Pada suatu pagi yang tak terik tak juga mendung, ada gadis kecil yang datang ke sebuah toko serba ada. "Aku ingin beli cahaya," ujarnya tegas pada penjaga toko. "Untuk kedua mataku," lanjutnya seolah mengerti kebingungan yang terpancar di mata penjaga toko.
"Tapi, matamu baik-baik saja, bukan?" tanya penjaga toko sambil memandangi gadis kecil, lalu membenarkan letak kacamatanya. "Matamu begini indah: bulat dan besar."
"Terimakasih, Bapak. Tapi, tidakkah kau lihat, tak ada cahaya di sana?"
"Siapa yang bilang begitu?"
"Aku sangat tahu hal ini. Aku menyadarinya sendiri--baru-baru ini--saat melihat foto-fotoku sendiri."
"Kita kadang bisa salah menilai diri, gadis kecil."
"Tidak, aku tahu pasti tentang hal ini. Aku bisa saja tersenyum atau tertawa, tapi mataku tidak."
"Tidak benar begitu," jawab penjaga toko, agak ragu. "Bagaimana awalnya kau bisa berpikir demikian?"
"Ah, ini susah dijelaskan. Apakah kau menjualnya, Bapak? Aku ingin membelinya."
"Sayang sekali, gadis kecil. Aku tidak menjual cahaya untuk mata. Toko-toko lain pun tidak.
Gadis kecil terdiam. Ia memandang kosong pada bayangannya sendiri di kacamata penjaga toko.
"Aku tak bermaksud membuatmu sedih. Tapi memang tak ada yang menjual cahaya mata."
"Lalu bagaimana caranya memiliki cahaya pada mata?"
Penjaga toko memandang iba gadis kecil, dan berkata: "Mungkin kau harus mencari dan mengusahakannya sendiri, dan bukan membelinya."
"Ke mana harus mencarinya?"
"Entahlah. Aku harap kau akan segera tahu dengan sendirinya. Mungkin cahaya itu akan kau temukan di suatu tempat, sebuah benda, atau juga pada seseorang."
"Lalu menurutmu, Bapak, jika cahaya mataku sudah kutemukan pada sebuah tempat atau benda atau pada seseorang; akankah mataku tetap bercahaya meski tempat atau benda atau seseorang itu menjadi tiada di kemudian hari?"
Penjaga toko terkejut mendengar pertanyaan ini. Ia hanya berkedip cepat. Matanya dan mata gadis kecil kini saling lekat menatap. Penjaga toko menggeleng pelan dan dengan menyesal ia berkata, "Ah, aku tak terlalu paham hal-hal seperti ini, gadis kecil... Maaf."
*foto dipinjam dari sini nih.
Note: ditulis di sesi 10 minutes free-writing hari ini.
Showing posts with label Ruang Imaji. Show all posts
Showing posts with label Ruang Imaji. Show all posts
Friday, April 01, 2011
Saturday, March 26, 2011
Cerita di Dermaga
![]() |
| Sumber gambar dari sini. |
datang ke ujung dermaga setiap senja
gigih memunguti cahaya-cahaya
yang jatuh berderak di kayu-kayu tua
lalu mengumpankan mereka
pada ikan-ikan yang enggan mengenal cuaca
Dipandangnya langit jingga,
diisyaratkannya doa-doa
tentang pasir pantai, riak ombak, biru laut, bahkan kepak camar
juga tentang ikan-ikan pemakan cahaya--
agar sudi mengenali cuaca
dan mengajaknya mengarungi debur samudera
tak peduli entah kapan kembali,
entah di mana akan terdamparnya nanti.
Saturday, February 19, 2011
Setoples Penuh Kupu-Kupu
Masihkah ingat pada setoples penuh kupu-kupu warna warni yang kau hadiahkan padaku entah berapa bulan yang lalu?
Mereka berkembang biak! Toples ini kini kian hari kian sesak saja. Aku bahkan nyaris tak mengenali mereka sebagai sekelompok kupu-kupu dalam toples. Beberapa kehilangan warna alami mereka, sebab sayapnya ternoda oleh warna sayap yang lain--mencampur baur. Bahkan, beberapa tampak mengenaskan oleh sayapnya yang compang-camping, terkoyak.
Jika mereka tetap kupertahankan, aku khawatir mereka akan mati sia-sia: megap-megap kehabisan napas, kehilangan ruang dan jarak yang bagaimana pun tetap harus ada.
Maka hari ini kuputuskan untuk melepas terbangkan mereka agar melanglang taman-taman penuh bunga, menikmati liku-liku musim, dan menghirup teduh angin yang terperangkap di tiap kepakan sayap.
Maafkan, aku tidak punya pilihan lain.
Tapi jangan khawatir; aku sisakan satu kupu-kupu terakhir di dalam toples. Ia akan jadi penanda bahwa toples ini pernah berpenghuni sepenuh-penuhnya warna...
*Gambar di atas menginspirasi tulisan ini. Ia dipinjam dari sini.
Mereka berkembang biak! Toples ini kini kian hari kian sesak saja. Aku bahkan nyaris tak mengenali mereka sebagai sekelompok kupu-kupu dalam toples. Beberapa kehilangan warna alami mereka, sebab sayapnya ternoda oleh warna sayap yang lain--mencampur baur. Bahkan, beberapa tampak mengenaskan oleh sayapnya yang compang-camping, terkoyak.
Jika mereka tetap kupertahankan, aku khawatir mereka akan mati sia-sia: megap-megap kehabisan napas, kehilangan ruang dan jarak yang bagaimana pun tetap harus ada.
Maka hari ini kuputuskan untuk melepas terbangkan mereka agar melanglang taman-taman penuh bunga, menikmati liku-liku musim, dan menghirup teduh angin yang terperangkap di tiap kepakan sayap.
Maafkan, aku tidak punya pilihan lain.
Tapi jangan khawatir; aku sisakan satu kupu-kupu terakhir di dalam toples. Ia akan jadi penanda bahwa toples ini pernah berpenghuni sepenuh-penuhnya warna...
*Gambar di atas menginspirasi tulisan ini. Ia dipinjam dari sini.
Sunday, January 30, 2011
Hei Langit Biru!
Hei langit biru, apa kabarmu hari ini? Kamu sedang abu-abu, saya tahu. Tapi bagi saya kamu tetap langit biru, yang jauh tinggi hingga sulit saya jangkau. Maha luas hingga tangan saya takkan kuasa sampai. Yang selalu ada dan setia, dan akan selalu ada hingga matahari dititah berhenti bersinar dan bumi dijadikan berhenti berputar.
Hei langit biru... salahkah jika saya bilang sangat mengenalmu? Padahal sering kesulitan menebak warnamu. Dan kewalahan menghadapi betapa jauh dan luasnya birumu...
