Showing posts with label Taman Pikir. Show all posts
Showing posts with label Taman Pikir. Show all posts

Wednesday, December 17, 2014

Tentang Kisah yang Tidak Boleh Dicatat

"Konon katanya kertas lebih sabar dari manusia", begitu tulis salah satu sahabat terbaik yang saya punya, Andika. Ia menuliskannya di status Facebook berisi undangan menulis di Reading Lights kemarin.

Tentu saja kertas lebih sabar dari manusia. Dia hanya 'ada', menjadi dirinya. Dia tidak akan menggurui, menghakimi, mengoreksi, dan sok perhatian atau memberi nasehat saat kita mencurahkan apa pun padanya. Dia hanya hadir, sabar merekam. Dan dengan hanya begitu, ia (bisa) membuat kita mengenali dan mengekplorasi sendiri segala rupa perasaan dan (kadang) menemukan ketenangan atau jawaban semua pertanyaan.

Karena kadang-kadang kita hanya butuh didengarkan, dipahami, dan diakui perasaannya; lalu merasa sedikit lebih lega.

Sudah lama sekali saya berhenti menulis diary--merekam sejarah diri, bersahabat dengan kertas. Selama ini saya tidak tahu apakah ada manfaat signifikan menulis diary selain yang tersebut di atas. Setumpuk diary yang saya simpan kadang terasa seperti sampah yang dibuang sayang. Atau memang itu fungsinya; menjadi tempat sampah untuk merekam segala macam emosi: harapan, suka, duka, kegundahan, termasuk pertanyaan-pertanyaan.

Meski saya berhenti menulis diary, rupanya kebiasaan 'mencatat' kejadian tidak berhenti begitu saja. Saya merekam 'catatan sejarah diri' dengan cara lain. Saya menandai kalender, membuka history chat bbm, mendengar rekaman telpon dsb untuk menelusuri kejadian yang saya alami.

Dengan kembali menelusuri catatan tersebut (meski tidak melulu di kertas), saya bisa mengenali penyebab kenapa saya merasa begini atau begitu di beberapa hari, minggu atau bulan yang lalu. Nggak nyaman banget rasanya ketika kita tahu ada yang salah, ada hal yang bikin tidak bisa tidur tapi kita nggak tahu apa sebabnya dan nggak bisa melakukan apa-apa (untuk mencegah, misalnya).

Timbul pertanyaan, jika seandainya saat itu juga bisa membaca penyebab kegundahan, mungkin nggak ya bisa mengubah keadaaan? Atau paling tidak membantu mengadakan tindakan pencegahan? Entahlah.

Sejauh ini, 'mencatat' atau 'merekam' kejadian bisa membantu menunjukkan bahwa firasat atau feeling itu memang ada. Bukan sesuatu yang diada-adakan. Hati bahkan tubuh sekalipun nggak bisa dibohongi. Mereka juga mengirim pesan/pertanda yang nggak boleh diabaikan. Dan ada perbedaan besar antara 'firasat' dan 'kecurigaan'!

Selain firasat, hal di sekeliling pun kadang memberi pesan dan pertanda tersebut. Sebagai contoh, saat hal buruk terjadi, hal-hal di sekeliling menunjukkan tanda-tanda dengan caranya sendiri pada saya: gelang kaki yang tiba-tiba putus sampai 3 kali (sebagai pertanda kejadian sama yang berulang. Saya tidak memakainya lagi karena sudah 3 kali putus, khawatir nanti putus lagi lalu hilang), plang-plang di pinggir jalan yang mengirim pesan dengan caranya sendiri, nomor HP yang error tanpa sebab--nggak bisa nelpon, lalu kalung kesayangan yang putus (sepertinya ini menjadi simbol atas sebuah kejadian fatal dan sangat sangat menyedihkan dalam sejarah hidup saya) dan hal lain yang bisa dirasakan dan dilihat tapi tidak bisa dilabeli apa/kenapa.

Ya, saya termasuk orang yang percaya ada banyak pertanda di sekeliling yang berusaha memberi tahu kita sesuatu. Bukankah katanya semesta tiap detik mengirimkan pesan-pesan yang haus dikenali. Tinggal kita bisa membacanya atau tidak, karena memang tidak mudah.

***

Meski ada kertas yang konon begitu sabar dan dapat dipercaya merekam semua cerita sekalipun, kadang ada hal yang terlalu berat bahkan untuk dituliskan (apalagi secara gamblang). Atau terlalu personal hingga takut bahwa kertas yang sabar dan setia kawan itu pun bisa membocorkannya. Menuliskan atau menceritakannya akan terasa seperti menunjukkan aib, kelemahan diri dan kemalangan yang mengibakan. Sungguh saya tidak mau dikasihani untuk hal yang satu ini. Karena sampai detik ini, ada sedikit rasa bangga dan terutama rasa heran pada diri: betapa ia kuat menanggung beban yang (kemungkinan) bisa membuat orang lain terdaftar di RSJ!

Biarkan hati dan pikiran saya yang memproses semua emosi yang tidak boleh dicatat ini. Waktu akan membantu saya. Mungkin kenangan baru yang manis-manis bisa mempercepat prosesnya.

Semoga cepat sembuh, hati....



*sebuah catatan untuk diri sendiri: selamat diri, sudah menjadi begitu kuat sejauh ini. 





Thursday, August 15, 2013

Review N-Ach Project

Well, ini mungkin agak terlambat. Berhubung kemarin libur Lebaran saya pulang tanpa bawa laptop dan hanya modal smartphone yang kurang asyik untuk ketik panjang, jadi baru bisa me-review project untuk diri sendiri kemarin.

N-Ach Project digadangkan selama 2 minggu, dari total waktu yang ditentukan ada 3 kali saya alpa posting. Jadi, bisa dibilang proyek ini gagal (jika dilihat dari konsistensi terhadap janji). Tapi, untuk hal lain, misal dalam hal niat atau usaha untuk memenuhi target, hasilnya tidak terlalu buruk. Saya jadi lumayan produktif atau terpaksa produktif demi memenuhi janji pada diri sendiri. 

Nah, dalam hal kualitas tulisan... oke saya mengaku, beberapa tulisan lahir karena dipaksa. Dan yang namanya terpaksa, kadang hasilnya ya maksa. Beberapa tulisan hadir sekedar hadir sebagai penggugur kewajiban. Tanpa ruh, tanpa isi. Tapi untungnya tidak semua tulisan. Semoga, hehehe.... 

Beberapa tulisan panjang memang terkesan sangat personal dan berani. Berani dalam artian saya mengungkapkan perasaan di media publik seberani itu. Terus terang untuk orang yang melankolis dan tertutup seperti saya (melabeli diri sendiri), hal tersebut kadang memalukan. Makanya saya lebih suka menulis puisi karena tidak harus gamblang menggambarkan keadaan. Tapi tetap saja, emosi dari tulisan bisa terbaca oleh orang lain--meski bisa saja mereka salah interpretasi. 

Dan mungkin tulisan personal seperti itu, bagi sebagian orang, memalukan dan tidak penting. Karena katanya, hal-hal pribadi hendaknya tidak dibagi apalagi di publikasi. Entahlah. 

Mungkin ini ada pengaruh dari bacaan yang saya baca belakangan, intinya tentang mengakui perasaan sendiri, mengenalinya, dan menerima. Saya jadi lebih santai membuka diri, menyatakan emosi. Saya tidak tahu apakah pemahaman saya akibat membaca bacaan tersebut yang kemudian turut mempengaruhi kondisi psikologi saya ada dalam kadar dan aplikasi yang benar, tapi yang pasti saya lebih nyaman. Nyaman terhadap adanya diri saya sebagai pribadi--seada-adanya saya. 

N-Ach project: A desire to be effective or challenged sangat membantu saya untuk kembali produktif nge-blog. Sejak Agustus tahun 2012 lalu, blog ini nyaris tidak diisi. Pemiliknya mengalami disorientasi atau tiba-tiba lupa bagaimana cara menulis puisi. Cerpen apalagi---entah sejak kapan saya kehilangan kemampuan menulis fiksi. 

Dipikir-pikir, tulisan review ini berubah jadi curcol. Penyakit deh! Hehehee... 

Intinya, project kemarin ini yang membawa saya kembali "berpikir" untuk membuat blog lilalily yang tahun ini berusia 5 tahun tetap "bersuara". Dan proses kreatif dalam menulis blog pribadi seharusnya menjadi kegiatan menyenangkan, karena kontennya tidak harus yang berat, tapi lebih personal dan dekat. Kadang-kadang, kegiatan menulis terhambat karena merasa takut tulisan yang dibagi tidak penting. Padahal, selama tidak menyalahi hak asasi atau melukai orang lain, apa salahnya? Toh, judulnya juga blog pribadi. -->> (Ini lebih merupakan pesan untuk diri sendiri, hehhee... !)

Happy blogging... :)







Tuesday, August 06, 2013

N-Ach #12: Tentang E-Book

Ssssstttt....Saya sedang menyelesaikan sebuah bacaan. Dari sebuah e-book. Tapi isinya gas bisa saya ceritakan semua di sini. Yang pasti setelah saya membaca petunjuk di buku tersebut dan lalu belajar menerapkan ilmunya, percaya atau tidak.... it works!

Kadang-kadang kita memang perlu belajar dari pengalaman orang lain untuk lebih bisa memahami keadaan yang  sedang kita hadapi. Atau kadang-kadang kita lebih bisa memaknai sesuatu setelah kita mengetahuinya dari kacamata orang lain.

Hasil yang saya peroleh memang belum maksimal. Jalan masih panjang. Tapi dengan adanya buku ini perjalanan jadi lebih mudah dan menyenangkan! :)

Doakan saya agar berhasil dan selamat sampai tujuan....

Thursday, August 01, 2013

N-Ach #8: You Are What You Think!

Well, saya absen posting lagi kemarin, hehehe.... Tapi maaf kan saya, hari ini saya akan posting tentang suatu hal yang baik untuk kita semua. 


