Showing posts with label Jerman. Show all posts
Showing posts with label Jerman. Show all posts

Tuesday, July 23, 2013

N-Ach #1: Menu ala Turki

Nah ini dia edisi perdana N-Ach Project. Dan hari ini adalah hari ke-14 puasa. Yuk kita mulai.....

Pernah dengar ungkapan bahwa dapur Turki terkenal sebagai dapur yang paling kaya? Kaya dalam hal ini adalah dalam hal cita rasa, varian makanan dan ragam bumbu masakan khas Turki. Hidup setahun bersama keluarga Turki membuat saya mengenal dan mencicip kekhasan dan kekayaan masakan mereka. Masakan Turki kaya bumbu seperti halnya masakan kita, dan untuk jenis kue, rasanya bisa sangat manis. Kue Baglava misalnya; uuuhh giung kalau kata orang Sunda mah.

Dari sekian banyak masakan Turki, hanya beberapa saja yang bisa saya masak. Dan saya ingin membagi sedikit resep yang gampang dibuat. Bisa dibilang ini pertama kalinya saya berbagi tips atau resep masakan sepanjang karis saya nge-blog ya.... Kali aja bisa jadi menu alternatif saat buka puasa.

Saya pilih menu nasi ala Turki ya, menu utama kita. Saya juga akan memberi tips membuat salad ala Turki.

Orang Turki memasak nasi dengan cara yang sedikit berbeda dengan kita; mereka tidak pernah masak nasi tawar tanpa bumbu seperti yang biasa kita masak. Dan uniknya, berhubung makanan utama orang Eropa adalah roti, meski mereka makan nasi tetap saja roti tidak ketinggalan disuguhkan.

Untuk memasak nasi ala Turki, berikut langkah-langkahnya.

Bahan (Nasi):
Beras
Air atau air kaldu lebih baik
Sayuran kaleng (jagung manis/ wortel/ buncis/ kacang polong)
Margarin
Garam secukupnya
Merica bubuk
Yoghurt kental tawar (optional)

Cara Membuat:
  • Panaskan panci anti lengket. Panaskan margarin secukupnya (disesuaikan dengan banyaknya porsi nasi).
  • Masukkan beras yang sudah dicuci bersih dan ditiriskan. Aduk beberapa saat.
  • Masukkan air secukupnya (jika ada air kaldu lebih baik). Air kaldu akan menambah cita rasa gurih pada nasi.
  • Tambahkan garam secukupnya dan merica bubuk. Aduk.
  • Masukkan sayuran kaleng. Jagung manis saja sudah cukup menambah kaya rasa nasi ini. Namun bisa juga campuran jenis sayuran di atas dimasukkan. Aduk.
  • Tutup panci dan diamkan nasi hingga airnya larut. Setelah itu, masak nasi dengan api kecil. Masak hingga matang. 

Gampang kan? Sekarang kita bikin saladnya.

Bahan (Salad):
Selada air
Timun Jepang
Tomat
Biji buah delima atau apel potong kecil
Bawang bombay merah (optional)
Garam secukupnya
Minyak sayur 2 sdm
Air perasan jeruk lemon secukupnya
Seledri kering atau segar

Cara Membuat:
  • Potong semua bahan sayuran sesuai selera. 
  • Masukkan semua sayuran pada mangkuk saji. 
  • Tambahkan potongan apel yang sudah dipotong dadu. Atau jika mau apel bisa digantikan dengan biji buah delima merah. Dua jenis buah ini akan memberi rasa asam yang segar untuk salad yang kalian buat. 
  • Masukkan minyak sayur, air perasan jeruk lemon, garam secukupnya. Bubuhkan bubuk seledri kering. Jika tidak ada bisa juga menambahkan seledri segar. Tapi seledri segar kita rasanya cenderung lebih kuat, jadi sebaiknya sedikit saja atau tidak usah sama sekali. 
  • Jika mau, tambahkan irisan bawang bombay merah. Namun jika ingin salad yang segar, tidak pakai bawang juga ga masalah. 
  • Aduk rata. Salad segar siap disajikan. 

Tips: 
Sebaiknya mengaduk semua bahan saat salad sudah akan dihidangkan. Mengaduk salad jauh sebelum saat dihidangkan akan membuat salad tidak terlalu segar saat disantap. Salad juga hendaknya langsung dihabiskan. 

Cara menghidangkan:
  • Nasi yang sudah masak disajikan di piring saji. 
  • Untuk lauk-pauknya, kalian bisa menambahkan ayam atau ikan panggang atau apa pun. Sebenarnya ada resep untuk daging atau ikan panggang, tapi ga jauh beda dengan resep kita. Jadi sesuaikan saja dengan resep sendiri. 
  • Jangan lupa tambahkan salad sebagai menu sayurannya. 
  • Terakhir, tambahkan yoghurt kental yang tawar di atas nasi. 