Hei langit biru... adakah kamu menebak-nebak biru yang menoreh di hatiku?
Saat kamu justru tengah abu-abu...
Saturday, November 06, 2010
Bingkai
Saya yakin sekali bahwa semua orang, eh tidak...bahwa hampir semua orang (jika saya tidak boleh mengatakan "semua orang", sebab tidak ada yang sempurna di dunia)--mengagumi saya. Siapa yang tidak kenal dengan saya. Siapa yang tidak penasaran dengan misteri sekaligus pesona yang saya punya, siapa yang tidak tertarik mengenal saya berikut sejarah keberadaan saya di muka bumi. Banyak sudah orang-orang berbondong-bondong datang kemari dari negeri yang jauh sekali; hanya untuk melihat senyum saya, bertemu muka dengan saya, berfoto bersama tentu saja dan setelahnya berbangga sebab telah berhasil berjumpa dengan karya agung sepanjang masa. Begitu mereka biasa menyebut saya, mendeskripsikan saya, yang bagi sebagian besar orang jauh dari memadai sebagai sebuah deskripsi dan apresiasi, sebab keindahan dan karisma yang saya tawarkan tak terwakilkan oleh kata-kata.
Itu kata mereka. Hampir semua orang yang mengenal saya berkata demikian. Yang tidak kenal saya, tidak termasuk dalam data.
Yang mereka tidak tahu adalah bahwa kadang saya bersedih atas kebanggaan mereka pada saya. Kebanggaan karena telah bisa bertemu muka dengan saya yang hanya bisa diam--terkurung tanpa bisa kemana. Ingin sekali rasanya sesekali keluar dari bingkai ini dan ikut pulang bersama seseorang--ke negeri yang tak pernah saya kenal, yang namanya saja sulit saya ingat karena mengejanya saja saya tidak bisa. Tapi bingkai ini sudah jadi takdir yang justru menjadikan saya bermakna. Ialah penjara yang justru membuat saya dikenal dunia yang sudah sangat berbaik hati menerima saya sedemikian berlebihan, hingga membuat saya selalu ingin tersenyum--meski ragu-ragu.
Ah tiba-tiba saya terpikir jangan-jangan dunia sengaja berlaku demikian, agar saya tetap tersenyum; meski ragu-ragu pun tak apa, justru mereka suka. Senyum misterius! Begitu mereka menyebutnya. Senyum terkutuk yang justru menjadikan alasan mereka memenjarakan saya berabad lamanya tapi sekaligus juga memuja saya.
Jika benar demikian, harusnya saya jangan lagi tersenyum. Toh saya pun memang ragu-ragu tersenyum. Tapi berabad lamanya melakukan hal yang sama setiap saat adalah penjara yang lain lagi. Saya sudah lupa bentuk ekspresi atau mimik wajah yang lain. (Atau memang saya tidak pernah mengenal mereka). Saya sudah kaku. Sejak dulu. Sekaku tubuh dan senyum saya yang melegenda: senyum Monalisa!
*Ditulis di Reading Lights Writers' Circle, Sabtu 06 Nov 2010.
Tema: Pembatasan.
Itu kata mereka. Hampir semua orang yang mengenal saya berkata demikian. Yang tidak kenal saya, tidak termasuk dalam data.
Yang mereka tidak tahu adalah bahwa kadang saya bersedih atas kebanggaan mereka pada saya. Kebanggaan karena telah bisa bertemu muka dengan saya yang hanya bisa diam--terkurung tanpa bisa kemana. Ingin sekali rasanya sesekali keluar dari bingkai ini dan ikut pulang bersama seseorang--ke negeri yang tak pernah saya kenal, yang namanya saja sulit saya ingat karena mengejanya saja saya tidak bisa. Tapi bingkai ini sudah jadi takdir yang justru menjadikan saya bermakna. Ialah penjara yang justru membuat saya dikenal dunia yang sudah sangat berbaik hati menerima saya sedemikian berlebihan, hingga membuat saya selalu ingin tersenyum--meski ragu-ragu.
Ah tiba-tiba saya terpikir jangan-jangan dunia sengaja berlaku demikian, agar saya tetap tersenyum; meski ragu-ragu pun tak apa, justru mereka suka. Senyum misterius! Begitu mereka menyebutnya. Senyum terkutuk yang justru menjadikan alasan mereka memenjarakan saya berabad lamanya tapi sekaligus juga memuja saya.
Jika benar demikian, harusnya saya jangan lagi tersenyum. Toh saya pun memang ragu-ragu tersenyum. Tapi berabad lamanya melakukan hal yang sama setiap saat adalah penjara yang lain lagi. Saya sudah lupa bentuk ekspresi atau mimik wajah yang lain. (Atau memang saya tidak pernah mengenal mereka). Saya sudah kaku. Sejak dulu. Sekaku tubuh dan senyum saya yang melegenda: senyum Monalisa!
*Ditulis di Reading Lights Writers' Circle, Sabtu 06 Nov 2010.
Tema: Pembatasan.
Tuesday, September 07, 2010
Meracau: Mengantungi Matahari
Hari ini aku berhasil menangkap matahari. Ia terjatuh saat tengah asyik bermain ayunan. Ia tidak menangis, hanya sedikit meringis, dan kehilangan cerahnya.
Daun-daun kuning beristirahat dengan tenang di pangkuan rumput hijau, hingga angin datang mengajak mereka bergoyang, atau bahkan terbang.
Langit, birunya sangat bersih dan terang, bersanding kontras dengan gumpalan-gumpalan tebal awan putih bersih. Luas sekali.
Daun-daun kuning beristirahat dengan tenang di pangkuan rumput hijau, hingga angin datang mengajak mereka bergoyang, atau bahkan terbang.
Langit, birunya sangat bersih dan terang, bersanding kontras dengan gumpalan-gumpalan tebal awan putih bersih. Luas sekali.
Tuesday, March 30, 2010
Bintang Aneka Rasa
Aku masih ingat saat kali pertama kita melihat Bimasakti:
Ribuan bintang berdesakan memenuhi langit,
berlomba-lomba memancarkan cahaya,
beramai-ramai memeluk hati kita,
dan memantulkan kilaunya pada kedua mata.
Lalu kau bertanya: "Seperti apa rasanya bintang?"
Sungguh aku tak tahu; tak ada yang pernah makan bintang,
tak kan ada yang mampu.
Tapi kau takkan terima jawaban itu
Maka aku mulai mengarang: bahwa rasanya terang seperti cahaya
Kau tak bisa percaya
Lalu kubilang rasanya manis seperti kue buatan ibu
Kau malah tertawa
Kusebut harum bagai kelopak mawar
Kau sangka aku bercanda
Kukira syahdu seperti lagu merdu
Kau tak terima
Kusangka hangat bagai selimut baru
Wajahmu jadi penuh tanda tanya
Dan aku terus mencoba menyebut berbagai rasa,
yang semuanya tak kau terima
Hingga akhirnya kau lelah menetang, dan bilang:
"Tak ada yang tahu rasa bintang,
karena tak ada yang pernah makan bintang,
tak kan ada yang mampu."
