Showing posts with label RL Writers' Circle. Show all posts
Showing posts with label RL Writers' Circle. Show all posts

Tuesday, July 09, 2013

Lelaki Laut dan Sepasang Sayap di Dinding

“Bapak… Bapak…,” terdengar suara anak lelaki berumur 6 tahun memanggil seorang lelaki berbahu tegap. Anak lelaki dengan mata berbinar--bulat dan besar. Mata anak cerdas, begitu sang Bapak kerap membanggakan anaknya. 

Sang Bapak saat itu tengah mengecat pagar bambu yang membatas rumah mereka. Di sela kesibukannya, ia menengok ke arah sumber suara.

“Lihat lukisan tanganku, Pak. Bu guru yang mengajarkan,” lanjut si anak yang sebelumnya meminta jatah cat dari ayahnya.

“Bagus.”

“Benar, Pak?”

Lelaki berkulit gelap itu pun mengangguk.

Anak lelaki yang masih duduk di bangku TK itu pun melonjak senang. “Raka mau bikin lukisan sayap dengan telapak tangan,“ lanjutnya kemudian.

Sang Bapak berhenti mengecat dan mendekati putranya. “Sayap?“

“Iya. Yang besar.“

“Kenapa sayap?“

“Biar Raka bisa terbang ke langit—ke tempat ibu...,“ jawabnya lugas. “Kata Bu Guru, ibu Raka sudah duluan ke langit. Benar, Pak?“

Lelaki yang dipanggil Bapak itu terdiam. Ia berjongkok, mengusap kepala anaknya dan memandanginya lekat: “Raka sungguh kangen ibu?“

Raka kecil yang baru kehilangan ibunya setahun yang lalu itu pun mengangguk cepat.

“Kalau Raka ke langit, Bapak di sini sama siapa?“

Raka terdiam, sempat bingung menjawab. Tapi kemudian ia menjawab: “Bapak bikin sayap juga, kita terbang ke sana sama-sama.“

***

Orang bilang waktu akan mampu mengobati banyak hal: kesedihan, sakit hati, kenangan pahit, kerinduan, trauma, luka dan sebagainya. Namun bagi lelaki ini—Lelaki Laut aku menyebutnya—ungkapan tersebut seolah tak berlaku.

Aku tak begitu mengenalnya. Aku hanya mendengar kisah tentangnya dari orang-orang yang kebetulan mampir ke warung ini—warung tepi pantai. Dan belakangan aku sering memperhatikannya saat ia berdiri di tepi pantai. Hampir tiap hari ia ke pantai—hampir setiap sore sepulang ia bekerja sebagai penjual koran dan majalah di sebuah kios kecil di sudut pasar. Dia akan berdiri di tempat yang sama dengan gaya yang sama; berdiri menghadap laut lalu hening dalam diam. Pandangannya seolah tak berkedip, menerawang jauh ke tengah lautan, seolah takut akan ada yang terlewat dari matanya. Ia akan berdiri seperti itu hingga Matahari terbenam, dan lalu kembali pulang.

Kabarnya, hari ini tepat 5 tahun ia menunggu tanpa putus asa. Memang kadang ia mengeluh pada Tuhan dalam doa-doa yang tak putus ia panjatkan. Tak jarang, emosinya berganti-ganti antara pasrah dan marah entah pada siapa. Tapi tetap saja itu tak mengurangi apa yang ingin ia percayai. Bahwa apa yang ia tunggu adalah suatu yang pantas ditunggu. Bahwa kerinduannya selama bertahun-tahun akan diganjar pertemuan yang membahagiakan.

Betapa keinginan itu dan rasa bersalah kerap mengusik tidurnya yang nyaris tak lagi pernah lelap. Tidur nyenyak tampaknya adalah kemewahan yang tak bisa ditebus oleh apapun kecuali dengan terjawabnya sebuah penantian panjang.