You are what you think!--adalah motto yang sering saya pakai ketika harus menulis kolom motto di personal data FB misalnya, di formulir-formulir pendaftaran yang meminta menuliskan motto.

Kenapa? Karena saya adalah tipe orang yang kadang lebih memilih memikirkan dampak negatif dari suatu aksi atau kejadian dari pada berpikir positif. Karena saya tipe orang yang berhati-hati--takut melakukan kesalahan. Dan selain itu, hal ini muncul sepertinya akibat rasa kurang PD yang ada pada saya. Jangan ditiru. 

Saya sungguh berjuang untuk jadi orang yang lebih positif atau setidaknya PD. Kasian ya? Saat orang lain bisa berjalan dengan nyaman dengan segala yang ada di dirinya, saya (apalagi saya yang dulu) kesulitan berpikir bagaimana caranya berjalan di depan orang lain agar tampak nyaman, karena saya tidak nyaman. 

Sekarang sudah berkurang. Tapi kadang-kadang, ketika ada di lingkungan baru yang saya kurang nyaman, penyakit ini mucul. 

Hanya jangan aneh jika suatu waktu melihat saya sangat bersemangat atau PD. Itu berarti saya sedang sangat nyaman, baik dengan diri saya, lingkungan, orang-orang di sekitar saya. Well, memang kenyamanan harus kita sendiri yang menciptakan. Mengingat motto ini adalah salah satu bentuk usaha nyata untuk itu. 

Saya mengingat-ingat motto itu agar menjadi semacam pengingat diri bahwa mind over body! Saya sudah membuktikannya beberapa kali. Bahwa kekuatan pikiran bisa membantu kita mengubah atau menguasai keadaan. Misal, saat sedih, katakan pada diri sendiri bahwa kalian bahagia dengan sungguh-sungguh dan mempercayai perkataan itu, maka kalian pun akan seketika merasa bahagia atau paling tidak lebih rileks. Teorinya memang semudah itu, dan memang mudah dan tidak ada salahnya dicoba sesekali. 

Nah, hari ini saya mendapat email dari sebuah program energy healing. Saya berlangganan email mereka tapi tidak pernah terlibat. Email-emailnya hanya saya buka saja agar semua terbaca tanpa saya membaca kontennya. Tapi hari ini, email tersebut berkata bahwa saya tidak pernah memberi komentar apapun tentang email yang mereka kirim dan mereka memberi saya apa yang berjudul 3-Day Fear Cleanse

Setelah saya baca, konsepnya sama dengan apa yang diusung oleh motto saya tersebut di atas. Berikut langkah-langkahnya langsung saya copas (tapi ada yang dikurang-kurangin):

3-Day Fear Cleanse

First thing: Make sure you do this in the evening, preferably before bed - because what we're going to do here is reflect on the day that just went by. Find a quiet place with no distractions. Maybe you could sit in your bedroom for a while. Get seated comfortably. Take 3 deep breaths, try and clear your mind.


Step 1
Think of a moment in the day where you feel a subconscious fear may have been blocking your abundance. Maybe it was a conversation you had at work. Maybe it was when you were buying something in a store. Maybe it was just a random thought you had that made you feel poor or unworthy.

Write down the feeling you were experiencing in that moment. 
For example: I didn't call back that potential client because I figured he wouldn't like me anyway. Or, I was nervous to check my bank account because I was afraid there wouldn't be enough money in it.

Step 2
Create a Target Statement, which you do by first rephrasing your earlier statement.
For example, if your earlier statement was: I was nervous to check my bank account because I was afraid there wouldn't be enough money in it...

Then you would rephrase it to: Even though I'm nervous to check my bank account because I'm afraid there won't be enough money in it, I deeply and profoundly love and accept myself anyway.

Step 3
Tap on it. Start Tapping on the meridian points on your face and body while focusing on the emotional resistance to access and eliminate the emotional or energetic resistance that is blocking you.

Step 4
Convert the negative target statement into a positive one, and start Tapping again.
Using the earlier example, the negative statement was: I was nervous to check my bank account because I was afraid there wouldn't be enough money in it...

And when you convert that into a positive statement, it would be: I'm confident to check my bank account and my finances, because I am abundant and I have more than enough.

Start Tapping on this statement, and while you're doing it add other positive uplifting affirmations and suggestions that will help raise your vibrations and get you into a receptive energetic state.
Sample Positive affirmations:
I am financially abundant.
I am confident about my finances.
I manifest wealth every day.

If you find yourself annoyed or frustrated with these statements, or if they don't yet feel real, this is likely because the subconscious fear is still lodged in your energetic core - which means you need to again Tap on the earlier negative statements.

I hope you enjoyed that exercise! If you want to make Tapping a daily habit and be more aware of the fears holding you back, remember to commit to the 3-Day Fear Cleanse. Just do this exercise once every evening for at least 3 days, and see how much more mindful and conscious it makes you feel about your thoughts, your fears and your actions. 

***


Untuk gampangnya, berikut form pelatihan sistem ini dan keterangan apa yang dimaksud dengan tapping dalam hal ini dan dimana letak titik yang yang harus di-tapping



Coba deh dan buktikan bagaiman metode ini bekerja untuk kalian. Kalau tidak cocok, ya jangan dipaksakan. Tapi jangan juga dihina, metode ini berhasil untuk banyak orang. 

Tuesday, July 30, 2013

N-Ach #7: Tentang Kebohongan

Kamu pikir kebohongan akan bisa menyelamatkanmu?

Mungkin. Sangat bisa.
Tapi percayalah hanya untuk sementara.
Lagi pula apa yang diharapkan dari hidup dalam kebohongan--sehebat apa pun ia?
Tidak ada.

Yang ada hanya rasa lelah harus mengarang cerita.
Rasa malu saat cerita yang diulang tidak sama.
Rasa bersalah di sudut hati nurani.
Akui saja.
Tak ada ketenangan dalam kebohongan.

Kau mungkin tertawa atas keberhasilan membohongi orang lain.
Mungkin juga mendapat keuntungan.
Tapi kau akan merasa jengah terhadap diri sendiri.
Akui saja.
Tak ada yang menyenangkan dari sebuah kebohongan.




Monday, July 29, 2013

N-Ach #6: Esensi Menerima

Sebelumnya saya ingin mengaku, kemarin saya tidak bisa memenuhi janji pada diri sendiri untuk posting blog tiap hari berturut-turut selama 2 minggu. Alasannya saya kecapean karena event di hari Sabtu dan kemarin saya habiskan waktu hampir di kasur seharian--tidur dan menikmati rasa pegal di sekujur badan. 

Tapi saya tidak merasa saya telah gagal. Saya memaafkan diri saya untuk ini, semoga tidak terulang lagi. :)


Ya sudah, hari ini saya ingin curhat. Boleh ya? Kalau tidak suka tentang tema ini, jangan lanjutkan membaca. Karena ini akan sangat personal; sebagian orang mungkin tidak nyaman dengannya. Mungkin. 

Hari ini saya ingin cerita tentang apa yang tengah saya rasakan beberapa hari belakangan. Saya merasa lega. Nyaman dengan diri saya dan kenyataan yang ada pada saya. Dan perasaan seperti ini sungguh menyenangkan. Tidak ada tuntutan, tidak ada ultimatum, tidak ada usaha yang muluk-muluk, tidak ada drama, sedih dan rasa takut lagi--yang ada hanya perasaan tenang dan menerima. 

Saya menerima bahwa tidak semua hal bisa berjalan sesuai keinginan saya. Tidak semua hal bisa saya raih. Tidak selamanya saya bisa mendapatkan segala yang saya inginkan. Meski begitu saya masih bisa tetap hidup dan bahagia. :)

Satu tahapan kehidupan sudah saya lewati--tahapan yang membuat saya menjadi orang lain tanpa saya sadari, menyangkal batasan yang selama ini saya pegang hanya karena merasa mungkin hal itu bisa mengubah keadaan, menginginkan impian yang  sebenarnya bukan impian saya sendiri, memaksakan diri berjuang untuk hal yang sepertinya tidak butuh diperjuangkan lagi; menjadi lemah dan kecil hati.

Cukup untuk semua itu.

Saya kini sampai pada keadaan saya yang apa adanya saya: yang tidak perlu lagi merasa takut kehilangan (karena saya sudah menerima bahwa saya tidak pernah memiliki); tidak perlu merasa terhina karena penolakan sebab saya sudah berhenti meminta; tidak perlu lagi mempertanyakan banyak hal karena saya sudah menerima kenyataan yang ada di depan mata; tidak perlu lagi berharap dan lalu kecewa sendiri; tidak perlu menyalahkan orang lain karena orang lain pun punya alasan dan motif sendiri atas tindakan mereka dan itu bukan urusan saya; tidak perlu juga merasa menyesal atas semua kesalahan yang pernah saya lakukan. 

Saya menerima semuanya (dan semoga bisa mengambil banyak pelajaran).



Untuk sampai pada tahap ini, memang tidak mudah saudara-saudara. Waktu memang punya cara sendiri untuk menunjukkan pada kita apa yang benar-benar penting atau tidak, termasuk juga untuk mengobati banyak hal. 



Wednesday, July 24, 2013

N-Ach #2: Perih di Ujung Jemari

Pernah kah kalian merasakan perih di ujung-ujung jari sebab menahan sedih sendirian? Rasa sedih karena kehilangan sesuatu yang sepertinya tidak bisa lagi diusahakan merupakan jenis sedih yang lumayan menyesakkan ya? Iya ga sih?

Belakangan saya merasakan perih itu—perih di ujung-ujung jemari, bukan lagi di hati. Perih dalam artian harfiah—perih sungguhan, bukan sebatas bahasa. Saya tidak tahu apakah ada saluran perih dari hati ke ujung jari atau semata itu hanya sensasi perasaan saja. Sejauh yang bisa saya ingat, baru kali ini saya merasa perih jenis ini. Kalau perih di hati, saya sudah melewatinya dan itu juga cukup menyiksa.