Aku pun hanya bisa membisu,
terlebih saat kau mulai menyalahkanku:
menyebutku pembual nomor satu.
***
Aku ingin melihat lagi Bimasakti
yang cahayanya memeluk hati,
yang kilaunya terpancar pada kedua mata
sambil berharap kau ada di sisi
dan kembali bertanya hal yang sama,
karena aku sudah menyiapkan jawabannya:
bahwa bintang kali ini,
rasanya seperti--
rindu...
~ Hamburg, 29 Maret 2010~
Ribuan bintang berdesakan memenuhi langit,
berlomba-lomba memancarkan cahaya,
beramai-ramai memeluk hati kita,
dan memantulkan kilaunya pada kedua mata.
Lalu kau bertanya: "Seperti apa rasanya bintang?"
Sungguh aku tak tahu; tak ada yang pernah makan bintang,
tak kan ada yang mampu.
Tapi kau takkan terima jawaban itu
Maka aku mulai mengarang: bahwa rasanya terang seperti cahaya
Kau tak bisa percaya
Lalu kubilang rasanya manis seperti kue buatan ibu
Kau malah tertawa
Kusebut harum bagai kelopak mawar
Kau sangka aku bercanda
Kukira syahdu seperti lagu merdu
Kau tak terima
Kusangka hangat bagai selimut baru
Wajahmu jadi penuh tanda tanya
Dan aku terus mencoba menyebut berbagai rasa,
yang semuanya tak kau terima
Hingga akhirnya kau lelah menetang, dan bilang:
"Tak ada yang tahu rasa bintang,
karena tak ada yang pernah makan bintang,
tak kan ada yang mampu."
Aku pun hanya bisa membisu,
terlebih saat kau mulai menyalahkanku:
menyebutku pembual nomor satu.
***
Aku ingin melihat lagi Bimasakti
yang cahayanya memeluk hati,
yang kilaunya terpancar pada kedua mata
sambil berharap kau ada di sisi
dan kembali bertanya hal yang sama,
karena aku sudah menyiapkan jawabannya:
bahwa bintang kali ini,
rasanya seperti--
rindu...
~ Hamburg, 29 Maret 2010~
Thursday, August 20, 2009
Peri Tidur
Aku bertemu Peri Tidur.
Ia mengenakan gaun berwarna ungu lembut, gaun yang berkilau meski tak satu pun kulihat ada batu permata atau manik-manik yang menempel di sana. Pendek kata, ia bercahaya. Terlebih wajahnya! Semu merah muda pada pipinya menambah kesan indah pada wajahnya yang bening. Dan dua matanya terang, berkilat, dan hitam pekat.
Aku mendengarnya bersenandung. Saat itulah aku menyadari kehadirannya. Senandung yang membuat mengantuk, membuai...
"Kenapa kau tak tidur?" tanyanya pelan dan terdengar sedih. Aku berniat menoleh ke kiri dan kanan untuk memastikan apakah ia bertanya padaku, tapi aku urungkan. Rasanya bodoh sekali melakukan hal itu padahal aku tahu pasti tak ada orang lain di tempat ini.
"Kenapa kau tak mau tidur?" ulangnya. Ia memiringkan kepalanya saat bertanya demikian. Tangan kirinya memegang pinggiran bangku kayu lapuk yang ia duduki, sementara tangan kanannya ia simpan di pangkuan. Kakinya diayun-ayunkan pelan... Sungguh menggemaskan. Aku tidak bisa menimbang-nimbang apa yang menjadikannya demikian memikat. Entah apakah karena gaunnya, gerak-geriknya, suaranya, wajahnya yang bercahaya, ayunan kakinya, atau mungkin karena kayu lapuk yang didudukinya dan sekitar yang gelap gulita hingga di tengah suasana ini, ia berjaya, bercahaya—kontras!
"Kau tahu tidak, aku sudah lelah bersenandung untukmu!" lanjutnya.
"Untukku?" Kata ini meluncur begitu saja, karenanya aku agak terkejut mendengar suaraku sendiri.
"Ya, untukmu. Karena kau tidak tidur. Kenapa menolak untuk tidur?" tanyanya lagi. Kali ini ia menegakkan kepalanya juga tubuhnya. Kedua tangannya saling menggenggam di pangkuan.
"Tak bisa tidur."
"Kenapa?"
"Bukan urusanmu." Peri Tidur tampak terkejut, dan aku merasa bersalah berbicara seperti itu pada makhluk seindah dia.
"Sungguh, aku tidak bisa tidur," sambungku lebih ramah.
"Tapi kenapa, pasti ada sebabnya?" tanyanya lagi sambil menggeser posisi duduknya, seolah mengisyaratkan padaku untuk duduk di dekatnya.
Aku pun mendekat, dan terasa ada waktu yang hilang saat aku sadar aku sudah duduk di sampingnya. Aku mencium wangi bunga atau daun atau perpaduan keduanya. Mungkin juga dicampur sedikit buah karena wanginya segar dan sedikit asam seperti citrus. Kiraku, wangi itu berasal dari rambutnya yang tergerai atau dari tubuhnya atau perpaduan keduanya. Entahlah. Ia memandangiku, menunggu jawaban.
"Aku tak tahu kenapa tak bisa tidur," ujarku putus asa. Aku memang tak tahu kenapa tubuhku menolak untuk tidur. Aku bahkan tak butuh kopi untuk bisa bertahan sampai pagi.
"Bukan tak tahu. Kau mencoba melupakan dan memilih tak tahu apa-apa."
"Mungkin...," jawabku sedikit tersinggung. Meski ia cantik, ia tak berhak menghakimiku.
"Maukah menemaniku sebentar?" tanyanya pelan. Suaranya lembut. Aku memandangnya—ragu. "Aku tak punya teman. Aku selalu terjaga di saat kalian tidur. Dan aku harus tidur saat kalian terjaga, agar aku tetap terjaga saat kalian tidur keesokan malam...," lanjutnya, terdengar seperti merajuk.
"Kau tidak menyukainya?" tanyaku heran.
"Apa?" Ia balik bertanya dan menatapku. Matanya memantulkan bayanganku.
"Menjadi Peri Tidur. Kau tidak suka?"
Peri Tidur lama memandangiku. Kemudian ia tertawa singkat, mengalihkan pandangan ke jauh langit yang penuh bintang, menyilangkan kakinya dan mengayunkannya pelan. "Aku tidak boleh bilang tidak suka, sama seperti aku tidak bisa bilang bahwa aku selalu suka menjadi Peri Tidur." Ia menoleh sambil tersenyum padaku.