Catatan: 
Rasa dingin yoghurt kental yang baru keluar dari kulkas berpadu dengan gurihnya nasi hangat ala Turki akan memberi pengalaman rasa yang berbeda untuk lidah Indonesia. Saya suka makan nasi dengan yoghurt ini. 

Orang Turki suka "membersikan" piring makanan dengan roti atau maksud saya mencocolkan roti pada bumbu makanan. 

Selamat mencoba, ya.... :)




Wednesday, July 17, 2013

Semua Tentang (Kenangan)



tak bisa kuingat tanggal hari itu atau bulannya
entah Mei atau Juni atau awal Juli--
yang pasti Hamburg tengah menyemai musim semi

aku berdiri di sebuah halte
Oberschleems Haltestelle namanya:
udara dipenuhi serbuk bunga berwarna putih
yang mengotori udara, masuk ke rumah melalui jendela
dan yang bisa membuatmu terbatuk

(seketika) aku merasa asing:
di tengah keterasingan kota
yang tak pernah kuimpikan bisa kupijak,
di tengah kikuknya hidup bersama bangsa arya
yang tiba-tiba dinobatkan menjadi keluarga

--di mana kau kala itu,
saat aku tengah terasing dan merasa sendiri?

ada banyak yang ingin kuceritakan:
tentang musim yang baru kupahami,
tentang bunga yang tak pernah kulihat,
tentang makanan yang asing di lidah,
tentang bahasa yang mulai kuakrabi tapi susah kukuasai,
tentang jalan-jalan yang sepertinya tak kan bisa lagi kutelusuri,
tentang orang-orang yang mungkin tak kan lagi bisa kutemui,
tentang negeri yang ribuan mil jauhnya dari sepetak Bumi yang kita kenal,
tentang rindu. tentang pilu. tentang tawa. tentang airmata. tentang takjub. dan semua tentang yang lain.

--adakah kau turut merasa keterasingan yang sama,
wahai belahan jiwa?




*kenangan di salah satu sudut tepi jalan Billstedt, Hamburg; musim semi 2010










Sunday, February 26, 2012

Gadis Berkerudung Senja

Ialah gadis kecil berkerudung senja
matanya adalah sepasang lampu jalan
yang meletup-letup disambar salju tengah malam
entah hitam muda, entah hitam tua--aku lupa

senyumnya adalah bunga musim semi
cerah segar layaknya berkaleng-kaleng warna pagi
entah terpana, entah penuh tanya
lekat ia memandangku--aku tertular ceria

gigil angin menjelang musim dingin,
menyeretnya segera--
menghilang di ujung jalan:
belum usai kami menuntas penasaran

desing angin di sudut Kota Hamburg kala itu
berbisik padaku sebuah rahasia:
hari itu adalah pertama dan terakhir kami berjumpa




Tuesday, May 17, 2011

Aku Menyerah, Tapi Bukan Kalah

Aku memang menyerah, tapi bukan kalah.
Aku justru bebas seperti serbuk-serbuk putih
dari bunga yang tak kutahu namanya
yang lincah berlarian menghiasi udara
atau justru mengotorinya

Mungkin kau menikmati memandanginya
dan berusaha menangkapi mereka
saat berdiri di halte menunggui bus kota
yang akan membawamu melintasi keasingan jejalan tua
untuk sekali itu saja; sebab sepertinya tak ada kesempatan kedua

Tapi mungkin juga kau akan terbatuk
jika serbuk-serbuk itu secara tak sengaja tertelan olehmu
saat menghirup dalam-dalam (sambil memejamkan mata)
angin musim semi yang gegas melintas:
agar sejuk meniup hatimu, agar tenang mengusir resahmu.


* teringat memandangi serbuk bunga pada suatu hari di musim semi:
   Oberschleem Haltestelle, Billstedt--Hamburg.

Tuesday, December 21, 2010

Lelaki Tua di Suhu Minus Lima

Dia berdiri melongok ke bawah jembatan, dimana mengalir sungai kecil yang cukup jernih. Seluruh pakaiannya hitam termasuk topi model lama yang menutupi sebagian rambutnya yang seluruhnya putih, seputih salju di sekitar. Saya pun mengenal lelaki ini hanya sebatas tampak belakang. Atau sebut saja sebatas punggung.

Meski sekelilingnya tertutup salju dan membeku, air sungai yang mengalir di bawah jembatan sama sekali tidak terganggu. Bahkan itik-itik liar masih berenang riang di sana. Saya tidak mengira bahwa itik masih bisa berenang di air yang pasti demikian dingin.

