Showing posts with label Jejak Langkah. Show all posts
Showing posts with label Jejak Langkah. Show all posts

Wednesday, April 23, 2014

Menakjubi Kanawa

Kanawa Island atau Pulau Kanawa mungkin tidak terlalu akrab di telinga, apalagi jika dibandingkan dengan Pink Beach yang pasirnya berwarna sesuai namanya itu. Meski begitu, pulau cantik ini layak dikunjungi dalam rangkaian perjalanan Anda menjelajahi kehidupan liar TNK. Ya, pulau ini berada dalam kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) di Nusa Tenggara Timur. Di kawasan inilah satu-satunya habitat alami komodo di dunia. Karena keunikannya, TNK pernah dinominasikan dalam daftar tujuh keajaiban dunia.

Saya berkesempatan mengunjungi Pulau Kanawa pada awal Desember 2012 bersama pemenang quiz yang diadakan Kemenparekraf. Saya ditugaskan meliput kegiatan perjalanan tersebut dan menuliskan beritanya. Kami berkesempatan menjejak Kanawa setelah mengunjungi Pulau Rinca yang merupakan salah satu dari 3 pulau yang menjadi habitat alami komodo. Dari Pulau Rinca, Pulau Kanawa dapat ditempuh dengan menggunakan speedboat sekitar....ehhhmmm berapa lama ya.... agak lupa.... mungkin sekitar 45 menit. 

Selain cantik, di pulau ini kita juga bisa berenang dan snorkeling. Airnya yang biru kehijauan itu duuuh jernihnya sungguh mengundang untuk diselami. Alam bawah lautnya memang kalah indah jika dibandingkan Pink Beach. Tapi perlu kalian tahu, berhubung saya belum pernah snorkeling dan butuh latihan, pelatih dadakan snorkeling saya bilang bahwa snorkeling di Pulau Kanawa adalah momen tepat untuk berlatih menyiapkan diri snorkeling di Pink Beach keesokan harinya. "Nyesel kamu kalau ga belajar snorkeling di sini, besok di Pink Beach itu lebih bagus." 

Mendengar ini saya pun semangat belajar snorkeling, beberapa kali rasanya mual ingin muntah setiap kali snorkel (selang atau apa itu namanya) dimasukkan ke mulut agar saya bisa leluasa bernapas dan melihat pemandangan bawah laut. Susahnya bernapas lewat hidung. 

Sebelum menakjubi bawah lautnya, yuk intip kecantikan pulau ini.

Picture speaks a thousand words. So, enjoy the beauty of this island since the first time you step your feet on the nearest jetty.


Welcome di Pulau Kanawa; speedboat nya parkir di sini ya...
Untuk sampai ke pulau, kita harus melewati jetty yang tampak eksotik ini. Dan jangan lupa buka mata lebar-lebar, rekam keindahan pemandangan sekitar: bukit gundul, barisan cottage di kejauhan, langit biru yang maha luas, dan birunya laut yang menenangkan. :)

Exotic wooden jetty
Jukung biru ini langsung menarik perhatian saat masih di parkir di dekat jetty. Eh, ternyata ada yang punyanya.
two fishermen
 Ayo, kita makin dekat dengan pulau. Makin cantik kan?

What a beautiful scenery, right?
Birunya laut dibingkai gugusan pasir putiiiiih bersih, lalu berlatarkan langit yang juga biru; aduhai siapakah gerangan pelukisnya?
kuning. ngambang. :D
Hup, sesampainya di ujung jetty, nih tulisan penanda Pulau Kanawa siap menyambut. Jangan lupa foto-foto narsis di sini. Saking sibuknya foto-foto, tas kamera ketinggalan tergantung di sini. Untung ada yang bawain.


Saya tidak tahu nama pohon ini apa, tapi pohon ini lah yang banyak terdapat di sini. Rindang dan teduh; pas untuk bersantai selagi menikmati pemandangan alam dan atau sesudah snorkeling.

Dan lihat, ternyata jetty-nya lumayan panjang ya. Jangan lupa pakai sunblock karena saat melintasinya atau saat berenang, Matahari akan memandikan kita dengan cahayanya tanpa ampun.


siap-siap snorkeling
snorkeling di laut jernih biru kehijauan.

ngintip dari balik pohon tepi pantai
Transportasi:
Untuk tiba ke Pulau Kanawa ini, sebelumnya kalian harus terbang dengan pesawat kecil dari Denpasar, Bali menuju Labuan Bajo, NTT. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 1 jam. Dari Labuan Bajo, pergilah ke dermaga, dan penjelajahan bisa dimulai dari sini. Tidak hanya kehidupan hutan liar berikut satwa endemiknya yang terancam punah (komodo) dan satwa liar lainnya, keindahan pantai di bagian Timur Indonesia akan menjadi destinasi yang tak mudah dilupakan.

Nah, besok saya akan menuliskan pengalaman yang mengesankan saat saya menyelami keindahan bawah laut Pink Beach. Sensasinya melekat dalam kenangan karena sangat kuatnya kesan yang saya dapat kala itu.  

Wednesday, August 14, 2013

Bandung, Here I Come

Di tangan kanan bergantung tas warna pink berisi penuh pakaian, sementara di tangan kiri ada tas berwarna maroon campur krem berisi penuh oleh-oleh; saya siap berangkat ke Bandung. Tak lupa, tas kecil cokelat diselempangkan di bahu.

Papah saya yang mengantar ke tempat angkot warna kuning ngetem, tujuan Bakauheni. Saya duduk di depan, di samping supir yang sibuk menyetir. Perjalanan terasa garing hingga sampai didaerah Blambangan, seorang lelaki dengan logat Lampung yang kental yang ternyata teman si supir ikut naik. Nah, sejak laki-laki ini naik, ia duduk di belakang supir dan tak henti bicara. Bicara dengan bahasa Lampung. Setidaknya ada suara yang mengusik telinga. Musik di mobil tidak dihidupkan, dan ini menjadi masalah bagi pria Lampung yang satu itu. "Adu kelot mawat penumpang, musik mak diukhion muneh...," ujarnya. Sang supir menjawab santai tapi tidak mengikuti permintaannya yang ingin musik di mobil diperdengarkan.

Banyak yang mereka bicarakan sepanjang perjalanan, apalagi saat mobil harus terpaksa menyusul penumpang langsung ke rumah mereka. Ada-ada saja celetukan lelaki tersebut yang mengundang senyum. Si supir bahkan bilang (dalam bahasa Lampung), "Ga kebayang saya kalo kamu tua nanti cerewetnya kayak apa." Si laki-laki malah tertawa dan tetap banyak bicara. Sampai akhirnya dia membuat saya dan beberapa penumpang terbahak. Duh, susah payah saya nahan diri untuk berhenti tertawa. 


Ceritanya ada seorang ibu yang naik angkot ini, diantar oleh seorang perempuan dan anak kecil. Begitu si ibu naik, si anak nangis sambil lari menjauh. Dan ini adalah jalan trans sumatra yang banyak mobil ngebut. Saya sempet khawatir juga liat tuh anak kalau-kalau lari ke tengah jalan. Terlebih lagi perempuan yang bersama si anak. Dia lari mengejar tapi ragu karena mungkin takut justru membuat si anak lari lebih jauh. 

Melihat hal tersebut, laki-laki cerewet tak tinggal diam. Dengan logat Lampung yang kental dia berseru, "Jangan bunuh diriii, kamu... susah buatnya...." 

Saya dan beberapa penumpang kontan terbahak. Untungnya si anak sudah digandeng perempuan yang bersamanya. Tapi tak cukup berkata begitu, lelaki cerewet ini menambahkan, "Udah jangan nangis, mak kamu mau berangkat dulu."


Kok ya kepikiran bicara dengan nada bercanda begitu sama anak kecil saat orang lain khawatir liat tuh anak lari-lari sambil nangis di pinggir jalan raya.


Hehehee begitu ceritanya. Saya mengetik postingan ini di kapal ferri Dharma Kencana IX, di depan ada live musik oleh biduan bergaun mini warna fuschia dengan ikat pinggang besar warna hitam yang bagi saya dipasang ketinggian (di atas pinggang). Well, mungkin memang model pakaiannya seperti itu kali ya. Untung suaranya lumayan jadi ga mengganggu telinga.

Demikian cerita perjalanan yang biasa saja ini. Neni melaporkan dari Selat Sunda... :)


P.S: Kapal sebentar lagi sandar di Pelabuhan Merak. Arus balik ramai lancar. Penumpang kapal masih ramai tapi tidak terlalu padat.


Monday, April 29, 2013

"E" hingga Kartu Tarot

"E" untuk Energi! 

Inilah judul pameran tunggal Prilla Tania, seorang lulusan Studio Patung FSRD ITB, di Selasar Sunaryo Art Space yang berlangsung pada 19 April-11 Mei 2013. 

Hari ini ada jadwal artist talk-nya pukul 15.00 WIB, katanya. Karena itu, saya dan Dika (teman baik yang saya kenal di klab nulis) memutuskan ke sana. Biasanya kami akan pergi ke tempat seperti ini bertiga dengan Nia. Nia kerja di Jakarta sekarang, jadi ga bisa ikut deh kecuali kalau Nia lagi ke Bandung. 