Mataku berkedip cepat, karena tak mengerti dan sekaligus berusaha menghindari matanya.
"Ada banyak hal yang membuatku suka menjadi Peri Tidur, tapi ada juga yang membuatku tidak suka."
"Maksudnya?" Aku berharap ia menjelaskan padaku hal-hal tersebut.
"Jangan memintaku merinci apa yang aku sukai dan apa yang ku benci dengan menjadi seorang Peri Tidur. Seringkali, apa yang kusukai hari ini bisa saja mengesalkanku keesokan hari, begitu pun sebaliknya," jawab Peri Tidur sambil memandang jauh ke depan. "Aku hanya harus menerima saat perasaan suka atau tidak suka datang, atau aku menyangkalnya." Lagi-lagi ia melirik mencari mataku dan tersenyum manja.
Aku lagi-lagi terkejut, ada perasaan aneh menjalari dada, entah karena mendengar kalimat terakhirnya atau karena matanya tiba-tiba menemukan mataku.
"Aku bisa apa lagi, coba? Aku tidak bisa menolak takdirku sebagai Peri Tidur." lanjutnya membela diri.
Aku hanya bisa mengangguk, menunduk. Tak tahu harus bicara apa.
"Seperti sekarang, misalnya...," Peri Tidur belum selesai rupanya. Dan ini membuatku senang karena berarti aku tak perlu mengatakan sesuatu. Aku meliriknya tanpa mencoba melihat matanya.
"Biasanya aku selalu kesal melihatmu tak juga tidur, sementara aku sudah kehabisan lagu. Aku merasa gagal. Aku tidak suka. Tapi malam ini, aku senang bisa bicara denganmu... Aku belajar menerima kamu yang tidak bisa tidur. Ini tidak mudah, tapi aku lega jadinya."
"Aku tidak mengerti...," ujarku.
"Ini melanggar peraturan. Tapi untuk malam ini, kupikir tidak masalah sesekali melanggar peraturan...," lanjut peri tidur tanpa peduli pada perkataanku. Ia mendongak ke langit. Tersenyum lebar dan lepas tanpa beban. Ia gerakkan tubuhnya ke kiri dan kanan.
Aku pun tersenyum, seolah tertular kebahagian yang tengah ia rasakan.
"Mulai hari ini, apakah kau memilih tidur atau tidak tidur, aku akan merasa suka dan tidak suka sekaligus," lanjutnya lagi sambil tetap memandang langit. "Mungkin akan lebih sulit untuk menerima kedua perasaan ini secara bersamaan, tapi tak masalah. Aku memilihnya, dan akan terbiasa."
Aku masih juga tak bisa mengerti apa yang ia bicarakan.
"Aku harus pergi sekarang," ujarnya tiba-tiba. Ia melambaikan tangan di depan mataku, tersenyum, dan pergi begitu saja.
Aku tidak sempat mengatakan sesuatu, dan menyesal karenanya. Aku mengulang-ulang apa yang dikatakan Peri Tidur tadi, mencoba memahaminya. Tiba-tiba, walaupun aku masih tidak sepenuhnya mengerti maksud Peri Tidur—untuk pertama kalinya setelah setahun terakhir—aku ingin tidur dan berhenti menjadi insomniac! Aku ingin belajar menerima mimpi-mimpi yang datang berulang. Mimpi tentang kecelakaan malam itu, tentang darah Katharina di tanganku, tentang Katharina yang meninggal di depan mata, sementara aku hanya menderita luka ringan di bagian kepala.
Ia mengenakan gaun berwarna ungu lembut, gaun yang berkilau meski tak satu pun kulihat ada batu permata atau manik-manik yang menempel di sana. Pendek kata, ia bercahaya. Terlebih wajahnya! Semu merah muda pada pipinya menambah kesan indah pada wajahnya yang bening. Dan dua matanya terang, berkilat, dan hitam pekat.
Aku mendengarnya bersenandung. Saat itulah aku menyadari kehadirannya. Senandung yang membuat mengantuk, membuai...
"Kenapa kau tak tidur?" tanyanya pelan dan terdengar sedih. Aku berniat menoleh ke kiri dan kanan untuk memastikan apakah ia bertanya padaku, tapi aku urungkan. Rasanya bodoh sekali melakukan hal itu padahal aku tahu pasti tak ada orang lain di tempat ini.
"Kenapa kau tak mau tidur?" ulangnya. Ia memiringkan kepalanya saat bertanya demikian. Tangan kirinya memegang pinggiran bangku kayu lapuk yang ia duduki, sementara tangan kanannya ia simpan di pangkuan. Kakinya diayun-ayunkan pelan... Sungguh menggemaskan. Aku tidak bisa menimbang-nimbang apa yang menjadikannya demikian memikat. Entah apakah karena gaunnya, gerak-geriknya, suaranya, wajahnya yang bercahaya, ayunan kakinya, atau mungkin karena kayu lapuk yang didudukinya dan sekitar yang gelap gulita hingga di tengah suasana ini, ia berjaya, bercahaya—kontras!
"Kau tahu tidak, aku sudah lelah bersenandung untukmu!" lanjutnya.
"Untukku?" Kata ini meluncur begitu saja, karenanya aku agak terkejut mendengar suaraku sendiri.
"Ya, untukmu. Karena kau tidak tidur. Kenapa menolak untuk tidur?" tanyanya lagi. Kali ini ia menegakkan kepalanya juga tubuhnya. Kedua tangannya saling menggenggam di pangkuan.
"Tak bisa tidur."
"Kenapa?"
"Bukan urusanmu." Peri Tidur tampak terkejut, dan aku merasa bersalah berbicara seperti itu pada makhluk seindah dia.
"Sungguh, aku tidak bisa tidur," sambungku lebih ramah.
"Tapi kenapa, pasti ada sebabnya?" tanyanya lagi sambil menggeser posisi duduknya, seolah mengisyaratkan padaku untuk duduk di dekatnya.
Aku pun mendekat, dan terasa ada waktu yang hilang saat aku sadar aku sudah duduk di sampingnya. Aku mencium wangi bunga atau daun atau perpaduan keduanya. Mungkin juga dicampur sedikit buah karena wanginya segar dan sedikit asam seperti citrus. Kiraku, wangi itu berasal dari rambutnya yang tergerai atau dari tubuhnya atau perpaduan keduanya. Entahlah. Ia memandangiku, menunggu jawaban.
"Aku tak tahu kenapa tak bisa tidur," ujarku putus asa. Aku memang tak tahu kenapa tubuhku menolak untuk tidur. Aku bahkan tak butuh kopi untuk bisa bertahan sampai pagi.
"Bukan tak tahu. Kau mencoba melupakan dan memilih tak tahu apa-apa."