Ada rasa syukur saat saya bisa merasakan perih seperti itu. Karena saya percaya itu dapat berarti bahwa hati saja masih bekerja dengan baik. Hati saya masih bisa merasa. Mungkin hati saya ingin memberi tahu bahwa sudah waktunya saya menyerah, melepas keinginan, dan merelakan dengan lapang. Suatu proses yang tidak mudah.

Hanya aneh saja kok bisa saat sedih, rasa perih yang seharusnya di hati itu malah bertransformasi menjadi perih di ujung-ujung jemari? 

Semoga kalian tidak menganggap saya berlebihan karena mengungkapkan perasaan ini. Jika kalian pernah atau suatu hari nanti bisa merasakannya, kalian akan mengerti yang saya maksudkan.

Dan kalau perasaan seperti itu menghampiri kalian, bersikaplah berani: rasakan, terima, jangan ditahan atau dilawan. Kenali perasaan sendiri dan akui. Tidak ada salahnya merasa sedih. Toh sedih juga adalah bagian dari emosi kita yang juga butuh diakui. Hanya usahakan jangan biarkan berlarut. Temukan hal positif dari kesedihan yang bisa membantu melegakan perasaan. Meski saya sangat tahu hal ini tidaklah mudah. 

***

Sehubungan dengan merasakan emosi ini, kemarin saya menonton video self-help yang terkait dengan berani mengenali perasaan dan terhubung dengan emosi diri kita yang paling sejati. Rori Raye nama pembicaranya bilang bahwa kita harus berani mengakui emosi sendiri saat kita marah, sedih, terluka, senang, bersyukur dan perasaan lainnya. Rasakan apa yang bisa dirasakan.

Rasakan amarah tanpa mengungkapkannya pada orang yang membuat kita marah. Rasakan perasaan sedih dan kecewa tanpa berkeinginan untuk menghakimi penyebabnya. Jika ingin menangis, rasakan tanpa menunjuk orang lain untuk bertanggung jawab karena membuat kita menangis. Cukup merasakan dan mengakui bahwa perasaan itu ada. Dan ini langkah yang baik dari pada mengeluhkan perasaan tersebut. 

Ia juga mengajarkan bagaimana caranya terhubung dengan emosi terdalam kita. Kuncinya adalah dengan membayangkan gelombang laut, lantai dasar lautan, dan arus (flow). 

Langkahnya adalah sebagai berikut: bayangkan sebuah samudera. Salami hingga ke dasarnya. Berdiri di dasar samudera, rasakan gerakan air dan lihat ikan-ikan yang berenang. Bayangkan tubuh kita ada di sana merasakan arus atau gelombang lautan. Ikuti dan rasakan gerakan gelombang air laut yang tenag dengan menggerakkan tangan sesuai arus. Dan biarkan diri kita "terhubung" dengan perasaan terdalam yang tengah dirasakan. Akui dan terima perasaan tersebut. Setelah beberapa saat, ini akan membuat kita lebih rileks… Dan sungguh lega saat bisa rileks dan kembali pada kondisi yang positif.  

Pada akhirnya, Rori bilang bahwa entah bagaimana, energi dari dalam diri kita akan bekerja dengan cara yang tidak kita ketahui dan akan memberi efek menyembuhkan. Energi positif dari dalam diri akan juga mempengaruhi hal yang di luar diri kita. Saat kita lebih positif, kita akan mempunyai pandangan yang berbeda tentang dunia, tentang masalah kita. Orang lain pun akan bisa merasakan energi positif tersebut dan bereaksi dengan cara yang berbeda pada kita. 

Mungkin kalian berpikir hal ini buang-buang waktu dan tidak masuk akal. Merasakan emosi memang mungkin tidak secara langsung menyelesaikan masalah kita. Tapi saya percaya bahwa ada beberapa hal yang memang tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan secara langsung atau pun dengan menggunakan logika. Saya percaya, teknik ini memiliki caranya sendiri untuk “mengoreksi” emosi dan menanggapi masalah penyebab emosi tadi. 

Cara ini memberi kita kesempatan untuk menyembuhkan diri sendiri!

Have a rocking Wednesday, everybody! Cheers….. :)



# Bandung, 24 Juli 2013

Tuesday, July 23, 2013

N-Ach #1: Menu ala Turki

Nah ini dia edisi perdana N-Ach Project. Dan hari ini adalah hari ke-14 puasa. Yuk kita mulai.....

Pernah dengar ungkapan bahwa dapur Turki terkenal sebagai dapur yang paling kaya? Kaya dalam hal ini adalah dalam hal cita rasa, varian makanan dan ragam bumbu masakan khas Turki. Hidup setahun bersama keluarga Turki membuat saya mengenal dan mencicip kekhasan dan kekayaan masakan mereka. Masakan Turki kaya bumbu seperti halnya masakan kita, dan untuk jenis kue, rasanya bisa sangat manis. Kue Baglava misalnya; uuuhh giung kalau kata orang Sunda mah.

Dari sekian banyak masakan Turki, hanya beberapa saja yang bisa saya masak. Dan saya ingin membagi sedikit resep yang gampang dibuat. Bisa dibilang ini pertama kalinya saya berbagi tips atau resep masakan sepanjang karis saya nge-blog ya.... Kali aja bisa jadi menu alternatif saat buka puasa.

Saya pilih menu nasi ala Turki ya, menu utama kita. Saya juga akan memberi tips membuat salad ala Turki.

Orang Turki memasak nasi dengan cara yang sedikit berbeda dengan kita; mereka tidak pernah masak nasi tawar tanpa bumbu seperti yang biasa kita masak. Dan uniknya, berhubung makanan utama orang Eropa adalah roti, meski mereka makan nasi tetap saja roti tidak ketinggalan disuguhkan.

Untuk memasak nasi ala Turki, berikut langkah-langkahnya.

Bahan (Nasi):
Beras
Air atau air kaldu lebih baik
Sayuran kaleng (jagung manis/ wortel/ buncis/ kacang polong)
Margarin
Garam secukupnya
Merica bubuk
Yoghurt kental tawar (optional)

Cara Membuat:
  • Panaskan panci anti lengket. Panaskan margarin secukupnya (disesuaikan dengan banyaknya porsi nasi).
  • Masukkan beras yang sudah dicuci bersih dan ditiriskan. Aduk beberapa saat.
  • Masukkan air secukupnya (jika ada air kaldu lebih baik). Air kaldu akan menambah cita rasa gurih pada nasi.
  • Tambahkan garam secukupnya dan merica bubuk. Aduk.
  • Masukkan sayuran kaleng. Jagung manis saja sudah cukup menambah kaya rasa nasi ini. Namun bisa juga campuran jenis sayuran di atas dimasukkan. Aduk.
  • Tutup panci dan diamkan nasi hingga airnya larut. Setelah itu, masak nasi dengan api kecil. Masak hingga matang. 

Gampang kan? Sekarang kita bikin saladnya.

Bahan (Salad):
Selada air
Timun Jepang
Tomat
Biji buah delima atau apel potong kecil
Bawang bombay merah (optional)
Garam secukupnya
Minyak sayur 2 sdm
Air perasan jeruk lemon secukupnya
Seledri kering atau segar

Cara Membuat:
  • Potong semua bahan sayuran sesuai selera. 
  • Masukkan semua sayuran pada mangkuk saji. 
  • Tambahkan potongan apel yang sudah dipotong dadu. Atau jika mau apel bisa digantikan dengan biji buah delima merah. Dua jenis buah ini akan memberi rasa asam yang segar untuk salad yang kalian buat. 
  • Masukkan minyak sayur, air perasan jeruk lemon, garam secukupnya. Bubuhkan bubuk seledri kering. Jika tidak ada bisa juga menambahkan seledri segar. Tapi seledri segar kita rasanya cenderung lebih kuat, jadi sebaiknya sedikit saja atau tidak usah sama sekali. 
  • Jika mau, tambahkan irisan bawang bombay merah. Namun jika ingin salad yang segar, tidak pakai bawang juga ga masalah. 
  • Aduk rata. Salad segar siap disajikan. 

Tips: 
Sebaiknya mengaduk semua bahan saat salad sudah akan dihidangkan. Mengaduk salad jauh sebelum saat dihidangkan akan membuat salad tidak terlalu segar saat disantap. Salad juga hendaknya langsung dihabiskan. 

Cara menghidangkan:
  • Nasi yang sudah masak disajikan di piring saji. 
  • Untuk lauk-pauknya, kalian bisa menambahkan ayam atau ikan panggang atau apa pun. Sebenarnya ada resep untuk daging atau ikan panggang, tapi ga jauh beda dengan resep kita. Jadi sesuaikan saja dengan resep sendiri. 
  • Jangan lupa tambahkan salad sebagai menu sayurannya. 
  • Terakhir, tambahkan yoghurt kental yang tawar di atas nasi. 

Catatan: 
Rasa dingin yoghurt kental yang baru keluar dari kulkas berpadu dengan gurihnya nasi hangat ala Turki akan memberi pengalaman rasa yang berbeda untuk lidah Indonesia. Saya suka makan nasi dengan yoghurt ini. 

Orang Turki suka "membersikan" piring makanan dengan roti atau maksud saya mencocolkan roti pada bumbu makanan. 

Selamat mencoba, ya.... :)




Monday, July 22, 2013

N-Ach: A desire to be effective or challenged!


Keinginan ini datang tiba-tiba. Baru aja. 

Saya sedang harus menyelesaikan menulis destinasi Seminyak--tempat yang suatu hari nanti ingin saya kunjungi bersama pasangan saya nanti. Aamiin. Tapi, seperti yang sudah jadi kebiasaan, selesai browsing mengumpulkan bahan--ada 2500-an kata--saya butuh rehat sejenak. Nanti setelah istirahat siang saya bisa lanjutkan menulisnya, mengobrak-abrik 2000 kata tersebut menjadi tulisan baru versi saya sendiri. 