Saya tidak akan banyak berkomentar tentang pameran ini kecuali pengalaman saya sebagai penikmat seni yang tidak paham seni. Setibanya di sana, kami langsung ke Ruang Sayap. Di dinding sebelah kiri dekat pintu masuk, tampak pengantar dari kurator dalam Bahasa Inggris.


Mengutip ucapan kurator, Chabib D.H, "Pameran 'E' merupakan buah kesimpulannya (Prilla--red.) dari proses pencarian dan kegelisahannya terhadap persoalan pangan." 

Lalu apa hubungannya dengan energi? Dalam siklus produksi dan konsumsi pangan, ada daur energi yang terjadi. Kita butuh makanan untuk sumber energi. Makanan yang dijual biasanya dikemas dalam kemasan yang tidak bisa di daur ulang atau yang membutuhkan energi besar untuk mendaur ulangnya. Kira-kira gitu. Sebenarnya konsep tentang energi ini lebih kompleks dan dalam dari yang tadi saya uraikan. Tapi saya bingung menyampaikannya. 

Prilla sendiri menghindari atau meminimalisir membeli makanan dengan kemasan yang tak bisa di daur ulang. Ia bahkan berkebun, menanam berbagai bahan pangan yang tentunya tidak perlu dikemas dan tidak menghabiskan energi untuk sampai ke tangannya. Prilla yang gemar masak makanan Eropa bahkan nekat menanam tanaman impor untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Niat bener!

Bahan dasar karya Prilla kali ini adalah kertas atau kemasan bekas makanan yang dia potong-potong (bahkan sangat kecil) untuk membentuk beragam objek seperti kapal, orang, etalase/rak di supermarket, truk sampah, pabrik, dan lainnya yang ditempel dan disusun secara acak di salah satu sisi dinding Ruang Sayap. Karya ini berjudul: "Daur Energi". Jadi, dia memanfaatkan kemasan bekas untuk "didaur" menjadi karya seni yang mewakili konsep yang ia pegang tentang energi, industrialisasi pangan, dan ketahanan pangan. 

Untuk pameran ini, ia menghabiskan waktu 3 bulan dalam proses pengerjaan.

Lihat gambarnya biar lebih jelas:


Lihat beberapa objek lebih dekat; berikut adalah beberapa yang menjadi favorit saya:

ruang keluarga; tampak unik dari angle yang menarik
kapal yang cantik ya? tapi muatannya isinya sampah.
Ini kilang minyak lepas pantai itu bukan sih?
pabrik
perahu layar bercadik

truk berisi sampah kemasan makanan
Kalau kalian perhatikan setiap objek, saya yakin kalian akan mengagumi dan menghargai usaha, ketekunan, ketelitian dan kesabaran ekstra tinggi Prilla dalam membentuk benda dengan sedetail itu. Bayangkan dia memotong-motong kertas hingga bentuknya kecil sekali, lalu menempelnya dengan lem dengan hati-hati demi membentuk objek yang dia inginkan. 

Di sisi berlawanan dari karya "Daur Ulang", tampak tulisan di bawah ini yang juga dibuat dari kertas karton kemasan makanan. Bedanya karton yang dipakai adalah bagian yang menyatakan nilai gizi makanan yang menurut Prilla seolah kontradiktif dengan fakta bahwa makanan itu sendiri mengandung pengawet.


Setelah saya motret dan Dika selesai menonton video yang bercerita tentang "Daur Energi", kami beranjak ke Ruang B. Begitu masuk ruang, saya mengisi buku tamu, dan petugas mengatakan bahwa saya tidak boleh motret di ruang ini. Ah, sial bener! Padahal karyanya bagus juga di sini. 

Kami menonton dulu video Prilla berbicara tentang "E" dan energi dan pangan sambil ia membuat objek yang dipajang di "Daur Energi". Tuh kan bener, itu kertas dipotong-potong kecil-kecil, satu per satu, sedikit demi sedikit. Salut!

Dika masih betah nonton video, sementara saya segera masuk ke ruang...ehhmm...mungkin kalau boleh saya mengatakan ruang seni instalasi 2 dimensi. Awalnya saya tidak sadar ruang. Suara deru entah apa sejak tadi terdengar kurang nyaman di telinga. Saya melihat di depan saya, di sisi-sisi dindingnya juga terdapat bentuk-bentuk benda (juga dari karton, tapi dicat hitam). Bentuk objeknya lebih cantik; ada beberapa botol kemasan minuman mineral di sisi kiri tersangkut jaring. Lalu ada garis lurus yang ditarik yang menghubungkan tiap sisi dinding sebagai satu kesatuan "ruang", semacam pembatas. 

Mata saya bergerak (masih di dinding sisi kiri) agak ke tengah bagian bawah dinding; di sana saya melihat ada sebentuk hiu, di dinding tepat di seberang saya berdiri ada bentuk ubur-ubur. Di bagian tengah ruang, juga terdapat dinding yang memajang bentuk sampah botol kemasan. Di sisi kanan bagian bawah tampak drum berlogo tengkorak. 

Dan AHA moment menghampiri saya. Saya mendadak tahu saya ada di mana, dan apa yang sedang saya hadapi saat itu. Saya sedang menyaksikan realitas di lautan dengan makhluk lautnya dan sampah yang ngambang di atas permukaan. Garis panjang yang saya bilang semacam pembatas adalah batas permukaan laut dengan isi laut yang "menampung" ikan hiu, ubur-ubur, ikan-ikan kecil, dan drum bekas yang tenggelam di dasar. Lalu  suara deru yang tidak nyaman tadi rupanya adalah suara deburan air laut! 

Sampah di sisi kiri itu bagus, tapi sayang fotonya ga bisa dicuri. Ini saya berhasil curi foto drum yang ceritanya tenggelam di dasar lautan.



Ini dia hiu-nya.
Saya melangkah agak jauh ke ruang yang agak tersembunyi, dan saya kaget karena di salah satu dinding, ada film animasi (seperti bayangan tuyul). Film animasi anak kecil yang buang air di atas biji mangga. Mangga tumbuh, si anak yang sudah agak besar berusahan petik mangga, pohon tambah besar, anak tumbuh jadi manusia dewasa yang metik mangga, hingga ia jadi manula dan meninggal dan tengkoraknya dikubur. 

Agak jauh ke dalam, ada seni yang lain lagi. Kertas karton berbentuk pohon di taruh di lantai menghadap ke 4 sisi dinding, lalu lampu-lampu yang berada di tengah, di atur dan diarahkan sedemikian rupa ke pohon tersebut hingga bayangannya membentuk efek spesial di tiap sisi dinding. Ini dia foto curian saya. Mencuri foto ini ga mudah, karena petugasnya tuh sesekali ngecek ke ruangan. Untung ga kepergok.

Aslinya lebih keren deh, maklum hasil curian jd asal jepret.
Saya juga sempat melihat seni lain dimana kita harus mengintip ke lubang kecil di salah satu sisi dinding dari triplek. Di dalamnya, tampak kapal berisi sampah berlayar terombang-ambing ombak, bendera di tiangnya seolah berkibar-kibar ditiup angin, gelombangnya juga beriak-riak. Entah pakai efek apa tuh bisa begitu.

Sambil menunggu artist talk mulai, saya dan Dika duduk di teater terbuka sambil ngobrol banyak hal. Suara serangga musim panas nyaring bersahut-sahutan. Udara di Dago atas ini jelas sejuk, dan untung tidak hujan. 


Iseng moto kaki sendiri, hihihi....
Jam tangan kesayangan menunjukkan pukul 15.30 WIB belum ada tanda-tanda akan dimulai tuh artist talk bareng Prilla. Tadinya kami mau denger sebentar, lalu pergi aja. Tapi karena ga mulai juga kami pun beranjak ke tempat makan pempek yang direkomendasikan Dika. Dari sana kami ke Togamas untuk beli majalah Tempo edisi khusus Kartini. Saya jadi penasaran ingin baca karena terprovokasi mendengar cerita Dika tentang sosok Kartini di majalah ini. Dan karena saya ingin mencari kartu Tarot.

Tadinya saya iseng bilang ke Dika bahwa saya tertarik belajar baca Tarot tapi saya takut dosa, karena kan katanya ramalan itu dilarang dalam Islam. Tapi eh tapi Dika malah mendukung sepenuh hati. Itu salah satu jenis skill katanya. Katanya lagi, mungkin dengan mempelajari hal yang dianggap bertentangan dengan apa yang  sudah kita yakinin sejak lama akan membawa pemahaman baru terhadap keyakinan itu. Sederhananya mungkin konsep ini bisa disamakan dengan konsep bahwa untuk mengetahui apakah sesuatu itu salah, kita harus tahu juga apa itu benar atau sebaliknya.

Di Togamas, buku tentang Tarotnya ada tapi kartunya ga ada. Jadi saya hanya beli Tempo dan satu buku berjudul "Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya". Duh, Dika ini bikin saya belanja! #nyalahin orang :p.