Selama itu pula, hampir setiap pagi sebelum ia pergi ke pasar, ia selalu menyempatkan diri meninggalkan jejak telapak tangannya pada sebuah dinding pembatas gang sempit, tepat di depan rumahnya. Ia hampir selalu punya stok cat putih demi ritual yang tak bisa ia tinggalkan sejak hari itu.

Ia sudah tidak bisa menghitung berapa banyak jumlah telapak tangannya yang terpampang pada dinding. Yang ia tahu, jumlahnya sudah melebihi seribu telapak tangan. Angka yang seharusnya sudah bisa mengabulkan sebuah permintaan sungguh-sungguh. Ia kerap mengasosiakan dan berharap seribu telapak tangan yang membentuk sayap ini akan sama magisnya dengan daya seribu burung kertas yang dipercaya orang Jepang bisa mengabulkan permintaan. Ia pernah membaca tentang seribu burung kertas ini pada sebuah majalah selagi ia menunggui kiosnya.

Perihal sayap raksasa di dinding kumal ini, beberapa orang jatuh kasihan padanya karena menganggapnya tidak bisa melepaskan diri dari kesedihan. Beberapa lagi menganggapnya konyol dan tak masuk akal atau tidak punya kerjaan. Sebagian yang lain menghargai ribuan telapak tangan itu sebagai sebuah karya seni yang bisa sedikit mempercantik gang kumuh yang menjadi lingkungan tinggal mereka.

Lima tahun yang lalu, jika kalian sempat melewati gang kumal ini, kalian hanya akan melihat dua telapak tangan kecil mungil saja. Telapak tangan milik Raka—anak lelaki satu-satunya si Lelaki Laut. Anak baik yang kini entah ada di mana.

Hingga hari ini Lelaki Laut percaya, laut tidak menelan anaknya melainkan mengantarnya ke suatu tempat. Entah di mana. Apakah di Bumi atau di langit—ia ingin lebih percaya yang pertama.

Banyak orang bilang ia terlalu tenggelam dalam perasaan bersalah dan tak bisa menerima kenyataan. Ia tak peduli. Termasuk saat orang-orang mencibirnya sebab memutuskan untuk berhenti melaut, ia tak ambil pusing. Keputusannya berhenti melaut sudah tak terbantahkan.

Raka sering merengek saat sang ayah hendak melaut dan mencari ikan. Anak yang biasanya terkenal manis itu  mendadak cengeng--seolah takut ayahnya tak akan kembali pulang. Sewaktu ibunya masih hidup, Raka tidak pernah merengek seperti itu. Ibunya selalu punya cara mengalihkan perhatian Raka. 

Hingga suatu hari, melihat rengekan Raka yang tak henti, Lelaki Laut memutuskan mengajak putranya untuk ikut melaut. Sekalian ia ingin menunjukkan bahwa laut tidaklah semenakutkan yang putranya pikir. 

Suatu Minggu pagi yang cerah, laut nampak begitu bersahabat. Lelaki Laut ditemani putranya mulai berlayar dan mengayuh perahu. Suara burung camar seolah mengantar mereka--membuat Raka yang tampak tegang sedikit lebih rileks memperhatikan kepakan burung laut itu. "Nanti kalau sayap Raka sudah jadi, Raka bisa terbang seperti burung itu ya, Pak," ujarnya yang hanya disambut senyum oleh sang Bapak. 

Alangkah sial, dalam hitungan satu jam, cuaca yang awalnya tampak bersahabat mendadak tak ramah. Badai datang tiba-tiba mengombang-ambingkan perahu kecil yang mereka tumpangi. Langit menangis diselingi suara petir. Raka ikut menangis. Lelaki Laut memeluk putranya sambil kebingungan antara memikirkan keselamatan anaknya dan menguras air laut yang menderasi perahu yang dipermainkan badai. Hingga akhirnya, setelah beberapa saat terombang-ambing, perahu tersebut terbentur karang. Perahu mereka pecah.

