Showing posts with label Lembar Puisi. Show all posts
Showing posts with label Lembar Puisi. Show all posts

Friday, September 02, 2016

Adalah Kuntum dan Duri

Sepagi tadi, ada rindu
Mengembun di pucuk-pucuk ilalang
Bening; hening

Lalu benci datang meradang
Bersama angin yang melenting-lenting
Dari tempat terjauh
Dari mimpi terburuk
Dari harapan yg terampas

Rindu yang mengembun tadi
Kehilangan bening,
Pun kehabisan hening

---


Wahai kamu,
Rindu dan benci ini
Adalah kuntum dan duri:
Adalah hati yang pernah mekar
Adalah dendam yang mengakar!



Tuesday, August 19, 2014

Pagi di Pertengahan Agustus

Suatu pagi di pertengahan Agustus
adalah pagi yang gerah:
di dinding kamar, melekat aroma parfum
yang tak henti membicarakan rindu

Suatu pagi di pertengahan Agustus
adalah pagi yang hujan:
di luar, merintik pelan di sepanjang jalan
menggugurkan ingatan tentang gerah
membasuh aroma parfum dengan bau tanah basah

Lalu aku berjingkat bersama hujan,
dengan kaki telanjang, meraba jalan:
dimana kah langit menyembunyikan Matahari,
menyulam pelangi yang tengah kau pandang?  




Monday, August 05, 2013

N-Ach #10: Jatuh

Jika pun suatu hari nanti
takdir tidak berpihak pada kita,
aku tegaskan dari sekarang:
ya, aku pernah sangat jatuh cinta padamu
dan sungguh tak ingin menyesalinya--
pengalaman jatuh yang satu itu.

Saturday, August 03, 2013

N-Ach #9: Ragu di Ruang Tunggu

Ada ragu yang menunggu
di ruang tunggu
tak perlu kau jemput ia
atau kau tanya mengapa;
ia hanya duduk sementara di sana
sebelum waktu mengajaknya bicara
tentang apa yang kini masih rahasia

Wednesday, July 17, 2013

Semua Tentang (Kenangan)



tak bisa kuingat tanggal hari itu atau bulannya
entah Mei atau Juni atau awal Juli--
yang pasti Hamburg tengah menyemai musim semi

aku berdiri di sebuah halte
Oberschleems Haltestelle namanya:
udara dipenuhi serbuk bunga berwarna putih
yang mengotori udara, masuk ke rumah melalui jendela
dan yang bisa membuatmu terbatuk

(seketika) aku merasa asing:
di tengah keterasingan kota
yang tak pernah kuimpikan bisa kupijak,
di tengah kikuknya hidup bersama bangsa arya
yang tiba-tiba dinobatkan menjadi keluarga

--di mana kau kala itu,
saat aku tengah terasing dan merasa sendiri?

ada banyak yang ingin kuceritakan:
tentang musim yang baru kupahami,
tentang bunga yang tak pernah kulihat,
tentang makanan yang asing di lidah,
tentang bahasa yang mulai kuakrabi tapi susah kukuasai,
tentang jalan-jalan yang sepertinya tak kan bisa lagi kutelusuri,
tentang orang-orang yang mungkin tak kan lagi bisa kutemui,
tentang negeri yang ribuan mil jauhnya dari sepetak Bumi yang kita kenal,
tentang rindu. tentang pilu. tentang tawa. tentang airmata. tentang takjub. dan semua tentang yang lain.

--adakah kau turut merasa keterasingan yang sama,
wahai belahan jiwa?




*kenangan di salah satu sudut tepi jalan Billstedt, Hamburg; musim semi 2010










luka baru

aku memang tidak pernah cerita
tentang luka lama yang kupikir sudah sembuh sempurna

--sampai kau datang hari itu
membuatku menemukan keberanian baru,
mengidamkan segala rupa suka

lalu entah di mana atau apa sebabnya
suka dan luka berlomba
untuk hadir dalam tiap cerita kita

dalam masa itu
aku sadar:
lukaku yang dulu hanya menjelma luka baru
--yang (sialnya) tak ingin kuobati.


Memintal Pelangi


aku masih memintal pelangi
yang kemarin itu juga
ditemani hujan yang salah musim--
hujan di bulan Juli;

--betapa hati ingin menyelesaikannya segera
tapi benangnya yang berwarna-warni harapan itu
kau bawa serta.

aku bisa saja menggantinya dengan benang yang lain
yang lebih cerah mungkin
tapi aku tak ingin, mungkin belum ingin
bagiku—sempurna adalah menyelesaikan apa yang sudah dimulai.

Monday, July 15, 2013

Rindu Pulang

(Sleeping) Angel
Photo courtesy: www.patrickowen.net
Ia tidak tidur
tidakkah kau lihat
matanya bergerak cepat mengeja mimpi:
tentang rimis sore hari dan jalur pelangi setelahnya

Ia tidak tidur
takkah terdengar pilu igaunya;
ada kata-kata yang akan sia-sia saja
meski bisa diungkapkan

Ia tidak tidur
adakah kau rasa
perih yang merambat hingga ke ujung-ujung jari:
saat jejak ingatan menggumamkan lagu rindu

Sungguh ia tidak tidur—setidaknya dengan tenang:
apa rasanya memiliki sayap tapi tak bisa terbang?
dan tak bisa pulang?