Lalu Dika menawarkan mengantar ke Gramedia untuk cari Tarot. Nyatanya kosong juga. Lalu Dika menyarankan ke Book & Beyonds dan ke Gunung Agung yang ada di BIP. Ga ada juga, sodara-sodara. Malah pegawai Gunung Agung menyarankan nanya ke Hypermart segala, sebab katanya dulu pernah suplai ke GA. Saya samperin tuh, ya jelas ga ada lah ya.

Saya sempet tanya kenapa kok Dika bersemangat sekali mengantar saya mencari Tarot. Dika bilang, "Soalnya keinginan untuk belajar sesuatu yang baru itu kan jarang-jarang, jadi ketika ada keinginan kenapa ga diseriusin." Oh, baiklah.

Gagal dapet Tarot, kami pun pulang. Cuaca Bandung cerah tanpa hujan.

Tuesday, August 14, 2012

Kartu Pos The Secret Garden

Sekira 2 tahun yang lalu, itulah terakhir kali saya mendapatkan sebuah kartu pos sebagai oleh-oleh yang dibeli di sebuah museum di Irlandia. Itu pun diberikan langsung, tidak dikirim melalui pos. Tanpa bermaksud berlebihan, menerima kiriman kartu pos berperangko dari seorang sahabat di zaman yang serba digital ini adalah sebuah kemewahan varietas baru! :D

Kartu pos (tampak depan)
Andika Budiman lah pengirim kartu cantik tersebut yang bergambarkan cover buku "The Secret Garden", karangan F.Hodgson-Burnett. Kalimat pembuka dan pesan di baris terakhirnya sudah cukup membuat saya merasa betapa Dika, salah satu sahabat terbaik saya ini, begitu mengenal pribadi saya tapi tidak pernah (seingat saya) men-judge atau menghakimi saya karena sifat-sifat dan karakter saya tersebut. Karenanya, saya selalu nyaman mengenalnya... :)

Untuk urusan teman bercerita, Dika adalah pendengar yang baik tapi juga berbahaya, hehhehe.... Saya hanya perlu bercerita sedikit, lalu Dika akan sudah dapat mengenali emosi terdalam di balik cerita saya dan memahami hal-hal yang bahkan tidak saya katakan. Saya baru bercerita A-B-C, tapi ia sudah mendengar dan memahami hingga huruf N atau seterusnya. Terdengar lebay tapi begitulah adanya.

"Neni, jangan ragu mengungkapkan perasaan, apalagi jika itu ungkapan afeksi. Seperti kata Nia Janiar (sahabat kami juga--red.), niat baik tidak pernah sia-sia." Inilah sebaris pesan Dika di kartu posnya sebelum mengucap salam.

Kartu pos (bagian belakang); sengaja blur agar isinya tidak terbaca... :p

Niat baik memang tidak pernah sia-sia, Dika. Dan ini termasuk niat baik kamu mengirim kartu pos pada "sebuah ikon" yang kemudian kamu sesali karena malu atau entahlah, namun ternyata justru jadi menginspirasi. Dan yang akhirnya membuat saya menerima kartu posnya. 

Terima kasih, kartu posnya ya, Dika. Rasa kantuk yang merusak mood seharian dan rasa sebal karena kemacetan lalu lintas yang saya bawa pulang sore ini jadi hilang seketika setelah baca kartu posnya. Mudah-mudahan kamu tidak keberatan saya menulis di sini. Saya janji saya akan balas kartunya... :)

Oh iya, kartu pos yang saya terima 2 tahun yang lalu juga bergambar perempuan. Seorang perempuan bertubuh ringkih yang memegang payung dan memandang ke arah samping di kejauhan (tidak memandang ke depan). Gambar tersebut tepatnya adalah sebuah lukisan perempuan berpayung yang di pajang di museum Irlandia tersebut. Si pemberi mengatakan bahwa kartu pos itu mengingatkan dia pada sosok saya yang menurutnya terlihat begitu "confident, but fragile at the same time". Saya cukup kaget juga mendengar frasa tersebut. 




Sunday, January 15, 2012

(Bukan) Sumur Jalatunda


Bagi saya, Jalatunda bukanlah sebuah sumur. Meskipun nama Jalatunda sendiri adalah berarti sumur yang besar atau luas dalam bahasa Jawa. 

Dari sekian banyak objek wisata kawasan Dieng Plateau yang kami kunjungi tepat saat pergantian tahun kemarin, Sumur Jalatunda adalah objek yang paling ingin saya tulis, yang paling membuat saya penasaran. Kompleks wisata Dataran Tinggi Dieng terletak di Propinsi Jawa Tengah, dimana sebagian wilayahnya termasuk dalam Kabupaten Wonosobo (2 desa) dan sebagian lainnya dalam Kabupaten Banjarnegara (6 Desa). Dieng tepatnya terletak 2.093 M di atas permukaan laut. 

Peta Wisata Dieng di Pertigaan Dieng
Kalau ditanya kenapa sumur ini menarik bagi saya, saya juga tidak tahu pasti alasannya. Mungkin karena di sumur ini, saya mendapat informasi gratis dari seorang guide sekelompok anak-anak tentang sejarah yang bercampur mitos dan kepercayaan penduduk setempat atas keberadaan sumur ini. Sementara di lokasi lain, saya tidak mendapat informasi apapun kecuali nama lokasi objek wisata itu sendiri. Ketidaktahuan bisa membebaskanmu dari rasa penasaran. Ignorance is a bliss. Karena rasa penasaran seringkali membuat tidak tenang. Tapi usaha menuntaskan penasaran jelas bisa membebaskan. (Ah, ngomong apa sih?)

Atau mungkin, sumur ini mengingatkan saya akan Trevi Fountain di Roma—kolam cantik rancangan Bernini yang selesai dibangun di tahun 1762—yang membolehkan pengunjungnya melempar koin ke dalam kolam sambil mengucapkan keinginan dan demi nasib baik.

Tangga menuju Sumur Jalatunda

Pemerintah sudah melarang pengunjung melempar koin ke Sumur Jalatunda, lalu menggantinya dengan batu kali berukuran kecil (kerikil). Maka jangan heran, begitu kita sampai di ujung tangga yang mengantar kita ke dekat sumur, terlihat tumpukan batu yang beralas karung ala kadarnya. Harga tiap batu Rp500,00. Harga yang cukup murah untuk menguji keberuntungan.

Ya, keberuntungan. Menurut guide bersuara lantang seperti tukang obat keliling—sebut saja Bapak Tua (sebutan karangan saya sendiri)—ada kepercayaan bahwa orang yang berhasil melemparkan batu kali ke titik tertentu akan beruntung dan keinginannya akan terwujud. Adapun target lemparan berbeda antara perempuan dan laki-laki. Bagi perempuan, cukuplah ia mampu melempar batu ke tengah kolam untuk bisa dikatakan berhasil. Sementara untuk laki-laki, target lemparan tentu lebih jauh lagi, yaitu ke seberang sumur yang ditandai dengan rimbun pohon bunga berwarna ungu, yang tumbuh di sela-sela batuan tepian seberang sumur.

Bapak Tua menekankan bahwa batu yang digunakan adalah batu yang dibeli dari anak-anak Dieng di lokasi sumur ini. Jadi, jangan berpikir untuk membawa batu sendiri. Mendengar ini, saya jadi berpikir, sepertinya ini adalah salah satu cara menarik pengunjung dan menantang rasa penasaran mereka sambil meraup sedikit keuntungan dari penjualan batu kerikil.

Dan bukan Neni namanya kalau tidak penasaran dengan mitos-mitos macam ini. Meskipun terjebak antara percaya dan tidak, saya tak mau melewatkan kesempatan melempar batu ke sumur yang airnya berwarna hijau pekat ini. Lihat, wajah saya senang begitu saat melempar batu, walaupun gagal sebanyak dua kali.

Foto oleh Nia Janiar

Sumur Jalatunda
Percayalah, sumur yang diperkirakan berdiameter 90 M dengan kedalaman ratusan meter ini, terlihat mudah ditaklukan. Tapi begitu batu dilempar, ia seolah lenyap di antara rimbun pepohonan yang tumbuh di sekitar sumur, dan bukannya ke tengah.

Mas Wahyu, yang paling bersemangat dan paling bertenaga melemparkan batu pun tidak berhasil. Juga Pak Asep, Kang Agus, Nia, dan Eka. Mas Sis sepertinya tidak mencoba—saya tidak ingat melihatnya melempar batu. Pendek kata, tidak ada satu pun dari kami yang berhasil.

***

Adapun mengenai asal usul terbentuknya Sumur Jalatunda, Bapak Tua berkata bahwa ia terbentuk dari letusan gunung api yang berakibat terbentuknya kawah yang kemudian terisi air. Fenomena semacam ini hanya ada dua di dunia. Satu adalah Sumur Jalatunda ini dan yang satu lagi ada di Meksiko. (Nah, kenapa namanya bukan Kawah Jalatunda saja? Atau mungkin, ia terlalu dalam untuk disebut sebagai kawah?)

Selain menyebutkan asal usul secara ilmiah, Bapak Tua juga menceritakan mitos seputar sumur raksasa berwarna hijau ini. Alkisah jaman dulu kala ada seorang putri yang cantik jelita yang selalu mengenakan pakaian serba putih namun berperangai jahat. Ia sering meminta tumbal untuk dikorbankan dan ditenggelamkan di sumur ini. Disebutkan juga bahwa di dalam sumur ini, ada pintu gerbang yang menghubungkan ke kediaman ular setengah dewa.