"Mungkin...," jawabku sedikit tersinggung. Meski ia cantik, ia tak berhak menghakimiku.
"Maukah menemaniku sebentar?" tanyanya pelan. Suaranya lembut. Aku memandangnya—ragu. "Aku tak punya teman. Aku selalu terjaga di saat kalian tidur. Dan aku harus tidur saat kalian terjaga, agar aku tetap terjaga saat kalian tidur keesokan malam...," lanjutnya, terdengar seperti merajuk.
"Kau tidak menyukainya?" tanyaku heran.
"Apa?" Ia balik bertanya dan menatapku. Matanya memantulkan bayanganku.
"Menjadi Peri Tidur. Kau tidak suka?"
Peri Tidur lama memandangiku. Kemudian ia tertawa singkat, mengalihkan pandangan ke jauh langit yang penuh bintang, menyilangkan kakinya dan mengayunkannya pelan. "Aku tidak boleh bilang tidak suka, sama seperti aku tidak bisa bilang bahwa aku selalu suka menjadi Peri Tidur." Ia menoleh sambil tersenyum padaku.
Mataku berkedip cepat, karena tak mengerti dan sekaligus berusaha menghindari matanya.
"Ada banyak hal yang membuatku suka menjadi Peri Tidur, tapi ada juga yang membuatku tidak suka."
"Maksudnya?" Aku berharap ia menjelaskan padaku hal-hal tersebut.
"Jangan memintaku merinci apa yang aku sukai dan apa yang ku benci dengan menjadi seorang Peri Tidur. Seringkali, apa yang kusukai hari ini bisa saja mengesalkanku keesokan hari, begitu pun sebaliknya," jawab Peri Tidur sambil memandang jauh ke depan. "Aku hanya harus menerima saat perasaan suka atau tidak suka datang, atau aku menyangkalnya." Lagi-lagi ia melirik mencari mataku dan tersenyum manja.
Aku lagi-lagi terkejut, ada perasaan aneh menjalari dada, entah karena mendengar kalimat terakhirnya atau karena matanya tiba-tiba menemukan mataku.
"Aku bisa apa lagi, coba? Aku tidak bisa menolak takdirku sebagai Peri Tidur." lanjutnya membela diri.
Aku hanya bisa mengangguk, menunduk. Tak tahu harus bicara apa.
"Seperti sekarang, misalnya...," Peri Tidur belum selesai rupanya. Dan ini membuatku senang karena berarti aku tak perlu mengatakan sesuatu. Aku meliriknya tanpa mencoba melihat matanya.
"Biasanya aku selalu kesal melihatmu tak juga tidur, sementara aku sudah kehabisan lagu. Aku merasa gagal. Aku tidak suka. Tapi malam ini, aku senang bisa bicara denganmu... Aku belajar menerima kamu yang tidak bisa tidur. Ini tidak mudah, tapi aku lega jadinya."
"Aku tidak mengerti...," ujarku.
"Ini melanggar peraturan. Tapi untuk malam ini, kupikir tidak masalah sesekali melanggar peraturan...," lanjut peri tidur tanpa peduli pada perkataanku. Ia mendongak ke langit. Tersenyum lebar dan lepas tanpa beban. Ia gerakkan tubuhnya ke kiri dan kanan.
Aku pun tersenyum, seolah tertular kebahagian yang tengah ia rasakan.
"Mulai hari ini, apakah kau memilih tidur atau tidak tidur, aku akan merasa suka dan tidak suka sekaligus," lanjutnya lagi sambil tetap memandang langit. "Mungkin akan lebih sulit untuk menerima kedua perasaan ini secara bersamaan, tapi tak masalah. Aku memilihnya, dan akan terbiasa."
Aku masih juga tak bisa mengerti apa yang ia bicarakan.
"Aku harus pergi sekarang," ujarnya tiba-tiba. Ia melambaikan tangan di depan mataku, tersenyum, dan pergi begitu saja.
Aku tidak sempat mengatakan sesuatu, dan menyesal karenanya. Aku mengulang-ulang apa yang dikatakan Peri Tidur tadi, mencoba memahaminya. Tiba-tiba, walaupun aku masih tidak sepenuhnya mengerti maksud Peri Tidur—untuk pertama kalinya setelah setahun terakhir—aku ingin tidur dan berhenti menjadi insomniac! Aku ingin belajar menerima mimpi-mimpi yang datang berulang. Mimpi tentang kecelakaan malam itu, tentang darah Katharina di tanganku, tentang Katharina yang meninggal di depan mata, sementara aku hanya menderita luka ringan di bagian kepala.
Saturday, August 15, 2009
Cecila : Pada Suatu Senja
"Teman-teman, sebenarnya pikiran tentang ini sudah berbulan-bulan bersarang di kepalaku. Dan aku sudah tak tahan lagi menyimpannya," ujar Cecila Trefn sedih.
"Hey kenapa tiba-tiba bicara seperti itu, Cecila? Ada masalah apa, kita sudah seperti saudara, jangan sungkan," ujar Mami Gocc sambil melirik Cecila Trefn yang duduk lebih tinggi di atasnya.
"Apa kalian tidak merasa kalau kita demikian menyedihkan?" lanjut Cecila Trefn sambil memandangi langit di kejauhan yang mulai menguning.
"Maksudmu bagaimana, Cecila?" kini giliran Wise de Spratner bersuara.
"Aku jadi bingung memulainya. Aku merasa tidak berguna, tapi kenapa aku masih harus ada di sini. Seharusnya aku dibuang saja. Kadang malu rasanya dipajang terus seperti ini, padahal aku sudah rusak!"
"Kita sama-sama rusak, Cecila," sambung Mami Gocc.
"Justru karena rusak kita ada di sini. Kalau tidak rusak kita tentu ada di rumah yang hangat," sambung Wise de Spratner. "Paling tidak, di sini, kita tidak tercampur dengan sampah lain dan berbau busuk," sambungnya.
"Selokan di bawah sana juga sama busuknya," rutuk Cecila Trefn.
Mami Gocc dan Wise de Spratner serentak melongok ke bawah memandangi selokan hitam pekat yang menggenang.
"Kau benar di sini memang busuk," Mami Gocc berkesah.
"Dan makin hari kita makin lapuk, hancur dimakan cuaca!" tambah Cecila Trefn. "Dan papan di atas ini, sungguh menggangguku!"
Mami Gocc dan Wise de Spratner yang masih memandangi selokan, langsung mengalihkan pandangan ke arah papan yang dimaksud Cecila Trefn.
"Papan itu tidak mengenaimu, kan? Kau enak di atas sana, tempatmu lapang. Kau tak lihat ruang gerakku begini sempit. Aku terjepit di antara Wise dan tembok papan ini, hingga posisi badanku harus selalu miring agar lebih leluasa," Mami Gocc mengeluh. "Dan...ya...dipikir-pikir menyedihkan harus terus terjepit seperti ini," sambung Mami Gocc pelan sekali.