Meski panik, Lelaki Laut berusaha tetap tenang demi anaknya. Ia memeluk Raka dan menjaga agar kepala Raka tetap di atas permukaan laut. Susah payah, ia berhasil menjangkau bilah kayu dari perahunya yang pecah. Ia berpesan pada Raka untuk tidak melepaskan pegangan pada bilah tersebut sebelum ia menjangkau bilah lain untuk dirinya sendiri.

Raka kecil sudah tidak menangis kala itu. Ketenangan entah karena apa atau mungkin justru ketakutan luar biasa membungkam tangisnya. Sesekali ia terbatuk sebab air laut tertelan olehnya.

“Tetap pegangan. Jangan menangis. Anak Bapak tidak boleh cengeng. Kita akan baik-baik saja. Kita akan pulang,” ujar Lelaki Laut setengah berteriak ditengah perjuangannya untuk menjangkau bilah kayu Raka yang kian menjauh terseret gelombang.

Selesai berkata demikian, gelombang besar datang menghempas. Mereka pun terpisah hingga sekarang.

***

Pagi-pagi sekali, Lelaki Laut memandangi sayap besar di hadapannya. Masih jelas terngiang percakapan terakhirnya dengan Raka tentang sayap besar yang akan mengantarnya menuju langit. Tiba-tiba, untuk pertama kalinya dalam 5 tahun penantian, terlintas dalam pikirannya: jika seandainya Raka sudah terbang ke tempat ibunya, mengapa sayap ini belum juga membawanya....




#ditulis pada sesi menulis RLWC, 10 September 2010; interpretasi dari sebuah foto.

Saturday, August 13, 2011

Hingar

Nanti dulu; jangan beranjak pergi
Euphoria dan gelegak rindu belum lagi reda
Nada-nada riang masih berdenting-denting
Isyaratkan kita menarikan kata dalam diam

'Ingar bingar yang kita dengar di halaman luar
Riuhnya renyah, ramainya pecah

Yang tak terdengar adalah jingga matahari
Adalah debur pantai saat pasang
Namun camar-camar mendengarnya dan mengerti
Iring-iringan angin merambati sayapnya, lalu mengisi telinganya dengan makna.



*Note:
Ditulis di sesi Reading Light Writer's Circle (Sabtu, 13 Agust 2011);
Tema: Puisi Akrostik (Nama masing-masing peserta).

Sunday, July 03, 2011

Tentang Lena dan Duda Kaya

Adalah kisah tentang Lena
gadis miskin yang menikah dengan duda kaya
pada duda ia tak cinta
apa daya kehendak orang tua tak bisa ia cela
demi membayar hutang keluarga

Duda kaya punya anak dua
Ia kerja, Lena mengurusi anaknya
hari kelima semua pembantu dipecatnya;
Lena bilang ia bisa kerjakan semua:
mengurus anak, rumah, dan isinya

Duda kaya makin hari makin cinta
pikirnya ia tak salah pilih istri kedua
pulang kerja rumah rapi, anak terurus kebutuhannya
meski malamnya Lena lelah dan cepat tidurnya

Tak terasa tiga bulan sudah usia pernikahan mereka
duda kaya mulai merasa
ia bukannya tak salah pilih istri kedua
melainkan pembantu rumah tangga...



Note:

Ditulis di sesi Reading Lights Writers' Circle (Sabtu, 2/7) dengan tema: Miskin sebagai gaya hidup.
Saya memilih menulis narrative poem sebab sedang tidak bisa menulis cerpen.... :)

Sunday, February 13, 2011

The Broken String

Meski sudah bertahun-tahun berlalu, aku masih sangat ingat hari itu...

Maaf, aku baru saja memutus satu senar harpa milik orang tuamu. Harpa warisan turun temurun keluargamu yang hampir semuanya pemusik. Aku sungguh tidak sengaja. Kan sudah kubilang; aku tidak berbakat dan sama sekali tidak bisa memainkan alat musik apapun, terlebih harpa. Tapi kau memaksaku untuk coba-coba. Sekarang, satu senarnya putus, lalu kita bisa apa?