Bapak Tua menutup penjelasannya dengan lantang berkata: "Dalamnya sumur bisa dikira, dalamnya hati siapa yang bisa mengira." Kira-kira begitu, saya tidak ingat dengan pasti.

***

Oh iya, mengenai larangan pemerintah melempar koin, mungkin alasannya adalah untuk menjaga keutuhan sumur ini. Saat saya browsing dalam rangka menutaskan penasaran akan sumur ini, saya sampai pada sebuah berita tentang Morning Glory Pool di Wyoming, Amerika Serikat. Menurut berita tersebut, mata air panas ini dulunya berwarna biru. Namun sekarang, mata air panas ini tidak lagi berwarna biru saja, muncul warna hijau, kuning dan bahkan merah di sekeliling mata air. Tersebutlah tren melempar koin ke mata air demi nasib baik yang menyebabkan fenomena ini. Kabarnya, koin yang dilempar ke mata air selama puluhan tahun ternyata memblokir ventilasi panas kolam dan mengurangi suhu di sana. Belum lagi bahan kimia koin yang tentunya turut menyebabkan reaksi berbeda dan menumbuhkan bakteri.

Morning Glory Pool.
Sumber foro dari sini.
Mengenai batu-batu yang dilempar ke Sumur Jalatunda, yang terpikir oleh saya adalah jika banyak orang melempar batuan selama bertahun-tahun ke depan, akankah sumur ini nantinya menjadi semakin dangkal? Atau ia akan tetap baik-baik saja, karena mungkin ada sebuah jalur yang mengalihkan batuan tersebut ke tempat atau gerbang lain dan bukannya menumpuk di dasar sumur. 

Tuesday, May 17, 2011

Aku Menyerah, Tapi Bukan Kalah

Aku memang menyerah, tapi bukan kalah.
Aku justru bebas seperti serbuk-serbuk putih
dari bunga yang tak kutahu namanya
yang lincah berlarian menghiasi udara
atau justru mengotorinya

Mungkin kau menikmati memandanginya
dan berusaha menangkapi mereka
saat berdiri di halte menunggui bus kota
yang akan membawamu melintasi keasingan jejalan tua
untuk sekali itu saja; sebab sepertinya tak ada kesempatan kedua

Tapi mungkin juga kau akan terbatuk
jika serbuk-serbuk itu secara tak sengaja tertelan olehmu
saat menghirup dalam-dalam (sambil memejamkan mata)
angin musim semi yang gegas melintas:
agar sejuk meniup hatimu, agar tenang mengusir resahmu.


* teringat memandangi serbuk bunga pada suatu hari di musim semi:
   Oberschleem Haltestelle, Billstedt--Hamburg.

Tuesday, December 21, 2010

Lelaki Tua di Suhu Minus Lima

Dia berdiri melongok ke bawah jembatan, dimana mengalir sungai kecil yang cukup jernih. Seluruh pakaiannya hitam termasuk topi model lama yang menutupi sebagian rambutnya yang seluruhnya putih, seputih salju di sekitar. Saya pun mengenal lelaki ini hanya sebatas tampak belakang. Atau sebut saja sebatas punggung.

Meski sekelilingnya tertutup salju dan membeku, air sungai yang mengalir di bawah jembatan sama sekali tidak terganggu. Bahkan itik-itik liar masih berenang riang di sana. Saya tidak mengira bahwa itik masih bisa berenang di air yang pasti demikian dingin.

Lelaki tua di jembatan terlihat gusar, lalu buru-buru mengeluarkan sesuatu dari kantung yang dibawanya. Remah roti. Cepat ia taburkan ke bawah jembatan. Lalu, entah apa yang dilihatnya, ia berlari menyebrang jalan sambil memegang kantung berisi remah roti yang terguncang-guncang. Saya tak bisa berhenti memandanginya meski sambil terus melangkah. Lelaki tua menuju sisi lain jembatan, ia menabur semua remah roti yang dibawanya. Begitu selesai, ia melenggang tenang seolah baru saja selesai menunaikan tugas penting. Rupanya, itik liar berenang ke sisi lain jembatan dan lelaki tua mengejar demi memberikan remah roti yang sengaja disisihkannya.

Saya pun melanjutkan langkah dengan pandangan ke depan (sebelumnya saya berjalan sambil melihat ke belakang--ke arah lelaki tua). Kedua telapak tangan tersembunyi di kantung jaket sebab sarung tangan tak cukup menangkal dingin. Saya berjalan sambil menunduk, demi menghangatkan sebagian wajah dengan cara menyembunyikannya di balik syal wool warna maroon. Minus lima derajat; suhu udara pagi ini. Begitu yang saya dengar dari berita prakiraan cuaca hari ini.

Saat-saat seperti ini, sebagian besar orang akan memilih untuk berada di rumah yang hangat sambil minum teh bunga kamomil, dan bukan berada di jalanan apalagi untuk alasan memberi makan itik liar di bawah jembatan!

***

Sepertinya saya memang diberi kesempatan mengenal lelaki tua hanya sebatas pungggung. Beberapa hari kemudian, saya melihatnya (tampak belakang) hendak menyeberang jalan. Jaket hitam dan topi hitam yang sama, yang menutupi rambut seputih salju, membuat saya yakin bahwa dia memang lelaki tua yang memberi makan itik liar di bawah jembatan.




*Musim Dingin di Hamburg, 2009

Sunday, December 19, 2010

Teman Perjalanan

Saya bertemu dengannya sewaktu dalam perjalanan balik mudik, dari Lampung menuju Bandung. Ia berdiri di belakang saya saat mengantri tiket ferry. Ia menanyakan sesuatu pada saya, kalau tidak salah harga tiket. Dan dimulai dari sana kami resmi berteman, teman seperjalanan.

Sebagaimana biasa, arus balik setelah Lebaran selalu penuh sesak. Antrian tiket demikian panjang. Cuaca demikian panas. Jalur antrian diteduhi terpal, dilengkapi kipas angin besar sebagai penyejuk yang sebenarnya tidak terlalu membantu. Melewati antrian tiket, kami berjalan menuju ferry. Dari kejauhan ferry sudah tampak penuh sesak. Ia bilang bahwa kami harus cepat, agar dapat tempat duduk. Tapi percuma, ferry sudah telanjur dipadati penumpang arus balik. Banyak orang terhenti di tangga menuju kabin penumpang, sebab tidak ada lagi ruang di atas sana, sebagian lagi memilih duduk beralaskan koran di tempat yang harusnya tempat parkir kendaraan yang juga menumpang kapal. Kami pun tidak bisa kemana-mana selain ikut duduk beralaskan koran di ruang yang demikian panas.

Selanjutnya saya sibuk memperhatikan orang-orang sekitar tempat saya duduk. Ada bayi yang tidur beralas koran diantara karung dan dus-dus barang bawaan penumpang, ada yang cuek tidur berbantalkan tas berisi pakaian, ada yang makan bekal perjalanan, ada yang ngegosip, para lelaki merokok, dsb.

Tapi entah kenapa, sebab ada seorang teman, perjalanan kali ini terasa ringan-ringan saja. Kami berbagi makanan, bertukar cerita yang umum-umum saja; tentang mau kemana dari mana, kerja apa dimana, membicarakan tentang keadaan kapal dan penumpang lain di sekitar kami, dsb.

Setelah kurang lebih tiga jam berlayar, kami pun merapat di pelabuhan Merak. Dari dermaga, kami harus berjalan lagi menuju tempat parkir bus yang akan membawa kami ke kota tujuan masing-masing. Sekali lagi sebab bersama seorang teman, beban yang saya bawa tidak terlalu menyusahkan rasanya, udara panas tak terlalu mengganggu.

Hingga setiba di terminal bus, kami pun berpisah. Sampai saat itu, saya tidak tahu namanya apalagi nomor telponnya. Dia pun sebalikanya. Kami tidak saling menanyakan. Mungkin karena masing-masing kami tahu bahwa kemungkinan besar kami tidak akan bertemu lagi; atau bahwa kami memang cukup menjadi teman seperjalanan.

Saat menuliskan ini, saya bahkan tidak lagi ingat wajahnya. Tapi saya masih sangat ingat bahwa dia adalah salah seorang teman saya: teman perjalanan. Kalau saya tidak bersamanya saat itu, kemungkinan besar saya sangat tidak menikmati perjalanan menyebrang dengan ferry yang penuh sesak, yang membuat saya harus duduk beralaskan koran di tempat kendaraan yang demikian panas dan bau sebab mesin-mesin kendaraan itu sendiri.

Tuesday, September 07, 2010

Meracau: Mengantungi Matahari

Hari ini aku berhasil menangkap matahari. Ia terjatuh saat tengah asyik bermain ayunan. Ia tidak menangis, hanya sedikit meringis, dan kehilangan cerahnya.

Daun-daun kuning beristirahat dengan tenang di pangkuan rumput hijau, hingga angin datang mengajak mereka bergoyang, atau bahkan terbang.


Langit, birunya sangat bersih dan terang, bersanding kontras dengan gumpalan-gumpalan tebal awan putih bersih. Luas sekali.