Cecila Trefn melirik Mami Gocc, dan tidak berani berkata-kata sebab ia pun merasa kasihan melihat Mami Gocc.
"Bukankah justru karena papan itu kita bermakna?" giliran Wise de Spratner bertanya pada dua sahabatnya.
"Maksudmu bagaimana?" tanya Mami Gocc.
"Kita dan papan itu saling melengkapi. Kita ada untuk mengukuhkan si Papan. Kita di sini membantunya agar lebih terlihat, dengan begitu akan banyak orang yang datang dan Pemilik Papan akan senang karena ia dapat pekerjaan, dan berarti dapat penghasilan." Wise de Spratner menjelaskan panjang lebar.
"Kau benar, Wise," sambung Mami Gocc.
"Membantu bagaimana? Kau baca baik-baik tulisan pada papan itu! Tidakkah ironis kita yang rusak ini dipajang di sini untuk mendukung si Papan? Apa kalian pikir akan ada orang yang mau memakai jasa Pemilik Papan setelah melihat keadaan kita. Pemilik Papan jelas-jelas tidak bisa memperbaiki kita, bagaimana ia bisa mempromosikan diri untuk memperbaiki yang lain?" Cecila Trefn menyangkal, suaranya meninggi.
"Ah, kau juga benar. Aku sependapat denganmu, Cecila," ujar Mami Gocc.
"Kita sudah tidak tertolong, Cecila," ujar Wise de Spratner sambil memandangi tubuhnya yang tinggi langsing tapi cacat—tak lengkap.
Mami Gocc memandangi Wise de Spratner sedih, lalu memandangi tubuhnya sendiri, "Ya, kita memang sudah tidak tertolong, karena itu kita ditumpuk dan di sini," ujarnya pula sambil memandangi tubuhnya yang berkarat.
Cecila juga ikut memandangi tubuhnya yang lapuk, berdebu, dan kehilangan baling-baling. Padahal, baling-balinglah yang membuatnya berguna—dulu.
Hening. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri. Matahari di kejauhan memerah, dan bias cahayanya menodai langit sekitar.
Merasa tak enak telah membuat teman-temannya bersedih, Cecila Trefn pun berujar: "Maaf, teman-teman... Aku tidak bermaksud—"
"Hey...kita memang ditumpuk dan sengaja di pajang di sini... Tapi, pernah dengar tentang seni instalasi?" Wise de Spratner terdengar bersemangat.
Mami Gocc langsung menyahut, "Apa itu seni instalasi? Apakah sama dengan instalasi rawat inap? Majikanku dulu pernah ke insta--"
"Bukan, Mami Gocc. Aku juga tidak tahu pasti. Sewaktu aku tinggal di rumah majikanku yang seniman, aku pernah mendengar seni instalasi itu berhubungan dengan barang-barang yang ditumpuk atau disusun sedemikian rupa hingga barang-barang itu punya makna lain. Atau mewakili sesuatu yang lain, entahlah."
"Lalu apa hubungannya dengan kita? Aku tidak mengerti," kembali Mami Gocc yang bertanya.
"Aku juga," sambung Cecila Trefn.
"Aduh bagaimana menjelaskannya, ya? Pokoknya aku pikir kita ini bisa disebut sebagai seni instalasi... Anggap saja begitu. Kita ditumpuk dan disusun di sini untuk sebuah maksud, yaitu mendukung si Papan. Agar ia lebih mudah terlihat! Kalian ingat tidak dengan Gadis Berkerudung yang sering lewat jalan ini. Hampir setahun dia lewati jalan ini, dan belakangan baru dia menyadari keberadaan kita. Bayangkan, kalau kita tak ada, ia mungkin tidak akan pernah sadar akan pentingnya si Papan, khususnya bagi Pemilik Papan. Dan kurasa bukan hanya Gadis Berkerudung yang tidak sadar dengan adanya si Papan."
Mami Gocc dan Cecila Trefn saling tukang pandang, bingung.
"Yaa... walaupun kita tidak layak diapresiasi, paling tidak kita bagian dari seni," lanjut Wise de Spratner sambil memandangi kedua sahabatnya, mengharap persetujuan. “Bagaimana?” sambungnya.
"Ehm...kedengarannya bagus. Kita adalah bagian dari seni—seni instalasi. Bukan begitu Cecila?"
Sebenarnya Cecila Trefn tidak berniat mengiyakan, tapi karena ia tak ingin merusak sore ini, ia pun berujar, "Ya...kupikir tidak ada salahnya menganggap diri bagian dari seni. Dan siapa bilang kita butuh apresiasi?! Kita bisa tetap ada, meski tanpa apresiasi."
"Oh aku ingat, Gadis Berkerudung pernah memfoto kita... Apakah bisa berarti ia sedang mengapresiasi kita?" tanya Mami Gocc. "Ia mengambil foto kita sambil berkata betapa kita dan dan si Papan tampak kontradiktif," ujar Mami Gocc.
"Benarkah ia pernah mengambil foto kita? Kontradiktif bagaimana?" tanya Wise de Spratner.
"Dia bilang Papan ini menawarkan jasa service, tapi justru yang dipajang malah kita yang rusak. Bagaimana orang tertarik datang kemari, begitu katanya," jawab Mami Gocc. "Eh, jangan-jangan gara-gara mendengar Gadis Berkerudung itu kau jadi merasa menyedihkan Cecila?" sambung Mami Gocc.
"Eh?" Cecila Trefn yang sedari tadi diam saja tampak kaget mendengar pertanyaan Mami Gocc, dan tidak menjawab apa-apa karena ia pun sibuk bertanya pada dirinya sendiri tentang hal tersebut.
"Tapi, belakangan aku tidak pernah lagi melihat Gadis itu lewat jalan ini, yang sering digoda oleh pemuda-pemuda yang kerap duduk di warung sebelah itu kan?!" ujar Wise de Spratner.
"Kabarnya ia sudah pindah ke luar kota."
"Baguslah. Jadi Cecila tidak akan melihat dia lagi dan merasa menyedihkan karena teringat omongannya." Wise de Spratner melirik Cecila Trefn.
Cecila Trefn mencoba tersenyum dan berujar, "Baiklah, kita adalah bagian dari seni!" ulang Cecila bersemangat.
"Ah aku tahu alasan lain kenapa kita ada di sini," Mami Gocc menyela. "Dan kupikir kita memang harus terlihat menyedihkan. Dengan begitu, peran si Papan ini jadi lebih penting. Ia menawarkan jasa service kepada orang-orang agar barang-barang mereka yang rusak bisa diselamatkan dan bukannya jadi tidak tertolong seperti kita. Bisakah begitu, Wise?"
