Showing posts with label Lembar Fiksi. Show all posts
Showing posts with label Lembar Fiksi. Show all posts

Tuesday, July 09, 2013

Lelaki Laut dan Sepasang Sayap di Dinding

“Bapak… Bapak…,” terdengar suara anak lelaki berumur 6 tahun memanggil seorang lelaki berbahu tegap. Anak lelaki dengan mata berbinar--bulat dan besar. Mata anak cerdas, begitu sang Bapak kerap membanggakan anaknya. 

Sang Bapak saat itu tengah mengecat pagar bambu yang membatas rumah mereka. Di sela kesibukannya, ia menengok ke arah sumber suara.

“Lihat lukisan tanganku, Pak. Bu guru yang mengajarkan,” lanjut si anak yang sebelumnya meminta jatah cat dari ayahnya.

“Bagus.”

“Benar, Pak?”

Lelaki berkulit gelap itu pun mengangguk.

Anak lelaki yang masih duduk di bangku TK itu pun melonjak senang. “Raka mau bikin lukisan sayap dengan telapak tangan,“ lanjutnya kemudian.

Sang Bapak berhenti mengecat dan mendekati putranya. “Sayap?“

“Iya. Yang besar.“

“Kenapa sayap?“

“Biar Raka bisa terbang ke langit—ke tempat ibu...,“ jawabnya lugas. “Kata Bu Guru, ibu Raka sudah duluan ke langit. Benar, Pak?“

Lelaki yang dipanggil Bapak itu terdiam. Ia berjongkok, mengusap kepala anaknya dan memandanginya lekat: “Raka sungguh kangen ibu?“

Raka kecil yang baru kehilangan ibunya setahun yang lalu itu pun mengangguk cepat.

“Kalau Raka ke langit, Bapak di sini sama siapa?“

Raka terdiam, sempat bingung menjawab. Tapi kemudian ia menjawab: “Bapak bikin sayap juga, kita terbang ke sana sama-sama.“

***

Orang bilang waktu akan mampu mengobati banyak hal: kesedihan, sakit hati, kenangan pahit, kerinduan, trauma, luka dan sebagainya. Namun bagi lelaki ini—Lelaki Laut aku menyebutnya—ungkapan tersebut seolah tak berlaku.

Aku tak begitu mengenalnya. Aku hanya mendengar kisah tentangnya dari orang-orang yang kebetulan mampir ke warung ini—warung tepi pantai. Dan belakangan aku sering memperhatikannya saat ia berdiri di tepi pantai. Hampir tiap hari ia ke pantai—hampir setiap sore sepulang ia bekerja sebagai penjual koran dan majalah di sebuah kios kecil di sudut pasar. Dia akan berdiri di tempat yang sama dengan gaya yang sama; berdiri menghadap laut lalu hening dalam diam. Pandangannya seolah tak berkedip, menerawang jauh ke tengah lautan, seolah takut akan ada yang terlewat dari matanya. Ia akan berdiri seperti itu hingga Matahari terbenam, dan lalu kembali pulang.

Kabarnya, hari ini tepat 5 tahun ia menunggu tanpa putus asa. Memang kadang ia mengeluh pada Tuhan dalam doa-doa yang tak putus ia panjatkan. Tak jarang, emosinya berganti-ganti antara pasrah dan marah entah pada siapa. Tapi tetap saja itu tak mengurangi apa yang ingin ia percayai. Bahwa apa yang ia tunggu adalah suatu yang pantas ditunggu. Bahwa kerinduannya selama bertahun-tahun akan diganjar pertemuan yang membahagiakan.

Betapa keinginan itu dan rasa bersalah kerap mengusik tidurnya yang nyaris tak lagi pernah lelap. Tidur nyenyak tampaknya adalah kemewahan yang tak bisa ditebus oleh apapun kecuali dengan terjawabnya sebuah penantian panjang.





Selama itu pula, hampir setiap pagi sebelum ia pergi ke pasar, ia selalu menyempatkan diri meninggalkan jejak telapak tangannya pada sebuah dinding pembatas gang sempit, tepat di depan rumahnya. Ia hampir selalu punya stok cat putih demi ritual yang tak bisa ia tinggalkan sejak hari itu.

Ia sudah tidak bisa menghitung berapa banyak jumlah telapak tangannya yang terpampang pada dinding. Yang ia tahu, jumlahnya sudah melebihi seribu telapak tangan. Angka yang seharusnya sudah bisa mengabulkan sebuah permintaan sungguh-sungguh. Ia kerap mengasosiakan dan berharap seribu telapak tangan yang membentuk sayap ini akan sama magisnya dengan daya seribu burung kertas yang dipercaya orang Jepang bisa mengabulkan permintaan. Ia pernah membaca tentang seribu burung kertas ini pada sebuah majalah selagi ia menunggui kiosnya.

Perihal sayap raksasa di dinding kumal ini, beberapa orang jatuh kasihan padanya karena menganggapnya tidak bisa melepaskan diri dari kesedihan. Beberapa lagi menganggapnya konyol dan tak masuk akal atau tidak punya kerjaan. Sebagian yang lain menghargai ribuan telapak tangan itu sebagai sebuah karya seni yang bisa sedikit mempercantik gang kumuh yang menjadi lingkungan tinggal mereka.

Lima tahun yang lalu, jika kalian sempat melewati gang kumal ini, kalian hanya akan melihat dua telapak tangan kecil mungil saja. Telapak tangan milik Raka—anak lelaki satu-satunya si Lelaki Laut. Anak baik yang kini entah ada di mana.

Hingga hari ini Lelaki Laut percaya, laut tidak menelan anaknya melainkan mengantarnya ke suatu tempat. Entah di mana. Apakah di Bumi atau di langit—ia ingin lebih percaya yang pertama.

Banyak orang bilang ia terlalu tenggelam dalam perasaan bersalah dan tak bisa menerima kenyataan. Ia tak peduli. Termasuk saat orang-orang mencibirnya sebab memutuskan untuk berhenti melaut, ia tak ambil pusing. Keputusannya berhenti melaut sudah tak terbantahkan.

Raka sering merengek saat sang ayah hendak melaut dan mencari ikan. Anak yang biasanya terkenal manis itu  mendadak cengeng--seolah takut ayahnya tak akan kembali pulang. Sewaktu ibunya masih hidup, Raka tidak pernah merengek seperti itu. Ibunya selalu punya cara mengalihkan perhatian Raka. 

Hingga suatu hari, melihat rengekan Raka yang tak henti, Lelaki Laut memutuskan mengajak putranya untuk ikut melaut. Sekalian ia ingin menunjukkan bahwa laut tidaklah semenakutkan yang putranya pikir. 