Wednesday, August 18, 2010

Kalimat Berantai

Sejak kursus di VHS berakhir, saya mengikuti Deutsch Lernen und Menschen Treffen di perpustakaan tak jauh dari VHS (masih di kawasan Billstedt Centrum). Program ini terbilang baru, dan diadakan secara gratis setiap hari Senin dan Kamis pukul 10.00-11.00. Meski begitu, setiap pertemuan di kedua hari tersebut bukanlah satu kesatuan. Pada hari Senin kami punya dua fasilitator, sedang hari kamis kami hanya punya seorang fasilitator lain lagi. Konsep pembelajaran pun berbeda. Khusus untuk hari kamis, pertemuan ini hanya terbuka untuk perempuan.

Sudah tiga minggu tak datang sebab berlibur ke Turki, ternyata ada perubahan sistem di hari Senin ini. Biasanya kami bertemu, sambil minum kopi dan biskuit, lalu bergiliran bercerita tentang apa yang dilakukan akhir minggu kemarin. Atau kadang-kadang, obrolan mengalir begitu saja tanpa ada tema khusus. Saya pikir saya akan ditanya perihal liburan ke Turki saat sesi dimulai. Eh belum mulai sesi, mereka sudah menanyakan perihal liburan tersebut. Selanjutnya sesi perkenalan anggota baru: ada Yelena dan Francis yang bicara panjang lebar tentang diri mereka. Setelahnya, sesi hari ini pun dimulai.

Hari ini, kami punya permainan. Sepuluh orang hadir mengelilingi 4 (empat) meja kayu kecil yang dijadikan satu meja besar. Sambil minum kopi dan makan biskuit, secara bergantian masing-masing dari kami harus menyambung kata dari peserta sebelumnya agar menjadi sebuah kalimat panjang. Tapi ini tak semudah teorinya, karena sebisa mungkin kata yang dipilih harus memungkinkan peserta berikutnya bisa melanjutkan. Intinya membuat kalimat sepanjang-panjangnya sebelum titik. Dan saat tiba giliran, sebelum menambahkan kata baru, setiap peserta harus mengulang semua kata yang sudah disebut sejak awal oleh peserta sebelumnya. Jadi, permainan ini pun membutuhkan kemampuan mengingat yang baik. Untuk mengingat rentetan kata berantai, saya tidak mengalami kesulitan. Tapi, saya kebingungan tiap kali kebagian giliran menyambung kalimat. Untung dibantu.

Ini dia kalimat berantai hari ini. Saya urutan no. 2. Jadi kata yang saya sebutkan adalah: sind, außer, hier.

"Wir sind hier und lernen Deutsch, aber nicht so komplisiertes Deutsch außer English, denn es ist so einfach für alle die hier teilnehmen, also können wir weiter lernen und Tschüs!"

Artinya: Kami ada di sini dan belajar Bahasa Jerman, tapi bukan Jerman yang rumit bukan pula Bahasa Inggris, karena sangat mudah bagi semua orang untuk turut serta, maka bisalah kita terus belajar dan bye!

Tschüs=bye dalam bahasa Inggris. Sedikit tidak nyambung memang. Tapi kata ini muncul bukan tanpa alasan. Waktu satu jam sudah habis, maka Sarah (fasilitator) dengan spontan menyebut kata ini untuk mengakhiri kalimat, diikuti tawa kami semua. Di sebelah Sarah ada Agata, juga fasilitator. Keduanya berasal dari Polandia. Urutan selanjutnya ada saya (Indonesia), Yelena (Kazakstan), Gulalei (Afganistan), Danuta (Polandia), Valai (Azerbaijan), Francis (Ghana-Afrika), Darius (lupa dari mana), Kemi (Afrika).




*Billstedt; Senin, 16 Agustus 2010

Sunday, November 15, 2009

Matahari di Atas Lantai

Pagi ini aku melihat matahari terbit di atas lantai.
Matahari ini pun menyilaukan; mataku terpicing saat berusaha memandangi kilaunya.
Maka aku mengerti:
memandang matahari baik di langit atau di lantai tidaklah jauh berbeda,
jika tidak bisa dikatakan sama saja.
Pada keduanya, cahaya matahari tetap menyilaukan
dan tidak bisa dipandang dengan mata telanjang.
Karena langit dan lantai hanyalah media.
Mereka hanyalah bingkai
dimana matahari bisa menitipkan potret dirinya yang seutuhnya.

Sama halnya dengan Jerman dan Indonesia.
Mereka juga hanya media.
 Mereka adalah dua tempat yang berjauhan
dan memiliki banyak perbedaan.
Meski begitu, aku bisa hidup di keduanya,
tanpa menjadi (sepenuhnya) berbeda!

Wednesday, August 26, 2009

Bandung-Lampung: 21 Agustus 2009

Sepanjang perjalanan dari Bandung menuju Lampung kali ini (sebelum saya pergi ke lain negeri), seperti biasa saya memilih duduk dekat jendela. Bukan tanpa alasan: saya ingin memandang ke luar jendela sepanjang perjalanan. Kecuali jika saya mengantuk atau pusing, hingga harus tidur dan pejam mata.

Tak jarang, meski tidak ahli dalam fotografi, saya akan memotret pohon yang terlihat bagus atau rumpun ilalang yang berbunga banyak berwarna putih atau objek lain yang saya lihat. Tapi hari ini saya tidak berminat sama sekali. Saya bahkan lupa akan kebiasaan yang satu ini, jika saja tidak diingatkan oleh seorang teman yang kebetulan menelpon saat saya hendak naik bus.

Dan entah karena feeling atau kebetulan atau apalah namanya, ternyata saya pun tidak menemukan objek foto yang menarik untuk diabadikan sepanjang perjalanan. Kemarau. Kering. Pohon dan tumbuhan yang biasa hijau, kini kehilangan daun atau berubah warnanya. Sawah-sawah yang serupa karpet tebal berwarna hijau atau kuning juga tak terekam oleh mata. Rumput dan ilalang di pinggir jalan kebanyakan hangus--entah sengaja dibakar atau tak sengaja terbakar oleh api dari puntung rokok yang dibuang sembarangan. Tanah-tanah berwarna cokelat muda: kering, gersang. Sungai-sungai tak kalah cokelat dan surut airnya.

Meskipun begitu, saya tetap duduk sambil mata menembusi pemandangan luar jendela, dan sedikit membelakangi penumpang di samping. Sesekali saya mengangkat kaki dan melipatnya di atas kursi. Tak peduli jika penumpang sebelah menganggap tidak sopan karena sudah membelakangi juga mengangkat kaki ke kursi. Saya hanya ingin memandang ke luar jendela. Mengamati kehidupan yang bergerak di luar jendela seiring gerak laju bus Arimbi yang membawa saya melintasinya. Tak masalah pemandangannya hijau atau gersang, yang penting adalah memandang ke luar jendela.

Kiranya inilah separuh esensi perjalanan kali ini (dan mungkin juga setiap perjalanan): bukan pemandangannya yang terpenting tapi bagaimana menikmati pemandangan sepanjang jalan itulah yang utama!

Thursday, August 20, 2009

Musik Sampah yang Keren

Lampu remang-remang mengintip malu-malu dari balik kap handmade berbentuk cupcakes paper berukuran raksasa yang di pasang terbalik di atas tiap meja. Lampu-lampu yang menempel di pilar-pilar sepanjang jalan masuk juga tak kalah remang dan mengintip dari balik kap lampu berukuran segi panjang; cahaya lampu sengaja diarahkan menimpa hiasan cukilan kayu berbentuk motif batik, yang dipasang tepat di bawah lampu. Pada bagian "pinggang" pilar-pilar tersebut dipasang pula balon yang ditiup seadanya, berwarna merah putih. Warna yang sengaja dipilih untuk mempertegas tema perayaan 17 Agustus di Resto dan Cafe ini: Resto dan Cafe Roemah Nenek.

Pelayan yang sepertinya sudah menunggu kedatangan kami, dengan lekas tapi kikuk dan ragu-ragu mengantar kami ke meja 24. Meja yang tidak strategis; meski ia berada di depan kanan panggung, pilar-pilar yang tadi saya ceritakan menghalangi pandangan ke panggung. Makanan dan minuman dipesan. Makanan dan minuman tandas. Dan acara belum juga dimulai. Tepat pukul 19.30, tampil di atas panggung grup musik keroncongan. Mereka membawakan beberapa lagu tapi telinga saya tidak menangkap perbedaan yang signifikan antara satu lagu dan lagu lainnya. Entah karena saya tidak memperhatikan atau karena musik dan lagunya terlalu sama atau terlalu dinamis (padahal penyanyinya bergantian seorang perempuan dan seorang laki-laki yang jelas suaranya berbeda), saya tetap tak bisa membedakan apalagi mengingat lagu mereka. Saya berkata seperti ini bukan berarti penampilan mereka buruk, hanya saja suguhan musik mereka tidak memanjakan telinga saya. Terlebih lagi telinga kedua teman saya, Myra dan Nia, yang bertepuk tangan penuh semangat saat MC mengatakan, "Ya, inilah lagu terakhir" dari grup keroncongan tersebut.