Kau bilang tidak apa-apa, saat melihat ekspresi kaget pada wajahku. Tapi wajahmu demikian merah memendam marah atau ketakutan akan dimarahi, atau kombinasi keduanya. Aku tidak bisa menebaknya dengan pasti.

"Aku akan coba perbaiki, kamu tenang saja," ujarmu kemudian, membuatku lebih tenang.

"Aku akan bantu," sahutku cepat.

"Tidak perlu, tunggu saja di kursi itu."

Aku memandangimu--sedikit meragukanmu. Kau pun tampak tidak yakin dengan ucapanmu sendiri. Lalu gegas menghindari mataku dan menyibukkan diri dengan senar putus pada harpa. Untuk menghargaimu dan menjaga harga dirimu, aku diam dan menurut dan memaksakan diri untuk bersikap seolah-olah aku percaya kau bisa menanganinya.

Aku duduk dekat jendela sambil memandangimu yang hanya berdiri diam, tampak serius. Saat kau balik menatapku, aku khawatir jangan-jangan kau tahu aku meragukanmu. Maka aku cepat berbalik, memandang ke luar jendela. Melalui kaca jendela, meski samar, aku bisa melihat betapa khawatir dan serius ekspresimu saat memandangi senar yang putus. Aku semakin merasa bersalah.

Dengan sangat hati-hati aku memanggilmu. Ragu-ragu, aku bilang, "Bagaimana kalau seandainya senar yang putus dibuang saja?"

"Apa?!" nada suaramu yang tinggi membuatku kaget.

"Maaf. Ehm, maksudku... Harpa ini kan hampir tidak pernah dimainkan, kalau satu senarnya hilang mungkin tidak akan ketahuan."

"Tidak boleh begitu...," ujarmu tak sabar. "Jika senarnya diputus, bagaimana dengan mamamu nanti."

"Apa hubungannya dengan mamaku? Maksudmu ibumu mungkin? Aku tahu, ibumu pasti akan marah."

"Bukan. Ini tentang mamamu."

Aku bingung. Aku pun hanya bisa megerjap-ngerjapkan mata, menunggu penjelasan lebih lanjut.

"Kalau aku membuang senar putus ini, bisa-bisa aku tak jadi menikahimu nanti."

Aku menggaruk kepala, kian bingung, "Kamu ngomong apa sih? Memangnya siapa yang mau menikah? Anak kecil tidak boleh menikah."

"Aku bilang kan nanti, sekitar sepuluh tahun lagi."

"Lalu, apa hubungannya dengan mamaku?"

"Nenekku pernah bilang pada ibuku; saat ada benang kusut, Ibu tidak boleh memotongnya. Ibu harus mencoba meluruskan. Karena kalau tidak, Ibu akan tidak berdamai dengan mertuanya--ibu dari ayahku. Kau bayangkan apa yang akan terjadi jika kita justru dengan sengaja memutus senar ini?"

Aku hanya diam, masih bingung.

"Aku tidak mau punya masalah dengan mamamu--calon mertuaku. Makanya, senar putus ini harus disambung lagi," jelasmu.

Saat mendengar ini, aku tiba-tiba ikut merasa khawatir tak bisa menikah denganmu. "Tapi ini kan bukan benang," ujarku, berharap fakta ini bisa mengurangi resiko kegagalan menikah denganmu di masa depan.

Kau diam--berpikir, lalu bilang, "Sama saja. Kita harus membenarkan yang kusut atau putus."

***

Di tengah kebahagiaan dan kehangatan yang menjalari hati saat mendengar petikan harpa yang menggema di gedung ini, aku bersusah payah menyembunyikan senyum sebab ingat hari itu.
Mungkin kepercayaan nenekmu tentang benang kusut itu benar; kita tidak pernah menikah.

Maya Hasan baru saja menyelesaikan petikan harpanya disambut riuh tepuk tangan penonton yang memadati gedung konser mewah ini. Aku bahkan berdiri dan penuh semangat bertepuk tangan sambil menoleh ke kanan; membalas senyum suamiku yang kupaksa menemaniku menonton konser ini.