Suatu Minggu pagi yang cerah, laut nampak begitu bersahabat. Lelaki Laut ditemani putranya mulai berlayar dan mengayuh perahu. Suara burung camar seolah mengantar mereka--membuat Raka yang tampak tegang sedikit lebih rileks memperhatikan kepakan burung laut itu. "Nanti kalau sayap Raka sudah jadi, Raka bisa terbang seperti burung itu ya, Pak," ujarnya yang hanya disambut senyum oleh sang Bapak. 

Alangkah sial, dalam hitungan satu jam, cuaca yang awalnya tampak bersahabat mendadak tak ramah. Badai datang tiba-tiba mengombang-ambingkan perahu kecil yang mereka tumpangi. Langit menangis diselingi suara petir. Raka ikut menangis. Lelaki Laut memeluk putranya sambil kebingungan antara memikirkan keselamatan anaknya dan menguras air laut yang menderasi perahu yang dipermainkan badai. Hingga akhirnya, setelah beberapa saat terombang-ambing, perahu tersebut terbentur karang. Perahu mereka pecah.

Meski panik, Lelaki Laut berusaha tetap tenang demi anaknya. Ia memeluk Raka dan menjaga agar kepala Raka tetap di atas permukaan laut. Susah payah, ia berhasil menjangkau bilah kayu dari perahunya yang pecah. Ia berpesan pada Raka untuk tidak melepaskan pegangan pada bilah tersebut sebelum ia menjangkau bilah lain untuk dirinya sendiri.

Raka kecil sudah tidak menangis kala itu. Ketenangan entah karena apa atau mungkin justru ketakutan luar biasa membungkam tangisnya. Sesekali ia terbatuk sebab air laut tertelan olehnya.

“Tetap pegangan. Jangan menangis. Anak Bapak tidak boleh cengeng. Kita akan baik-baik saja. Kita akan pulang,” ujar Lelaki Laut setengah berteriak ditengah perjuangannya untuk menjangkau bilah kayu Raka yang kian menjauh terseret gelombang.

Selesai berkata demikian, gelombang besar datang menghempas. Mereka pun terpisah hingga sekarang.

***

Pagi-pagi sekali, Lelaki Laut memandangi sayap besar di hadapannya. Masih jelas terngiang percakapan terakhirnya dengan Raka tentang sayap besar yang akan mengantarnya menuju langit. Tiba-tiba, untuk pertama kalinya dalam 5 tahun penantian, terlintas dalam pikirannya: jika seandainya Raka sudah terbang ke tempat ibunya, mengapa sayap ini belum juga membawanya....




#ditulis pada sesi menulis RLWC, 10 September 2010; interpretasi dari sebuah foto.

Saturday, July 02, 2011

My Phobia and You

Yes we know exactly that I'm phobia of heights. Acrophobia, they call it. So, it's not a secret that I will avoid doing anything which will trigger my phobia. I hate balcony. I avoid looking through the window glass from a room in a second floor, not to mention in a 13th floor and so on. There's no strange that I hate apartment. I prefer spending more hours trip by bus to travelling by airplane. That's why I've never gone that far, unlike you, the most adventurous man and passionate backpacker I've ever known. Maybe, this is one reason of why I fall in love with you. People say we tend to fall in love with ourselves that we see in others, but apart from that we tend also to fall in love with someone who will complete us as persons.

I don't know where you are right now. The last postcard I received from you telling me that you are somewhere in Asia. You said you fall in love to the beautiful scenery around you, the fresh air, the singing of birds you hear every morning, the tropical atmosphere, the local ladies, etc. You even wished that you could live there with me for the rest of your life. You also said that you can't wait to do climbing in the near mountain the next day. You showed me the track you will pass to that mountain; it is in the postcard picture. This bridge--I even couldn't believe people call this frail piece of wood and rope as a bridge--will lead your way to the mountain and find the climbing spot.




The last line you wrote was a joke saying that next time I should pass this frail bridge to get me you. Smile emoticon. Full stop. Your name.

It has been two months since I received your postcard. You've never made me this long waiting and wondering your story of where you are now, what you feel, where your next heading or plan, the local food and girls, what you do to get some money, how you get lost and find new adventure, how was the rock climbing, etc.

This postcard is the most read since one month ago, although I suffer from a headache and I always tremble every time I see the picture. And those symptoms are getting worse when I read your last line words.

***

I don't know what happen to me this morning. When I stared at the bridge, I felt like I will be able to pass this bridge for you. I felt no more headache, trembling or nausea. Yes, for the first time in my life: I want to pass this bridge, a frail bridge. This thought made my blood rushed faster. I will be able to go by plane. Maybe I need to meet psychiatrist first, but it's not a big problem. I've never this brave; I will try my best to pass it, if this bridge really could get me to you.

But, how could I know that you are there waiting?




*Note:
This post is written for the Writing Exercise by Creative Writing Ink.

Wednesday, June 29, 2011

The Vacation of Two Angels




Black Angel    :      Do you think somebody will notice that we're angels in disguised?
White Angel   :      We're too old for angels. 
Black Angel    :      Ha..ha...ha...
White Angel   :      Just don't let somebody see our faces.
Black Angel    :      Okay, White. I will listen to your words today. I won't let them.
White Angel  :      But actually, I'm wondering if this is weird to have an umbrella in this beautiful twilight. I'm afraid this umbrella will attract somebody's attention
Black Angel  :    That's okay. People can stand weird strangers more than beautiful angels. It's more dangerous to stand here without umbrellas. They will notice our strangely beautiful and magical faces trapped in old-ladies' bodies.
White Angel   :       Ha...ha... You need to train your magic, so next time, we won't look this weird.
Black Angel     :      Alright. If there's next time. We will be young and beautiful ladies by the seashore.
White Angel   :       Great. I've never known that you can be a good company.
Black Angel     :      Hey, what does it mean, then?!
White Angel  :     You know what, I do enjoy this one-day vacation. Though, still, it's just ironic to spend holiday with an eternal enemy. But I have to admit that I enjoy your company. You can be such nice angel. I hope it will last longer.
Black Angel   :      What will last longer; this holiday or my good behavior? I don't want to think that this holiday has made you forget that we're born as an enemy. You are the good and I'm the evil. It's violation to destiny to change that fact. 
White Angel  :       Don't start an argument, please. Can we just be friend for one day? It's a blessing that God let us to have a little rest. Why don't we enjoy it?
Black Angel    :       Okay, sorry. Hmmm... it's unbelievable I say sorry.
White Angel   :       Black...
Black Angel    :       Okay, White. Okay, as you wish. 