Setelah MC berbasa-basi, berinteraksi dengan pengunjung Resto dan membagi-bagikan beberapa souvenir dan hadiah, tibalah penampilan Lungsuran Daun; demikian grup musik ini menamakan diri. Tiga orang di atas panggung, masing-masing memegang alat musik yang aneh bentuknya. Suara gumaman atau humming mengalun pelan dari mulut seorang yang paling tua. Ditingkah suara kecapi dan sesekali suara gemuruh seperti angin atau debur ombak di kejauhan, yang membuat saya bertanya-tanya suara apa gerangan.

Beberapa pengunjung rela meninggalkan kursi mereka dan berdiri mendekati panggung. Sepertinya mereka pun penasaran dari apa dan dari mana datangnya suara yang mereka dengar. Dua orang berkamera menghalangi pandangan saya yang enggan beranjak dari kursi. Ditengah kekesalan karena dua orang tersebut, mata saya tiba-tiba beralih ke arah jalan masuk. Seorang paruh baya berpakaian hitam-hitam, berkalung menumpuk berbentuk bulat-bulat, serta berambut keriting gondrong melangkah masuk ke arah panggung sambil menggerakkan sebuah benda yang di atasnya berlubang dan pada lubang itu, sang Bapak mengarahkan microphone. Tahulah saya darimana suara gemuruh tadi berasal.

Serupa magnet, kehadiran laki-laki yang penampilannya mengingatkan saya pada dukun atau pawang hujan ini menarik lebih banyak pengunjung mendekat ke panggung. Mang Dodo, begitu ia memperkenalkan diri. Dan Tornado adalah nama alat bersuara gemuruh yang ia bawa. Alat yang terbuat dari labu yang bagian bawahnya dilapis barang bekas (saya lupa barang bekas apa) dan berlubang pada bagian atas, tempat suara gemuruh keluar. Benda yang mengingatkan saya pada tempat minum Dewa Mabuk di serial Cina jaman dahulu kala. Mendengar suara yang dihasilkan Tornado itu, saya tak berhenti berujar, "Kok bisa sih?" Dan pertanyaan ini terus berlanjut saat Mang Dodo mengenalkan lebih banyak alat musiknya yang ia buat dari sampah.

Kecapi yang membuka pertunjukan mereka ternyata resonatornya terbuat dari tabung mesin cuci yang dibelah oleh Mang Dodo sendiri. Dibuang sayang, ujar Mang Dodo. Inilah alasan dia menggunakan barang-barang sampah sebagai bahan membuat alas musik yang tidak biasa, yang menghasilkan efek suara yang luar biasa! Ada pula Alpedo (Alat Petik Dodo) yang menghasilkan suara yang identik dengan musik tradisional korea. Ada pula alat musik yang ia namai Indonesia Pernah Menangis, yang dibuat karena mengingat Tsunami di Aceh. Berbentuk bidang segi empat dan terbuat dari kanvas, berwarna merah putih sebagai latar, dan memiliki cekungan berwarna gelap di tengahnya, alat musik ini bersuara aneh dan keras saat Mang Dodo menggerakkannya pelan. Lagi-lagi saya berseru, "Ih kok bisa, sih?"

Selanjutnya Mang Dodo menunjukkan alat musik yang digesek seperti biola, tapi bentuknya sama sekali berbeda. Alat ini terbuat dari kayu bekas jendela, senar, dan kaleng susu. Saat Mang Dodo menggeseknya kembali terdengar suara nyaring, entah seperti suara apa tapi yang pasti mengingatkan pada alam saat mendengarnya. Mang Dodo bilang kabarnya burung-burung di Bandung mulai berkurang, dan ia berkelakar ini disebabkan oleh asap rokok. Karena tak ingin melupakan kicau burung, ia membuat alat dari bekas penghisap sisha, yang menghasilkan suara burung yang nyaring. Ada pula alat yang ia buat dari bekas pintu yang menghasilkan suara motor yang tengah "ngebut" di jalanan. Tak hanya itu, Mang Dodo kembali mengeluarkan alat musik yang terbuat dari alat cukur, yang menghasilkan suara kodok; suara yang sudah jarang terdengar sekarang ini karena sawah yang jadi habitat mereka pun pelan-pelan punah. Terakhir, Mang Dodo mengenalkan suling yang baru ia buat tadi pagi. Suling yang aneh karena bentuknya serupa tanda petir atau tanda tegangan tinggi pada tiang-tiang listrik. Sebelum membunyikan suling tersebut Mang Dodo menyempatkan membacakan pengantar sebagai berikut: Dulu saya lurus dan runcing Sekarang saya bongkok dan tua tapi masih ada bunyi untuk Indonesia.

Mang Dodo dan rekan-rekannya mengakhiri aksi mereka dengan memainkan sebuah komposisi dari alat yang ditiup bersama-sama. Penampilan Mang Dodo terasa singkat lantaran ia lebih banyak berdialog mengenalkan alat musiknya dan sesekali mengingatkan untuk lebih peduli pada lingkungan.

Setelah Mang Dodo, giliran Musik Genteng dari Jatiwangi yang unjuk gigi. Terdiri dari 3 remaja berusia belasan tahun dan seorang anak laki-laki, Musik Genteng pun beraksi. Mereka hanya menggunakan stik kayu atau bambu yang dipukul-pukulkan ke genteng dan menciptakan musik. Selebihnya, ada pula alat musik yang berbentuk seperti kendi tapi bolong di bagian perutnya. Kendi ini dipukul-pukul layaknya kendang. Saya bisa membedakan dari musik satu ke musik yang lainnya, padahal mereka hanya menggunakan stik kayu dan genteng!

Setiap orang boleh punya ide. Tapi, hanya sedikit orang yang merealisasikan ide mereka, setia memelihara dan mengembangkannya, untuk kemudian membuat perbedaan dari ide tersebut. Mang Dodo dengan Lungsuran Daun-nya dan penggagas Musik Genteng adalah salah dua dari sedikit orang tersebut. Jam tangan saya menunjukkan pukul 21.30 saat Musik Genteng mengakhiri pertunjukkan mereka. Meski masih ada Mukti-Mukti—pelantun musik perjuangan—kami memutuskan untuk pulang karena sudah terlalu malam.

Roemah Nenek masih remang-remang oleh cahaya lampu yang berpendar dari balik kap handmade berbentuk cupcakes paper berukuran raksasa, yang di pasang terbalik di atas tiap meja, saat kami pergi meninggalkannya.

Friday, May 15, 2009

Pengantar Es

Kemarin sewaktu saya pergi lebih pagi menuju kantor, saya melihat pengantar es batu yang mampir di setiap warung kecil di sepanjang jalan yang saya lewati.

Ia bersepeda. Balok es yang panjangnya mencapai satu meter diikat di boncengan. Setiap kali berhenti di warung, ia mengeluarkan besi tajam dan memotong balok es dengan sangat mudah. Tanpa pelindung tangan atau alas, ia mengangkut balok es langsung ke box minuman dingin yang biasanya diletakkan di depan setiap warung, lalu pergi begitu saja melanjutkan kayuhan. Tidak ada basa-basi (apalagi transaksi) dengan penjaga terlebih lagi dengan pengunjung warung yang sedang duduk santai. Sudah dua warung ia singgahi, dan ia hanya “berinteraksi” dengan tutup box pendingin minuman.

Melihat ini, saya menduga bahwa setiap warung pastilah sudah berlangganan es batu. Kehadiran pengantar es batu pun terkesan hanya bagai angin lalu, karena ia datang dan pergi setiap hari. Dan sepertinya karena intensitas inilah, basa-basi seolah tak lagi diperlukan apalagi diusahakan. Bukankah kita sering abai/ tak hirau pada sesuatu yang memang sudah, selalu, atau seharusnya ada. Semoga di warung berikutnya, ada penjaga warung yang tidak menganggapnya angin (meskipun ia mengendarai “kendaraan angin”).

Mengenai transaksi, mengingat harga es batu pastilah murah, kemungkinan pemilik warung membayar pesanan es batu setiap seminggu sekali atau sebulan sekali. Dan pertanyaan berikutnya adalah berapa harga sebalok es batu untuk satu bulan? Lalu berapa pula penghasilan pengantar es batunya? Di mana rumahnya? Apakah balok es itu dibuat sekaligus diantar sendiri oleh pengantar bersepeda tersebut? Karena jika ia hanya petugas pengantar, tentu penghasilannya lebih minim lagi! Apakah ada pengantar es batu lain selain dia? Bagaimana mulanya ia bisa menguasai “pasar” per-es batu-an di lingkungan perumahan Pondok Indah dan sekitarnya? Lalu bagaimana atau apa yang membuat ia bertahan sebagai pengantar es? dsb.

Pagi ini, ia tak terlihat. Jadilah pertanyaan di atas tak punya jawaban. Dan sekalipun ia terlihat, bagaimana caranya mendapat jawaban untuk pertanyaan demikian banyak, sedang pengantar es selalu gegas pergi dari satu warung ke warung lainnya. Dan aku pun tergesa-gesa melangkah menuju kantor tercinta.