Nah, dalam waktu sejenak ini, saya pun blogwalking. Saya sampai pada sebuah blog yang menampilkan gambar penuh warna-warni dan saya heran sendiri bagaimana bisa seseorang dikaruniani bakat sekeren itu? Gambar kartun yang memadukan banyak warna tapi tetap harmonis. Namun, meski saya sangat mengagumi gambar penuh warna, yang bikin saya terinspirasi justru satu postingan tentang gambar menggunakan tinta cina warna hitam. 

ini dia gambarnya

Saya suka melihat kertas yang ditumpuk-tumpuk begitu. Kesannya ga kaku karena tidak dilem sempurna pada kertas dasar. Jadi semacam apa ya namanya, bingung nyebutnya. Kalian bisa lihat karya warna-warni lain atau blog yang dimaksud di sini

Karya sederhana tapi entah kenapa membuat saya tergerak ingin bikin yang mirip-mirip seperti itu. Bayangannya sudah ada di kepala saya. Tapi butuh waktu lama untuk bikin aplikasi gambar gitu. Saya ingin pakai karton warna biru--warna langit--sebagai dasar. Lalu aplikasi atau potongan kertas warna lain akan mewujud menjadi bunga, daun, serangga, atau rumput di sebuah taman. Saya hanya bisa gambar bunga, serangga, dan daun--menyedihkan memang.

Lalu ide lain bermunculan. Kenapa saya tidak mecoba membuat karya--baik tulisan atau doodle bunga sederhana atau apa pun--untuk kemudia diposting di blog yang nantinya bisa berfungsi sebagai salah satu alat pemantau juga. Pemantau sejauh mana saya konsisten dengan keinginan ini. 

Saya tahu karya itu akan sangat jauh kualitasnya dari gambar di blog di atas, tapi ini lebih pada keinginan untuk produktif menghasilkan sesuatu dari pada saya habiskan waktu saya untuk melamun. Belakangan ini, berapa banyak waktu yang saya habiskan untuk melamun--mikir tapi tidak membawa saya kemana-mana. Yang ada saya makin jadi pemalas. Tiduuuuur aja kerjaannya. Mata merem, tapi pikirannya ga tidur. Insomnia pun kembali melanda. Kemarin sempat sembuh, tapi sekarang kambuh lagi.

Bahkan untuk posting blog pun sangat jarang sekali. Kemarin-kemarin saya seolah kehilangan inspirasi atau kemampuan untuk menulis puisi bahkan secuil. Blank. Atau karena memang kemarin pikiran saya terkuras untuk hal lain? Jadi tak ada momen sendiri--(khususnya) berefleksi lewat tulisan. Tapi memang kadang-kadang kita bisa nulis tentang sesuatu setelah kita "berjarak" dari hal yang ingin kita tulis. Misal, beberapa tulisan saya tentang Jerman justru baru bisa saya tulis setelah saya pulang ke Indonesia--setelah saya 'berjarak' dari Jerman. Setelah Jerman hanya bisa saya kenang. 

Keinginan yang datang tiba-tiba hari ini, sungguh saya syukuri. Mungkin ini yang disebut sebagai momen keinginan berkarya. Need for achievement (N-Ach) mereka menyebutnya. Yaitu keinginan untuk berkarya atau menghasilkan sebuah karya. Untuk lebih lengkap, saya kutip dari wikipedia mengenai N-Ach ini. 

Need for achievement (N-Ach) refers to an individual's desire for significant accomplishment, mastering of skills, control, or high standards. The term was first used by Henry Murray and associated with a range of actions.

This personality trait is characterized by an enduring and consistent concern with setting and meeting high standards of achievement. This need is influenced by internal drive for action (intrinsic motivation), and the pressure exerted by the expectations of others (extrinsic motivation).

Well, untuk kasus saya, sebenarnya bukan untuk tujuan sehebat definisi di atas. Ini adalah sebuah keinginan untuk menantang diri sendiri. Mungkin definisi berikut yang juga saya kutip dari wikipedia lebih mewakili niat ini: A desire to be effective or challenged!


Saya ingin menantang diri saya untuk lebih bisa mengontrol diri dengan cara, memosting atau membuat minimal satu saja karya setiap harinya. Tapi, berhubung keinginan ini saya publish, saya juga harus konsisten kan ya. Nah, ada ketakutan saya tidak bisa memenuhi standar yang saya buat sendiri ini. Sepertinya saya butuh seseorang sebagai 'polisi' yang akan mengawasi dan mengingatkan niat saya ini. Muncul satu nama dalam kepala. Semoga ia bersedia. Nanti malam akan saya pinang ia untuk tugas mulia ini, hahahaha....

Atau mungkin kalian mau membantu saya untuk lebih konsisten terhadap keinginan ini? :)

Kalau pun tidak ada yang bersedia, saya akan coba sendiri. Saya akan menargetkan untuk aktif memosting sesuatu setiap harinya dalam waktu 2 minggu ke depan, dimulai besok. Besok tanggal 23 Juli. Maka dua minggu dari besok, proyek N-Ach ini akan berakhir pada tanggal 6 Agustus. Doakan saya bisa konsisten. Itu saja dulu. Itung-itung belajar disiplin untuk diri sendiri--disiplin dalam memenuhi janji pada diri sendiri. 



Monday, June 10, 2013

Hari Pencerahan Diri

Mungkin hari ini bisa dibilang hari pencerahan bagi saya.

Awan gelap kelabu yang kemarin menghantui hari-hari, meski berganti-ganti dengan cahaya Matahari yang sesekali menghangatkan, kini perlahan sirna. Semoga hari ini dan besok langit di dalam kepala dan hati ini tetap dan terus cerah biru. Kalau pun akan ada gelap, itu hanya akan sementara dan tidak akan merubah diri ini menjadi asing lalu hilang arah.

Self-esteem! Betapa saya mesti berjuang untuk memiliki self-esteem positif. Saya memang tidak sempurna, tapi bukankah Tuhan sudah memberi saya begitu banyak berkah yang masih susah payah diusahakan orang lain? Hanya karena saya kesusahan dalam satu hal, kenapa jadi melupakan kebaikan lain yang begitu banyak, yang saya terima bahkan tanpa saya minta?

Saat naik angkot menuju kantor, ada seorang kakek buta yang ikut menumpang angkot yang sama. Melihatnya--tanpa mendeskriditkan si kakek--saya tiba-tiba merasa betapa beruntung. Betapa bersyukur!
Saya punya kedua mata yang sehat. 
Tubuh yang sehat tanpa cacat. 
Otak yang ga bego-bego amat meski juga ga pinter-pinter amat. 
Keluarga yang baik dan orangtua yang sangat mendukung dan berpikiran terbuka. 
Teman-teman yang baik dan menyenangkan, meski tidak sangat banyak.
Pendidikan yang juga baik, meski susah payah tapi bisa selesai juga.
Pekerjaan yang menyenangkan. Setelah malang melintang di beberapa tempat sebelumnya.
Materi yang cukup.
Intuisi yang memang sih masih butuh diasah. 
Keselamatan saat saya pergi ke mana pun. Seorang teman pernah bilang, bahwa insyaallah kemana pun saya pergi, saya akan aman. Tidak akan ada orang yang berani berbuat macam-macam. Aamiin. 
Kemudahan dan luck dalam banyak hal. Saya sering memenangkan hadiah, misalnya, hehehehe...
Dan masih banyak lagi yang lainnya. 

Berbicara tentang diri yang kesusahan mengasuh self-esteem positif, ini terkait dengan keinginan yang begitu kuat dalam hati, tapi nampak sulit sekali saya capai. Saya pesimis. Saya sering berpikir negatif. Kurva pikiran positif dan negatif datang silih berganti datang menyiksa logika. Saya sempat menyerah beberapa kali untuk mencapai keinginan itu. Tapi dalam usaha itu, saya semakin menyadari saya tidak bisa (atau belum bisa) menyerah. 

Kalau sudah begini, sudah seharusnya saya berusaha sekuat tenaga untuk memperbaiki dan bukan meninggalkan (masalah/keinginan terkuat), bukan? Kenapa terus-terusan memutuskan menyerah, padahal belum rela, wahai diri? Kenapa tidak bersabar sedikit lebih banyak dan belajar sungguh-sungguh untuk tidak mengulang kesalahan yang sama? 

Jika saya masih seperti kemarin, masalah ini akan juga tak kunjung selesai (entah itu selesai happy atau sad ending). Yang jelas ini harus selesai dan tidak terkatung-katung seperti sekarang.

Kalau sudah maksimal usaha, tapi masih gelap. Mungkin ya itulah saatnya untuk melepaskan dan merelakan. Dan saya berdoa semoga diberi kemudahan dalam proses ini. Menerima itulah salah satu kunci menghadapi setiap masalah. Menerima dengan positif.

Izinkan saya mengutip ini: "Acceptance doesn't mean you're giving up and not trying anymore. In contrast, it means you're looking at yourself and your situation realistically."

Langkah pertama yang harus dilakukan sepertinya adalah memetakan masalah. Kemudian mempelajari pola munculnya masalah. Menemukan cara untuk mengatasinya atau mencegahnya. Lalu tak lupa sambil berdoa pada Tuhan pemilik segala. Berdoa dengan keyakinan akan terkabul, dan bahwa Tuhan itu Maha Baik, sangat dekat dan Maha Pengabul Doa. Ia juga bisa melakukan keajaiban! Yang muskil sekalipun dalam pikir manusia. Apa yang tak bisa jika Ia berkenan?!

Tujuan menulis ini sebagai pengingat diri. Agar ingat hal positif yang saya pelajari hari ini. Dan lalu mempraktekkannya. 

Terdengar sangat pribadi, ya? Memang. Lalu kenapa? :)




Thursday, May 30, 2013

Perihal Komunikasi

Kenapa kadang-kadang berkomunikasi dengan orang asing yang kita temui menjadi lebih mudah dibandingkan berkomunikasi dengan orang-orang yang (seharusnya) memiliki kedekatan personal dengan kita?

Berapa banyak anak yang lebih memilih curhat dengan teman-teman atau pacar dibanding dengan orangtuanya sendiri? Berapa banyak pasangan yang mengeluhkan pasangannya pada teman-temannya ketimbang membicarakan masalah langsung dengan orang yang bersangkutan?