Sunday, July 29, 2012

Rasionalisasi


Sekotak mimpi

Bukankah ini sekotak mimpi
yang tidak pernah kau pesan
meski pernah diam-diam kau inginkan?
lalu kenapa saat ia melintas, hilir-mudik
bersama-sama dengan ketukan angin
di depan jendela kamarmu yang berkabut
kau malah sangat gelisah,
bahkan menjadi sedikit kesal:
(tanpa merasa perlu membuka jendela lebar-lebar)
kau malah berani berharap
ke jendela kamarmu ia akan diantar
dan singgah tidak sebentar.



Aku Tidak Lupa

Dengar, aku tidak lupa
mungkin takkan pernah lupa
rasa ini hanya kuarahkan ke mana suka
asal tidak mendarat di tempatmu sekarang berdiri
karena aku terlalu takut; itu akan membuatmu beranjak pergi.

Tersedak Mimpi

Ia lah gadis kecil yang kemarin itu
yang gemar meniupkan tiap-tiap harapan
pada kuntum-kuntum dandelion
di padang belakang

Di antara rimbun ilalang yang tinggi
angin bulan Juli berdesing sunyi
hangat mentari adalah saksi:
ia berdiri menikmati manisnya cuaca
menghirup sebanyak-banyak udara
lalu tersedak oleh mimpi
yang baru saja ia tiupkan dengan sangat hati-hati.




Saturday, July 28, 2012

Kupu-Kupu di Telapak Tanganku

Izinkan aku merekam sekeping kenangan manis itu, Ibu:

kau lukiskan pada telapak tanganku
seekor kupu-kupu kecil
yang bersayap lengkap
namun tak bisa mengepak

di luar, langit hampir selalu abu-abu
musim semakin dingin,
daun semua gugur,
namun hati kita musim semi

kupu-kupu kecil itu mati setelah tiga hari, Ibu
namun hangat ingatan tentangnya
masih menyengat hati hingga kini--
saat diri tak tahu lagi jalan kembali
ke hangat rumahmu yang ramai namun terasa sepi

sekarang aku mengerti, Ibu
kenapa di bawah naungan langitku kini
yang selalu biru dan bermatahari
aku gemar sekali melukis bunga-bunga kecil
di telapak-telapak tangan yang subur--
mungkin diri ini mengimpi
bunga kecil akan mengundang kupu-kupu kembali




*suatu hari, di dapur yang hangat.



Thursday, July 26, 2012

Warna Laut Hari Ini

Warna laut hari ini
serupa wajahmu kemarin itu:
biru pucat,
tampak tenang:
menimang badai yang disembunyikan


lalu diam-diam
kau kayuh rinduku yang berkabut
sejauh-jauh pandangan!


Sunday, July 01, 2012

Hujan Seminggu

Kemarin aku melihat kamu di warna pelangi
lalu mendadak rindu menyergap bagai hujan
yang memang kerap turun sejak seminggu yang lalu:
adakah musim hujan yang sama
telah pula singgah di lapang hatimu?
atau hanya aku yang gelisah sendiri
di pojok musim--bimbang menimang keinginan:
antara ingin main hujan-hujanan
tapi takut sakit dan deman di keesokan?

Selembar Daun yang Terbang ke Bulan

Ada selembar daun yang terbang ke bulan, Sayang
saat malam menggigil di bulan Desember
menyaksikan dua anak kecil bermain di taman:
sepatu mereka meninggalkan jejak yang dalam
di hamparan salju yang disimbah cahaya bulan

Ada selembar daun yang terbang ke bulan, Sayang
tidakkah kau lihat bayangannya melambai-lambaikan perpisahan?
tidakkah kau dengar suaranya yang kian lama kian mirip igauan?

Ada selembar daun yang terbang ke bulan, Sayang
ada kisah yang dijejalkan ke dalam kotak kenangan



Saturday, June 23, 2012

Rinduku Padamu

Rinduku padamu
adalah abu yang masih menyimpan bara
yang ditinggalkan pengembara,
di balik rimbun pepohon nipah tepi sungai
tempat kunang-kunang berpesta
dalam gelimang cahaya

Sunday, June 10, 2012

Akan Ada Saatnya

Ada saatnya, percayalah, akan ada saatnya
kita merindukan burung-burung kecil
yang gemar menyibukkan kita dengan liuk kepaknya
yang kita usir sebab kerenyahan siulannya
yang kita abaikan sebab tulus kicaunya:

saat sepi adalah satu-satunya wacana
yang nyaring gumamannya

Ada saatnya, percayalah, akan ada saatnya
kita mengerti kemegahan bunga-bunga kecil
yang setia mengurung kita dengan warna
yang wanginya kita hina dalam kekeruhan pikir
yang ingin kita petik hanya agar ia gugur:

saat musim berhasil mengajarkan kita
bunga adalah pertanda semi telah tiba

Ada saatnya, percayalah, akan ada saatnya
burung dan bunga kecil akan genap maknanya
di hati yang menanggung luka dunia...

Monday, April 02, 2012

Tentang Daun #8: Pinky Promise

Pinky promise:
sudah membiru
di jejak waktu yang renyah
dikunyah penantian.

Saturday, March 31, 2012

Tentang Daun #7: Gugur


Saat angin semalam demikian tekun mencabiki bentala,
sebatang pohon ringkih ini memang tidak sampai patah
tapi ia tahu, semua tak akan pernah sama:
daun-daun tak lagi menari di ujung rantingnya!

Wednesday, March 14, 2012

Tentang Daun #6

kepada selembar daun:
akan kuingat warna tawamu hari ini, yang berderai ditingkah siulan angin sore
yang merambat di udara lalu mengontaminasi jejak cuaca

di kantung-kantung kenangan
cerita tentang selembar daun dan cuaca
adalah dongeng di pagi hari!







Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...