Lelaki tua di jembatan terlihat gusar, lalu buru-buru mengeluarkan sesuatu dari kantung yang dibawanya. Remah roti. Cepat ia taburkan ke bawah jembatan. Lalu, entah apa yang dilihatnya, ia berlari menyebrang jalan sambil memegang kantung berisi remah roti yang terguncang-guncang. Saya tak bisa berhenti memandanginya meski sambil terus melangkah. Lelaki tua menuju sisi lain jembatan, ia menabur semua remah roti yang dibawanya. Begitu selesai, ia melenggang tenang seolah baru saja selesai menunaikan tugas penting. Rupanya, itik liar berenang ke sisi lain jembatan dan lelaki tua mengejar demi memberikan remah roti yang sengaja disisihkannya.

Saya pun melanjutkan langkah dengan pandangan ke depan (sebelumnya saya berjalan sambil melihat ke belakang--ke arah lelaki tua). Kedua telapak tangan tersembunyi di kantung jaket sebab sarung tangan tak cukup menangkal dingin. Saya berjalan sambil menunduk, demi menghangatkan sebagian wajah dengan cara menyembunyikannya di balik syal wool warna maroon. Minus lima derajat; suhu udara pagi ini. Begitu yang saya dengar dari berita prakiraan cuaca hari ini.

Saat-saat seperti ini, sebagian besar orang akan memilih untuk berada di rumah yang hangat sambil minum teh bunga kamomil, dan bukan berada di jalanan apalagi untuk alasan memberi makan itik liar di bawah jembatan!

***

Sepertinya saya memang diberi kesempatan mengenal lelaki tua hanya sebatas pungggung. Beberapa hari kemudian, saya melihatnya (tampak belakang) hendak menyeberang jalan. Jaket hitam dan topi hitam yang sama, yang menutupi rambut seputih salju, membuat saya yakin bahwa dia memang lelaki tua yang memberi makan itik liar di bawah jembatan.




*Musim Dingin di Hamburg, 2009

Thursday, November 18, 2010

A Pale Moon in a Shining Winter Afternoon!

I was once walking in early afternoon while staring at the pale moon.
But couldn't stop looking back to see the shinning sun in the opposite side.
Then, I heard the solid snow cracked beneath my black boots.

Hey, it's a pale moon in a shining winter afternoon!
What a combination!

You know what? The day before I said to someone that there won't be the sun and the moon at once in the afternoon sky. Well, yes, sometimes we see the moon still hanging in the early morning sky but not in the afternoon's. And in early morning, the sun is not so bright and shining so the moon wouldn't be threatened.

I was so amazed for the moon that I stopped walking and looked at the half moon and the sun by turns. It's just such extraordinary moment for me so I stood and enjoyed it. It "disturbed" me that the sun and the moon apparently can share the sky in the same time.

It was December 31th 2009--approaching a new year's eve or the German used to call it "Sylvester". I was on the way home from Hamburg-sightseeing with friends. It was my first new year's eve in a far away country. It should be a great time; don't you think so? But, it wasn't.

At night, the fireworks filled the sky, but not filled my heart which was painful of the intense sobbing. The fireworks lit the sky so it's full of lights, but my eyes were filled with tears.

I won't tell the reason for the intense crying. It's not the point. I wrote this only because I want to remember the moment and most of all to remember the things I've learned in that very last day of year 2009.

I wondered if I was no different with the pale moon; let say it's extraordinary to keep existing during the day time. But what's the importance? It's no use to shine in the shining winter afternoon!

Tuesday, September 07, 2010

Meracau: Mengantungi Matahari

Hari ini aku berhasil menangkap matahari. Ia terjatuh saat tengah asyik bermain ayunan. Ia tidak menangis, hanya sedikit meringis, dan kehilangan cerahnya.

Daun-daun kuning beristirahat dengan tenang di pangkuan rumput hijau, hingga angin datang mengajak mereka bergoyang, atau bahkan terbang.


Langit, birunya sangat bersih dan terang, bersanding kontras dengan gumpalan-gumpalan tebal awan putih bersih. Luas sekali.

Wednesday, August 18, 2010

Kalimat Berantai

Sejak kursus di VHS berakhir, saya mengikuti Deutsch Lernen und Menschen Treffen di perpustakaan tak jauh dari VHS (masih di kawasan Billstedt Centrum). Program ini terbilang baru, dan diadakan secara gratis setiap hari Senin dan Kamis pukul 10.00-11.00. Meski begitu, setiap pertemuan di kedua hari tersebut bukanlah satu kesatuan. Pada hari Senin kami punya dua fasilitator, sedang hari kamis kami hanya punya seorang fasilitator lain lagi. Konsep pembelajaran pun berbeda. Khusus untuk hari kamis, pertemuan ini hanya terbuka untuk perempuan.