(Silent)

Black Angel    :      Look! The sky is getting redder now. Beautiful, right?
White Angel   :      Yeah, so beautiful. I can't wait to see the sun sets in the vast ocean.
Black Angel    :      Me, too. Well, if I may say the truth, I will never forget today's sunset ever! 
White Angel   :      So do I. It's the best and most beautiful sunset I've ever seen.
Black Angel    :      Don't say that it is because of my company. Huh?
White Angel   :      Ha...ha... I have to say--well, yes... It's one of the reasons.
Black Angel    :      Oh no, I don't like this kind of scene.
White Angel   :      Oh come on, Black... 
Black Angel    :      Yeah, whatever...
White Angel  :       Black, I know it maybe sounds weird to you...; If in the next coming days we're involved in hard battles, can we remind each other about today? So... umm...--I mean...--we shouldn't that hard fighting.
Black Angel    :      What?! What an idea! Do you think I'm stupid? You're trying to make me giving up easier! Unbelievable!
White Angel   :       Black, please... I never think that way. I just hope that you don't that hard on human... on  yourself…
Black Angel    :       So you could win more battles...
White Angel   :       Black! Oh okay, it's my fault! It's so stupid to expect the good Black in an extraordinary day like today, let alone in normal days.

In the meantime, the big red sun slipped into the ocean.

Black Angel    :      Beautiful, huh?
White Angel   :      Yeah... I feel so happy and sad at once seeing this sunset...
Black Angel    :      Well, I feel the same. 
White Angel   :      ...
Black Angel    :      Why starring at me that way? I'm a born evil, White. We have to remember this.





Note:
This post is written for Writing Exercises by Creative Writing Ink.

Friday, June 24, 2011

Kamu

Kamu tahu tidak: kamu adalah termasuk orang yang sangat mudah dibaca. Mudah ditebak, mudah dimanipulasi.
Dan tak kusangka, belakangan aku sadar kamu adalah juga orang yang paling pintar menipu diri sendiri, membohongi orang lain, untuk alasan yang hanya kamu sendiri yang tahu...

Kita: di Simpang Jalan

Mereka mungkin ada benarnya, ada juga salahnya.
Kita juga ada benarnya, pun salahnya.
Dalam beberapa hal tentu saja.

***

Masalah seperti ini memang rumit sekali. Tak bisa dipecahkan dengan menggunakan rumus apapun--sehebat apapun. Tak bisa dengan mudah diselesaikan hanya dengan menerapkan logika berpikir tertentu atau dengan menerapkan ajaran agama saja.

Sebagian besar orang akan bilang bahwa agama lah yang seharusnya jadi patokan, jadi solusi! Tapi mereka lupa selain hidup sebagai makhluk beragama, kita juga adalah makhluk yang perasa.

Dan di sinilah kita hari ini. Sejak awal kita sudah tahu kita akan sampai di sini--di persimpangan ini. Sesampainya di sini, hanya ada dua kemungkinan di depan sana: kita akan tetap (memaksakan diri) bersama atau (terpaksa) berpisah di sini saja.
Kedua pilihan tersebut sama berat resiko dan konsekuensinya. Kita sangat tahu ini sejak awal, tapi tak bisa berbuat apa-apa.

Kamu tahu pasti kan orang tuaku berpikiran terbuka. Mereka tidak akan memandangmu sebelah mata lalu menentang kita hanya karena kamu belum tetap bekerja, misalnya. Atau karena pendidikanmu tidak setara denganku, atau karena kamu kurang tampan, kamu bukan cendekiawan, apalagi karena misalnya kamu  keturunan suku lain. Mereka sungguh tidak akan terlalu mempermasalahkan hal-hal tersebut di atas. Kalaupun mereka mempermasalahkannya, toh kamu sudah lolos kualifikasi itu. Kamu berpendidikan, mapan, tampan, dsb.

Tapi sayang seribu sayang, sejak awal kamu sudah gagal  memenuhi kualifikasi yang paling prinsipil bagi mereka, bagi sebagian besar keluarga besarku (termasuk bagiku sendiri), dan yang utama bagi agama yang kami percaya: kamu beda agama!

Aku dan kamu beda agama!

***
__________________________________________________________________________________

*NOTE:
Ditulis di akhir April 2011. Saya lupa apa yang jadi inspirasi tulisan ini. Saya hanya sangat ingat bahwa sesuatu entah itu kejadian atau isu atau yang lainnya yang membuat saya tergerak menuliskannya.
Saya juga tidak tahu apa yang membuat saya tidak langsung mempostingnya di blog ini.

Malam ini, saat saya membacai tulisan lama di buku free-writing saya yang berwarna matahari bergambar dua pinguin biru dan dua ikan, saya pikir tulisan pendek ini layak dipublikasikan di blog... Dan ingat, ini hanya fiksi ya! :)

Friday, April 01, 2011

Gadis Kecil dan Cahaya

Pada suatu pagi yang tak terik tak juga mendung, ada gadis kecil yang datang ke sebuah toko serba ada. "Aku ingin beli cahaya," ujarnya tegas pada penjaga toko. "Untuk kedua mataku," lanjutnya seolah mengerti kebingungan yang terpancar di mata penjaga toko.

"Tapi, matamu baik-baik saja, bukan?" tanya penjaga toko sambil memandangi gadis kecil, lalu membenarkan letak kacamatanya. "Matamu begini indah: bulat dan besar."

"Terimakasih, Bapak. Tapi, tidakkah kau lihat, tak ada cahaya di sana?"

"Siapa yang bilang begitu?"

"Aku sangat tahu hal ini. Aku menyadarinya sendiri--baru-baru ini--saat melihat foto-fotoku sendiri."

"Kita kadang bisa salah menilai diri, gadis kecil."

"Tidak, aku tahu pasti tentang hal ini. Aku bisa saja tersenyum atau tertawa, tapi mataku tidak."

"Tidak benar begitu," jawab penjaga toko, agak ragu. "Bagaimana awalnya kau bisa berpikir demikian?"

"Ah, ini susah dijelaskan. Apakah kau menjualnya, Bapak? Aku ingin membelinya."

"Sayang sekali, gadis kecil. Aku tidak menjual cahaya untuk mata. Toko-toko lain pun tidak.

Gadis kecil terdiam. Ia memandang kosong pada bayangannya sendiri di kacamata penjaga toko.

"Aku tak bermaksud membuatmu sedih. Tapi memang tak ada yang menjual cahaya mata."

"Lalu bagaimana caranya memiliki cahaya pada mata?"

Penjaga toko memandang iba gadis kecil, dan berkata: "Mungkin kau harus mencari dan mengusahakannya sendiri, dan bukan membelinya."

"Ke mana harus mencarinya?"

"Entahlah. Aku harap kau akan segera tahu dengan sendirinya. Mungkin cahaya itu akan kau temukan di suatu tempat, sebuah benda, atau juga pada seseorang."

"Lalu menurutmu, Bapak, jika cahaya mataku sudah kutemukan pada sebuah tempat atau benda atau pada seseorang; akankah mataku tetap bercahaya meski tempat atau benda atau seseorang itu menjadi tiada di kemudian hari?"

Penjaga toko terkejut mendengar pertanyaan ini. Ia hanya berkedip cepat. Matanya dan mata gadis kecil kini saling lekat menatap. Penjaga toko menggeleng pelan dan dengan menyesal ia berkata, "Ah, aku tak terlalu paham hal-hal seperti ini, gadis kecil... Maaf."


