise de Spratner. "Kabarnya ia sudah pindah ke luar kota." "Baguslah. Jadi Cecila tidak akan melihat dia lagi dan merasa menyedihkan karena teringat omongannya." Wise de Spratner melirik Cecila Trefn. Cecila Trefn mencoba tersenyum dan berujar, "Baiklah, kita adalah bagian dari seni!" ulang Cecila bersemangat. "Ah aku tahu alasan lain kenapa kita ada di sini," Mami Gocc menyela. "Dan kupikir kita memang harus terlihat menyedihkan. Dengan begitu, peran si Papan ini jadi lebih penting. Ia menawarkan jasa service kepada orang-orang agar barang-barang mereka yang rusak bisa diselamatkan dan bukannya jadi tidak tertolong seperti kita. Bisakah begitu, Wise?" "Aku tidak tahu kau bisa berpikir begitu, Mami Gocc. Kupikir-pikir kau ini lumayan pintar juga—kadang-kadang tapi...," Wise de Spratner menggoda Mami Gocc. "Apa kau bilang? Kadang-kadang?" Mami Gocc cemberut. "Ya... Kadang-kadang...," Wise de Spratner pun tertawa, disusul oleh tawa Cecila yang geli melihat ekspresi Mami Gocc. Mami Gocc, yang tidak bisa cemberut berlama-lama pun ikut tertawa. Di kejauhan, matahari yang merah hampir lelap di pangkuan langit. Bias cahayanya kini tidak hanya menodai langit tapi juga membekas pada wajah mereka bertiga. Notes: * Cecila Trefn anagram dari : Electric Fan * Wise de Spratner anagram dari : Water Dispenser * Mami Gocc anagram dari : Magic Com * Hahahahahahahaaaaaa... Demikian kisah tak begitu penting ini. Saya tidak bisa tidak menuliskan sesuatu tentang foto di atas! Bagaimanapun juga, Jakarta punya banyak cerita!

Sunday, August 09, 2009

Bukan Kejora

Aku senang mendengarkan sebuah bintang
hanya sebuah bintang
satu dari sekian ribu bintang

Bukan karena dia kejora
bukan karena ia paling memesona
bukan pula karena ia lebih bercahaya

karena ia, bicara--
itu saja!

*

Untitled

Semalam aku terjaga pada pukul tiga
Semalam saat aku terjaga aku bertanya,
"Aku mau ke mana?"

Semalam saat aku bertanya
aku malah mengulang pertanyaan yang sama
"Aku mau ke mana?"


*
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...