Sudah tiga minggu tak datang sebab berlibur ke Turki, ternyata ada perubahan sistem di hari Senin ini. Biasanya kami bertemu, sambil minum kopi dan biskuit, lalu bergiliran bercerita tentang apa yang dilakukan akhir minggu kemarin. Atau kadang-kadang, obrolan mengalir begitu saja tanpa ada tema khusus. Saya pikir saya akan ditanya perihal liburan ke Turki saat sesi dimulai. Eh belum mulai sesi, mereka sudah menanyakan perihal liburan tersebut. Selanjutnya sesi perkenalan anggota baru: ada Yelena dan Francis yang bicara panjang lebar tentang diri mereka. Setelahnya, sesi hari ini pun dimulai.

Hari ini, kami punya permainan. Sepuluh orang hadir mengelilingi 4 (empat) meja kayu kecil yang dijadikan satu meja besar. Sambil minum kopi dan makan biskuit, secara bergantian masing-masing dari kami harus menyambung kata dari peserta sebelumnya agar menjadi sebuah kalimat panjang. Tapi ini tak semudah teorinya, karena sebisa mungkin kata yang dipilih harus memungkinkan peserta berikutnya bisa melanjutkan. Intinya membuat kalimat sepanjang-panjangnya sebelum titik. Dan saat tiba giliran, sebelum menambahkan kata baru, setiap peserta harus mengulang semua kata yang sudah disebut sejak awal oleh peserta sebelumnya. Jadi, permainan ini pun membutuhkan kemampuan mengingat yang baik. Untuk mengingat rentetan kata berantai, saya tidak mengalami kesulitan. Tapi, saya kebingungan tiap kali kebagian giliran menyambung kalimat. Untung dibantu.

Ini dia kalimat berantai hari ini. Saya urutan no. 2. Jadi kata yang saya sebutkan adalah: sind, außer, hier.

"Wir sind hier und lernen Deutsch, aber nicht so komplisiertes Deutsch außer English, denn es ist so einfach für alle die hier teilnehmen, also können wir weiter lernen und Tschüs!"

Artinya: Kami ada di sini dan belajar Bahasa Jerman, tapi bukan Jerman yang rumit bukan pula Bahasa Inggris, karena sangat mudah bagi semua orang untuk turut serta, maka bisalah kita terus belajar dan bye!

Tschüs=bye dalam bahasa Inggris. Sedikit tidak nyambung memang. Tapi kata ini muncul bukan tanpa alasan. Waktu satu jam sudah habis, maka Sarah (fasilitator) dengan spontan menyebut kata ini untuk mengakhiri kalimat, diikuti tawa kami semua. Di sebelah Sarah ada Agata, juga fasilitator. Keduanya berasal dari Polandia. Urutan selanjutnya ada saya (Indonesia), Yelena (Kazakstan), Gulalei (Afganistan), Danuta (Polandia), Valai (Azerbaijan), Francis (Ghana-Afrika), Darius (lupa dari mana), Kemi (Afrika).




*Billstedt; Senin, 16 Agustus 2010

Friday, July 02, 2010

Cinta Musim Semi

Tidak seperti pepohonan dan reranting
yang mati mengering
pada tiap-tiap musim dingin,
cintaku padamu tetap semi sepanjang tahun

Genggamlah tanganku
kita jajari langkah-langkah waktu
tanpa pernah takut dan ragu
terbekukan salju...








Hamburg, 2 Juli 2010
*Foto diambil pada 10 Maret 2010; Öjendorfer Park

Sunday, November 15, 2009

Matahari di Atas Lantai

Pagi ini aku melihat matahari terbit di atas lantai.
Matahari ini pun menyilaukan; mataku terpicing saat berusaha memandangi kilaunya.
Maka aku mengerti:
memandang matahari baik di langit atau di lantai tidaklah jauh berbeda,
jika tidak bisa dikatakan sama saja.
Pada keduanya, cahaya matahari tetap menyilaukan
dan tidak bisa dipandang dengan mata telanjang.
Karena langit dan lantai hanyalah media.
Mereka hanyalah bingkai
dimana matahari bisa menitipkan potret dirinya yang seutuhnya.

Sama halnya dengan Jerman dan Indonesia.
Mereka juga hanya media.
 Mereka adalah dua tempat yang berjauhan
dan memiliki banyak perbedaan.
Meski begitu, aku bisa hidup di keduanya,
tanpa menjadi (sepenuhnya) berbeda!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...