*foto dipinjam dari sini nih.

Note: ditulis di sesi 10 minutes free-writing hari ini.

Monday, March 21, 2011

Dilema


Bahkan segelas susu cokelat hangat tak mampu membantu menawar perih. Jangan harap selimut mampu melakukannya. Siapa sangka akan begini jadinya. Dilema.

Menyakitimu, sekarang ini, sama halnya dengan menyakiti diri sendiri.

Jangan lagi begini. Aku janji tak lagi menguji hatimu. Tak peduli kau mungkin masih akan terus menguji hatiku. Tolong, jangan pernah berubah. Setelah hari kemarin itu, hatiku masih sama.

Maaf!


*foto dipinjam dari sini.

Sunday, February 13, 2011

The Broken String

Meski sudah bertahun-tahun berlalu, aku masih sangat ingat hari itu...

Maaf, aku baru saja memutus satu senar harpa milik orang tuamu. Harpa warisan turun temurun keluargamu yang hampir semuanya pemusik. Aku sungguh tidak sengaja. Kan sudah kubilang; aku tidak berbakat dan sama sekali tidak bisa memainkan alat musik apapun, terlebih harpa. Tapi kau memaksaku untuk coba-coba. Sekarang, satu senarnya putus, lalu kita bisa apa?

Kau bilang tidak apa-apa, saat melihat ekspresi kaget pada wajahku. Tapi wajahmu demikian merah memendam marah atau ketakutan akan dimarahi, atau kombinasi keduanya. Aku tidak bisa menebaknya dengan pasti.

"Aku akan coba perbaiki, kamu tenang saja," ujarmu kemudian, membuatku lebih tenang.

"Aku akan bantu," sahutku cepat.

"Tidak perlu, tunggu saja di kursi itu."

Aku memandangimu--sedikit meragukanmu. Kau pun tampak tidak yakin dengan ucapanmu sendiri. Lalu gegas menghindari mataku dan menyibukkan diri dengan senar putus pada harpa. Untuk menghargaimu dan menjaga harga dirimu, aku diam dan menurut dan memaksakan diri untuk bersikap seolah-olah aku percaya kau bisa menanganinya.

Aku duduk dekat jendela sambil memandangimu yang hanya berdiri diam, tampak serius. Saat kau balik menatapku, aku khawatir jangan-jangan kau tahu aku meragukanmu. Maka aku cepat berbalik, memandang ke luar jendela. Melalui kaca jendela, meski samar, aku bisa melihat betapa khawatir dan serius ekspresimu saat memandangi senar yang putus. Aku semakin merasa bersalah.

Dengan sangat hati-hati aku memanggilmu. Ragu-ragu, aku bilang, "Bagaimana kalau seandainya senar yang putus dibuang saja?"

"Apa?!" nada suaramu yang tinggi membuatku kaget.

"Maaf. Ehm, maksudku... Harpa ini kan hampir tidak pernah dimainkan, kalau satu senarnya hilang mungkin tidak akan ketahuan."

"Tidak boleh begitu...," ujarmu tak sabar. "Jika senarnya diputus, bagaimana dengan mamamu nanti."

"Apa hubungannya dengan mamaku? Maksudmu ibumu mungkin? Aku tahu, ibumu pasti akan marah."

"Bukan. Ini tentang mamamu."

Aku bingung. Aku pun hanya bisa megerjap-ngerjapkan mata, menunggu penjelasan lebih lanjut.

"Kalau aku membuang senar putus ini, bisa-bisa aku tak jadi menikahimu nanti."

Aku menggaruk kepala, kian bingung, "Kamu ngomong apa sih? Memangnya siapa yang mau menikah? Anak kecil tidak boleh menikah."

"Aku bilang kan nanti, sekitar sepuluh tahun lagi."

"Lalu, apa hubungannya dengan mamaku?"

"Nenekku pernah bilang pada ibuku; saat ada benang kusut, Ibu tidak boleh memotongnya. Ibu harus mencoba meluruskan. Karena kalau tidak, Ibu akan tidak berdamai dengan mertuanya--ibu dari ayahku. Kau bayangkan apa yang akan terjadi jika kita justru dengan sengaja memutus senar ini?"

Aku hanya diam, masih bingung.

"Aku tidak mau punya masalah dengan mamamu--calon mertuaku. Makanya, senar putus ini harus disambung lagi," jelasmu.

Saat mendengar ini, aku tiba-tiba ikut merasa khawatir tak bisa menikah denganmu. "Tapi ini kan bukan benang," ujarku, berharap fakta ini bisa mengurangi resiko kegagalan menikah denganmu di masa depan.

Kau diam--berpikir, lalu bilang, "Sama saja. Kita harus membenarkan yang kusut atau putus."

***

Di tengah kebahagiaan dan kehangatan yang menjalari hati saat mendengar petikan harpa yang menggema di gedung ini, aku bersusah payah menyembunyikan senyum sebab ingat hari itu.
Mungkin kepercayaan nenekmu tentang benang kusut itu benar; kita tidak pernah menikah.

Maya Hasan baru saja menyelesaikan petikan harpanya disambut riuh tepuk tangan penonton yang memadati gedung konser mewah ini. Aku bahkan berdiri dan penuh semangat bertepuk tangan sambil menoleh ke kanan; membalas senyum suamiku yang kupaksa menemaniku menonton konser ini.


*Gambar dari sini.

P.S:
Ditulis di Reading Light Writer's Circle; Sabtu, 12 Februari 2011.
Tema: Setting di kota besar, instrumen musik memiliki peran penting dalam cerita.

Saturday, December 25, 2010

Basi

Tiba-tiba saja pikiran tentang ini merayapi dinding benak.
Kita mengenal konsep awal dan akhir. Sebab yang mengawali sesuatu akan berakibat sebuah akhir. Yang hidup pada akhirnya akan mati. Yang muda pasti akan tua. Yang tadinya suka atau cinta bisa saja berubah bosan dan berhenti samasekali mencinta.

Pada titik tersebut: hidup, muda, dan cinta menemukan ajalnya ketika sampai pada mati, tua, dan tak lagi cinta atau benci.

Tapi benarkah semua sungguhan berakhir? Sementara kita kerap mendengar bahkan mengimani konsep tentang adanya kehidupan setelah mati. Yang tua akan digantikan yang lebih muda. Bahkan, saat kita berhenti mencintai sesuatu atau seseorang, seringkali kita akan segera menemukan objek baru untuk dilimpahi cinta. Nah, jika sudah begini, bukankah yang semula adalah akhir justru menjadi titik tolak lahirnya sebuah awal yang baru? Kiranya inilah kehidupan; berkesinambungan.

Semua ada waktunya: ada tanggal terbit dan tanggal kadaluwarsa. Ada masa dimana sesuatu yang awalnya hangat akan berubah menjadi dingin bahkan basi.

