Showing posts with label Bangku Kenangan. Show all posts
Showing posts with label Bangku Kenangan. Show all posts

Friday, September 02, 2016

Adalah Kuntum dan Duri

Sepagi tadi, ada rindu
Mengembun di pucuk-pucuk ilalang
Bening; hening

Lalu benci datang meradang
Bersama angin yang melenting-lenting
Dari tempat terjauh
Dari mimpi terburuk
Dari harapan yg terampas

Rindu yang mengembun tadi
Kehilangan bening,
Pun kehabisan hening

---


Wahai kamu,
Rindu dan benci ini
Adalah kuntum dan duri:
Adalah hati yang pernah mekar
Adalah dendam yang mengakar!



Monday, June 30, 2014

Free Writing Bersama Caca & Lala: Pizza Rasa Cinta!


Bisa dibilang ini kali pertama saya menulis bersama anak-anak. Siapa sangka, ternyata saya pun belajar beberapa hal dari mereka.

Suatu pagi menjelang siang (24/6), Caca masuk ke kamar sambil main game di HP saya. Saya pun melihat kesempatan mengajak Caca dan Lala untuk menulis bersama. Awalnya saya cerita pada Caca bahwa saya sering mengirim kuis ke majalah sewaktu masih kecil dan mendapat hadiah. Saya juga menulis artikel dan pernah dimuat juga, bahkan saya bisa jalan-jalan gratis karena saya menulis. Lalu saya menunjukkan buku kumpulan cerpen bersama teman-teman klub nulis di Bandung berjudul A to Z by Request--buku yang diterbitkan pertama yang mencetak nama saya, meski hanya menyumbang 1 cerpen saja.

Melihat nama saya tertera di sana, Caca tertarik membacanya. Ia pun membawa buku tersebut ke ruang tamu. Tak lama, mamanya datang dan melihat buku tersebut. Eh, kakak ipar pun tertarik membaca dan meminjamnya untuk dibawa pulang. Caca sempat bilang, "Yah bukunya dibawa Mama, padahal Caca pengen baca."

Mendengar ini, saya lalu mengajaknya untuk belajar menulis saja. Saya menceritakan bahwa konsepnya akan sama dengan kegiatan menulis bersama dengan teman-teman di klub nulis. Meski ragu-ragu, Caca akhirnya mau juga, termasuk Lala yang baru masuk kamar.

Seperti yang sudah disebutkan, prosedurnya mengadopsi apa yang saya praktekkan di klub nulis RLWC. Thanks to RLWC. Saya menentukan tiga tema (cupcakes, pizza, dan boneka anjing) yang ditulis dikertas lalu digulung dan diundi. Saya kasih waktu 10 menit. Selesai menulis, kami membacakan karya kami secara bergantian sesuai hasil 'hom-pim-pah'. Saya juga merekam suara mereka membacakan tulisan masing-masing.

Pada sesi pertama, Lala mendapat giliran pertama membaca. Ia begitu malu-malu membacakan ceritanya. Saat menulis pun ia banyak komentar, "Nulisnya gimana?" Saya mengusulkan, "Ya tulis aja, apa pun. Tulis aja 'duh nulis apa ya, misalnya.". Alhasil, tulisannya pun singkat saja. Di bawah ini nanti adalah tulisannya yang kedua. Setelah mendengar tulisan Aunty dan kakaknya, ia jadi lebih bersemangat menulis. Kami bahkan melewati 4 atau 5 kali sesi menulis, karena Lala minta nulis lagi dan lagi.

Berikut adalah beberapa hal yang saya pelajari kemarin:

Jujur dan apa adanya adalah hal pertama khas anak-anak. Itu pula yang saya rasakan saat saya mendengar tulisan mereka. Ada kesan tersendiri yang ditangkap oleh indera saat saya mendengar cara mereka menerjemahkan tema ke dalam tulisan.  

Meski sederhana, Caca bisa menuangkan idenya tentang "Cupcakes" di kertas dengan lancar dan jujur. 

Tulisan Caca, tema "Cupcakes"
Selain tulisan singkat di atas, Caca juga bahkan bisa menulis cerpen utuh dan selesai sebelum waktu yang ditentukan habis. Cerpen yang juga membuat saya terkesan, meski sederhana khas anak-anak. Saya tidak menyangka akan bakat mereka. Saya langsung membandingkan dengan diri sendiri; saat saya seusia mereka, belum tentu saya bisa menulis seperti itu.

Dari kegiatan menulis bersama ini, tentu saya juga berkesempatan mengenali emosi, perasaan, dan keinginan mereka. Saya jadi tahu, bahwa Caca belum pernah makan cupcakes dan bertanya-tanya seperti apa rasanya. Saya sempat bilang bahwa nanti kami akan belajar bikin cupcakes. Mereka sangat bersemangat dan terus menagih janji saya. Sayang saya belum bisa memenuhinya. Belum browsing resep dan bahannya saya belum tahu harus cari ke mana. Tapi dari game yang mereka mainkan, mereka menuliskan untuk saya resep cupcakes, hanya saja tidak ada takaran untuk tiap bahan. Duh, jadi makin merasa berdosa belum bisa ngajak mereka bikin. 

Saya jadi lebih mengenal mereka melalui media tulisan. Jika tidak melewati kegiatan ini, saya mungkin tidak pernah tahu bahwa Caca belum pernah makan cupcakes dan ia bertanya-tanya seperti apa rasanya. 

Saya juga jadi tahu bahwa meski masih kecil, Lala mengerti makna kata "Kecewa" dan bisa mengungkapkan makna kecewa dengan apik dalam sebuah cerita. Selama ini, Lala tampak jarang mengungkapkan emosinya. Ia banyak diam tapi diamnya adalah memperhatikan. Ia sangat peka terhadap lingkungan serta keadaan dan perasaan orang lain. Tapi ia jarang bicara tentang dirinya, keinginannya apalagi emosinya. Mendengar ia membacakan tulisan kecewa, saya (lagi-lagi) terkesan. 

Dalam tulisannya, tokoh aku menantikan kejutan ultah. Aku bahkan berpikir untuk berdandan cantik demi menyambut kejutan. Eh,di akhir cerita, aku harus kecewa karena kejutan yang ditunggu tak datang sebab ayah dan mama sangat sibuk. Kasian.... Saya langsung menanyakan kapan ia akan ultah, dan berjanji dalam hati akan mengingatnya. 

Tulisan Lala, tema "Kecewa"

Saya pernah membaca bawasannya feeling message atau ungkapan perasaan tentang apa yang kita alami (atau cara kita memaknai sesuatu) akan jauh lebih mengena dan menarik untuk didengar dari pada hanya ungkapan fakta tentang apa yang terjadi. Di dalamnya terdapat emosi. Feeling message memberi kita kesempatan untuk mengenali emosi seseorang lebih jauh. Hal ini terbukti saat saya mendengar setiap tulisan pengalaman mereka.

Selanjutnya yang saya pelajari saat menulis bersama mereka....hmmm... mungkin kalian pernah mendengar tips menulis bahwa sebelum menulis adalah penting menentukan siapa yang akan membaca tulisan kita (target pembaca). Selama ini, saya tahu tentang ini tapi sepertinya tidak sungguh-sungguh menerapkannya. Pentingnya tips ini baru sangat saya sadari saat saya menulis bersama mereka. Saat saya tahu pasti bahwa tulisan saya ditujukan untuk mereka atau tahu pasti siapa yang akan mendengar (atau membaca) tulisan saya, otomatis gaya bahasa, sebutan, dan cara saya menulis sudah terbentuk sejak awal.

Di tulisan saya yang bertema "Pizza", saya memilih memakai sebutan Aunty (panggilan mereka untuk saya), paman (panggilan untuk hubby-ku) dan Nyai (panggilan untuk nenek mereka) dan bukannya menyebut 'aku', 'hubby-ku', 'mama mertua-ku. Ada perbedaan besar hanya dengan mengganti panggilan (sebutan untuk tokoh) lantaran sudah tahu siapa target pembacanya--terkesan lebih spesifik dan lebih dekat.

Saya menulis: 
Suatu hari, paman pulang bawa pizza ukuran besar. Yummy. Pizzanya rasa sapi lada hitam. Enak deh. Rasanya hampir mirip semur daging buatan Nyai. Saat Aunty dan Paman makan pizza, Nyai datang. Nyai pun ditawari pizza, tapi langsung menolak. 