*Gambar dari sini.

P.S:
Ditulis di Reading Light Writer's Circle; Sabtu, 12 Februari 2011.
Tema: Setting di kota besar, instrumen musik memiliki peran penting dalam cerita.

Saturday, December 25, 2010

Basi

Tiba-tiba saja pikiran tentang ini merayapi dinding benak.
Kita mengenal konsep awal dan akhir. Sebab yang mengawali sesuatu akan berakibat sebuah akhir. Yang hidup pada akhirnya akan mati. Yang muda pasti akan tua. Yang tadinya suka atau cinta bisa saja berubah bosan dan berhenti samasekali mencinta.

Pada titik tersebut: hidup, muda, dan cinta menemukan ajalnya ketika sampai pada mati, tua, dan tak lagi cinta atau benci.

Tapi benarkah semua sungguhan berakhir? Sementara kita kerap mendengar bahkan mengimani konsep tentang adanya kehidupan setelah mati. Yang tua akan digantikan yang lebih muda. Bahkan, saat kita berhenti mencintai sesuatu atau seseorang, seringkali kita akan segera menemukan objek baru untuk dilimpahi cinta. Nah, jika sudah begini, bukankah yang semula adalah akhir justru menjadi titik tolak lahirnya sebuah awal yang baru? Kiranya inilah kehidupan; berkesinambungan.

Semua ada waktunya: ada tanggal terbit dan tanggal kadaluwarsa. Ada masa dimana sesuatu yang awalnya hangat akan berubah menjadi dingin bahkan basi.

Karenanya, jangan heran atas reaksiku saat mendengar kabar terbaru darimu. Rasaku padamu sudah basi sejak lama. Meskipun cukup lama waktu yang kubutuhkan berikut deretan usaha yang kuupayakan demi melupakanmu; saat rasa ini sampai pada tanggal kadaluwarsa, semua baik-baik saja.

Aku turut berbahagia saat mendengar kabar pernikahanmu. Lalu cepat lupa.
Karena kini, sudah ada dia yang memenuhi hati dan isi kepala!



*Ditulis di sesi pertemuan Reading Lights Writers' Circle. Tema: "Berakhirnya suatu masa..."

Sunday, October 31, 2010

Bunga Musim Gugur

Selalu ada anomali; termasuk bunga-bunga yang justru hanya mekar di musim gugur. Mereka ada di sini, di taman ini. Taman yang nyaris tiap hari kukunjungi, tak peduli angin musim gugur kian giat menggigiti tulang, mengalahkan hangat mentari yang kini hanya menyisakan silau.

Aku paling suka ke sini justru pada saat-saat seperti ini. Saat daun-daun yang kuning satu persatu jatuh menuntaskan siklus hidupnya di bumi. Aku paling suka memandangi hujan daun, mengikuti gerak tarian mereka saat terombang-ambing angin hingga akhirnya mendarat di dekat kaki, di tanah yang lembab, di rerumputan yang masih bertahan untuk tetap hijau.

Tapi memandangi hujan daun adalah bonus kedatanganku ke taman ini pada musim gugur. Yang paling menarik adalah karena di tengah musim di mana semua yang hidup mulai terancam dingin, aku justru menemukan kehidupan. Ah, bukan... bukan aku yang menemukan. Kau. Kau yang pertama kali menunjukkan padaku keberadaan mereka: bunga-bunga yang mekar saat kebanyakan bunga lain memilih untuk gugur dan berakhir.

Kau memang paling suka bunga-bunga musim gugur. Awalnya kusebut kau tidak normal: mana ada lelaki penyuka bunga. Tapi kau dengan tangkas membela diri. Kau bilang kau menyukai mereka karena mereka berbeda, langka; mereka menantang arus; mereka mampu melawan teori yang berlaku di bumi bahwa tumbuhan akan lumpuh saat musim gugur; mereka hidup saat kebanyakan yang lain justru mati; merekalah anomali!

