Monday, June 29, 2009

Ironi

Dan aku jatuh cinta padamu
saat langit oranye berselimut biru
mengundang burung-burung bercericip lagu-lagu

Dan aku merindukanmu
saat senja turun berjubah ungu
sementara bulan menyembul malu-malu

Dan aku tak tahu kenapa jadi benci kamu
saat kamu mulai memandu bayang-bayang
mengiring langkahku

Padahal justru saat itulah
saat terdekatku denganmu
matahariku...


 *Jakarta, 26 Juni 2009*

Friday, June 26, 2009

Menunggu Roti

Jakarta, 11 Maret 2008
  ^Under The Roof of My Boarding House’s Balcony^

Menunggu Roti… This is what I'm doing this morning.

Sejak pindah kost ke sini, saya jarang kesiangan. Ada alarm gratis dari tukang roti yang lewat, banyak lagi. Tapi satu yang lagunya enak di kuping: Dari Sari Roti…(hehe…iklan…).

Sepagi ini selain suara tukang roti, ada suara pemilik warung sebelah dan tetangga depan menyapu halaman. Lalu, ada suara mesin metromini yang dipanaskan. Selebihnya, suara kendaraan lalu lalang di jalan raya (Jl. Ciputat Raya) mulai memeriahkan suasana pagi.

Sementara–-mengenai pemandangan–-sejauh mata memandang yang terlihat hanya atap-atap rumah, lengkap dengan antena TV, tiang listrik, dan kabel-kabel yang semrawut. Ada juga tiga menara–-entah menara apa. Dan ada 6 (enam) penampung air milik tetangga sekitar: 3 warna orange, 2 warna biru tua, 1 biru muda. Eh…eh…tukang roti datang…

Sunday, June 14, 2009

Piala

Aku pernah meninggalkanmu dengan tergesa
bahkan dengan bersuka cita
sama tergesa dan suka cita-nya
sewaktu aku datang kali pertama...

Aku pergi mengejar mimpi
alasan yang tidak bisa kau interupsi
saat kau percaya aku kan kembali
(setelah lelah berburu mimpi)
aku kian gigih untuk bersegera lari

tidakkah kau merasa
kita berlomba mementingkan diri sendiri?

*Dan kau benar, aku kembali
tapi sungguh hanya untuk sementara
untuk mengulang perpisahan kedua
demi membiasakan diri
pada jarak yang kian kentara

Hingga disaat hari itu tiba,
aku percaya masing-masing kita
akan memenangkan sebuah piala:
yang selalu bisa dipajang,
di rak memori dalam kepala
yang selalu bisa dibanggakan,
dalam kehangatan hati dan jiwa

karena ia bukan piala bergilir
ia lah piala yang dibuat khusus
untuk kita...


  *Jakarta, 16 Mei 2009*

Saturday, June 06, 2009

Belimbing & Anak Tetangga

Di depan dan di samping rumahku, tumbuh pohon belimbing yang lumayan rajin berbuah. Suatu hari, saat di rumah sedang ada hajatan, anak-anak tetangga dan saudara (yang ibunya membantu memasak di dapur) memetik belimbing dan memakannya beramai-ramai di teras rumahku. Semua kebagian, semua sibuk mengunyah belimbing. Suara "kriusz...kriusz..." daging belimbing yang berair membuat mereka kian semangat mengunyah dan membuat iri siapa pun yang mendengar.

Ditengah kerumunan anak-anak tersebut, aku melihat seorang anak yang bukannya sibuk mengunyah belimbing, melainkan hanya sibuk menelan liur dan menyipit-nyipitkan mata. Sebuah ekspresi yang muncul saat seseorang mencecap rasa asam yang kuat. Padahal, tak ada sebuah belimbing di tangannya, apalagi yang masuk ke mulutnya. Ternyata belum semua kebagian, pikirku. Aku pun menyodorkan belimbing yang kupegang. Ia menggeleng.
"Ini...," aku tetap menawarkan. Ia tetap menggeleng. "Nggak apa-apa ambil aja... Nih...," aku memaksa.
Ia menggeleng lagi. Sambil menelan sisa liur, ia berkata: "Nggak boleh sama Mamah." 
"Kenapa? Nggak apa-apa kok, ini ambil aja...," Aku terus menawarkan karena sempat terpikir anak ini mungkin pemalu.
 "Soalnya lagi sakit batuk, kata Mamah nggak boleh makan yang asem asem...," jawabnya polos dan lantang, tanpa sedikitpun ada kekesalan atau penyesalan di nada suaranya atas larangan tersebut.
"Oh..." Aku pun tak lagi memaksa.

 Mamanya sedang sibuk di belakang. Jika ia mau, ia bisa saja mencicip belimbing tanpa sepengetahuan mamanya. Tapi, daripada mengkhianati mamanya, ia lebih memilih menelan liur sambil mata tersipit-sipit menahan rasa asam belimbing khayalan, rasa asam belimbing yang nyata menyengat lidah anak-anak lain!

Umurnya saat itu belum lagi 5 tahun!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...