Karenanya, jangan heran atas reaksiku saat mendengar kabar terbaru darimu. Rasaku padamu sudah basi sejak lama. Meskipun cukup lama waktu yang kubutuhkan berikut deretan usaha yang kuupayakan demi melupakanmu; saat rasa ini sampai pada tanggal kadaluwarsa, semua baik-baik saja.

Aku turut berbahagia saat mendengar kabar pernikahanmu. Lalu cepat lupa.
Karena kini, sudah ada dia yang memenuhi hati dan isi kepala!



*Ditulis di sesi pertemuan Reading Lights Writers' Circle. Tema: "Berakhirnya suatu masa..."

Saturday, November 20, 2010

(Ini bukan sekedar tentang) Sup

Saya menghadapi Sup Linze panas yang disuguhkan dengan bimbang. Erva, teman yang berbagi apartemen dengan saya, sengaja membuatkan sebab saya tampak mulai terjangkit tanda-tanda terkena flu: kepala pusing, hidung mampet, letih dan lesu, jantung berdebar-debar tak karuan. (Saya tidak yakin apakah tanda-tanda terakhir juga gejala flu, tapi jantung berdebar-debar tanpa alasan jelas ini sungguh membuat tak nyaman hati dan badan).

"Ayo dimakan, Sara. Selagi hangat." Sudah dua kali Erva, yang berdarah Turki-Jerman, bilang begitu sebelum akhirnya menghilang di balik pintu karena harus pergi memenuhi janji.

Sup ini biasanya selalu jadi favorit saya, tapi tidak hari ini. Saya sama sekali tidak berselera memakannya. Sup hanyalah makanan pembuka, penyulut selera sebelum sampai di menu utama,kami sering menambahkan air perasan jeruk nipis, agar sedikit asam...salah satu syarat yang harus dipenuhi makanan pembuka.

Tapi jika saya sedang tidak nafsu makan makanan utama, untuk apa memakan sup sebagai pembuka?

Tapi Erva sudah susah payah membuatkan.

Saya bisa membuangnya di wastafel, Erva tidak akan tahu. Tapi apa saya tega?

Akhirnya, saya pun memakannya pelan-pelan, paling tidak saya mencicipnya, menghargai yang sudah susah payah membuatkan.

Saya muntah, pada suapan ke tiga.

Salah siapa?




*coretan pagi...

Thursday, October 28, 2010

Tentang Keping Salju

Baiklah, mulai sekarang aku tidak akan lagi mengunjungi taman ini. Tapi bukan karena kamu melarangku. Aku berhenti datang untuk sementara saja. Sebab musim semakin dingin membungkus belahan bumi di mana kita tinggal. Sebagian besar pohon sudah kehilangan daun, angin di permulaan musim dingin sudah makin garang, dan hujan makin sering datang.

Matahari memang masih rajin bersinar, tapi sudah kehilangan hangat.

Sekali lagi kutegaskan, aku berhenti datang ke taman ini bukan karena mengindahkan laranganmu. Aku akan tetap datang saat musim kembali bersahabat.

Bahkan, jika pun salju masih tebal mengubur tanah taman ini, aku akan sesekali datang saat matahari cerah. Walau sekedar untuk melintas—mencetak jejak-jejak sepatu yang dalam. Tentu kamu masih ingat: aku paling suka mendengar suara sepatu beradu dengan salju segar yang demikian halus dan lunak. Aku masih sering berjalan sambil memandang ke belakang, memandangi cetak-cetak sepatu yang kutinggalkan. Tapi sekarang aku harus lebih berhati-hati, sebab kamu tak lagi menggandeng tanganku dan menjadi pemanduku jalanku. Bisa-bisa aku menabrak orang yang juga lalu lalang. Aku juga masih suka sesekali menyambut hujan salju, tentu saja aku akan memakai jaketku yang ber-hoody; sesuai pesanmu. Agar kepalaku tetap hangat, agar aku tidak sakit; terutama sakit kepala atau flu.

Saat hujan salju tidak terlalu lebat, aku akan selalu ingat untuk membentangkan syal sutraku yang berwarna maroon, syal yang terlalu tipis untuk menghadang angin musim dingin. Tapi kau tahu alasan utama mempertahankan kebiasaan yang satu ini: aku sengaja selalu membawanya—selain syal wool yang membebat leherku—agar bisa kubentangkan hingga aku bisa memperhatikan bentuk keping salju yang turun.

Aku memang masih selalu kebingungan atau tepatnya tidak bisa mengingat teori yang kau ceritakan: bahwa tiap keping salju yang turun di suatu daerah tertentu bisa menjadi petunjuk bagi kita untuk mengenali karakteristik daerah itu. Bahwa bentuk bintang sederhana mencirikan ini; bentuk keping yang serupa bintang dengan detail lebih kompleks mencirikan itu; bentuk seperti bunga mencirikan begini atau begitu; dan lain sebagainya. Jangankan teori tentang hubungan keping salju dan karakteristik suatu tempat, aku bahkan tidak bisa ingat ada berapa jenis keping salju berikut nama masing-masing mereka—yang bisa kau hafal dengan sempurna. Cukup bagiku untuk tahu bahwa bentuk mereka berbeda-beda, dan menyenangkan memilih yang mana yang jadi bentuk favoritku.

Take a closer look”; kalimatmu inilah yang membuatku pertama kali sadar bahwa serpih-serpih salju memiliki bentuk yang berbeda-beda. Membuatku berpikir betapa Tuhan demikian detail: Ia merasa perlu menciptakan serpihan salju dengan berbagai bentuk dan detail yang dibuat dengan sangat seksama. Dan kreasi-Nya ini bukannya tanpa tujuan dan makna.

Sesekali, aku akan juga membuat boneka salju di taman ini. Akan kubawa wortel dan kelereng dengan dua warna yang berbeda untuk mata. Aku sengaja membawa kelereng dengan warna berbeda: warna hitam dan biru, yang masing-masing mewakili warna mataku dan matamu. Lalu untuk tangannya, aku akan mencari dan menemukan ranting-ranting di taman ini. Tentu aku butuh waktu yang lebih lama dalam membuat boneka salju, sebab kau tak lagi ada membantuku. Tapi tidak masalah, setiap mengenang momen yang pernah kubagi denganmu, aku merasa cukup.

Oh ya, saat ada salju yang memberati ranting pohon yang bisa kujangkau, aku akan mengambilnya dan mencicip salju tawar yang cepat lumer di lidah. Aku tidak akan kapok meski dulu kita pernah sakit perut sebab terlalu banyak memakan salju.

Maaf jika aku tak mengindahkan pesanmu; aku akan tetap datang ke taman ini meski kau melarangku. Toh, kau pun tak pernah mengindahhkan inginku: untuk meninggalkan istrimu dan menikah denganku.