Akhirnya ya udah deh, Aunty pun makan 2 potong besar pizza, eh malah 3 potong! Besoknya, Aunty juga sarapan pizza. Pizzanya masih bagus kok, soalnya Aunty simpan di kulkas. Saat ingin dimakan, pizzanya dihangatkan dulu di rice cooker...... dst.

Oh ya ada kejadian lucu tentang tulisan pizza ini. Rupanya kalimat pembuka tulisan ini sangat melekat di ingatan Lala. Hingga, saat kami sudah selesai menulis dan sedang duduk bersama, Lala mengulang kalimat pembuka tersebut, "Suatu hari paman pulang bawa pizza...."

Mendengar ini kontan saya bertanya, "Terus...? Pizzanya rasa apa?" Karena di tulisan saya, rasa pizza adalah kalimat lanjutannya. Saya ingin menguji ingatannya.

Belum sempat Lala menjawab, Caca nyeletuk dengan entengnya, "Rasa cintaaaa...."

Hahaha.... Pizza rasa cinta! Kami tertawa bersama mendengarnya.

Di tulisan lain, saya menutup tulisan dengan sebuah pertanyaan. Dan selesai saya membacanya, mereka langsung menjawab pertanyaan saya tersebut. Mungkin mereka merasa harus menjawabnya, sebab merasa tulisan saya ditujukan untuk mereka. 

***

Sudah lama saya tidak mempraktekkan free writing bersama. Kegiatan kemarin menjadi semacam nostalgia, hanya saja teman menulisnya anak-anak. Karenanya, saya 'mengalami' dan belajar beberapa hal baru. 








Saturday, June 28, 2014

Seminggu Bersama Caca dan Lala

Seminggu belakangan, sejak hubby terbang ke pulau nun jauh di sana, ada dua keponakan yang menginap di rumah sini. Ada Caca (10 thn) dan Lala (7 tahun).

Meski mereka lebih banyak sibuk main game di Ipad pamannya (hubbyku--red.) atau di HP saya, kehadiran dua bocah yang sedang libur sekolah ini membuat ramai rumah. Ada saja tingkah atau celotehan mereka yang membuat tertawa, terheran-heran, takjub, juga termasuk kesal. Tapi, kesan tersebut yang membuat hari-hari belakangan jadi lebih 'kaya'--kaya dalam hal emosi, cerita dan lainnya. 

Saat bangun pagi, hal pertama yang mereka cari adalah Ipad, dan sebelum tidur hal terakhir yang mereka lakukan adalah men-charge Ipad agar bisa langsung dipakai esok paginya. Sarapan Ipad. Bisa dibilang mereka hanya berhenti ketika harus makan, mandi atau ketika Nyai (panggilan untuk nenek mereka a.k.a mama mertua) mereka melarang. Saat Caca yang pegang Ipad, Lala akan pegang dan main game di HP saya dan sebaliknya. 

Meski hampir seharian mereka sibuk dengan game masing-masing, mereka tak pernah membiarkan saya berlama-lama sendiri. Terlebih lagi Lala. Setiap saya masuk kamar, bisa dipastikan tak lama ia akan masuk dan menyapa. Sambil membawa Ipad ia akan berbaring main game di dekat saya. Pernah pagi-pagi sekali, ditengah kesibukan main game, tiba-tiba ia mencium kening saya. Tanpa rasa berdosa. Saat saya memandanginya, ia hanya tertawa malu. Kadang saya menggodanya, "Siapa yang sayang aunty?" Lalu Lala dengan cepat menjawab, "Nggak ada."

Pernah juga suatu kali ia masuk (tanpa Ipad di tangan sebab dipakai oleh Caca), hanya untuk bertanya "Aunty kok ga keluar-keluar kamar?" Atau beberapa kali, ia sekedar datang memeluk atau ragu-ragu menciumi pipi aunty-nya yang sibuk dengan HP.

Bahkan ketika di depan TV; saat Ipad di tangan Caca, dapat dipastikan Lala akan nempel pada saya; memeluk lengan saya atau kadang-kadang melotot pada saya saat saya menasehati ia, misal saat saya menyuruh mandi atau makan atau melarang ini itu. Kami juga pernah adu melotot tapi sambil tertawa-tawa. Pokoknya kalau aunty-nya tampak diam, Lala tidak akan tinggal diam. Dengan caranya sendiri ia berusaha 'ada' untuk saya. Saya merasa disayang.

Lain Lala, lain Caca... Caca lebih sering membuat saya takjub dengan pertanyaan-pertanyaannya. Pernah dia bertanya, "Aunty, emang kalau cokelat diliatin aja bisa abis ya?" Hahahah.... Bagaimana cerita cokelat dipelototin bisa abis?

***

Sebagai orang dewasa (ceileehh...), saya prihatin dan merasa bersalah melihat mereka sibuk dengan game. Saya mengadili diri saya sendiri "Aunty macam apa saya ini, ga bisa mengajak mereka melakukan sesuatu yang bisa mengalihkan mereka dari game."

Dengan pendekatan pelan-pelan, saya berhasil mengalihkan mereka. Meski tak banyak pengalihan yang saya lakukan, paling tidak porsi main game mereka berkurang. Hari Selasa kemarin (24/6), kami melakukan ritual menulis bersama. Saya tidak menyangka dengan kemampuan mereka menulis, terlebih Caca. Ia bahkan menulis cerpen utuh hanya dalam waktu sekira 15 menit.

Konsepnya sama dengan klub nulis yang saya ikuti; pertama akan ada tema yang diundi, setiap orang mendapat satu tema dan harus menulis dengan tema tersebut selama waktu yang ditentukan, lalu akhirnya setiap orang akan membacakan masing-masing tulisan karyanya.

Lala yang tadinya malu-malu dan ogah-ogahan jadi ketagihan menulis. Aunty-nya sudah bosan dan ngantuk, ia masih semangat ingin nulis lagi. Saya akan ceritakan karya mereka dan apa yang saya pelajari dari mereka, khususnya tentang menulis, di tulisan terpisah.

Kami juga membaca buku bersama. Caca menghabiskan novel tebal Sundea, berjudul "Dunia Adin" dalam 2 hari. Woww... Aunty aja butuh waktu berminggu-minggu. Kalau Lala ini manja, dia nggak mau baca sendiri. Saya pun membacakannya cerita dari "Salamatahari". Saya minta ia memilih sendiri cerita mana yang ingin dia dengar dengan melihat daftar judul-judul. Sejak itu, besoknya ketika akan tidur, dia akan bilang, "Salamatahari...." sambil menyodorkan buku kecil yang tadinya hanya dimain-mainkan pita kuningnya. Saya akan membacakan 2 atau 3 cerita, lalu ia pun tidur.

Kadang ia masih mengganggu saya, saat saya sibuk menerima telpon pamannya atau bbman dengan teman. Jadi dia yang balik nyuruh tidur, ya usap-usap pipi atau pencet-pencet hidung saya, sambil curi-curi cium pipi malu-malu. 

Pernah ia bilang sambil mencet hidung, "si pesek..."
"Siapa yang pesek?" tanya saya.
"Aunty..."
"Emang  Lala mancung?"
"Enggak...hehehehe..."
Saya pun terbahak mendengarnya. 

Pernah saya suruh ia lekas tidur sementara saya sibuk bbman, dia bilang: "Enggak. Saya nggak mau tidur. Saya belum siap."

Ealaaahhh....apaaa kali? hahaa....

Kami juga sempat bikin kue bersama. Mereka ingin sekali bikin cupcakes, tapi sayang saya belum bisa merealisasikan. Awalnya karena tulisan Caca yang bertema tentang cupcakes. Saya menjadikan cupcakes sebagai tema karena mereka suka main game cupcakes. Di akhir tulisan, Caca bilang belum pernah makan cupcakes. Lalu tercetus dari saya, "Mau bikin nggak? Tar kita bikin."

Dan sodara-sodara, jangan pernah menjanjikan apapun pada anak-anak karena mereka akan ingat dan menagih janji. Karena bahannya susah kayaknya, saya tawarkan bikin kue kering, mereka juga excited. Tapi sayang alatnya nggak ada. Lalu Lala meminta, "Bikin kue bolu aja, Aunty. Pake keju dan susu." Jadilah bikin bolu tapi bolu gula merah dengan sedikit keju, hahahaa....

Mereka saya beri tugas, Lala parut keju, Caca ngayak tepung, dll. Di tengah proses bikin kue, yang marut keju nyerah karena kejunya susah diparut dan beralih jadi seksi dokumentasi, motretin aunty dan kakaknya.