Komunikasi adalah sebuah keterampilan. Saya pernah dengar atau baca bahwa orang yang pandai berkomunikasi adalah orang yang bisa "menguasai dunia". Oke mungkin kata dalam tanda petik itu agak berlebihan, tapi saya setuju dan mengamini bahwa komunikasi itu penting adanya.

Belakangan sejak menjadi penulis untuk e-magz, saya harus beberapa kali bertemu orang baru sebagai narasumber dan mewawancarai mereka untuk kebutuhan artikel. Ada masa dimana saya merasa menyenangkan sekali bertemu orang-orang baru (dan biasanya orang-orang yang memiliki pengaruh atau sukses dalam hal tertentu--karena itulah mereka diwawancara). Mereka selalu punya cerita yang menarik, yang baru saya dengar, yang membuat saya berkali-kali menyimpulkan bahwa memang setiap orang (dalam bidangnya masing2) itu memiliki persona yang hebat dan kuat, sesederhana apa pun penampilan mereka. Mereka selalu punya cerita. Bahkan apapun profesi mereka, selalu ada cerita yang menarik untuk digali. Saya pernah tanya-tanya seorang perempuan yang dipanggil ke rumah untuk memijat, dan bahkan dia pun punya cerita menarik seputar profesinya. Tadinya saya malas tanya-tanya, tapi dengan mengingat pengalaman mewawancarai orang, saya jadi ngobrol banyak sama ibu tukang pijat ini. 

Saya bukan tipe orang yang mudah berinteraksi dengan sembarang orang. Tapi saya juga bisa langsung sangat dekat dan akrab dengan orang-orang tertentu. Orang-orang tertentu yang saya merasa nyaman bahkan dari awal saya bertemu dengannya, yang memiliki ikatan kesamaan dengan saya baik itu disadari atau tidak. Dan orang-orang seperti ini tidak bisa dikatakan banyak. Tapi dengan menjalani profesi baru ini, saya pikir jika saya mau mudah saja berinteraksi dengan seseorang. Itu kuncinya, jika saya mau. Jika saya mau saya bisa mendengarkan dan bertanya pada seseorang dan memberi kesempatan padanya untuk membuka diri. Tapi kadang-kadang, males aja berinteraksi dengan orang asing secara sengaja (di luar kebutuhan pekerjaan).

Lalu saat saya sudah berpikir bahwa banyak hal menarik yang bisa digali dari diri seseorang yang baru kita kenal, kenapa saya masih kesulitan berkomunikasi dengan orang-orang terdekat atau yang seharusnya dekat secara personal. Atau justru karena identitas personal itulah, misal udah tau seluk beluknya jadi ga ada lagi yang perlu ditanyakan, ga ada lagi bahan pembicaraan yang perlu diusahakan? Berbeda saat wawancara, kita memang diniatkan untuk menggali info sebanyak-banyaknya karena tuntutan kerjaan. Atau memang mudah saja tersinggung dan menyatakan ketidaksukaan kepada orang terdekat, karena ya sudah dekat? Lalu ini jadi pemicu keributan. Atau karena dekat secara personal lah yang justru membuat apa-apa diambil hati sehingga menimbulkan amarah dan sakit hati (meski tanpa sengaja)? Karena kalau ga terlalu dekat mungkin tidak akan terlalu terganggu dan peduli, bodo amat ga ambil pusing orang lain mau ngomong apa atau berbuat apa juga. Atau memang ga sinkron aja arah komunikasinya jadi ga juga bisa dijembatani komunikasinya? Atau mungkin keinginan untuk komunikasi tidak dibarengi dengan cara berkomunikasi yang efektif dan  tepat? Gitu kah?


Dan bagaimana pun komunikasi melibatkan dua orang atau lebih. It takes two to tanggo. Saat seseorang ingin mengubah pola komunikasi sementara yang lain bertahan dengan kebiasaan lama, percuma juga. Saat salah satu pihak sudah tidak ingin mengusahakan, pihak lain juga mau ga mau juga akan berhenti mengusahakan. Lalu miskomunikasi akan menjadi unfinished business, yang kalau tidak besar hati diterima akan tetap menghantui pikiran sampai beberapa waktu ke depan. 



Thursday, December 13, 2012

Ruang

Ada sebuah rumah. Tampak sejuk dan nyaman dari luar. Pintunya terbuka, kita sama-sama melangkah masuk dan duduk di ruang tamunya yang hangat. Sofanya sederhana saja; yang jelas empuk, berwarna merah, berukuran ramping. Sungguh sesuai dengan ukuran ruang tamu yang tidak terlalu besar ini. Mejanya terbuat dari kayu yang dipelitur--cokelat tua berukir sulur-sulur yang apik. Sepertinya pesanan. Di atas meja, terpasang secarik kecil taplak meja cantik dari Turki. Lampunya tidak nyala, tapi desainnya yang sederhana serupa bunga lotus di langit-langit itu sudah menarik perhatian sejak awal. Di pojok ruangan, tampak sebuah vas keramik yang tinggi ramping. Beberapa tangkai bunga kering ditaruh di sana. Selintas tampak jaring laba-laba berkilau terkena cahaya Matahari yang masuk dari celah jendela di seberang pojokan. Di sana, semilir angin yang sebelumnya ditimang dedauanan pohon angsana berhembus memenuhi ruangan. Sejuk namun hangat dan nyaman. Bisakah kamu bayangkan kenyamanan ruang seperti itu?

Lalu kita terlena berlama-lama duduk di sana. Berbicara dan tertawa tentang banyak hal: tentang kita terutama, tentang rasa. Sesekali kita ribut tentang hal-hal kecil yang membuat kita tidak sepaham, karena kita berbeda. Kita datang dari tempat yang jauh, dari masa lalu yang juga lebih jauh lagi, lalu tak sengaja bertemu di simpang jalan dan memutuskan berjalan berdampingan. Sungguh wajar banyak hal yang kita pertentangkan, meski kadang-kadang ada juga yang diam-diam kita syukuri dan banggakan. 

Kita lupa bahwa ruang ini bukan milik kita, bahwa kita hanyalah tamu tak diundang yang lancang masuk tanpa permisi. Rumah ini terlalu menyenangkan untuk dilewati begitu saja bukan? Apalagi setelah masing-masing kita terlalu lelah melanjutkan perjalanan yang belum tampak ujungnya. Rumah ini terlalu nyaman untuk tidak disinggahi dan ditelusuri tiap ruangnya. 

Tidak semua ruang kita suka. Seperti kebanyakan rumah pada umumnya, ruang tamu adalah yang paling tertata. Ruang ini lah yang pertama-tama memberi kesan pada orang lain--tamu tentu saja. Karenanya ia harus baik, apik, bersih, mengkilap, dan nyaman. Sebagai sebuah rumah, rumah ini menjanjikan perlindungan yang cukup memenuhi syarat kenyamanan. Namun, ada bagian atau ruang tertentu yang kurang berkenan. Tumpukan cucian, makanan basi di bak pencuci piring, gudang barang yang penuh debu dan sarang laba-laba adalah beberapa di antaranya. 

Habis semua ruang kita jelajahi, kita merasa lelah dan ingin kembali saja ke ruang tamu, yang dihembus semilir angin dari luar. Yang nyaman dan menyenangkan. Ruang ini memang masih nyaman, tapi ingatan tentang dapur yang kotor dan gudang yang berdebu sudah terekam di kepala. Harusnya bukan masalah besar, bukan? Ya, memang bukan masalah besar. Toh, rumah ini pun hanya tempat kita singgah. Dan justru inilah masalah terbesarnya. Lalu, kita pun sampai pada suatu waktu dimana kita mulai merasa bahwa tempat ini bukan untuk kita. bahwa kita harus melanjutkan perjalanan. Dan pergi adalah satu-satunya pilihan yang ada. Bayangan perjalanan panjang yang harus di tempuh di depan adalah tantangan atau ketakutan yang lain lagi. 

Apalagi saat kamu bilang, bahwa kita harus berpisah di persimpangan depan!

Kamu bilang saya bebas sekarang, menentukan langkah sendiri. Tapi apa sih sebenarnya kebebasan?
Paulo Coelho bilang, "Freedom is not the absence of commitments, but the ability to choose...what is best for me."

Dalam hal ini, saya tidak bisa memilih dan tidak punya pilihan lain, kecuali menerima! 




Tuesday, August 14, 2012

Kartu Pos The Secret Garden

Sekira 2 tahun yang lalu, itulah terakhir kali saya mendapatkan sebuah kartu pos sebagai oleh-oleh yang dibeli di sebuah museum di Irlandia. Itu pun diberikan langsung, tidak dikirim melalui pos. Tanpa bermaksud berlebihan, menerima kiriman kartu pos berperangko dari seorang sahabat di zaman yang serba digital ini adalah sebuah kemewahan varietas baru! :D

Kartu pos (tampak depan)
Andika Budiman lah pengirim kartu cantik tersebut yang bergambarkan cover buku "The Secret Garden", karangan F.Hodgson-Burnett. Kalimat pembuka dan pesan di baris terakhirnya sudah cukup membuat saya merasa betapa Dika, salah satu sahabat terbaik saya ini, begitu mengenal pribadi saya tapi tidak pernah (seingat saya) men-judge atau menghakimi saya karena sifat-sifat dan karakter saya tersebut. Karenanya, saya selalu nyaman mengenalnya... :)

Untuk urusan teman bercerita, Dika adalah pendengar yang baik tapi juga berbahaya, hehhehe.... Saya hanya perlu bercerita sedikit, lalu Dika akan sudah dapat mengenali emosi terdalam di balik cerita saya dan memahami hal-hal yang bahkan tidak saya katakan. Saya baru bercerita A-B-C, tapi ia sudah mendengar dan memahami hingga huruf N atau seterusnya. Terdengar lebay tapi begitulah adanya.

"Neni, jangan ragu mengungkapkan perasaan, apalagi jika itu ungkapan afeksi. Seperti kata Nia Janiar (sahabat kami juga--red.), niat baik tidak pernah sia-sia." Inilah sebaris pesan Dika di kartu posnya sebelum mengucap salam.