***

Take a closer look,” kembali terngiang kalimatmu. Kalimat pertama yang kudengar darimu. Yang membuatku menyadari keindahan bermacam bentuk keping salju dan sekaligus keindahan biru matamu, yang kini membawa biru di hatiku.

Take a closer look,” giliranku kini yang mengatakan ini padamu. Coba lihat, meski hatiku membiru, ia masih berfungsi dengan sangat baik. Kamu tidak sebegitunya mengenalku jika mengira ia justru akan membeku.





Bandung, 27 Oktober 2010

Wednesday, September 29, 2010

(Tak ingin jadi) Kebiasaan

Sudah kubilang berulang-ulang. Jangan lagi datang sambil membawa rerumpun bunga liar yang kau petiki sepanjang jalan.

Bukan. Bukan aku tak suka. Bukan aku tak mau. Kau tahu aku selalu menyenangi bunga.

Hanya saja, aku mengkhawatirkan musim gugur yang mulai giat merampasi daundaun dari batangnya, dan perlahan-lahan mengincar bunga-bunga liar.
Belum lagi musim dingin yang sudah mengintai. Yang akan mengubur semua yang semula hijau menjadi putih. Menjadikan semua beku. Lalu mati sebab dingin yang terlalu.

Kau sangat tahu, aku selalu kesulitan membebaskan diri dari apa-apa yang sudah jadi kebiasaan.
Kau mengerti kan maksudku?


*Kalianda, 29 Sept 2010

Thursday, August 20, 2009

Peri Tidur

Aku bertemu Peri Tidur.
Ia mengenakan gaun berwarna ungu lembut, gaun yang berkilau meski tak satu pun kulihat ada batu permata atau manik-manik yang menempel di sana. Pendek kata, ia bercahaya. Terlebih wajahnya! Semu merah muda pada pipinya menambah kesan indah pada wajahnya yang bening. Dan dua matanya terang, berkilat, dan hitam pekat.

Aku mendengarnya bersenandung. Saat itulah aku menyadari kehadirannya. Senandung yang membuat mengantuk, membuai...

"Kenapa kau tak tidur?" tanyanya pelan dan terdengar sedih. Aku berniat menoleh ke kiri dan kanan untuk memastikan apakah ia bertanya padaku, tapi aku urungkan. Rasanya bodoh sekali melakukan hal itu padahal aku tahu pasti tak ada orang lain di tempat ini.

"Kenapa kau tak mau tidur?" ulangnya. Ia memiringkan kepalanya saat bertanya demikian. Tangan kirinya memegang pinggiran bangku kayu lapuk yang ia duduki, sementara tangan kanannya ia simpan di pangkuan. Kakinya diayun-ayunkan pelan... Sungguh menggemaskan. Aku tidak bisa menimbang-nimbang apa yang menjadikannya demikian memikat. Entah apakah karena gaunnya, gerak-geriknya, suaranya, wajahnya yang bercahaya, ayunan kakinya, atau mungkin karena kayu lapuk yang didudukinya dan sekitar yang gelap gulita hingga di tengah suasana ini, ia berjaya, bercahaya—kontras!

"Kau tahu tidak, aku sudah lelah bersenandung untukmu!" lanjutnya.

"Untukku?" Kata ini meluncur begitu saja, karenanya aku agak terkejut mendengar suaraku sendiri.

"Ya, untukmu. Karena kau tidak tidur. Kenapa menolak untuk tidur?" tanyanya lagi. Kali ini ia menegakkan kepalanya juga tubuhnya. Kedua tangannya saling menggenggam di pangkuan.

"Tak bisa tidur."

"Kenapa?"

"Bukan urusanmu." Peri Tidur tampak terkejut, dan aku merasa bersalah berbicara seperti itu pada makhluk seindah dia.

"Sungguh, aku tidak bisa tidur," sambungku lebih ramah.

"Tapi kenapa, pasti ada sebabnya?" tanyanya lagi sambil menggeser posisi duduknya, seolah mengisyaratkan padaku untuk duduk di dekatnya.

Aku pun mendekat, dan terasa ada waktu yang hilang saat aku sadar aku sudah duduk di sampingnya. Aku mencium wangi bunga atau daun atau perpaduan keduanya. Mungkin juga dicampur sedikit buah karena wanginya segar dan sedikit asam seperti citrus. Kiraku, wangi itu berasal dari rambutnya yang tergerai atau dari tubuhnya atau perpaduan keduanya. Entahlah. Ia memandangiku, menunggu jawaban.

"Aku tak tahu kenapa tak bisa tidur," ujarku putus asa. Aku memang tak tahu kenapa tubuhku menolak untuk tidur. Aku bahkan tak butuh kopi untuk bisa bertahan sampai pagi.

"Bukan tak tahu. Kau mencoba melupakan dan memilih tak tahu apa-apa."

"Mungkin...," jawabku sedikit tersinggung. Meski ia cantik, ia tak berhak menghakimiku.

"Maukah menemaniku sebentar?" tanyanya pelan. Suaranya lembut. Aku memandangnya—ragu. "Aku tak punya teman. Aku selalu terjaga di saat kalian tidur. Dan aku harus tidur saat kalian terjaga, agar aku tetap terjaga saat kalian tidur keesokan malam...," lanjutnya, terdengar seperti merajuk.

"Kau tidak menyukainya?" tanyaku heran.

"Apa?" Ia balik bertanya dan menatapku. Matanya memantulkan bayanganku.

"Menjadi Peri Tidur. Kau tidak suka?"

Peri Tidur lama memandangiku. Kemudian ia tertawa singkat, mengalihkan pandangan ke jauh langit yang penuh bintang, menyilangkan kakinya dan mengayunkannya pelan. "Aku tidak boleh bilang tidak suka, sama seperti aku tidak bisa bilang bahwa aku selalu suka menjadi Peri Tidur." Ia menoleh sambil tersenyum padaku.

Mataku berkedip cepat, karena tak mengerti dan sekaligus berusaha menghindari matanya.

"Ada banyak hal yang membuatku suka menjadi Peri Tidur, tapi ada juga yang membuatku tidak suka." 

"Maksudnya?" Aku berharap ia menjelaskan padaku hal-hal tersebut.

"Jangan memintaku merinci apa yang aku sukai dan apa yang ku benci dengan menjadi seorang Peri Tidur. Seringkali, apa yang kusukai hari ini bisa saja mengesalkanku keesokan hari, begitu pun sebaliknya," jawab Peri Tidur sambil memandang jauh ke depan. "Aku hanya harus menerima saat perasaan suka atau tidak suka datang, atau aku menyangkalnya." Lagi-lagi ia melirik mencari mataku dan tersenyum manja.

Aku lagi-lagi terkejut, ada perasaan aneh menjalari dada, entah karena mendengar kalimat terakhirnya atau karena matanya tiba-tiba menemukan mataku.