Pernah kami nonton Aksi Junior Indosiar, dimana ada penceramah cilik bernama Asep. Nah, selama Asep ceramah, Lala sibuk mukul-mukulin bantal kursi ke mukanya atau dilempar-tangkap beberapa kali. Saya sempat melarang karena debunya keluar semua nantinya. Saya nggak mikir aneh-aneh tentang sikap Lala.

Lalu tiba-tiba, Caca nyeletuk begini: "Kenapa sih, La kamu La? Orang lain yang ceramah kok kamu yang malu."

Mendengarnya, saya terbahak. Saya pun ikut-ikutan menggoda Lala, "Oooh...jadi Lala suka Asep ya?" Tentu saja pertanyaan ini langsung disangkal mentah-mentah sambil melotot-melotot ga jelas.

Kami juga main game Tebak Gambar bersama. Game ini kadang-kadang bikin bingung. Kalau udah bingung gamenya dialihkan ke game lain, nanti dibuka lagi, dibahas dan didiskusikan bareng-bareng jawabannya. Setelah diendapkan, sering bisa kejawab deh.

Dan masih banyak lagi 'keajaiban' mereka yang meramaikan suasana dan hari-hari saya, khususnya seminggu ini.


Tadi siang mereka pulang. Dan rumah langsung sepi. :(




NB:
Saya ingin mengingat momen bersama mereka karena itu saya menuliskannya. 



Wednesday, April 23, 2014

Menakjubi Kanawa

Kanawa Island atau Pulau Kanawa mungkin tidak terlalu akrab di telinga, apalagi jika dibandingkan dengan Pink Beach yang pasirnya berwarna sesuai namanya itu. Meski begitu, pulau cantik ini layak dikunjungi dalam rangkaian perjalanan Anda menjelajahi kehidupan liar TNK. Ya, pulau ini berada dalam kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) di Nusa Tenggara Timur. Di kawasan inilah satu-satunya habitat alami komodo di dunia. Karena keunikannya, TNK pernah dinominasikan dalam daftar tujuh keajaiban dunia.

Saya berkesempatan mengunjungi Pulau Kanawa pada awal Desember 2012 bersama pemenang quiz yang diadakan Kemenparekraf. Saya ditugaskan meliput kegiatan perjalanan tersebut dan menuliskan beritanya. Kami berkesempatan menjejak Kanawa setelah mengunjungi Pulau Rinca yang merupakan salah satu dari 3 pulau yang menjadi habitat alami komodo. Dari Pulau Rinca, Pulau Kanawa dapat ditempuh dengan menggunakan speedboat sekitar....ehhhmmm berapa lama ya.... agak lupa.... mungkin sekitar 45 menit. 

Selain cantik, di pulau ini kita juga bisa berenang dan snorkeling. Airnya yang biru kehijauan itu duuuh jernihnya sungguh mengundang untuk diselami. Alam bawah lautnya memang kalah indah jika dibandingkan Pink Beach. Tapi perlu kalian tahu, berhubung saya belum pernah snorkeling dan butuh latihan, pelatih dadakan snorkeling saya bilang bahwa snorkeling di Pulau Kanawa adalah momen tepat untuk berlatih menyiapkan diri snorkeling di Pink Beach keesokan harinya. "Nyesel kamu kalau ga belajar snorkeling di sini, besok di Pink Beach itu lebih bagus." 

Mendengar ini saya pun semangat belajar snorkeling, beberapa kali rasanya mual ingin muntah setiap kali snorkel (selang atau apa itu namanya) dimasukkan ke mulut agar saya bisa leluasa bernapas dan melihat pemandangan bawah laut. Susahnya bernapas lewat hidung. 

Sebelum menakjubi bawah lautnya, yuk intip kecantikan pulau ini.

Picture speaks a thousand words. So, enjoy the beauty of this island since the first time you step your feet on the nearest jetty.


Welcome di Pulau Kanawa; speedboat nya parkir di sini ya...
Untuk sampai ke pulau, kita harus melewati jetty yang tampak eksotik ini. Dan jangan lupa buka mata lebar-lebar, rekam keindahan pemandangan sekitar: bukit gundul, barisan cottage di kejauhan, langit biru yang maha luas, dan birunya laut yang menenangkan. :)

Exotic wooden jetty
Jukung biru ini langsung menarik perhatian saat masih di parkir di dekat jetty. Eh, ternyata ada yang punyanya.
two fishermen
 Ayo, kita makin dekat dengan pulau. Makin cantik kan?

What a beautiful scenery, right?
Birunya laut dibingkai gugusan pasir putiiiiih bersih, lalu berlatarkan langit yang juga biru; aduhai siapakah gerangan pelukisnya?
kuning. ngambang. :D
Hup, sesampainya di ujung jetty, nih tulisan penanda Pulau Kanawa siap menyambut. Jangan lupa foto-foto narsis di sini. Saking sibuknya foto-foto, tas kamera ketinggalan tergantung di sini. Untung ada yang bawain.


Saya tidak tahu nama pohon ini apa, tapi pohon ini lah yang banyak terdapat di sini. Rindang dan teduh; pas untuk bersantai selagi menikmati pemandangan alam dan atau sesudah snorkeling.

Dan lihat, ternyata jetty-nya lumayan panjang ya. Jangan lupa pakai sunblock karena saat melintasinya atau saat berenang, Matahari akan memandikan kita dengan cahayanya tanpa ampun.


siap-siap snorkeling
snorkeling di laut jernih biru kehijauan.

ngintip dari balik pohon tepi pantai
Transportasi:
Untuk tiba ke Pulau Kanawa ini, sebelumnya kalian harus terbang dengan pesawat kecil dari Denpasar, Bali menuju Labuan Bajo, NTT. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 1 jam. Dari Labuan Bajo, pergilah ke dermaga, dan penjelajahan bisa dimulai dari sini. Tidak hanya kehidupan hutan liar berikut satwa endemiknya yang terancam punah (komodo) dan satwa liar lainnya, keindahan pantai di bagian Timur Indonesia akan menjadi destinasi yang tak mudah dilupakan.

Nah, besok saya akan menuliskan pengalaman yang mengesankan saat saya menyelami keindahan bawah laut Pink Beach. Sensasinya melekat dalam kenangan karena sangat kuatnya kesan yang saya dapat kala itu.  

Saturday, July 27, 2013

N-Ach #5: Senja Mediterania

Baru pulang workshop yang diadain di kantor "Dari Timur Matahari" bareng Marischka Prudence dan Barry Kusuma. Dari pembicaranya jelas ini workshop tentang travel blogging dan travel photo blogging.

Dan hampir lupa belum posting hari ini. Saya ingin share foto aja, ya.... Tidak nyambung dengan pembukaan sih. Ini dia fotonya:

kaki saya yang paling kanan, yang kiri adalah kaki seorang anak kecil

Foto tersebut diambil pada musim panas 2010, tepatnya dalam tur naik kapal dari Köycegis-Dalyan-Turtle Beach di Turki. Senja Mediterania keren... Matahari terbenam bisa sangat bulat sempurna dan ukurannya besar. 

Kalau yang ini adalah pemandangan sepanjang jalan sebelum sunset:

kapal sewaan untuk tur. setiap kapal sepertinya harus pasang bendera Turki.

Ngantuk.... good night... have a sound and deep sleep, everybody. :)




Tuesday, July 23, 2013

N-Ach #1: Menu ala Turki

Nah ini dia edisi perdana N-Ach Project. Dan hari ini adalah hari ke-14 puasa. Yuk kita mulai.....

Pernah dengar ungkapan bahwa dapur Turki terkenal sebagai dapur yang paling kaya? Kaya dalam hal ini adalah dalam hal cita rasa, varian makanan dan ragam bumbu masakan khas Turki. Hidup setahun bersama keluarga Turki membuat saya mengenal dan mencicip kekhasan dan kekayaan masakan mereka. Masakan Turki kaya bumbu seperti halnya masakan kita, dan untuk jenis kue, rasanya bisa sangat manis. Kue Baglava misalnya; uuuhh giung kalau kata orang Sunda mah.

Dari sekian banyak masakan Turki, hanya beberapa saja yang bisa saya masak. Dan saya ingin membagi sedikit resep yang gampang dibuat. Bisa dibilang ini pertama kalinya saya berbagi tips atau resep masakan sepanjang karis saya nge-blog ya.... Kali aja bisa jadi menu alternatif saat buka puasa.