Kartu pos (bagian belakang); sengaja blur agar isinya tidak terbaca... :p

Niat baik memang tidak pernah sia-sia, Dika. Dan ini termasuk niat baik kamu mengirim kartu pos pada "sebuah ikon" yang kemudian kamu sesali karena malu atau entahlah, namun ternyata justru jadi menginspirasi. Dan yang akhirnya membuat saya menerima kartu posnya. 

Terima kasih, kartu posnya ya, Dika. Rasa kantuk yang merusak mood seharian dan rasa sebal karena kemacetan lalu lintas yang saya bawa pulang sore ini jadi hilang seketika setelah baca kartu posnya. Mudah-mudahan kamu tidak keberatan saya menulis di sini. Saya janji saya akan balas kartunya... :)

Oh iya, kartu pos yang saya terima 2 tahun yang lalu juga bergambar perempuan. Seorang perempuan bertubuh ringkih yang memegang payung dan memandang ke arah samping di kejauhan (tidak memandang ke depan). Gambar tersebut tepatnya adalah sebuah lukisan perempuan berpayung yang di pajang di museum Irlandia tersebut. Si pemberi mengatakan bahwa kartu pos itu mengingatkan dia pada sosok saya yang menurutnya terlihat begitu "confident, but fragile at the same time". Saya cukup kaget juga mendengar frasa tersebut. 




Saturday, June 23, 2012

Little Prince, Bintang, dan Aku

Saat menulis ini ada satu bintang di luar sana yg bisa terlihat dari balik pintu kamarku yang sedikit terbuka. Dia begitu genit, berkedip-kedip riang menggoda. Selagi membaca "Little Prince" untuk kali kedua, aku sudah beberapa kali menyempatkan diri menoleh bintang tersebut. Dan aku berpikir, sepertinya antena di antara kedua alis kita tidak hanya bisa menangkap basah orang yang sedang memandangi kita, tapi bisa juga menangkap basah sebuah bintang yang sedang memandangi kita!

Atau mungkin juga alasan kenapa aku bolak-balik meliriknya adalah karena Little Prince sedang berbicara tentang bintangnya. Selesai membaca, aku memeriksa keluar dan menemukan bahwa bintang-bintang malam ini begitu riang. Dan bintang yang sejak tadi bermain mata padaku adalah yg paling bersinar, paling terang, paling besar, dan satu2nya yang bisa kulihat dari tempatku tadi berbaring...


# ditulis di Jakarta, 2009.

Sunday, June 17, 2012

Mwathirika: Tentang Sejarah Kehilangan dan Kehilangan Sejarah

Saya benci harus mengakui bahwa saya menangis saat menyaksikan sebuah teater boneka. Ya, teater boneka! Saya akan menceritakan sebagian besar cerita dan akhir teater boneka ini di sini, agar saya tidak lupa atau sekedar untuk membaginya pada kalian. Jadi berhati-hatilah bagi yang tidak suka spoiler.

Mwathirika adalah judul teater boneka yang saya maksud. Bertempat di gedung pertemuan IFI Bandung, 16 Juni 2012, inilah sebuah teater boneka yang berkisah tentang sejarah kehilangan dan kehilangan sejarah berlatar masa kelam Indonesia pada September 1965. Mwathirika dibawakan oleh papermoon puppet theater yang sejak awal menggunakan seni teater boneka tanpa kata untuk bicara tentang banyak hal, kepada lebih banyak orang agar sama-sama mengingat atau untuk membagi rasa.

Kisah ini terkesan sederhana, tapi dibalik kesederhanaannya ia sesungguhnya begitu kaya, baik dari ceritanya sendiri, sejarah yang melatarinya, dinamika kehidupan tokoh-tokohnya, dan lain sebagainya. Meski berlatarkan gejolak politik yang kelam, ia tidak bercerita urusan politik secara muluk dan ekstrim. Tidak "menunjuk" tentang siapa membunuh siapa. Mwathirika menceritakan kisah mereka yang mau tidak mau terkena imbas pahit dari sebuah kepentingan yang berujung pada kehilangan orang-orang terkasih.


Pertunjukkan yang mengesankan ini dimulai dengan mengenalkan Baba dan Haki; dua orang ayah yang "merupakan tetangga baik yang tinggal 'berseberangan'." Baba yang bertangan satu tinggal di rumah berwarna merah bersama dua  anaknya: Moyo (10 tahun) dan Tupu (4 tahun). Sementara Haki, tinggal di rumah berwarna hijau dengan ukuran lebih kecil di seberang rumah Baba bersama anaknya Lacuna. Lacuna adalah gadis kecil berkursi roda, bermata juga berhati besar.

(ki-ka) Moyo, Tupu, Lacuna, Haki, Baba, Anjing gila... Kisah mereka membuat saya menangis...
Keheningan di dalam ruangan, tiba-tiba hilang saat sekelompok orang bertopeng yang membawa balon merah menjajah pentas. Mereka seolah membawakan tarian dan bersuara gaduh mengelu-elukan sesuatu yang mereka lihat di layar yang menampilkan serangkain gambar. Berikutnya, teater kemudian berganti menyorot Tupu, yang baru bangun tidur dan langsung buang air di depan rumahnya. Adegan ini tentu saja menuai tawa penonton. Tupu lalu bermain sendirian di halaman rumahnya: melompat dari satu balok ke balok lain dan terjatuh. Ia lalu bermain kuda-kudaan yang terbuat dari kayu. Tepat saat ia tengah asyik menunggang kuda, tiba-tiba susana menjadi tegang akibat muncul seekor anjing hitam besar yang menyalak garang pada Tupu. Tupu yang ketakutan refleks meniup peluit merah yang selalu ia kalungkan sambil menodongkan kuda kayunya ke arah anjing. Mungkin dengan meniup peluit ia berharap sang anjing patuh padanya. 

Bersamaan dengan itu, dari dalam rumah muncullah Moyo sang kakak yang tergopoh-gopoh mengarahkan peluru ketapelnya ke arah anjing tapi tidak berhasil mengusir. Kemudian, kuda kayu pun dilemparkan ke anjing tersebut dan membuatnya lari tunggang langgang. Tupu kecil menangis, mungkin sedikit syok. Moyo berusaha menghibur adiknya. Kuda kayu yang dipakai melempar anjing rusak.

Saat Moyo kebingungan tak berhasil membujuk sang adik, Baba muncul. Ia baru saja pulang dan membawa balon merah untuk Tupu. Tupu menjadi riang kembali namun menangis lagi saat Moyo menggodanya dengan cara merebut balon merahnya dan tertawa-tawa mengikik. Kejahilan khas seorang kakak kepada adik yang disayanginya. Tak tega melihat Tupu sedih, si jahil Moyo mengembalikan balon yang segera diambil oleh Tupu lalu masuk ke rumah bersama Baba. Tak lama kemudian, Haki datang. Setelah menyapa Tupu yang kini sibuk sendiri dengan mainan barunya, ia memanggil Lacuna dan menyerahkan sebuah kotak musik. Lacuna senang sekali dengan hadiah tersebut. Bahkan Tupu pun ikut bergoyang sambil mendekati Lacuna saat mendengar musiknya. Tupu bahkan membuang balonnya dan meminta kotak musik yang tentu saja tidak diberikan oleh Lacuna.

Keesokan harinya, sekelompok sirkus keliling melewati rumah mereka. Suasana dalam ruangan menjadi demikian meriah oleh musik yang keras dan ramai, sorakan, dan tepuk tangan pemain sirkus. Kedua keluarga tertawa-tawa riang menyaksikan mereka. Dan yang menarik pada bagian ini adalah bahwa penonton diajak untuk ikut bersorak, tepuk tangan, dan pendeknya "terlibat". Perasaan terlibat pada sebuah pertunjukkan atau apa pun, meskipun kecil, ia punya dampak yang hebat. Menyenangkan sekali rasanya ada di tengah keramaian yang membahagiakan bersama boneka-boneka yang bergerak dengan bahasa tubuh selincah manusia padahal mereka hanya benda mati yang digerakkan oleh manusia-manusia kreatif dari Yogyakarta. 

Di akhir pertunjukkan sirkus keliling, seorang pemain sirkus menghampiri Baba yang tengah menonton dari jendela rumah dan memberikan secarik bendera merah. Belum habis keriangan atas pertunjukkan sirkus, penonton dibawa pada suasana malam saat sekelompok orang bertopeng menandai jendela rumah Baba dengan segititiga merah. Baba terbangun, membuka jendela tapi tak menemukan siapa-siapa. Ia lalu menyalakan rokoknya. Haki juga terbangun dan menyapa Baba. 

Baba yang terbangun sesaat setelah jendela rumahnya ditandai dengan segitiga merah.
Pagi-pagi sekali, Haki yang sedang menyapu halaman kaget melihat ada tanpa segitiga merah di jendela rumah Baba. Ia menghindar saat Baba yang menuju halaman menyapanya. Tak perlu waktu lama, Baba pun melihat tanda tersebut dan sangat marah. Ia berusaha menghapusnya dengan sapu lidi, tapi sia-sia. Ia kemudian tak memedulikan tanda tersebut dan segera mengambil kembali palu yang sejak tadi dibawanya untuk membetulkan kuda kayu Tupu. Sebelum selesai membetulkan kuda kayu tersebut, sekelompok orang bertopeng dan bersenjata datang dan memerintahkan Baba untuk ikut mereka. Baba tidak melawan. 

Baba berhenti melangkah ketika mendengar Moyo dan Tupu keluar untuk bermain baris-berbaris atau berakting tentara. Baba meminta waktu sejenak kepada orang-orang bertopeng. Ia menghampiri Moyo dan Tupu dan mengecup kening mereka. Ia sempatkan pula menyelesaikan kegiatannya sebelumnya, yaitu membetulkan kuda kayu. Ia serahkan kuda kayu yang sudah baik pada Tupu yang kegirangan dan menciumnya sekali lagi. Moyo sudah merasa ada yang tidak beres, tapi Baba hanya menepuk bahunya, menciumnya lagi kemudian pergi. Sejak kejadian itu, keriangan yang masih gegap gempita mewarnai hati para boneka dan para penontonnya seketika sirna.