"Aku bisa apa lagi, coba? Aku tidak bisa menolak takdirku sebagai Peri Tidur." lanjutnya membela diri.

Aku hanya bisa mengangguk, menunduk. Tak tahu harus bicara apa.

"Seperti sekarang, misalnya...," Peri Tidur belum selesai rupanya. Dan ini membuatku senang karena berarti aku tak perlu mengatakan sesuatu. Aku meliriknya tanpa mencoba melihat matanya.

"Biasanya aku selalu kesal melihatmu tak juga tidur, sementara aku sudah kehabisan lagu. Aku merasa gagal. Aku tidak suka. Tapi malam ini, aku senang bisa bicara denganmu... Aku belajar menerima kamu yang tidak bisa tidur. Ini tidak mudah, tapi aku lega jadinya."

"Aku tidak mengerti...," ujarku.

"Ini melanggar peraturan. Tapi untuk malam ini, kupikir tidak masalah sesekali melanggar peraturan...," lanjut peri tidur tanpa peduli pada perkataanku. Ia mendongak ke langit. Tersenyum lebar dan lepas tanpa beban. Ia gerakkan tubuhnya ke kiri dan kanan.

Aku pun tersenyum, seolah tertular kebahagian yang tengah ia rasakan.

"Mulai hari ini, apakah kau memilih tidur atau tidak tidur, aku akan merasa suka dan tidak suka sekaligus," lanjutnya lagi sambil tetap memandang langit. "Mungkin akan lebih sulit untuk menerima kedua perasaan ini secara bersamaan, tapi tak masalah. Aku memilihnya, dan akan terbiasa."

Aku masih juga tak bisa mengerti apa yang ia bicarakan.

"Aku harus pergi sekarang," ujarnya tiba-tiba. Ia melambaikan tangan di depan mataku, tersenyum, dan pergi begitu saja.

Aku tidak sempat mengatakan sesuatu, dan menyesal karenanya. Aku mengulang-ulang apa yang dikatakan Peri Tidur tadi, mencoba memahaminya. Tiba-tiba, walaupun aku masih tidak sepenuhnya mengerti maksud Peri Tidur—untuk pertama kalinya setelah setahun terakhir—aku ingin tidur dan berhenti menjadi insomniac! Aku ingin belajar menerima mimpi-mimpi yang datang berulang. Mimpi tentang kecelakaan malam itu, tentang darah Katharina di tanganku, tentang Katharina yang meninggal di depan mata, sementara aku hanya menderita luka ringan di bagian kepala.