Kemudian, kau pun bilang bahwa alasan yang paling utama kenapa kau menyukai mereka--alasan yang menurutku paling mengada-ada--adalah karena mereka selalu mengingatkanmu pada seorang perempuan yang kini ada di sisi.

Lalu aku bersusah payah memadamkan bara yang tiba-tiba membakar di kedua pipi!



Ditulis di RLWC, 9 Oktober 2010.
Tema: Menulis dengan menginterpretasi lagu "After Midnight" dari Tesla Manaf Efendi.

Monday, October 25, 2010

Kacang Merah di Rumah Bordil

Pada sebuah rumah bordil yang terletak di pinggiran kota, terdapatlah sebutir kacang merah. Ya, hanya sebutir saja. Bukan satu gelas apalagi satu kilo--satuan yang biasa dijadikan patokan ukuran untuk produk kacang-kacangan.

Jika merunut sejarah keberadaan si Kacang Merah di rumah tersebut, maka bolehlah kita mengulang bagian pembukaan kisah ini: Pada sebuah rumah bordil yang terletak di pinggiran kota, terdamparlah sebutir kacang merah. Ya, hanya sebutir saja. Tidak lebih tidak kurang.

Sejak terdampar di rumah ini, Kacang Merah sudah berpindah-pindah tempat dan atau ruang berkali-kali. Tentu saja bukan atas keinginannya sendiri. Ia berpindah-pindah sebab tersepak orang-orang yang lalu lalang di rumah ini, rumah yang terlihat kecil dari luar tapi memiliki demikian banyak kamar.
Tempat yang paling ia sukai dulu adalah berada di belakang pintu depan. Tapi sial, suatu hari ia tak sengaja tersapu oleh OB rumah bordil ini hingga terpojok di sudut luar pintu depan. Saat itu Kacang Merah berharap ia terlempar ke tanah, ke halaman. Tapi malang tak dapat ditolak, bukannya justru menjauhi rumah, ia malah kembali terpental ke ruang depan sebab terinjak ujung sepatu seorang pelanggan tetap yang sedang berkunjung ke rumah ini. Kacang Merah kembali tersepak ke sana kemari, pernah juga hingga ke dapur, terbuang ke tong sampah, dan dibuang di pekarangan belakang. Saat ia menjejak tanah, bukan main senangnya Kacang Merah. Namun kesenangannya tak berlangsung lama, seekor ayam jago berniat menelannya. Ayam lain juga menginginkannya, berusaha merebutnya dari si ayam jago. Mereka berkejaran, hingga masuk ke dapur rumah bordil. Lalu diusir koki. Ayam jago kaget dan menjatuhkan Kacang Merah di dapur dan meninggalkannya di sana. Lalu Kacang Merah kembali tersepak ke sana kemari hingga akhirnya kini tersudut di kusen jendela salah satu kamar.

Pada awalnya Kacang Merah bersuka hati terdampar di jendela ini, karena ia aman dari sepatu-sepatu atau sapu yang memindahkannya ke sana kemari. Tapi lama kelamaan Kacang Merah tak ingin berada di kamar ini atau kamar manapun di rumah ini. Ia merasa ingin mati saja. Keinginan yang juga tak bisa terpenuhi, sebab sebagai bangsa kacang-kacangan ia tak bisa mudah mati. Makin hari ia makin murung saja. Sepanjang hari dihabiskannya waktu dengan hanya memandang ke luar jendela. Berharap ia bisa melompat keluar. Tapi harapan tinggal harapan, jendela ini tak pernah dibuka tak peduli berapa banyak orang yang datang dan pergi mengisi kamar ini. Datang dan pergi silih berganti.

Ia harus puas hanya bisa memandangi pemandangan di luar jendela, memandangi petani yang sedang sibuk memaculi sawahnya di seberang jalan sana, sambil bermimpi bahwa suatu hari nanti ia bisa menginjak tanah dan bertumbuh.