Saya pilih menu nasi ala Turki ya, menu utama kita. Saya juga akan memberi tips membuat salad ala Turki.

Orang Turki memasak nasi dengan cara yang sedikit berbeda dengan kita; mereka tidak pernah masak nasi tawar tanpa bumbu seperti yang biasa kita masak. Dan uniknya, berhubung makanan utama orang Eropa adalah roti, meski mereka makan nasi tetap saja roti tidak ketinggalan disuguhkan.

Untuk memasak nasi ala Turki, berikut langkah-langkahnya.

Bahan (Nasi):
Beras
Air atau air kaldu lebih baik
Sayuran kaleng (jagung manis/ wortel/ buncis/ kacang polong)
Margarin
Garam secukupnya
Merica bubuk
Yoghurt kental tawar (optional)

Cara Membuat:
  • Panaskan panci anti lengket. Panaskan margarin secukupnya (disesuaikan dengan banyaknya porsi nasi).
  • Masukkan beras yang sudah dicuci bersih dan ditiriskan. Aduk beberapa saat.
  • Masukkan air secukupnya (jika ada air kaldu lebih baik). Air kaldu akan menambah cita rasa gurih pada nasi.
  • Tambahkan garam secukupnya dan merica bubuk. Aduk.
  • Masukkan sayuran kaleng. Jagung manis saja sudah cukup menambah kaya rasa nasi ini. Namun bisa juga campuran jenis sayuran di atas dimasukkan. Aduk.
  • Tutup panci dan diamkan nasi hingga airnya larut. Setelah itu, masak nasi dengan api kecil. Masak hingga matang. 

Gampang kan? Sekarang kita bikin saladnya.

Bahan (Salad):
Selada air
Timun Jepang
Tomat
Biji buah delima atau apel potong kecil
Bawang bombay merah (optional)
Garam secukupnya
Minyak sayur 2 sdm
Air perasan jeruk lemon secukupnya
Seledri kering atau segar

Cara Membuat:
  • Potong semua bahan sayuran sesuai selera. 
  • Masukkan semua sayuran pada mangkuk saji. 
  • Tambahkan potongan apel yang sudah dipotong dadu. Atau jika mau apel bisa digantikan dengan biji buah delima merah. Dua jenis buah ini akan memberi rasa asam yang segar untuk salad yang kalian buat. 
  • Masukkan minyak sayur, air perasan jeruk lemon, garam secukupnya. Bubuhkan bubuk seledri kering. Jika tidak ada bisa juga menambahkan seledri segar. Tapi seledri segar kita rasanya cenderung lebih kuat, jadi sebaiknya sedikit saja atau tidak usah sama sekali. 
  • Jika mau, tambahkan irisan bawang bombay merah. Namun jika ingin salad yang segar, tidak pakai bawang juga ga masalah. 
  • Aduk rata. Salad segar siap disajikan. 

Tips: 
Sebaiknya mengaduk semua bahan saat salad sudah akan dihidangkan. Mengaduk salad jauh sebelum saat dihidangkan akan membuat salad tidak terlalu segar saat disantap. Salad juga hendaknya langsung dihabiskan. 

Cara menghidangkan:
  • Nasi yang sudah masak disajikan di piring saji. 
  • Untuk lauk-pauknya, kalian bisa menambahkan ayam atau ikan panggang atau apa pun. Sebenarnya ada resep untuk daging atau ikan panggang, tapi ga jauh beda dengan resep kita. Jadi sesuaikan saja dengan resep sendiri. 
  • Jangan lupa tambahkan salad sebagai menu sayurannya. 
  • Terakhir, tambahkan yoghurt kental yang tawar di atas nasi. 

Catatan: 
Rasa dingin yoghurt kental yang baru keluar dari kulkas berpadu dengan gurihnya nasi hangat ala Turki akan memberi pengalaman rasa yang berbeda untuk lidah Indonesia. Saya suka makan nasi dengan yoghurt ini. 

Orang Turki suka "membersikan" piring makanan dengan roti atau maksud saya mencocolkan roti pada bumbu makanan. 

Selamat mencoba, ya.... :)




Wednesday, July 17, 2013

Semua Tentang (Kenangan)



tak bisa kuingat tanggal hari itu atau bulannya
entah Mei atau Juni atau awal Juli--
yang pasti Hamburg tengah menyemai musim semi

aku berdiri di sebuah halte
Oberschleems Haltestelle namanya:
udara dipenuhi serbuk bunga berwarna putih
yang mengotori udara, masuk ke rumah melalui jendela
dan yang bisa membuatmu terbatuk

(seketika) aku merasa asing:
di tengah keterasingan kota
yang tak pernah kuimpikan bisa kupijak,
di tengah kikuknya hidup bersama bangsa arya
yang tiba-tiba dinobatkan menjadi keluarga

--di mana kau kala itu,
saat aku tengah terasing dan merasa sendiri?

ada banyak yang ingin kuceritakan:
tentang musim yang baru kupahami,
tentang bunga yang tak pernah kulihat,
tentang makanan yang asing di lidah,
tentang bahasa yang mulai kuakrabi tapi susah kukuasai,
tentang jalan-jalan yang sepertinya tak kan bisa lagi kutelusuri,
tentang orang-orang yang mungkin tak kan lagi bisa kutemui,
tentang negeri yang ribuan mil jauhnya dari sepetak Bumi yang kita kenal,
tentang rindu. tentang pilu. tentang tawa. tentang airmata. tentang takjub. dan semua tentang yang lain.

--adakah kau turut merasa keterasingan yang sama,
wahai belahan jiwa?




*kenangan di salah satu sudut tepi jalan Billstedt, Hamburg; musim semi 2010










Monday, April 29, 2013

"E" hingga Kartu Tarot

"E" untuk Energi! 

Inilah judul pameran tunggal Prilla Tania, seorang lulusan Studio Patung FSRD ITB, di Selasar Sunaryo Art Space yang berlangsung pada 19 April-11 Mei 2013. 

Hari ini ada jadwal artist talk-nya pukul 15.00 WIB, katanya. Karena itu, saya dan Dika (teman baik yang saya kenal di klab nulis) memutuskan ke sana. Biasanya kami akan pergi ke tempat seperti ini bertiga dengan Nia. Nia kerja di Jakarta sekarang, jadi ga bisa ikut deh kecuali kalau Nia lagi ke Bandung. 

Saya tidak akan banyak berkomentar tentang pameran ini kecuali pengalaman saya sebagai penikmat seni yang tidak paham seni. Setibanya di sana, kami langsung ke Ruang Sayap. Di dinding sebelah kiri dekat pintu masuk, tampak pengantar dari kurator dalam Bahasa Inggris.


Mengutip ucapan kurator, Chabib D.H, "Pameran 'E' merupakan buah kesimpulannya (Prilla--red.) dari proses pencarian dan kegelisahannya terhadap persoalan pangan." 

Lalu apa hubungannya dengan energi? Dalam siklus produksi dan konsumsi pangan, ada daur energi yang terjadi. Kita butuh makanan untuk sumber energi. Makanan yang dijual biasanya dikemas dalam kemasan yang tidak bisa di daur ulang atau yang membutuhkan energi besar untuk mendaur ulangnya. Kira-kira gitu. Sebenarnya konsep tentang energi ini lebih kompleks dan dalam dari yang tadi saya uraikan. Tapi saya bingung menyampaikannya. 

Prilla sendiri menghindari atau meminimalisir membeli makanan dengan kemasan yang tak bisa di daur ulang. Ia bahkan berkebun, menanam berbagai bahan pangan yang tentunya tidak perlu dikemas dan tidak menghabiskan energi untuk sampai ke tangannya. Prilla yang gemar masak makanan Eropa bahkan nekat menanam tanaman impor untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Niat bener!

Bahan dasar karya Prilla kali ini adalah kertas atau kemasan bekas makanan yang dia potong-potong (bahkan sangat kecil) untuk membentuk beragam objek seperti kapal, orang, etalase/rak di supermarket, truk sampah, pabrik, dan lainnya yang ditempel dan disusun secara acak di salah satu sisi dinding Ruang Sayap. Karya ini berjudul: "Daur Energi". Jadi, dia memanfaatkan kemasan bekas untuk "didaur" menjadi karya seni yang mewakili konsep yang ia pegang tentang energi, industrialisasi pangan, dan ketahanan pangan. 

Untuk pameran ini, ia menghabiskan waktu 3 bulan dalam proses pengerjaan.