Setelahnya, penonton diajak menyaksikan kepedihan dua anak yang masih terlalu kecil untuk hidup tanpa ayah. Siang berganti malam, malam berganti siang. Pada suatu waktu, Tupu merengek pada Moyo sambil membawa piring dan sendok. Ia lapar. Moyo kebingungan. Tiba-tiba muncul di hadapan mereka dua ekor kodok yang melompat-lompat. Tanpa pikir panjang, Moyo menangkap kedua kodok tersebut. Tupu memukul-mukulkan sendok ke piring tanda kegirangan saat Moyo berhasil menangkap mereka. Yang terlihat selanjutnya adalah kedua anak ini muntah-muntah. Kiranya mereka memakan kodok tersebut! Hari-hari selanjutnya Tupu sudah tidak mau makan.

Moyo tampak berlari-lari mengejar orang bertopeng sambil membawa sepucuk surat. Tupu ditinggal sendirian. Saat berhasil menarik perhatian seorang bertopeng, Moyo hanya berujar: "Baba Moyo" sambil menyodorkan surat yang kiranya ia tulis untuk Baba. Orang bertopeng melihat peluit merah di leher Moyo dan langsung menggiring Moyo yang tak pernah kembali lagi. Tupu menunggu di jendela hingga malam. Ia meniup-niup peluitnya sendirian dan suara peluitnya tidak lagi lantang. Saat siang, Tupu akan duduk di beranda rumah di samping balon merah yang ditaruh di pojok beranda sambil meniup peluit yang suaranya kian lama kian lemah. Sesekali ia akan melihat ke arah dimana ia berharap Moyo muncul.

Sejak kepergian Baba, saya sungguh berharap Haki akan muncul dan membantu mereka setidaknya memberi makan. Tapi rupanya, tanda segitiga merah di jendela rumah membuat Haki menjauhi mereka sebagai jalan aman. Kiranya tanda segitiga merah adalah berarti sebuah masalah. Ia bahkan marah saat Lacuna menghampiri Tupu dan berniat memberikan kotak musik yang kemarin-kemarin tidak diberikannya pada Tupu. 

Tampak Baba berada di dalam sel dan digiring keluar. Seorang bertopeng membawa benda serupa timbangan ke hadapan penonton dan menyusun boneka putih ukuran kecil yang pada dadanya tergambar segitiga merah. Setelah disusun berbaris ke belakang, seketika boneka-boneka putih tersebut roboh diiringi suara letusan balon merah pemberian Baba. Tupu kecil terkejut dibuatnya; musik latar yang serupa lolongan bernada sedih seolah menjadi penanda kesedihan yang tiba-tiba menyergap Tupu.

Ditengah kesedihan Tupu yang mendalam, Lacuna kembali menghampirinya dan menyerahkan kotak musik. Tupu menolak, ia sudah tidak butuh apa-apa lagi. Lacuna tak peduli, ia meninggalkannya begitu saja. Tupu tak memedulikan kotak musik, ia masih saja meniup peluit yang suaranya kian lemah dan pilu. Lalu Tupu dipeluk erat oleh yang menggerakkanya. Rumah Tupu dihancurkan sekelompok orang bertopeng.

Haki dan Lacuna keluar rumah membawa koper; mereka berniat pindah, lagi-lagi untuk alasan keamanan. Haki meminta Lacuna menunggunya sebentar, sebab ia harus kembali ke dalam untuk mengambil sesuatu. Sepeninggal Haki, Lacuna melihat rumah Tupu yang sudah berantakan, memanggil-manggil Tupu tapi tak beroleh jawaban. Ia hanya menemukan kotak musiknya di tempat ia meletakkan terakhir kali, topi Tupu yang segera diambilnya, dan peluit merah yang kemudian ia tiup dengan keras seolah berharap didengar oleh Tupu.

Sekembalinya Haki, ia hanya menemukan koper cokelatnya dan kursi roda Lacuna yang terbalik tanpa tuannya. 

***

Banyak simbol-simbol dalam kisah yang berdurasi sekira 55 menit ini; sebut saja segitiga merah, balon merah, bendera merah, peluit merah, boneka putih dengan tanda segitiga merah di dada, pasukan bertopeng, dan lain sebagainya. Meski penuh simbol dan pahit dikunyah, pementasan teater boneka yang sukses menuai standing applaus ini tetap mudah dipahami dan menggugah naluri kemanusiaan. Meskipun mungkin pemahaman tersebut hanyalah sebatas permukaan, ia mampu menggiring untuk berempati dan bahkan menguras air mata sejumlah penonton, termasuk saya. Lega rasanya saat mengetahui bahwa saya tidak sendirian menangis saat itu.

Tiket Mwathirika

P.S: 
September mendatang, papermoon puppet theatre akan tur keliling Amerika dalam rangka pementasan Mwathirika. Semoga sukses!


Wednesday, April 18, 2012

Perihal Menyimpan

Untuk satu dan lain alasan kita kadang harus "menyimpan". Tapi sampai kapan atau seberapa kuat kita harus menyimpan?

Menyimpan uang untuk membeli barang tertentu atau untuk berjaga-jaga kalau-kalau ada kebutuhan mendesak di masa datang. Menyimpan makanan di kulkas agar tetap segar. Menyimpan perhiasan hadiah seseorang sebab kita tak ingin benda kenangan tersebut rusak. Menyimpan cokelat oleh-oleh dari negeri yang jauh untuk teman-teman baik. Menyimpan buku-buku di meja untuk dibaca saat bosan atau saat merasa perlu membaca. Menyimpan rahasia untuk satu dan lain alasan, tak peduli bahwa rahasia itu telah juga menjadi rahasia umum. Atau menyimpannya sambil menunggu saat yang tepat untuk mengungkapkannya, tanpa pernah tahu kapankah saat yang paling tepat itu.

Uang yang disimpan pada akhirnya akan juga digunakan. Makanan yang disimpan di kulkas akan pula dikeluarkan untuk dimasak dan dimakan atau justru membuangnya sebab telah busuk di kulkas sebab lupa. Perhiasan yang disimpan akan juga dipakai saat  suatu hari dengan tanpa alasan kita tiba-tiba merasa harus memakainya sebab itulah gunanya dihadiahkan. Cokelat dari negeri jauh yang disimpan untuk teman--yang sejak kepergian ke negeri jauh itu telah pula menjadi jauh dalam bilangan jarak--terpaksa harus dibuang sebab sadar bahwa cokelat tersebut telanjur kadaluarsa sebelum sempat "diantarkan". Buku-buku yang disimpan dimeja, pada akhirnya akan dibaca, meski kedudukannya sekarang adalah nomor sekian, di mana aktifitas di dunia maya rupanya telah menjajah waktu yang dulunya adalah untuk membaca. Rahasia yang disimpan pada akhirnya akan juga diungkapkan saat ia sudah "matang". Meskipun kematangan tidak menjadikan keadaan lebih baik, tapi setidaknya ia menjadikan proses melepaskan jauh lebih mudah.

Mungkin tidak berlebihan jika kita menyebutkan bahwa waktu yang jadi indikator penting dalam proses menyimpan ini. Waktu yang "mematangkan" semua alasan menyimpan, hingga apa yang kita simpan tidak lagi bisa kita pertahankan. Akan datang saatnya kita harus melepaskan (tidak menyimpan lagi), mau tidak mau, direncanakan atau tidak. 

Dan saat hari itu datang, itulah saat yang tepat. 


Trivia Hari Ini

Sebenarnya tidak ada yang teramat spesial yang terjadi di hari ini. Tapi, saya ingin menuliskannya. 

Pukul 7.57 saya sudah sampai di absensi di kantor, dan ini berarti saya tiba 3 menit lebih awal dari jam kerja yang sudah ditetapkan. On time! Awal yang bagus untuk hari ini. Sudah sempat pula memesan nasi kuning untuk sarapan. 

Sebab Nitnet* tidak dibawa ngantor, saya langsung "turun gunung" dan mengedit powerpoint Fun Learning English 6 begitu selesai sarapan. Istilah "turun gunung" memang biasa kami (teman-teman editor--red.) gunakan saat harus ke lantai bawah dan mengedit di monitor komputer. Ruang editor memang terletak di lantai dua Green House--sebutan untuk gedung yang kami huni dan kami cintai ini. Suasana sudah tidak lagi sama memang. Sepi. Meski penghuninya baru saja bertambah sejak Jumat kemarin, nuansa sepi masih belum pergi.

Sebab tidak bawa Nitnet, dan memang belum mood browsing materi karakter bangsa atau video untuk powerpoint, sebagian besar kegiatan hari ini adalah copy paste icon penunjang powerpoint lengkap dengan menambahkan efek animasi dan hyperlink-nya. Mengedit sampai saatnya makan siang. Sekarang, makan tidak lagi dikantin, melainkan membawa "misting" dan makan di meja kerja. Kebiasaan ini bermula sejak bulan April ini. 

Selesai makan, salat, dan istirahat, saya kembali turun gunung dan lanjut mengedit sampai waktu Asar. Nah, setelah salat Asar, turun gunung lagi tapi sambil bawa novel Gaardner, Dunia Sophie. Lalu ngantuk menyerang. Saya putuskan untuk naik gunung. Mengobrol bersama teman-teman editor, tentang Maemunah dan Moemaneh (pelesetan berbahasa Sunda); tentang Johari dan  pelesetannya (jauh hari); tentang golodok yang saya kira adalah kerupuk, tapi kemudian sadar bahwa yang saya maksud adalah dorokdok.

Ada Ipeh yang hari ini datang ke kantor sebelum istirahat, lalu ada juga Cimot dengan penampilan barunya (berjilbab) yang datang saat sore.

Gosip kemarin masih ramai dibicarakan, tapi saya malas ikut membahas beramai-ramai. Bukan tidak peduli, hanya merasa sedikit tidak enak--entah kenapa atau kepada siapa. 