Friday, March 13, 2009

Menginap di RSHS

Seingatku, inilah kali pertama aku menginap di rumah sakit. Sekitar pukul 10 malam--Bandung masih diguyur hujan--aku dan Elyn meluncur dengan mengendarai motor menuju RSHS; berbekal 2 ransel berisi karpet dan selimut dan sekantung camilan. Arha sudah pulas saat kami sampai, tapi kemudian terbangun karena keributan yang kami buat. Arha bermandi keringat: indikasi bagus untuk kesehatannya. Sebelum tidur kami mengobrol sejenak, Elyn menceritakan pada Arha bagaimana perjalanannya menuju kost dan kembali ke rumah sakit bersamaku. Elyn menerobos banjir yang tak diduga, melanggar jalan tak rata hingga ia oleng, lupa mengganti gigi hingga kesulitan menanjak dan akhirnya menggunakan kakinya untuk memacu motor, melewati lubang yang tidak kelihatan, dll.

Pagi-pagi, perawat datang membereskan kasur, melakukan pemeriksaan, dan mengambil darah Arha. Elyn dan Sarti (teman Arha yang datang menjenguk) mengantar darah Arha yang kental ke lab, sementara aku menemani Arha. Aku tidak merasa sedang bersama seorang yang sakit. Arha sejak subuh sudah berkali-kali mengkhawatirkan aku: menyuruhku tidur lagi, menawarkan sarapan seolah-olah akulah yang sakit dan bukan dirinya. Ia juga dengan antusias bercerita tentang kost-an, dll. Ditengah pembicaraan, datang petugas kebersihan yang membuka korden pembatas ruang perawatan dan seorang gadis remaja. Awalnya, kami mengira gadis itu adalah salah satu kerabat dari dua pasien lain di ruang ini. Tapi rupanya kami salah, kami beberapa kali bertukar pandang mendengar celoteh gadis ini. Celoteh yang agak ganjil. Tanpa ada yang bertanya, ia berujar: "Nama aku Sumiyati." Ia lalu menghampiri pasien penyakit SOL dan berujar: "Teteh cepat sembuh ya, biar cepat nikah." Ia berbalik ke arah kami, "Aku juga mau nikah sebulan lagi."

Aku tak ingat bagaimana awalnya hingga Sumiyati dan Arha berbicara tentang pernikahan. Saat itu, Sumiyati sudah duduk di samping ranjang Arha. Arha kemudian bertanya apakah ia sedang menjenguk seseorang. Dan Sumiyati menjawab, "Enggak, aku juga di rawat di bawah. Ruangku di bawah, di ruang sakit jiwa."

Aku dan Arha berpandangan, aku sedikit takut mendengarnya dan takut kalau ia tiba-tiba mengamuk. Sementara Arha, ia kembali bertanya, "Sama siapa di sini, sendirian?" "Berdua sama Ibu." "Rumahnya di mana?" Sumiyati menjawab lengkap dengan nama kecamatan.

Sumiyati beralih ke jendela, menyapa seseorang yang ia panggil profesor, mengajak mengobrol, dan menyapa lebih banyak orang yang ia lihat. "Hai.. Halo.. Enggak, ini aku lagi jenguk temen." Mendengar ini, aku--yang kini duduk di kursi yang tadi diduduki Sumiyati--dan Arha lagi-lagi bertukar pandang.

"Wah, temennya banyak ya?" ujar Arha saat Sumiyati mendekatinya.

"Iya. Pacar aku ada 3."

"Oh ya? Banyak banget.."

"Iya. Ada A' Asep, ada A' Ian sama A' Beny."

"Wah banyak ya? Aku boleh minta satu, ga?" Tanya Arha. Aku tertawa mendengarnya.

"Ga boleh."

"Ga boleh ya? Soalnya aku belum punya pacar."

"Maunya yang gimana?"

"Ehm.. Bagusnya yang gimana ya kira-kira?"

"Kalau A' Beny aja gimana? Dia cakep soalnya."

"Oh ya? A' Beny ya.."

"Kalo aku sama A' Ian aja. Soalnya udah pernah dicium ma A' Ian. Pernah dipeluk juga."

"Oh gitu. Mungkin lebih kena di hati ya kalau udah pernah dicium."

Sumiyati tersenyum sangat manis mendengar Arha.

"Oh ya, siapa tadi namanya?" tanya Arha.

"Sumiyati." Lalu ia segera membaca whiteboard di atas meja, "Nama kamu Arhayani, 35 tahun."

"25 tahun," aku membenarkan.

"Oh iya. Kalau aku 18 tahun."

"Wah masih muda, ya? Masih sekolah?" tanya Arha.

"Udah enggak," jawab Sumiyati.

Sumiyati keluar ruangan, tapi tak lama kembali bersama seorang dokter praktek. "Sini gera'.. Sini gera'...," ajaknya pada dokter muda itu sambil menariknya ke tempat Arha. Sang dokter jadi kikuk melihat kami. Lalu Sumiyati bertanya pada Arha, "Kalau sama ini mau ga?" Belum sempat kami menjawab, dokter mundur satu langkah menghindari tatapan kami, dan bertanya pada Sumiyati, "Kenapa?"

"Soalnya teteh ini lagi nyari pacar."

Sang dokter langsung keluar ruangan, diikuti Sumiyati.

Arha mengaku alasan kenapa ia terus mengajak Sumiyati mengobrol adalah karena ia melihat Sumiyati tampak jinak.

Aku menikmati saat-saat menginap di RSHS, dan mengambil banyak pelajaran. Aku belajar dari Arha tentang keikhlasan, kesabaran, dan keceriaannya dalam melawan penyakit yang bisa dibilang tidak ringan. Aku tidak merasa bosan menungguinya, sebab ia selalu menceritakan kisah atau berujar sesuatu yang membuatku tertawa. Yang lebih mengesankan aku, Arha masih bisa bercanda tentang penyakitnya dan bahkan mau meladeni orang dengan gangguan jiwa; sesuatu yang tidak mungkin kulakukan baik saat aku sehat apalagi saat sakit.

Ketulusan Elyn sebagai sahabat terdekat Arha. Elynlah yang membawa Arha ke RSHS, mengurusi semua keperluan Arha, bolak-balik membelikan obat, membesarkan hati Arha, dan sering mengolok-olok mata kiri Arha yang menyipit dengan menyebutnya ”picek”: yang aku yakin merupakan salah satu bentuk usaha Elyn untuk menghibur Arha, untuk menganggap biasa mata yang menutup sebelah akibat saraf yang mungkin sedikit bermasalah. Padahal, sejak awal di RS, Elyn sudah berkali-kali menahan emosi menghadapi prosedur RS. Setiba di UGD, bukannya bertanya tentang keluhan pasien, seorang petugas malah berujar pada Arha: ”Kok mukanya seger gitu?!” Ia tidak kenal Arha, tidak tahu betapa Arha menguat-nguatkan dirinya padahal berjalan saja dia sudah sempoyongan; ia tidak tahu bahwa Arha sudah tidak nyambung diajak ngobrol lantaran tubuhnya sudah terlalu lemas. Setibanya di ruang perawatan kelas 2, Elyn harus bolak-balik ke apotek untuk membeli obat, cairan infus, bahkan jarum suntik untuk Arha, sehingga Dokter bisa melakukan tugasnya menyuntikkan obat tersebut, memasang infus, dll. Sistem yang aneh! Kekesalan kami pun bertambah saat mendengar Sarti bercerita tentang respon petugas pusat informasi saat ia menanyakan ruangan Arha. Petugas tersebut, saat ditanya letak ruang perawatan no. 19A, malah balik bertanya, ”Cuma nanya itu?!”

Selain itu, ada pemandangan lain yang menarik perhatianku di ruang perawatan yang dihuni tiga pasien ini. Aku bersimpati pada seorang pasien perempuan yang berbicara saja sudah tidak jelas dan sangat kurus dan sudah tidak bisa ke kamar mandi lagi. Tapi aku lebih bersimpati pada ibunya yang juga sangat kurus dan terlalu tua untuk menungguinya seorang diri! Seorang diri! Ibu setua itu sudah seharusnya beristirahat di rumah dan menikmati hari tua. Aku tak tega membayangkan ibu ini harus bolak-balik naik-turun ke lantai 1 untuk membeli obat di apotek. Karena begitulah sistemnya, jika mau disuntik obat, yang menjaga pasienlah yang harus menyediakannya. Tapi mudah-mudahan para perawat dan dokter berbaik hati pada ibu ini, dan membawakan obat untuk anaknya.

***

Aku menikmati saat-saat menginap di RSHS. Tidur beralas karpet, berbantal tas, dan (untungnya) berselimut bukanlah suatu masalah; suara mengorok seorang bapak yang menunggui ibunya (pasien di sebelah Arha) yang sambung menyambung sepanjang malam bukanlah gangguan. Aku, Elyn, dan Arha beberapa kali tergelak mendengar irama mengorok yang masih perlu dilatih agar terdengar lebih terlatih; bangun pukul 3 dini hari untuk membeli infus di apotek bukanlah suatu yang menyusahkan, kecuali jika mengingat bahwa sistem membeli obat seperti ini sangatlah aneh.