"Aku tidak tahu kau bisa berpikir begitu, Mami Gocc. Kupikir-pikir kau ini lumayan pintar juga—kadang-kadang tapi...," Wise de Spratner menggoda Mami Gocc.
"Apa kau bilang? Kadang-kadang?" Mami Gocc cemberut.
"Ya... Kadang-kadang...," Wise de Spratner pun tertawa, disusul oleh tawa Cecila yang geli melihat ekspresi Mami Gocc. Mami Gocc, yang tidak bisa cemberut berlama-lama pun ikut tertawa.
Di kejauhan, matahari yang merah hampir lelap di pangkuan langit. Bias cahayanya kini tidak hanya menodai langit tapi juga membekas pada wajah mereka bertiga.
Notes:
* Cecila Trefn anagram dari : Electric Fan
* Wise de Spratner anagram dari : Water Dispenser
* Mami Gocc anagram dari : Magic Com
* Hahahahahahahaaaaaa... Demikian kisah tak begitu penting ini. Saya tidak bisa tidak menuliskan sesuatu tentang foto di atas! Bagaimanapun juga, Jakarta punya banyak cerita!
Notes:
* Cecila Trefn anagram dari : Electric Fan
* Wise de Spratner anagram dari : Water Dispenser
* Mami Gocc anagram dari : Magic Com
* Hahahahahahahaaaaaa... Demikian kisah tak begitu penting ini. Saya tidak bisa tidak menuliskan sesuatu tentang foto di atas! Bagaimanapun juga, Jakarta punya banyak cerita!
Monday, April 06, 2009
Keripik Setan
Entah karena apa, tiba-tiba aku teringat keripik setan saat aku mengingatmu pagi ini. Dan aku jadi membanding-bandingkan dirimu dengan keripik setan terbuas yang pernah kumakan seminggu lalu, yang membuatku sakit perut seharian.
Aku sempat menyesal telah membeli keripik tersebut; yang warna merahnya begitu menggoda, begitu hebat menerbitkan liurku. Tapi kupikir-pikir, jikapun aku tidak membelinya minggu lalu, aku pasti membelinya minggu ini, atau minggu depan, atau bulan depan. Karena aku sudah telanjur tergoda dan tergiur oleh warna merahnya, wangi pedasnya yang samar-samar menyelinap ke hidungku, dan lain sebagainya.
Yah, paling tidak aku tidak penasaran, meskipun aku harus membayar cukup mahal untuk menebus rasa penasaran itu (menahan sakit seharian penuh). Paling tidak aku pernah mencoba, meski untuk itu aku harus memupuk keberanian ekstra tinggi, karena aku tak pernah suka pedas!
* Sabtu, 28 Feb '09. @ RL Writer's Circle. (Metafora).
Aku sempat menyesal telah membeli keripik tersebut; yang warna merahnya begitu menggoda, begitu hebat menerbitkan liurku. Tapi kupikir-pikir, jikapun aku tidak membelinya minggu lalu, aku pasti membelinya minggu ini, atau minggu depan, atau bulan depan. Karena aku sudah telanjur tergoda dan tergiur oleh warna merahnya, wangi pedasnya yang samar-samar menyelinap ke hidungku, dan lain sebagainya.
Yah, paling tidak aku tidak penasaran, meskipun aku harus membayar cukup mahal untuk menebus rasa penasaran itu (menahan sakit seharian penuh). Paling tidak aku pernah mencoba, meski untuk itu aku harus memupuk keberanian ekstra tinggi, karena aku tak pernah suka pedas!
* Sabtu, 28 Feb '09. @ RL Writer's Circle. (Metafora).
Lukisan Pohon
Teduh dan harmonis; inilah kesan pertama yang kutangkap saat aku melihat lukisan pohon di depanku. Tapi saat kupandangi berlama-lama, aku tidak suka pada cabangnya yang menumpuk--rumit dan tidak realis. Terutama satu cabang besar tepat di tengah-tengah. Dan untuk sebuah pohon, daun2nya terbilang sedikit. Untungnya, kesan ini tertutupi oleh latar yang berwarna senada dengan daun: hijau toska! Jenis warna hijau yang kupikir tidak biasa digunakan untuk melukis daun.
Di beberapa bagian, ada daun/bunga berwarna merah bata. Aku tidak suka warna ini ada di sana; seperti noda saja! Tapi, saat kucoba membayangkan lukisan dengan daun yang seluruhnya hijau toska, tentu lukisan ini akan jadi berbeda. Mungkin ia tak akan lagi teduh dan harmonis. Aku sangat suka tentang bagaimana daun-daun itu dibentuk. Kupikir, perlu waktu lama untuk menitik-nitikkan kuas sambil membentuk ratusan pola bunga berkelopak lima: pola yang menyusun dedaunan pada dua pohon yang bersisian, yang jadi objek lukisan tersebut. Mungkin untuk alasan waktu dan tenaga dalam membuat pola titik-titik itulah yang membuat daunnya jadi sedikit.
Oh ya, bukankah hidup kita juga disusun oleh mozaik-mozaik atau titik-titik kecil yang nantinya menemukan polanya sendiri? Dan setiap noda/kesalahan/anomali pada pola atau warna kehidupan adalah mungkin suatu yang diperlukan agar ia menjadi sempurna. Seperti halnya warna merah bata pada lukisan.
Warna kulit kayunya tersusun dari banyak paduan warna. Ada kilasan warna ungu yang memberi efek gelap dan warna abu-abu, juga warna cerah krem. Persis seperti kulit pohon sungguhan. Aku yakin jika kulit pohon hanya dibuat dari satu warna--cokelat tua misalnya--ia akan sangat biasa, sederhana, apa adanya.
Sebuah pola yang tidak berlaku dalam kehidupan. Karena sekecil apapun realitas yang kita temukan setiap harinya, mereka tidak disusun dari suatu konsep apa adanya, melainkan dibuat secara terencana--mungkin kompleks--dan dibuat untuk sebuah alasan, sebuah rencana yang tak mungkin sia-sia!
Sabtu, 7 Maret '09. @RLWriter'sCircle
Di beberapa bagian, ada daun/bunga berwarna merah bata. Aku tidak suka warna ini ada di sana; seperti noda saja! Tapi, saat kucoba membayangkan lukisan dengan daun yang seluruhnya hijau toska, tentu lukisan ini akan jadi berbeda. Mungkin ia tak akan lagi teduh dan harmonis. Aku sangat suka tentang bagaimana daun-daun itu dibentuk. Kupikir, perlu waktu lama untuk menitik-nitikkan kuas sambil membentuk ratusan pola bunga berkelopak lima: pola yang menyusun dedaunan pada dua pohon yang bersisian, yang jadi objek lukisan tersebut. Mungkin untuk alasan waktu dan tenaga dalam membuat pola titik-titik itulah yang membuat daunnya jadi sedikit.