Saturday, August 15, 2009

Cecila : Pada Suatu Senja

"Teman-teman, sebenarnya pikiran tentang ini sudah berbulan-bulan bersarang di kepalaku. Dan aku sudah tak tahan lagi menyimpannya," ujar Cecila Trefn sedih. "Hey kenapa tiba-tiba bicara seperti itu, Cecila? Ada masalah apa, kita sudah seperti saudara, jangan sungkan," ujar Mami Gocc sambil melirik Cecila Trefn yang duduk lebih tinggi di atasnya. "Apa kalian tidak merasa kalau kita demikian menyedihkan?" lanjut Cecila Trefn sambil memandangi langit di kejauhan yang mulai menguning. "Maksudmu bagaimana, Cecila?" kini giliran Wise de Spratner bersuara. "Aku jadi bingung memulainya. Aku merasa tidak berguna, tapi kenapa aku masih harus ada di sini. Seharusnya aku dibuang saja. Kadang malu rasanya dipajang terus seperti ini, padahal aku sudah rusak!" "Kita sama-sama rusak, Cecila," sambung Mami Gocc. "Justru karena rusak kita ada di sini. Kalau tidak rusak kita tentu ada di rumah yang hangat," sambung Wise de Spratner. "Paling tidak, di sini, kita tidak tercampur dengan sampah lain dan berbau busuk," sambungnya. "Selokan di bawah sana juga sama busuknya," rutuk Cecila Trefn. Mami Gocc dan Wise de Spratner serentak melongok ke bawah memandangi selokan hitam pekat yang menggenang. "Kau benar di sini memang busuk," Mami Gocc berkesah. "Dan makin hari kita makin lapuk, hancur dimakan cuaca!" tambah Cecila Trefn. "Dan papan di atas ini, sungguh menggangguku!" Mami Gocc dan Wise de Spratner yang masih memandangi selokan, langsung mengalihkan pandangan ke arah papan yang dimaksud Cecila Trefn. "Papan itu tidak mengenaimu, kan? Kau enak di atas sana, tempatmu lapang. Kau tak lihat ruang gerakku begini sempit. Aku terjepit di antara Wise dan tembok papan ini, hingga posisi badanku harus selalu miring agar lebih leluasa," Mami Gocc mengeluh. "Dan...ya...dipikir-pikir menyedihkan harus terus terjepit seperti ini," sambung Mami Gocc pelan sekali. Cecila Trefn melirik Mami Gocc, dan tidak berani berkata-kata sebab ia pun merasa kasihan melihat Mami Gocc. "Bukankah justru karena papan itu kita bermakna?" giliran Wise de Spratner bertanya pada dua sahabatnya. "Maksudmu bagaimana?" tanya Mami Gocc. "Kita dan papan itu saling melengkapi. Kita ada untuk mengukuhkan si Papan. Kita di sini membantunya agar lebih terlihat, dengan begitu akan banyak orang yang datang dan Pemilik Papan akan senang karena ia dapat pekerjaan, dan berarti dapat penghasilan." Wise de Spratner menjelaskan panjang lebar. "Kau benar, Wise," sambung Mami Gocc. "Membantu bagaimana? Kau baca baik-baik tulisan pada papan itu! Tidakkah ironis kita yang rusak ini dipajang di sini untuk mendukung si Papan? Apa kalian pikir akan ada orang yang mau memakai jasa Pemilik Papan setelah melihat keadaan kita. Pemilik Papan jelas-jelas tidak bisa memperbaiki kita, bagaimana ia bisa mempromosikan diri untuk memperbaiki yang lain?" Cecila Trefn menyangkal, suaranya meninggi. "Ah, kau juga benar. Aku sependapat denganmu, Cecila," ujar Mami Gocc. "Kita sudah tidak tertolong, Cecila," ujar Wise de Spratner sambil memandangi tubuhnya yang tinggi langsing tapi cacat—tak lengkap. Mami Gocc memandangi Wise de Spratner sedih, lalu memandangi tubuhnya sendiri, "Ya, kita memang sudah tidak tertolong, karena itu kita ditumpuk dan di sini," ujarnya pula sambil memandangi tubuhnya yang berkarat. Cecila juga ikut memandangi tubuhnya yang lapuk, berdebu, dan kehilangan baling-baling. Padahal, baling-balinglah yang membuatnya berguna—dulu. Hening. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri. Matahari di kejauhan memerah, dan bias cahayanya menodai langit sekitar. Merasa tak enak telah membuat teman-temannya bersedih, Cecila Trefn pun berujar: "Maaf, teman-teman... Aku tidak bermaksud—" "Hey...kita memang ditumpuk dan sengaja di pajang di sini... Tapi, pernah dengar tentang seni instalasi?" Wise de Spratner terdengar bersemangat. Mami Gocc langsung menyahut, "Apa itu seni instalasi? Apakah sama dengan instalasi rawat inap? Majikanku dulu pernah ke insta--" "Bukan, Mami Gocc. Aku juga tidak tahu pasti. Sewaktu aku tinggal di rumah majikanku yang seniman, aku pernah mendengar seni instalasi itu berhubungan dengan barang-barang yang ditumpuk atau disusun sedemikian rupa hingga barang-barang itu punya makna lain. Atau mewakili sesuatu yang lain, entahlah." "Lalu apa hubungannya dengan kita? Aku tidak mengerti," kembali Mami Gocc yang bertanya. "Aku juga," sambung Cecila Trefn. "Aduh bagaimana menjelaskannya, ya? Pokoknya aku pikir kita ini bisa disebut sebagai seni instalasi... Anggap saja begitu. Kita ditumpuk dan disusun di sini untuk sebuah maksud, yaitu mendukung si Papan. Agar ia lebih mudah terlihat! Kalian ingat tidak dengan Gadis Berkerudung yang sering lewat jalan ini. Hampir setahun dia lewati jalan ini, dan belakangan baru dia menyadari keberadaan kita. Bayangkan, kalau kita tak ada, ia mungkin tidak akan pernah sadar akan pentingnya si Papan, khususnya bagi Pemilik Papan. Dan kurasa bukan hanya Gadis Berkerudung yang tidak sadar dengan adanya si Papan." Mami Gocc dan Cecila Trefn saling tukang pandang, bingung. "Yaa... walaupun kita tidak layak diapresiasi, paling tidak kita bagian dari seni," lanjut Wise de Spratner sambil memandangi kedua sahabatnya, mengharap persetujuan. “Bagaimana?” sambungnya. "Ehm...kedengarannya bagus. Kita adalah bagian dari seni—seni instalasi. Bukan begitu Cecila?" Sebenarnya Cecila Trefn tidak berniat mengiyakan, tapi karena ia tak ingin merusak sore ini, ia pun berujar, "Ya...kupikir tidak ada salahnya menganggap diri bagian dari seni. Dan siapa bilang kita butuh apresiasi?! Kita bisa tetap ada, meski tanpa apresiasi." "Oh aku ingat, Gadis Berkerudung pernah memfoto kita... Apakah bisa berarti ia sedang mengapresiasi kita?" tanya Mami Gocc. "Ia mengambil foto kita sambil berkata betapa kita dan dan si Papan tampak kontradiktif," ujar Mami Gocc. "Benarkah ia pernah mengambil foto kita? Kontradiktif bagaimana?" tanya Wise de Spratner. "Dia bilang Papan ini menawarkan jasa service, tapi justru yang dipajang malah kita yang rusak. Bagaimana orang tertarik datang kemari, begitu katanya," jawab Mami Gocc. "Eh, jangan-jangan gara-gara mendengar Gadis Berkerudung itu kau jadi merasa menyedihkan Cecila?" sambung Mami Gocc. "Eh?" Cecila Trefn yang sedari tadi diam saja tampak kaget mendengar pertanyaan Mami Gocc, dan tidak menjawab apa-apa karena ia pun sibuk bertanya pada dirinya sendiri tentang hal tersebut. "Tapi, belakangan aku tidak pernah lagi melihat Gadis itu lewat jalan ini, yang sering digoda oleh pemuda-pemuda yang kerap duduk di warung sebelah itu kan?!" ujar Wise de Spratner. "Kabarnya ia sudah pindah ke luar kota." "Baguslah. Jadi Cecila tidak akan melihat dia lagi dan merasa menyedihkan karena teringat omongannya." Wise de Spratner melirik Cecila Trefn. Cecila Trefn mencoba tersenyum dan berujar, "Baiklah, kita adalah bagian dari seni!" ulang Cecila bersemangat. "Ah aku tahu alasan lain kenapa kita ada di sini," Mami Gocc menyela. "Dan kupikir kita memang harus terlihat menyedihkan. Dengan begitu, peran si Papan ini jadi lebih penting. Ia menawarkan jasa service kepada orang-orang agar barang-barang mereka yang rusak bisa diselamatkan dan bukannya jadi tidak tertolong seperti kita. Bisakah begitu, Wise?" "Aku tidak tahu kau bisa berpikir begitu, Mami Gocc. Kupikir-pikir kau ini lumayan pintar juga—kadang-kadang tapi...," Wise de Spratner menggoda Mami Gocc. "Apa kau bilang? Kadang-kadang?" Mami Gocc cemberut. "Ya... Kadang-kadang...," Wise de Spratner pun tertawa, disusul oleh tawa Cecila yang geli melihat ekspresi Mami Gocc. Mami Gocc, yang tidak bisa cemberut berlama-lama pun ikut tertawa. Di kejauhan, matahari yang merah hampir lelap di pangkuan langit. Bias cahayanya kini tidak hanya menodai langit tapi juga membekas pada wajah mereka bertiga. Notes: * Cecila Trefn anagram dari : Electric Fan * Wise de Spratner anagram dari : Water Dispenser * Mami Gocc anagram dari : Magic Com * Hahahahahahahaaaaaa... Demikian kisah tak begitu penting ini. Saya tidak bisa tidak menuliskan sesuatu tentang foto di atas! Bagaimanapun juga, Jakarta punya banyak cerita!

Monday, April 06, 2009

Keripik Setan

Entah karena apa, tiba-tiba aku teringat keripik setan saat aku mengingatmu pagi ini. Dan aku jadi membanding-bandingkan dirimu dengan keripik setan terbuas yang pernah kumakan seminggu lalu, yang membuatku sakit perut seharian.

Aku sempat menyesal telah membeli keripik tersebut; yang warna merahnya begitu menggoda, begitu hebat menerbitkan liurku. Tapi kupikir-pikir, jikapun aku tidak membelinya minggu lalu, aku pasti membelinya minggu ini, atau minggu depan, atau bulan depan. Karena aku sudah telanjur tergoda dan tergiur oleh warna merahnya, wangi pedasnya yang samar-samar menyelinap ke hidungku, dan lain sebagainya.

Yah, paling tidak aku tidak penasaran, meskipun aku harus membayar cukup mahal untuk menebus rasa penasaran itu (menahan sakit seharian penuh). Paling tidak aku pernah mencoba, meski untuk itu aku harus memupuk keberanian ekstra tinggi, karena aku tak pernah suka pedas!

 * Sabtu, 28 Feb '09. @ RL Writer's Circle. (Metafora).
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...