Mohon doanya ya teman-teman, agar Arha cepat sembuh. Karena bisa dibilang penyakit Arha bukanlah penyakit ringan, meski bukan juga penyakit yang teramat serius. Semoga!

Friday, January 30, 2009

Sendal Jepit dan Pengamen

Minggu, 14 Sept 2008--waktunya "nge-date" bareng Mbak Erna (dulunya kami 1 kost).
Ketemu di Blok M, disambut hujan angin. Untung hujan tak lama, karena Mbak Erna mengajak ke Tanah Abang. Setelah berpikir lama, dan setelah putar2 Ramayana, aku pun rela diajak ke sana meski tak niat belanja.

Sepanjang perjalanan, Mbak Erna yang hobi "mendongeng" dan sedikit "GorDes" (Gorowok Desa) tak henti2 bercerita. Aku bahkan tak menyadari kehadiran pengamen lantaran telingaku dibajak oleh suaranya. Hingga Sang Pengamen menghadapkan gitarnya ke arah kami dan memetiknya sedikit lebih keras dari yang seharusnya. Aku dan Mbak Erna saling pandang--heran.

"Kenapa??" tanya Mbak Erna dengan alis melengkung.

"Mbaknya gordes teuing sih...," jawabku asal tanpa prasangka buruk.

"Oh iya ya? Gua ga tau deh, kalau ketemu lu gordes gua keluar ... padahal kalau ma orang lain, gua mah lemah lembut...," sambung Mbak Erna juga tanpa prasangka macam2.

Dan sungguh di luar dugaan, pengamen yang buru2 menyelesaikan lagunya nyeletuk: "Tolong hargai dulu, Bu. Dengerin dulu suara orang nyanyi..."

"IIHH...apa??! Orang dari tadi juga ngobrol bedua," cetus Mbak Erna tak terima.

"Iya tapi sayanya keganggu ... hargai dulu suara orang. Satu bus suara ibu semua!" ujar Pengamen sambil menyodorkan plastik permen ke bangku depan. Dan sesampainya di bangku kami, ia masih merasa perlu membela harga dirinya: "Ga ngasih juga ga pa-pa, asal hargai aja ... ga pa-pa ga ngasih juga..."

"Ih..! Baru ini deh gua dimarahin pengamen..."

"Udah biarin aja...," jawabku pendek karena cukup shock juga dengan kejadian ini.

Untuk beberapa saat kami terdiam, tapi kemudian Mbak Erna kembali berceloteh. Mungkin untuk mengobati harga dirinya, atau mungkin juga untuk menunjukkan pada penumpang lain bahwa seorang pengamen tak bisa mempengaruhinya. Untuk menghormatinya, aku menjawab seadanya.

Setibanya di Tanah Abang; macet. Bangunan berwarna hijau yang mencolok tampak sangat dekat di depan mata, tapi tak kunjung tercapai, stuck. Akhirnya kami diturunkan beberapa ratus meter dari bangunan tersebut.

"Masih jauh ya, Mbak?"

"Ya itu, bangunan ijo itu..lu ga liat? Ga pa-pa ya jalan kaki, kan namanya juga jalan2?"

Dan aku baru tahu saat itu, bahwa aku telah salah persepsi tentang Tanah Abang. Aku pikir Tanah Abang serupa pasar2 kain tradisional dengan los2 panjang berjajar. Eh ternyata, serupa Pasar baru di Bandung, bahkan lebih wah untuk model bangunannya.

Sebelum sampai di Bangunan Hijau tersebut, aku dan Mbak Erna mampir di Masjid karena sudah waktunya Dzuhur. Aku melamun sambil menunggu Mbak Erna selesai shalat. Maklum mood ku sedang tidak bagus hari ini.

"Lu ngelamun aja, lu... Gua yang dimarahin pengamen, kok jadi lu yang menderita gitu... biasa aja kali, gua aja biasa."

Aku tertawa mendengarnya.

Selesai shalat, di pintu masjid, Mbak Erna bilang: "Neni, sendal gua ga ada... Neni?"

"Hah? Ga ada Mbak?" aku membeo.

"Ga ada.."

"Nah lho... ada yang minjem kali. Ke kamar mandi..."

Dan saat itu juga, kami merasa berkepentingan pada setiap orang yang keluar dari kamar mandi. Satu-persatu jamaah keluar dari kamar mandi, dan tak ada yang memakai sendal Mbak Erna.

"Ya ampun Mbak, padahal sendal Mbak jelek ya? Ga diliat gitu ada jarum pentolnya tiga? Gimana kalau bagus ya, Mbak?"

Mbak Erna terbahak, "Iya ga diliat gitu, tapaknya udah dalam gitu?"

"Rupanya, di sini akhir sendal itu, Mbak. Mbak kayaknya kehilangan banget ya, Mbak?"

"Iya, soalnya tuh sendal udah berjasa banget buat gua. Udah 6 bulan dia menemani gua kemana-mana."

Maklum sodara-sodara, sendal Mbak Erna yang berwarna Pink agak keungu-unguan itu adalah andalannya. Sendal tersebut telah sangat setia menemani langkah Mbak Erna dari mulai ke kamar mandi, ke kantor, jalan2 ke bogor, bahkan ke bank! Terakhir bertemu, pentol yang dipakai untuk menahan tali yang putus hanya dua ... dan pada pertemuan kali ini, Mbak Erna mengumumkan pentolnya sudah tiga. Dan selalu, setiap jalan bareng Mbak Erna dia pasti sesekali minta berhenti dan bilang: "Tunggu Neni ... Sendal gua, Neni..."
Dan kalau sudah begitu, aku selalu bilang : "Ya ampun Mbak, jangan malu2in saya dong, kalau putus saya mah bakal pura2 ga kenal Mbak ah..." Mbak Erna selalu tertawa mendengarnya.
*
"Gimana dong, Neni?"

"Ya udah tunggu bentar lagi aja..." Dan saat itu, aku melihat sendal jepit karet berwarna ungu full-color. Sebelumnya aku sudah melihatnya, tapi baru pada detik ini aku mendapat feeling : "Mbak, jangan2 ketuker sama yang ini?"

"Iya gitu?"

"Kayaknya iya, kan warnanya hampir sama. Kalau feeling saya mah kayaknya ketuker deh..."

"Feeling lu lagi bener ga? Gua takut dosa."

"Ga tau deh. Tapi kayaknya iya deh, Mbak ... Soalnya kalau orang niat ngambil pasti ngambilnya yang agak bagus, bukan sendal Mbak yang pentolnya ada tiga ... iya kan?"

Mbak Erna diam, berpikir.

"Aduh maaf ya, Mbak ... Saya mah orangnya jujur..."

Akhirnya kami putuskan untuk menunggui orang2 shalat, kalau2 ada salah satu diantara mereka yang memiliki sendal ini. Tapi, setelah beberapa orang yang seangkatan/berbarengan datangnya dengan kami meninggalkan masjid dan tak ada satupun yang melirik sendal tersebut, kami berpandangan:

"Gimana nih, Neni? Gua takut dosa pakai sendal orang."

"Ga tau deh Mbak, feeling saya mah ketuker sama yang tadi... tapi saya takut salah, tar saya ikut dosa lagi... Feeling Mbak gimana?"

"Gua ga da feeling!"

Akhirnya, Mbak Erna terpaksa memakai sendal tersebut.

"Mbak kayaknya kehilangan banget ya Mbak? Saya mah kebayangnya, kalau sendal itu dah benar2 ga bisa dipake, kayaknya bakal Mbak kubur. Ini mah gimana mau nguburnya ya Mbak, jasadnya aja ga ada."

"Iya, gua mah ga akan ngelepasin tuh sendal sampai dia benar2 ga bisa dipake lagi."

Pernah terlintas membelikan Mbak Erna sendal baru, sekalian kenang2an kalau2 dia jadi kembali ke Padang dan kerja di sana. Tapi, ga semudah itu memberi sendal pada Mbak Erna. Mbak Erna punya koleksi sendal lain, ia juga cukup mampu beli yang baru. Masalahnya adalah Mbak Erna sepertinya telah jatuh hati pada sendal ini. Kalaupun ia membeli sendal baru yang persis sama, aku tak yakin Mbak Erna akan menyayangi sendal baru itu seperti ia menyayangi sendal yang hilang.

Mbak Erna tipe orang yang sangat memilih segala sesuatu yang masuk dalam kehidupannya. Memilihnya dengan hati dan benar2 menjaga pilihan hatinya. Pernah aku dan Mbak Erna beli tas, dan tas yang ia beli belum pernah dipakainya dengan alasan ia sangat suka tas itu. Tas berwarna coklat, dengan aksen manik2 dan bulu2 benang. Ia sangat takut manik2nya lepas dan bulu2nya rontok! Tas yang jika didiskon hingga 95% sekalipun, tak kan pernah terpikir untuk kubeli! Karena aku tak akan punya cukup rasa percaya diri untuk menyandangnya; karena aku tak mau mengundang perhatian orang2 dengan manik2 dan bulu2nya...dll.

Orang bilang : 'U'll never know what you've got till it's gone." Buat Mbak Erna, kata2 ini ga berlaku karena ia tahu pasti apa yang dia punya, dan walau pun begitu (atau justru karena itu), dia tetap merasa sangat kehilangan.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...