Lihat gambarnya biar lebih jelas:


Lihat beberapa objek lebih dekat; berikut adalah beberapa yang menjadi favorit saya:

ruang keluarga; tampak unik dari angle yang menarik
kapal yang cantik ya? tapi muatannya isinya sampah.
Ini kilang minyak lepas pantai itu bukan sih?
pabrik
perahu layar bercadik

truk berisi sampah kemasan makanan
Kalau kalian perhatikan setiap objek, saya yakin kalian akan mengagumi dan menghargai usaha, ketekunan, ketelitian dan kesabaran ekstra tinggi Prilla dalam membentuk benda dengan sedetail itu. Bayangkan dia memotong-motong kertas hingga bentuknya kecil sekali, lalu menempelnya dengan lem dengan hati-hati demi membentuk objek yang dia inginkan. 

Di sisi berlawanan dari karya "Daur Ulang", tampak tulisan di bawah ini yang juga dibuat dari kertas karton kemasan makanan. Bedanya karton yang dipakai adalah bagian yang menyatakan nilai gizi makanan yang menurut Prilla seolah kontradiktif dengan fakta bahwa makanan itu sendiri mengandung pengawet.


Setelah saya motret dan Dika selesai menonton video yang bercerita tentang "Daur Energi", kami beranjak ke Ruang B. Begitu masuk ruang, saya mengisi buku tamu, dan petugas mengatakan bahwa saya tidak boleh motret di ruang ini. Ah, sial bener! Padahal karyanya bagus juga di sini. 

Kami menonton dulu video Prilla berbicara tentang "E" dan energi dan pangan sambil ia membuat objek yang dipajang di "Daur Energi". Tuh kan bener, itu kertas dipotong-potong kecil-kecil, satu per satu, sedikit demi sedikit. Salut!

Dika masih betah nonton video, sementara saya segera masuk ke ruang...ehhmm...mungkin kalau boleh saya mengatakan ruang seni instalasi 2 dimensi. Awalnya saya tidak sadar ruang. Suara deru entah apa sejak tadi terdengar kurang nyaman di telinga. Saya melihat di depan saya, di sisi-sisi dindingnya juga terdapat bentuk-bentuk benda (juga dari karton, tapi dicat hitam). Bentuk objeknya lebih cantik; ada beberapa botol kemasan minuman mineral di sisi kiri tersangkut jaring. Lalu ada garis lurus yang ditarik yang menghubungkan tiap sisi dinding sebagai satu kesatuan "ruang", semacam pembatas. 

Mata saya bergerak (masih di dinding sisi kiri) agak ke tengah bagian bawah dinding; di sana saya melihat ada sebentuk hiu, di dinding tepat di seberang saya berdiri ada bentuk ubur-ubur. Di bagian tengah ruang, juga terdapat dinding yang memajang bentuk sampah botol kemasan. Di sisi kanan bagian bawah tampak drum berlogo tengkorak. 

Dan AHA moment menghampiri saya. Saya mendadak tahu saya ada di mana, dan apa yang sedang saya hadapi saat itu. Saya sedang menyaksikan realitas di lautan dengan makhluk lautnya dan sampah yang ngambang di atas permukaan. Garis panjang yang saya bilang semacam pembatas adalah batas permukaan laut dengan isi laut yang "menampung" ikan hiu, ubur-ubur, ikan-ikan kecil, dan drum bekas yang tenggelam di dasar. Lalu  suara deru yang tidak nyaman tadi rupanya adalah suara deburan air laut! 

Sampah di sisi kiri itu bagus, tapi sayang fotonya ga bisa dicuri. Ini saya berhasil curi foto drum yang ceritanya tenggelam di dasar lautan.



Ini dia hiu-nya.
Saya melangkah agak jauh ke ruang yang agak tersembunyi, dan saya kaget karena di salah satu dinding, ada film animasi (seperti bayangan tuyul). Film animasi anak kecil yang buang air di atas biji mangga. Mangga tumbuh, si anak yang sudah agak besar berusahan petik mangga, pohon tambah besar, anak tumbuh jadi manusia dewasa yang metik mangga, hingga ia jadi manula dan meninggal dan tengkoraknya dikubur. 

Agak jauh ke dalam, ada seni yang lain lagi. Kertas karton berbentuk pohon di taruh di lantai menghadap ke 4 sisi dinding, lalu lampu-lampu yang berada di tengah, di atur dan diarahkan sedemikian rupa ke pohon tersebut hingga bayangannya membentuk efek spesial di tiap sisi dinding. Ini dia foto curian saya. Mencuri foto ini ga mudah, karena petugasnya tuh sesekali ngecek ke ruangan. Untung ga kepergok.

Aslinya lebih keren deh, maklum hasil curian jd asal jepret.
Saya juga sempat melihat seni lain dimana kita harus mengintip ke lubang kecil di salah satu sisi dinding dari triplek. Di dalamnya, tampak kapal berisi sampah berlayar terombang-ambing ombak, bendera di tiangnya seolah berkibar-kibar ditiup angin, gelombangnya juga beriak-riak. Entah pakai efek apa tuh bisa begitu.

Sambil menunggu artist talk mulai, saya dan Dika duduk di teater terbuka sambil ngobrol banyak hal. Suara serangga musim panas nyaring bersahut-sahutan. Udara di Dago atas ini jelas sejuk, dan untung tidak hujan. 


Iseng moto kaki sendiri, hihihi....
Jam tangan kesayangan menunjukkan pukul 15.30 WIB belum ada tanda-tanda akan dimulai tuh artist talk bareng Prilla. Tadinya kami mau denger sebentar, lalu pergi aja. Tapi karena ga mulai juga kami pun beranjak ke tempat makan pempek yang direkomendasikan Dika. Dari sana kami ke Togamas untuk beli majalah Tempo edisi khusus Kartini. Saya jadi penasaran ingin baca karena terprovokasi mendengar cerita Dika tentang sosok Kartini di majalah ini. Dan karena saya ingin mencari kartu Tarot.

Tadinya saya iseng bilang ke Dika bahwa saya tertarik belajar baca Tarot tapi saya takut dosa, karena kan katanya ramalan itu dilarang dalam Islam. Tapi eh tapi Dika malah mendukung sepenuh hati. Itu salah satu jenis skill katanya. Katanya lagi, mungkin dengan mempelajari hal yang dianggap bertentangan dengan apa yang  sudah kita yakinin sejak lama akan membawa pemahaman baru terhadap keyakinan itu. Sederhananya mungkin konsep ini bisa disamakan dengan konsep bahwa untuk mengetahui apakah sesuatu itu salah, kita harus tahu juga apa itu benar atau sebaliknya.

Di Togamas, buku tentang Tarotnya ada tapi kartunya ga ada. Jadi saya hanya beli Tempo dan satu buku berjudul "Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya". Duh, Dika ini bikin saya belanja! #nyalahin orang :p.

Lalu Dika menawarkan mengantar ke Gramedia untuk cari Tarot. Nyatanya kosong juga. Lalu Dika menyarankan ke Book & Beyonds dan ke Gunung Agung yang ada di BIP. Ga ada juga, sodara-sodara. Malah pegawai Gunung Agung menyarankan nanya ke Hypermart segala, sebab katanya dulu pernah suplai ke GA. Saya samperin tuh, ya jelas ga ada lah ya.

Saya sempet tanya kenapa kok Dika bersemangat sekali mengantar saya mencari Tarot. Dika bilang, "Soalnya keinginan untuk belajar sesuatu yang baru itu kan jarang-jarang, jadi ketika ada keinginan kenapa ga diseriusin." Oh, baiklah.

Gagal dapet Tarot, kami pun pulang. Cuaca Bandung cerah tanpa hujan.

Thursday, December 13, 2012

Ruang

Ada sebuah rumah. Tampak sejuk dan nyaman dari luar. Pintunya terbuka, kita sama-sama melangkah masuk dan duduk di ruang tamunya yang hangat. Sofanya sederhana saja; yang jelas empuk, berwarna merah, berukuran ramping. Sungguh sesuai dengan ukuran ruang tamu yang tidak terlalu besar ini. Mejanya terbuat dari kayu yang dipelitur--cokelat tua berukir sulur-sulur yang apik. Sepertinya pesanan. Di atas meja, terpasang secarik kecil taplak meja cantik dari Turki. Lampunya tidak nyala, tapi desainnya yang sederhana serupa bunga lotus di langit-langit itu sudah menarik perhatian sejak awal. Di pojok ruangan, tampak sebuah vas keramik yang tinggi ramping. Beberapa tangkai bunga kering ditaruh di sana. Selintas tampak jaring laba-laba berkilau terkena cahaya Matahari yang masuk dari celah jendela di seberang pojokan. Di sana, semilir angin yang sebelumnya ditimang dedauanan pohon angsana berhembus memenuhi ruangan. Sejuk namun hangat dan nyaman. Bisakah kamu bayangkan kenyamanan ruang seperti itu?