Beberapa jam menjelang jam pulang kantor, ngantuk rupanya kian gigih menyerang terlebih saat saya membaca Dunia Sophie. Lalu tiba-tiba ingin batagor sepulang kantor. Maka tepat jam 5, berangkatlah ke Buah Batu bersama Teh Nita, tapi jadinya beli bakso malang. Ngobrol sampai magrib, dan hujan tiba-tiba deras. Saat di angkot menuju ke kostan, saya melamun di angkot--bukan tentang saya--tentang orang yang menjadi objek gosip hangat kemarin dan hari ini. Kasihan. Kalaupun memang dia bersalah, tetap saja kasihan. Sesekali berdoa agar hujan reda saat saya harus turun angkot dan berjalan ke kostan. Doa saya terkabul. Ada genangan air di jalan depan gang meski hujan hanya sebentar mengguyur.

Facebooking dan menemukan jejak sinkronisasi dengan seseorang. Tapi tidak mau terlalu dipikirkan. Lalu blogwalking dan menemukan tulisan bertema sinkronisasi. Ini yang paling berkesan, dari kuwacikecil, tentang kisah nyata yang sedih, yang diangkat ke dalam sebuah teater boneka. Lalu disambung dengan cerita sinkronisasi dari salamatahari. Sepertinya saya memang gandrung dengan cerita sinkronisasi macam ini. Maklum, saya pun pernah mengalaminya--sering malah. Tapi yang paling berkesan adalah sewaktu berada di Hamburg, Jerman. Begitu luas dan banyaknya orang asing di Hamburg, siapa sangka kalau  ternyata satu-satunya sahabat baik dari seorang sahabat yang lain (yang juga ke Jerman, tapi tinggal di lain kota) adalah juga teman Ibu angkat tempat saya menumpang selama di sana. Ibu angkat memang sering bercerita tentang teman Indonesia--begitu ia menyebutnya--yang ia kenal saat menjalani studi penyetaraan yang wajib diikuti non Eropa yang ingin kuliah di Eropa. 

Suatu hari, saya bercerita pada Ibu bahwa saya mencari alamat seseorang--yang namanya kebetulan sama dengan nama teman Ibu. Entah pada poin apa, kami tiba pada dugaan bahwa orang yang saya cari adalah teman Indonesia Ibu. Ibu menyuruh saya mengirim email pada sahabatnya yang mungkin adalah sahabat baiknya teman saya, untuk klarifikasi perihal dugaan kami. Saat email dibalas, terbukti bahwa orang yang kami bincangkan di meja makan siang itu adalah memang orang yang sama. Die Welt is klein. Dunia itu kecil! 

Saat menulis ini, di luar hujan deras sekali. Pukul 21.24 tertera di pojok kanan bawah layar Nitnet.



*my netbook.

Saturday, February 25, 2012

Tentang Rasa Sebuah Buku

Boothman, penulis buku How to Make People Like You in 90 Seconds or Less, bilang bahwa sebenarnya kita tidak jatuh cinta kepada seseorang, kita jatuh cinta pada perasaan yang kita temukan saat kita bersama seseorang tersebut. Nah! 

Tulisan ini akan tidak membahas tentang perasaan antara seseorang dan seseorang yang lain. Maka ijinkan saya mengadaptasi kutipan Boothman tadi menjadi sebagai berikut: sebenarnya kita tidak jatuh cinta kepada sesuatu, kita jatuh cinta kepada perasaan yang kita temukan saat kita bersama sesuatu tersebut

Sesuatu di sini adalah sebuah buku. Sewaktu mulai sibuk skripsi, saya mulai juga sibuk mengunjungi perpustakaan kampus. Selain ke bagian skripsi, saya lumayan sering menyusuri lorong di antara rak-rak buku besi di bagian referensi. Dalam usaha pencarian tersebut, saya menemukan sebuah buku panduan menulis. Bukan, bukan menulis skripsi, melainkan buku panduan menulis cerpen. Sejak hari itu, buku ini jadi salah satu sarana pelarian dari kejenuhan mengerjakan skripsi berikut membacai referensinya.

Buku tersebut berjudul Berguru Kepada Sastrawan Dunia, versi terjemahan karya Josip Novakovic. Kebetulan saya juga aktif seminggu sekali mengikuti klab menulis, dan buku ini jelas punya pengaruh besar dalam usaha saya menulis cerpen tentu saja; (lagi-lagi) bukan skripsi. Sampai saya lulus, saya terus memperpanjang durasi pinjam buku tersebut setiap dua minggu sekali selama kurang lebih setahun. Karena perpus hanya memberikan jatah 3 buku sekali pinjam, maka saya hanya bisa pinjam buku referensi skripsi sebanyak dua saja. Kalau pun ada 3 buku referensi yang menarik, saya tidak akan mengorbankan buku Novakovic tersebut. Ia menjadi semacam bacaan wajib bagi saya. 

Saat mulai membaca buku tersebut, bahkan baru membaca pengantarnya saja--yang ditulis oleh Hilman "Lupus" dan saya lupa yang satu lagi siapa--saya sudah jatuh cinta. Begitu membaca lebih jauh, buku ini begitu menginspirasi saya dalam menulis cerpen. Novakovic banyak mengutip potongan tulisan dari sastrawan-sastrawan besar di dunia untuk mendukung teori yang sedang ia paparkan. Selain itu, di setiap akhir bab, ada sejumlah latihan yang bisa mengasah keterampilan atau pemahaman atas materi setiap bab, misal tentang setting, plot, karakter, atau pembuka dan penutup sebuah cerpen. Latihan-latihan tersebut kebanyakan berhasil memancing dan menggerakkan saya untuk menulis bebas. Menulis sampah pun tak masalah, yang penting saya bisa menuangkan sesuatu. Maklum, dulu saya sering sekali merasa gelisah (mungkin sekarang lebih dikenal dengan istilah 'galau') jika lama tidak menghasilkan sebuah tulisan, khususnya cerpen utuh. Buku ini jelas sebuah obat mujarab untuk kegelisahan tersebut. Tulisan-tulisan saya kala itu lebih variatif dalam hal ide cerita atau tema bahkan mungkin gaya penceritaan (dibandingkan dengan tulisan-tulisan saya sebelumnya, jangan dibandingkan dengan tulisan penulis handal), dan saya menjadi lebih produktif dalam menulis cerpen.

Menjelang kelulusan, mau tak mau, saya harus mengembalikan buku tersebut. Sebab sudah telanjur sayang, saya lalu memutuskan untuk membelinya. Saya menanyakan buku tersebut setiap kali ke toko buku--baik toko buku besar atau kecil--di Bandung dan di Jakarta. Saya sudah bekerja di Jakarta waktu itu, tapi masih bolak-balik Bandung tiap weekend dengan alasan utama menghadiri klab nulis. Sayangnya buku ini buku langka, mungkin tidak dicetak lagi. Menurut saya ini aneh; buku sebagus ini kok tidak dicetak ulang? Akhirnya, untuk mengatasi kekecewaan, saya membeli buku-buku panduan menulis lain. Tapi, tidak ada yang bisa menandingi buku Novakovic ini: lengkap, kaya, menginspirasi, dan jelas 'memikat hati' saya.  Membaca buku lain yang sejenis menjadi pengalaman biasa-biasa saja, membuat saya merasa bahwa buku lain tersebut bukan apa-apa.

the book I'm talking about
Kenangan atas kesan yang saya rasakan saat membaca buku tersebut dan rasa penasaran untuk memilikinya tak juga hilang bahkan setelah bertahun-tahun. Maka sewaktu saya tinggal di Hamburg-Jerman, saya memesan buku tersebut secara khusus di Thalia Buchandlung (Toko Buku Thalia). Buku yang saya pesan tentu saja yang berbahasa Inggris--bahasa aslinya--dengan judul asli Fiction Writer's Workshop: The Key Elements of A Writing Workshop. Buku ini bisa dibilang buku termahal yang pernah saya beli. Saya senang sekali saat menjemput buku ini pada tanggal 4 Maret 2010 di Thalia. Saya sudah tidak sabar ingin merasakan lagi pengalaman dan perasaan termotivasi serta terinspirasi seperti yang saya rasakan saat membaca versi Bahasa Indonesianya, Berguru Kepada Sastrawan Dunia. Tapi, apa yang terjadi kemudian saudara-saudara? Ayo tebak. Ayo coba tebak. Pasti kalian tidak bisa menebaknya. 

Saya mengantuk membaca versi aslinya ini. Boro-boro tersinspirasi!

Mereka memang buku yang sama, hanya dalam bahasa yang berbeda. Tapi kita tahu pasti, rasa setiap bahasa jelas berbeda-beda. Saya tidak akan menuliskan alasan-alasan atau kemungkinan-kemungkinan lain yang mungkin menyebabkan antiklimaks tersebut di atas. Saya hanya akan menutup tulisan ini dengan mengulang kutipan pembukanya: sebenarnya kita tidak jatuh cinta kepada sesuatu, kita jatuh cinta kepada perasaan yang kita temukan saat kita bersama sesuatu tersebut

Friday, February 17, 2012

Jumat Hijau

Selamat pagi, Jumat yang hijau. Kenapa hijau? Karena kostum hari ini adalah batik hijau yang dipadu cardigan warna hijau apel yang terang. Terdengar tidak penting ya? Jumat yang hijau sebab suasana hati bisa mekar meski  awalnya terasa suram. Interaksi menyenangkan dengan orang lain dan keinginan untuk bebas dari yang tidak hijau tentu berpengaruh besar atas proses mekar tersebut.

Happiness is a choice. Mereka memang hanya kata-kata. Tapi kadang mereka tidak sesederhana itu. Mereka bisa menjadi mantra, bisa juga menjadi bumerang. Bagaimanapun, usaha menyugesti diri dengan kata-kata positif adalah jauh lebih baik dari pada membiarkan diri tenggelam pada suatu keadaan yang tidak hijau. Kalau pun gagal, paling tidak kita tahu kita telah mencoba.

Selamat hari Jumat yang hijau. Semoga selalu hijau dan cerah mekar.




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...