Oh ya, bukankah hidup kita juga disusun oleh mozaik-mozaik atau titik-titik kecil yang nantinya menemukan polanya sendiri? Dan setiap noda/kesalahan/anomali pada pola atau warna kehidupan adalah mungkin suatu yang diperlukan agar ia menjadi sempurna. Seperti halnya warna merah bata pada lukisan.
Warna kulit kayunya tersusun dari banyak paduan warna. Ada kilasan warna ungu yang memberi efek gelap dan warna abu-abu, juga warna cerah krem. Persis seperti kulit pohon sungguhan. Aku yakin jika kulit pohon hanya dibuat dari satu warna--cokelat tua misalnya--ia akan sangat biasa, sederhana, apa adanya.
Sebuah pola yang tidak berlaku dalam kehidupan. Karena sekecil apapun realitas yang kita temukan setiap harinya, mereka tidak disusun dari suatu konsep apa adanya, melainkan dibuat secara terencana--mungkin kompleks--dan dibuat untuk sebuah alasan, sebuah rencana yang tak mungkin sia-sia!
Friday, January 23, 2009
Bunga Mata Bidadari
Pagi ini, di balkon depan kamarku, aku menemukan tiga kuntum bunga berkelopak lima yang berwarna merah muda. Aku tidak tahu namanya. Dan aku pun bertanya-tanya bagaimana bisa mereka terdampar di depan kamarku? Sepertinya, mereka terbawa angin yang mengiringi hujan semalaman. Ya, inilah kemungkinan satu-satunya. Inilah alasan paling masuk akal tentang bagaimana mereka bisa mampir ke sini dan menyapaku pagi ini. Eh, tunggu dulu… Bukankah hidup ini disusun oleh banyak kemungkinan-kemungkinan? Rasanya tidak adil bagi angin jika aku menuduhnya merenggut bunga ini dan mencampakkannya di sini. Tentu ada alasan lain selain terbawa angin, yang membuat bunga ini tersungkur menabrak dinding kamarku. Tidak adil juga bagi kuntum-kuntum bunga jika aku hanya mengira perjalanan yang telah mereka tempuh hanya sejauh akalku saja.
Baiklah aku akan mulai memikirkan kemungkinan lain tentang bagaimana perjalanan mereka sejak tercerabut dari tangkai hingga tiba di sini. Mungkin … Semalam, saat hujan membasuh bumi, ada seorang bidadari tersasar ke balkon depan kamarku. Hujan membuatnya kesulitan membaca arah. Angin hanya menghalangi kepak sayap selendangnya menuju langit antah berantah. Untuk sejenak, bidadari memilih mengalah, duduk bersandar di balkon kamarku yang tak selamat dari serbuan hujan angin yang pantang menyerah. Ia duduk meringkuk sambil menggigil, dan berdoa hujan segera berhenti tercurah.
Tapi bersamaan dengan itu ia tersadar; semakin lama hujan turun membasuh bumi, langit semakin kelam menyembunyikan bintang-bintang yang biasa jadi pemandu arah. Bau tanah basah mengaburkan wangi langit antah berantah. Bidadari menjadi gelisah. Selendang pun telah seluruhnya basah. Ia merasa kalah. Tak tahu bagaimana mengambil langkah. Air matanya tumpah; berleleran menyentuh air hujan yang terus tercurah. Jadilah, air mata pun berubah menjadi bunga berwarna cerah. Bunga inilah, yang wanginya mampu menembus bau tanah, menjadi petunjuk bagi enam bidadari lain yang mencarinya dengan resah. Bidadari berubah sumringah saat melihat ke-enam wajah saudarinya yang tak kalah cerah.
Mereka pun pulang ke negeri antah berantah. Selendang basah tak jadi masalah, karena mereka melesat bergandengan sambil menyamakan langkah. Dalam hati, mereka berjanji takkan bermain hingga sore hari saat hujan sering tumpah. Sebelum hilang ditelan antah berantah, bidadari memandang ke bawah, tersenyum pada bunga matanya yang berwarna cerah, yang tertinggal di balkon kamarku yang basah. Hingga aku menemukan mereka saat langit pagi demikian indah, setelah semalaman menyebar hujan tanpa lelah. Atau, mungkin juga…
Baiklah aku akan mulai memikirkan kemungkinan lain tentang bagaimana perjalanan mereka sejak tercerabut dari tangkai hingga tiba di sini. Mungkin … Semalam, saat hujan membasuh bumi, ada seorang bidadari tersasar ke balkon depan kamarku. Hujan membuatnya kesulitan membaca arah. Angin hanya menghalangi kepak sayap selendangnya menuju langit antah berantah. Untuk sejenak, bidadari memilih mengalah, duduk bersandar di balkon kamarku yang tak selamat dari serbuan hujan angin yang pantang menyerah. Ia duduk meringkuk sambil menggigil, dan berdoa hujan segera berhenti tercurah.
Tapi bersamaan dengan itu ia tersadar; semakin lama hujan turun membasuh bumi, langit semakin kelam menyembunyikan bintang-bintang yang biasa jadi pemandu arah. Bau tanah basah mengaburkan wangi langit antah berantah. Bidadari menjadi gelisah. Selendang pun telah seluruhnya basah. Ia merasa kalah. Tak tahu bagaimana mengambil langkah. Air matanya tumpah; berleleran menyentuh air hujan yang terus tercurah. Jadilah, air mata pun berubah menjadi bunga berwarna cerah. Bunga inilah, yang wanginya mampu menembus bau tanah, menjadi petunjuk bagi enam bidadari lain yang mencarinya dengan resah. Bidadari berubah sumringah saat melihat ke-enam wajah saudarinya yang tak kalah cerah.
Mereka pun pulang ke negeri antah berantah. Selendang basah tak jadi masalah, karena mereka melesat bergandengan sambil menyamakan langkah. Dalam hati, mereka berjanji takkan bermain hingga sore hari saat hujan sering tumpah. Sebelum hilang ditelan antah berantah, bidadari memandang ke bawah, tersenyum pada bunga matanya yang berwarna cerah, yang tertinggal di balkon kamarku yang basah. Hingga aku menemukan mereka saat langit pagi demikian indah, setelah semalaman menyebar hujan tanpa lelah. Atau, mungkin juga…
NOTE :
Sewaktu kecil nenekku pernah mendongengkan kisah bidadari yang saat menangis airmatanya berubah menjadi bunga. Sayang aku tak ingat kisah lengkapnya. Tapi yang pasti, bunga yang kutemukan di balkon kamar adalah bunga yang sama yang disebut-sebut nenekku sebagai bunga yang berasal dari airmata bidadari.
Subscribe to:
Comments (Atom)