Lalu kita terlena berlama-lama duduk di sana. Berbicara dan tertawa tentang banyak hal: tentang kita terutama, tentang rasa. Sesekali kita ribut tentang hal-hal kecil yang membuat kita tidak sepaham, karena kita berbeda. Kita datang dari tempat yang jauh, dari masa lalu yang juga lebih jauh lagi, lalu tak sengaja bertemu di simpang jalan dan memutuskan berjalan berdampingan. Sungguh wajar banyak hal yang kita pertentangkan, meski kadang-kadang ada juga yang diam-diam kita syukuri dan banggakan. 

Kita lupa bahwa ruang ini bukan milik kita, bahwa kita hanyalah tamu tak diundang yang lancang masuk tanpa permisi. Rumah ini terlalu menyenangkan untuk dilewati begitu saja bukan? Apalagi setelah masing-masing kita terlalu lelah melanjutkan perjalanan yang belum tampak ujungnya. Rumah ini terlalu nyaman untuk tidak disinggahi dan ditelusuri tiap ruangnya. 

Tidak semua ruang kita suka. Seperti kebanyakan rumah pada umumnya, ruang tamu adalah yang paling tertata. Ruang ini lah yang pertama-tama memberi kesan pada orang lain--tamu tentu saja. Karenanya ia harus baik, apik, bersih, mengkilap, dan nyaman. Sebagai sebuah rumah, rumah ini menjanjikan perlindungan yang cukup memenuhi syarat kenyamanan. Namun, ada bagian atau ruang tertentu yang kurang berkenan. Tumpukan cucian, makanan basi di bak pencuci piring, gudang barang yang penuh debu dan sarang laba-laba adalah beberapa di antaranya. 

Habis semua ruang kita jelajahi, kita merasa lelah dan ingin kembali saja ke ruang tamu, yang dihembus semilir angin dari luar. Yang nyaman dan menyenangkan. Ruang ini memang masih nyaman, tapi ingatan tentang dapur yang kotor dan gudang yang berdebu sudah terekam di kepala. Harusnya bukan masalah besar, bukan? Ya, memang bukan masalah besar. Toh, rumah ini pun hanya tempat kita singgah. Dan justru inilah masalah terbesarnya. Lalu, kita pun sampai pada suatu waktu dimana kita mulai merasa bahwa tempat ini bukan untuk kita. bahwa kita harus melanjutkan perjalanan. Dan pergi adalah satu-satunya pilihan yang ada. Bayangan perjalanan panjang yang harus di tempuh di depan adalah tantangan atau ketakutan yang lain lagi. 

Apalagi saat kamu bilang, bahwa kita harus berpisah di persimpangan depan!

Kamu bilang saya bebas sekarang, menentukan langkah sendiri. Tapi apa sih sebenarnya kebebasan?
Paulo Coelho bilang, "Freedom is not the absence of commitments, but the ability to choose...what is best for me."

Dalam hal ini, saya tidak bisa memilih dan tidak punya pilihan lain, kecuali menerima! 




Tuesday, August 14, 2012

Kartu Pos The Secret Garden

Sekira 2 tahun yang lalu, itulah terakhir kali saya mendapatkan sebuah kartu pos sebagai oleh-oleh yang dibeli di sebuah museum di Irlandia. Itu pun diberikan langsung, tidak dikirim melalui pos. Tanpa bermaksud berlebihan, menerima kiriman kartu pos berperangko dari seorang sahabat di zaman yang serba digital ini adalah sebuah kemewahan varietas baru! :D

Kartu pos (tampak depan)
Andika Budiman lah pengirim kartu cantik tersebut yang bergambarkan cover buku "The Secret Garden", karangan F.Hodgson-Burnett. Kalimat pembuka dan pesan di baris terakhirnya sudah cukup membuat saya merasa betapa Dika, salah satu sahabat terbaik saya ini, begitu mengenal pribadi saya tapi tidak pernah (seingat saya) men-judge atau menghakimi saya karena sifat-sifat dan karakter saya tersebut. Karenanya, saya selalu nyaman mengenalnya... :)

Untuk urusan teman bercerita, Dika adalah pendengar yang baik tapi juga berbahaya, hehhehe.... Saya hanya perlu bercerita sedikit, lalu Dika akan sudah dapat mengenali emosi terdalam di balik cerita saya dan memahami hal-hal yang bahkan tidak saya katakan. Saya baru bercerita A-B-C, tapi ia sudah mendengar dan memahami hingga huruf N atau seterusnya. Terdengar lebay tapi begitulah adanya.

"Neni, jangan ragu mengungkapkan perasaan, apalagi jika itu ungkapan afeksi. Seperti kata Nia Janiar (sahabat kami juga--red.), niat baik tidak pernah sia-sia." Inilah sebaris pesan Dika di kartu posnya sebelum mengucap salam.

Kartu pos (bagian belakang); sengaja blur agar isinya tidak terbaca... :p

Niat baik memang tidak pernah sia-sia, Dika. Dan ini termasuk niat baik kamu mengirim kartu pos pada "sebuah ikon" yang kemudian kamu sesali karena malu atau entahlah, namun ternyata justru jadi menginspirasi. Dan yang akhirnya membuat saya menerima kartu posnya. 

Terima kasih, kartu posnya ya, Dika. Rasa kantuk yang merusak mood seharian dan rasa sebal karena kemacetan lalu lintas yang saya bawa pulang sore ini jadi hilang seketika setelah baca kartu posnya. Mudah-mudahan kamu tidak keberatan saya menulis di sini. Saya janji saya akan balas kartunya... :)

Oh iya, kartu pos yang saya terima 2 tahun yang lalu juga bergambar perempuan. Seorang perempuan bertubuh ringkih yang memegang payung dan memandang ke arah samping di kejauhan (tidak memandang ke depan). Gambar tersebut tepatnya adalah sebuah lukisan perempuan berpayung yang di pajang di museum Irlandia tersebut. Si pemberi mengatakan bahwa kartu pos itu mengingatkan dia pada sosok saya yang menurutnya terlihat begitu "confident, but fragile at the same time". Saya cukup kaget juga mendengar frasa tersebut. 




Saturday, June 23, 2012

Little Prince, Bintang, dan Aku

Saat menulis ini ada satu bintang di luar sana yg bisa terlihat dari balik pintu kamarku yang sedikit terbuka. Dia begitu genit, berkedip-kedip riang menggoda. Selagi membaca "Little Prince" untuk kali kedua, aku sudah beberapa kali menyempatkan diri menoleh bintang tersebut. Dan aku berpikir, sepertinya antena di antara kedua alis kita tidak hanya bisa menangkap basah orang yang sedang memandangi kita, tapi bisa juga menangkap basah sebuah bintang yang sedang memandangi kita!

Atau mungkin juga alasan kenapa aku bolak-balik meliriknya adalah karena Little Prince sedang berbicara tentang bintangnya. Selesai membaca, aku memeriksa keluar dan menemukan bahwa bintang-bintang malam ini begitu riang. Dan bintang yang sejak tadi bermain mata padaku adalah yg paling bersinar, paling terang, paling besar, dan satu2nya yang bisa kulihat dari tempatku tadi berbaring...


# ditulis di Jakarta, 2009.

Sunday, June 17, 2012

Mwathirika: Tentang Sejarah Kehilangan dan Kehilangan Sejarah

Saya benci harus mengakui bahwa saya menangis saat menyaksikan sebuah teater boneka. Ya, teater boneka! Saya akan menceritakan sebagian besar cerita dan akhir teater boneka ini di sini, agar saya tidak lupa atau sekedar untuk membaginya pada kalian. Jadi berhati-hatilah bagi yang tidak suka spoiler.

Mwathirika adalah judul teater boneka yang saya maksud. Bertempat di gedung pertemuan IFI Bandung, 16 Juni 2012, inilah sebuah teater boneka yang berkisah tentang sejarah kehilangan dan kehilangan sejarah berlatar masa kelam Indonesia pada September 1965. Mwathirika dibawakan oleh papermoon puppet theater yang sejak awal menggunakan seni teater boneka tanpa kata untuk bicara tentang banyak hal, kepada lebih banyak orang agar sama-sama mengingat atau untuk membagi rasa.