Jika kalian bertanya bagaimana awal ia bisa terdampar di sini, tentu hanya Kacang Merah yang tahu. Tapi, akibat terlalu lama tinggal di sini, bertemu demikian banyak orang-orang yang berbeda-beda--kecuali pekerja dan pelanggan tetap rumah ini tentu saja-- ia tak lagi bisa mengingat awal mula keberadaannya di rumah bordil ini. Mungkin juga tanpa sadarnya sendiri, ia berusaha melupakan hal tersebut. Ia bahkan terkadang lupa bahwa ia hanyalah sebutir kacang merah dan bukannya saksi sejarah rumah bordil di pinggiran kota.



*Cerita aneh tersebut di atas ditulis saat latihan menulis di RL Writers' Circle ( 23 Okt 2010).
  Tema: Menulis dengan menggunakan kata-kata: "kacang merah", "memacul", "rumah bordil."

HOROR

Selain hantu, hal lain yang paling kutakuti adalah kamu!
Padahal kamu terbuat dari tanah dan bukannya api.
Kamu bisa dilihat, nyata dan bukannya tak kasat mata.
Kamu manusia sungguhan dan bukannya jin, setan, atau sebangsanya.
Tapi tetap saja, kamu adalah makhluk paling nyata yang membuatku gemetaran saat bertemu,
membuat punggungku panas tiba-tiba meski tidak ada matahari, api, atau sumber panas lain di sekitarku.

Bertahun berlalu tak membuat rasa takutku padamu berkurang, apalagi menghilang.
Kamu tahu tidak alasan utama ketakutanku padamu?
karena aku terlalu mengenal kamu!



* Latihan menulis di RL Writers' Circle (16 Okt 2010).
   Tema: Horor!
### Tulisan ini memang tidak sesuai tema, mohon tidak protes, hehehe...

Saturday, June 06, 2009

Belimbing & Anak Tetangga

Di depan dan di samping rumahku, tumbuh pohon belimbing yang lumayan rajin berbuah. Suatu hari, saat di rumah sedang ada hajatan, anak-anak tetangga dan saudara (yang ibunya membantu memasak di dapur) memetik belimbing dan memakannya beramai-ramai di teras rumahku. Semua kebagian, semua sibuk mengunyah belimbing. Suara "kriusz...kriusz..." daging belimbing yang berair membuat mereka kian semangat mengunyah dan membuat iri siapa pun yang mendengar.

Ditengah kerumunan anak-anak tersebut, aku melihat seorang anak yang bukannya sibuk mengunyah belimbing, melainkan hanya sibuk menelan liur dan menyipit-nyipitkan mata. Sebuah ekspresi yang muncul saat seseorang mencecap rasa asam yang kuat. Padahal, tak ada sebuah belimbing di tangannya, apalagi yang masuk ke mulutnya. Ternyata belum semua kebagian, pikirku. Aku pun menyodorkan belimbing yang kupegang. Ia menggeleng.
"Ini...," aku tetap menawarkan. Ia tetap menggeleng. "Nggak apa-apa ambil aja... Nih...," aku memaksa.
Ia menggeleng lagi. Sambil menelan sisa liur, ia berkata: "Nggak boleh sama Mamah." 
"Kenapa? Nggak apa-apa kok, ini ambil aja...," Aku terus menawarkan karena sempat terpikir anak ini mungkin pemalu.
 "Soalnya lagi sakit batuk, kata Mamah nggak boleh makan yang asem asem...," jawabnya polos dan lantang, tanpa sedikitpun ada kekesalan atau penyesalan di nada suaranya atas larangan tersebut.
"Oh..." Aku pun tak lagi memaksa.

 Mamanya sedang sibuk di belakang. Jika ia mau, ia bisa saja mencicip belimbing tanpa sepengetahuan mamanya. Tapi, daripada mengkhianati mamanya, ia lebih memilih menelan liur sambil mata tersipit-sipit menahan rasa asam belimbing khayalan, rasa asam belimbing yang nyata menyengat lidah anak-anak lain!

Umurnya saat itu belum lagi 5 tahun!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...