Kisah ini terkesan sederhana, tapi dibalik kesederhanaannya ia sesungguhnya begitu kaya, baik dari ceritanya sendiri, sejarah yang melatarinya, dinamika kehidupan tokoh-tokohnya, dan lain sebagainya. Meski berlatarkan gejolak politik yang kelam, ia tidak bercerita urusan politik secara muluk dan ekstrim. Tidak "menunjuk" tentang siapa membunuh siapa. Mwathirika menceritakan kisah mereka yang mau tidak mau terkena imbas pahit dari sebuah kepentingan yang berujung pada kehilangan orang-orang terkasih.


Pertunjukkan yang mengesankan ini dimulai dengan mengenalkan Baba dan Haki; dua orang ayah yang "merupakan tetangga baik yang tinggal 'berseberangan'." Baba yang bertangan satu tinggal di rumah berwarna merah bersama dua  anaknya: Moyo (10 tahun) dan Tupu (4 tahun). Sementara Haki, tinggal di rumah berwarna hijau dengan ukuran lebih kecil di seberang rumah Baba bersama anaknya Lacuna. Lacuna adalah gadis kecil berkursi roda, bermata juga berhati besar.

(ki-ka) Moyo, Tupu, Lacuna, Haki, Baba, Anjing gila... Kisah mereka membuat saya menangis...
Keheningan di dalam ruangan, tiba-tiba hilang saat sekelompok orang bertopeng yang membawa balon merah menjajah pentas. Mereka seolah membawakan tarian dan bersuara gaduh mengelu-elukan sesuatu yang mereka lihat di layar yang menampilkan serangkain gambar. Berikutnya, teater kemudian berganti menyorot Tupu, yang baru bangun tidur dan langsung buang air di depan rumahnya. Adegan ini tentu saja menuai tawa penonton. Tupu lalu bermain sendirian di halaman rumahnya: melompat dari satu balok ke balok lain dan terjatuh. Ia lalu bermain kuda-kudaan yang terbuat dari kayu. Tepat saat ia tengah asyik menunggang kuda, tiba-tiba susana menjadi tegang akibat muncul seekor anjing hitam besar yang menyalak garang pada Tupu. Tupu yang ketakutan refleks meniup peluit merah yang selalu ia kalungkan sambil menodongkan kuda kayunya ke arah anjing. Mungkin dengan meniup peluit ia berharap sang anjing patuh padanya. 

Bersamaan dengan itu, dari dalam rumah muncullah Moyo sang kakak yang tergopoh-gopoh mengarahkan peluru ketapelnya ke arah anjing tapi tidak berhasil mengusir. Kemudian, kuda kayu pun dilemparkan ke anjing tersebut dan membuatnya lari tunggang langgang. Tupu kecil menangis, mungkin sedikit syok. Moyo berusaha menghibur adiknya. Kuda kayu yang dipakai melempar anjing rusak.

Saat Moyo kebingungan tak berhasil membujuk sang adik, Baba muncul. Ia baru saja pulang dan membawa balon merah untuk Tupu. Tupu menjadi riang kembali namun menangis lagi saat Moyo menggodanya dengan cara merebut balon merahnya dan tertawa-tawa mengikik. Kejahilan khas seorang kakak kepada adik yang disayanginya. Tak tega melihat Tupu sedih, si jahil Moyo mengembalikan balon yang segera diambil oleh Tupu lalu masuk ke rumah bersama Baba. Tak lama kemudian, Haki datang. Setelah menyapa Tupu yang kini sibuk sendiri dengan mainan barunya, ia memanggil Lacuna dan menyerahkan sebuah kotak musik. Lacuna senang sekali dengan hadiah tersebut. Bahkan Tupu pun ikut bergoyang sambil mendekati Lacuna saat mendengar musiknya. Tupu bahkan membuang balonnya dan meminta kotak musik yang tentu saja tidak diberikan oleh Lacuna.

Keesokan harinya, sekelompok sirkus keliling melewati rumah mereka. Suasana dalam ruangan menjadi demikian meriah oleh musik yang keras dan ramai, sorakan, dan tepuk tangan pemain sirkus. Kedua keluarga tertawa-tawa riang menyaksikan mereka. Dan yang menarik pada bagian ini adalah bahwa penonton diajak untuk ikut bersorak, tepuk tangan, dan pendeknya "terlibat". Perasaan terlibat pada sebuah pertunjukkan atau apa pun, meskipun kecil, ia punya dampak yang hebat. Menyenangkan sekali rasanya ada di tengah keramaian yang membahagiakan bersama boneka-boneka yang bergerak dengan bahasa tubuh selincah manusia padahal mereka hanya benda mati yang digerakkan oleh manusia-manusia kreatif dari Yogyakarta. 

Di akhir pertunjukkan sirkus keliling, seorang pemain sirkus menghampiri Baba yang tengah menonton dari jendela rumah dan memberikan secarik bendera merah. Belum habis keriangan atas pertunjukkan sirkus, penonton dibawa pada suasana malam saat sekelompok orang bertopeng menandai jendela rumah Baba dengan segititiga merah. Baba terbangun, membuka jendela tapi tak menemukan siapa-siapa. Ia lalu menyalakan rokoknya. Haki juga terbangun dan menyapa Baba. 

Baba yang terbangun sesaat setelah jendela rumahnya ditandai dengan segitiga merah.
Pagi-pagi sekali, Haki yang sedang menyapu halaman kaget melihat ada tanpa segitiga merah di jendela rumah Baba. Ia menghindar saat Baba yang menuju halaman menyapanya. Tak perlu waktu lama, Baba pun melihat tanda tersebut dan sangat marah. Ia berusaha menghapusnya dengan sapu lidi, tapi sia-sia. Ia kemudian tak memedulikan tanda tersebut dan segera mengambil kembali palu yang sejak tadi dibawanya untuk membetulkan kuda kayu Tupu. Sebelum selesai membetulkan kuda kayu tersebut, sekelompok orang bertopeng dan bersenjata datang dan memerintahkan Baba untuk ikut mereka. Baba tidak melawan. 

Baba berhenti melangkah ketika mendengar Moyo dan Tupu keluar untuk bermain baris-berbaris atau berakting tentara. Baba meminta waktu sejenak kepada orang-orang bertopeng. Ia menghampiri Moyo dan Tupu dan mengecup kening mereka. Ia sempatkan pula menyelesaikan kegiatannya sebelumnya, yaitu membetulkan kuda kayu. Ia serahkan kuda kayu yang sudah baik pada Tupu yang kegirangan dan menciumnya sekali lagi. Moyo sudah merasa ada yang tidak beres, tapi Baba hanya menepuk bahunya, menciumnya lagi kemudian pergi. Sejak kejadian itu, keriangan yang masih gegap gempita mewarnai hati para boneka dan para penontonnya seketika sirna.

Setelahnya, penonton diajak menyaksikan kepedihan dua anak yang masih terlalu kecil untuk hidup tanpa ayah. Siang berganti malam, malam berganti siang. Pada suatu waktu, Tupu merengek pada Moyo sambil membawa piring dan sendok. Ia lapar. Moyo kebingungan. Tiba-tiba muncul di hadapan mereka dua ekor kodok yang melompat-lompat. Tanpa pikir panjang, Moyo menangkap kedua kodok tersebut. Tupu memukul-mukulkan sendok ke piring tanda kegirangan saat Moyo berhasil menangkap mereka. Yang terlihat selanjutnya adalah kedua anak ini muntah-muntah. Kiranya mereka memakan kodok tersebut! Hari-hari selanjutnya Tupu sudah tidak mau makan.

Moyo tampak berlari-lari mengejar orang bertopeng sambil membawa sepucuk surat. Tupu ditinggal sendirian. Saat berhasil menarik perhatian seorang bertopeng, Moyo hanya berujar: "Baba Moyo" sambil menyodorkan surat yang kiranya ia tulis untuk Baba. Orang bertopeng melihat peluit merah di leher Moyo dan langsung menggiring Moyo yang tak pernah kembali lagi. Tupu menunggu di jendela hingga malam. Ia meniup-niup peluitnya sendirian dan suara peluitnya tidak lagi lantang. Saat siang, Tupu akan duduk di beranda rumah di samping balon merah yang ditaruh di pojok beranda sambil meniup peluit yang suaranya kian lama kian lemah. Sesekali ia akan melihat ke arah dimana ia berharap Moyo muncul.

Sejak kepergian Baba, saya sungguh berharap Haki akan muncul dan membantu mereka setidaknya memberi makan. Tapi rupanya, tanda segitiga merah di jendela rumah membuat Haki menjauhi mereka sebagai jalan aman. Kiranya tanda segitiga merah adalah berarti sebuah masalah. Ia bahkan marah saat Lacuna menghampiri Tupu dan berniat memberikan kotak musik yang kemarin-kemarin tidak diberikannya pada Tupu. 

Tampak Baba berada di dalam sel dan digiring keluar. Seorang bertopeng membawa benda serupa timbangan ke hadapan penonton dan menyusun boneka putih ukuran kecil yang pada dadanya tergambar segitiga merah. Setelah disusun berbaris ke belakang, seketika boneka-boneka putih tersebut roboh diiringi suara letusan balon merah pemberian Baba. Tupu kecil terkejut dibuatnya; musik latar yang serupa lolongan bernada sedih seolah menjadi penanda kesedihan yang tiba-tiba menyergap Tupu.

Ditengah kesedihan Tupu yang mendalam, Lacuna kembali menghampirinya dan menyerahkan kotak musik. Tupu menolak, ia sudah tidak butuh apa-apa lagi. Lacuna tak peduli, ia meninggalkannya begitu saja. Tupu tak memedulikan kotak musik, ia masih saja meniup peluit yang suaranya kian lemah dan pilu. Lalu Tupu dipeluk erat oleh yang menggerakkanya. Rumah Tupu dihancurkan sekelompok orang bertopeng.

Haki dan Lacuna keluar rumah membawa koper; mereka berniat pindah, lagi-lagi untuk alasan keamanan. Haki meminta Lacuna menunggunya sebentar, sebab ia harus kembali ke dalam untuk mengambil sesuatu. Sepeninggal Haki, Lacuna melihat rumah Tupu yang sudah berantakan, memanggil-manggil Tupu tapi tak beroleh jawaban. Ia hanya menemukan kotak musiknya di tempat ia meletakkan terakhir kali, topi Tupu yang segera diambilnya, dan peluit merah yang kemudian ia tiup dengan keras seolah berharap didengar oleh Tupu.

Sekembalinya Haki, ia hanya menemukan koper cokelatnya dan kursi roda Lacuna yang terbalik tanpa tuannya. 

***

Banyak simbol-simbol dalam kisah yang berdurasi sekira 55 menit ini; sebut saja segitiga merah, balon merah, bendera merah, peluit merah, boneka putih dengan tanda segitiga merah di dada, pasukan bertopeng, dan lain sebagainya. Meski penuh simbol dan pahit dikunyah, pementasan teater boneka yang sukses menuai standing applaus ini tetap mudah dipahami dan menggugah naluri kemanusiaan. Meskipun mungkin pemahaman tersebut hanyalah sebatas permukaan, ia mampu menggiring untuk berempati dan bahkan menguras air mata sejumlah penonton, termasuk saya. Lega rasanya saat mengetahui bahwa saya tidak sendirian menangis saat itu.

Tiket Mwathirika

P.S: 
September mendatang, papermoon puppet theatre akan tur keliling Amerika dalam rangka pementasan Mwathirika. Semoga sukses!


Wednesday, April 18, 2012

Trivia Hari Ini

Sebenarnya tidak ada yang teramat spesial yang terjadi di hari ini. Tapi, saya ingin menuliskannya. 

Pukul 7.57 saya sudah sampai di absensi di kantor, dan ini berarti saya tiba 3 menit lebih awal dari jam kerja yang sudah ditetapkan. On time! Awal yang bagus untuk hari ini. Sudah sempat pula memesan nasi kuning untuk sarapan. 

Sebab Nitnet* tidak dibawa ngantor, saya langsung "turun gunung" dan mengedit powerpoint Fun Learning English 6 begitu selesai sarapan. Istilah "turun gunung" memang biasa kami (teman-teman editor--red.) gunakan saat harus ke lantai bawah dan mengedit di monitor komputer. Ruang editor memang terletak di lantai dua Green House--sebutan untuk gedung yang kami huni dan kami cintai ini. Suasana sudah tidak lagi sama memang. Sepi. Meski penghuninya baru saja bertambah sejak Jumat kemarin, nuansa sepi masih belum pergi.

Sebab tidak bawa Nitnet, dan memang belum mood browsing materi karakter bangsa atau video untuk powerpoint, sebagian besar kegiatan hari ini adalah copy paste icon penunjang powerpoint lengkap dengan menambahkan efek animasi dan hyperlink-nya. Mengedit sampai saatnya makan siang. Sekarang, makan tidak lagi dikantin, melainkan membawa "misting" dan makan di meja kerja. Kebiasaan ini bermula sejak bulan April ini. 

Selesai makan, salat, dan istirahat, saya kembali turun gunung dan lanjut mengedit sampai waktu Asar. Nah, setelah salat Asar, turun gunung lagi tapi sambil bawa novel Gaardner, Dunia Sophie. Lalu ngantuk menyerang. Saya putuskan untuk naik gunung. Mengobrol bersama teman-teman editor, tentang Maemunah dan Moemaneh (pelesetan berbahasa Sunda); tentang Johari dan  pelesetannya (jauh hari); tentang golodok yang saya kira adalah kerupuk, tapi kemudian sadar bahwa yang saya maksud adalah dorokdok.

Ada Ipeh yang hari ini datang ke kantor sebelum istirahat, lalu ada juga Cimot dengan penampilan barunya (berjilbab) yang datang saat sore.

Gosip kemarin masih ramai dibicarakan, tapi saya malas ikut membahas beramai-ramai. Bukan tidak peduli, hanya merasa sedikit tidak enak--entah kenapa atau kepada siapa. 

Beberapa jam menjelang jam pulang kantor, ngantuk rupanya kian gigih menyerang terlebih saat saya membaca Dunia Sophie. Lalu tiba-tiba ingin batagor sepulang kantor. Maka tepat jam 5, berangkatlah ke Buah Batu bersama Teh Nita, tapi jadinya beli bakso malang. Ngobrol sampai magrib, dan hujan tiba-tiba deras. Saat di angkot menuju ke kostan, saya melamun di angkot--bukan tentang saya--tentang orang yang menjadi objek gosip hangat kemarin dan hari ini. Kasihan. Kalaupun memang dia bersalah, tetap saja kasihan. Sesekali berdoa agar hujan reda saat saya harus turun angkot dan berjalan ke kostan. Doa saya terkabul. Ada genangan air di jalan depan gang meski hujan hanya sebentar mengguyur.

Facebooking dan menemukan jejak sinkronisasi dengan seseorang. Tapi tidak mau terlalu dipikirkan. Lalu blogwalking dan menemukan tulisan bertema sinkronisasi. Ini yang paling berkesan, dari kuwacikecil, tentang kisah nyata yang sedih, yang diangkat ke dalam sebuah teater boneka. Lalu disambung dengan cerita sinkronisasi dari salamatahari. Sepertinya saya memang gandrung dengan cerita sinkronisasi macam ini. Maklum, saya pun pernah mengalaminya--sering malah. Tapi yang paling berkesan adalah sewaktu berada di Hamburg, Jerman. Begitu luas dan banyaknya orang asing di Hamburg, siapa sangka kalau  ternyata satu-satunya sahabat baik dari seorang sahabat yang lain (yang juga ke Jerman, tapi tinggal di lain kota) adalah juga teman Ibu angkat tempat saya menumpang selama di sana. Ibu angkat memang sering bercerita tentang teman Indonesia--begitu ia menyebutnya--yang ia kenal saat menjalani studi penyetaraan yang wajib diikuti non Eropa yang ingin kuliah di Eropa. 

Suatu hari, saya bercerita pada Ibu bahwa saya mencari alamat seseorang--yang namanya kebetulan sama dengan nama teman Ibu. Entah pada poin apa, kami tiba pada dugaan bahwa orang yang saya cari adalah teman Indonesia Ibu. Ibu menyuruh saya mengirim email pada sahabatnya yang mungkin adalah sahabat baiknya teman saya, untuk klarifikasi perihal dugaan kami. Saat email dibalas, terbukti bahwa orang yang kami bincangkan di meja makan siang itu adalah memang orang yang sama. Die Welt is klein. Dunia itu kecil! 

Saat menulis ini, di luar hujan deras sekali. Pukul 21.24 tertera di pojok kanan bawah layar Nitnet.



*my netbook.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...