Monday, June 29, 2009
Ironi
saat langit oranye berselimut biru
mengundang burung-burung bercericip lagu-lagu
Dan aku merindukanmu
saat senja turun berjubah ungu
sementara bulan menyembul malu-malu
Dan aku tak tahu kenapa jadi benci kamu
saat kamu mulai memandu bayang-bayang
mengiring langkahku
Padahal justru saat itulah
saat terdekatku denganmu
matahariku...
*Jakarta, 26 Juni 2009*
Friday, June 26, 2009
Menunggu Roti
^Under The Roof of My Boarding House’s Balcony^
Menunggu Roti… This is what I'm doing this morning.
Sejak pindah kost ke sini, saya jarang kesiangan. Ada alarm gratis dari tukang roti yang lewat, banyak lagi. Tapi satu yang lagunya enak di kuping: Dari Sari Roti…(hehe…iklan…).
Sepagi ini selain suara tukang roti, ada suara pemilik warung sebelah dan tetangga depan menyapu halaman. Lalu, ada suara mesin metromini yang dipanaskan. Selebihnya, suara kendaraan lalu lalang di jalan raya (Jl. Ciputat Raya) mulai memeriahkan suasana pagi.
Sementara–-mengenai pemandangan–-sejauh mata memandang yang terlihat hanya atap-atap rumah, lengkap dengan antena TV, tiang listrik, dan kabel-kabel yang semrawut. Ada juga tiga menara–-entah menara apa. Dan ada 6 (enam) penampung air milik tetangga sekitar: 3 warna orange, 2 warna biru tua, 1 biru muda. Eh…eh…tukang roti datang…
Sunday, June 14, 2009
Piala
bahkan dengan bersuka cita
sama tergesa dan suka cita-nya
sewaktu aku datang kali pertama...
Aku pergi mengejar mimpi
alasan yang tidak bisa kau interupsi
saat kau percaya aku kan kembali
(setelah lelah berburu mimpi)
aku kian gigih untuk bersegera lari
tidakkah kau merasa
kita berlomba mementingkan diri sendiri?
*Dan kau benar, aku kembali
tapi sungguh hanya untuk sementara
untuk mengulang perpisahan kedua
demi membiasakan diri
pada jarak yang kian kentara
Hingga disaat hari itu tiba,
aku percaya masing-masing kita
akan memenangkan sebuah piala:
yang selalu bisa dipajang,
di rak memori dalam kepala
yang selalu bisa dibanggakan,
dalam kehangatan hati dan jiwa
karena ia bukan piala bergilir
ia lah piala yang dibuat khusus
untuk kita...
*Jakarta, 16 Mei 2009*
Saturday, June 06, 2009
Belimbing & Anak Tetangga
Ditengah kerumunan anak-anak tersebut, aku melihat seorang anak yang bukannya sibuk mengunyah belimbing, melainkan hanya sibuk menelan liur dan menyipit-nyipitkan mata. Sebuah ekspresi yang muncul saat seseorang mencecap rasa asam yang kuat. Padahal, tak ada sebuah belimbing di tangannya, apalagi yang masuk ke mulutnya. Ternyata belum semua kebagian, pikirku. Aku pun menyodorkan belimbing yang kupegang. Ia menggeleng.
"Ini...," aku tetap menawarkan. Ia tetap menggeleng. "Nggak apa-apa ambil aja... Nih...," aku memaksa.
Ia menggeleng lagi. Sambil menelan sisa liur, ia berkata: "Nggak boleh sama Mamah."
"Kenapa? Nggak apa-apa kok, ini ambil aja...," Aku terus menawarkan karena sempat terpikir anak ini mungkin pemalu.
"Soalnya lagi sakit batuk, kata Mamah nggak boleh makan yang asem asem...," jawabnya polos dan lantang, tanpa sedikitpun ada kekesalan atau penyesalan di nada suaranya atas larangan tersebut.
"Oh..." Aku pun tak lagi memaksa.
Mamanya sedang sibuk di belakang. Jika ia mau, ia bisa saja mencicip belimbing tanpa sepengetahuan mamanya. Tapi, daripada mengkhianati mamanya, ia lebih memilih menelan liur sambil mata tersipit-sipit menahan rasa asam belimbing khayalan, rasa asam belimbing yang nyata menyengat lidah anak-anak lain!
Umurnya saat itu belum lagi 5 tahun!
Sunday, May 24, 2009
Tentang Kepekaan
"Masa sih, Mbak? Perasaan, saya cukup peka deh. Saya dulu pernah nyebut temen nggak peka, karena saya ngerasa lebih peka. Eh, sekarang malah saya yang Mbak bilang nggak peka."
"Buktinya lu nggak ngeh dengan hubungan mereka kalau nggak ada yang ngomong ke elu, kan?"
"Iya sih. Tapi saya kan mikirnya mereka temen deket banget. Jadi ya biasa aja. Emang darimana sih Mbak bisa baca hubungan mereka, Mbak kan baru ketemu mereka?"
"Ya keliatan, Neni." Mbak Erna pun membeberkan teorinya tentang bagaimana seharusnya dua orang lawan jenis menjalin hubungan, yang mana dilanggar oleh 2 orang yang sedang kami bicarakan. Sejak malam itu, kepekaan kerap mewarnai obrolan kami yang berbagi satu kamar kost-an.
"Saya mah emang suka nggak ngeh sama hal-hal yang bukan urusan saya," aku membela diri suatu hari. Lalu aku pun menceritakan bagaimana aku sering kesulitan menghafal jalan/tempat/bangunan yang tidak pernah berurusan denganku atau tidak pernah kukunjungi, meskipun sering kulewati; sebagai contoh kasus.
"Iya itu karena lu mikirin diri lu sendiri. Yang penting buat lu aja yang lu ingat. Cepet lu ngeh kalau nyangkut diri lu. Kalau nggak, lu cuek."
"Gitu ya, Mbak? Iya kali ya," ujarku pasrah. Pada kesempatan lain, aku bertanya: "Emang gimana sih Mbak caranya biar bisa peka?" Mbak Erna menjawab panjang tapi aku lupa detailnya. Intinya Mbak Erna menyarankan untuk latihan membaca situasi dan lingkungan agar kemudian tahu bagaimana membawa dan menempatkan diri.
Obrolan tentang kepekaan pun terus berlanjut. Tak jarang setiap aku bertanya tentang hal-hal tertentu yang Mbak Erna tak tahu, Mbak Erna akan bilang "Wah gua nggak peka deh masalah begitu" untuk membela diri. Hingga suatu pagi, dalam perjalanan menuju kantor, kepekaan lagi-lagi terselip dalam obrolan kami. Mbak Erna sekali lagi bilang bahwa ia tidak peka dengan hal yang sedang kami bahas (aku lupa tentang apa). Tiba-tiba sebuah pemahaman masuk perlahan tapi pasti ke kepalaku.
"Mbak, orang kan beda-beda ya... pengalamannya beda-beda... jadi kepekaannya beda-beda juga. Mbak peka ke satu hal, saya pekanya ke hal lain," ujarku sambil mengeluarkan Handphone, menyetel kamera, dan mengarahkannya ke langit. Aku memotret langit pagi itu.
Bersamaan dengan itu, dalam hati aku berkata dan percaya: Inilah salah satu kepekaanku. Aku peka akan warna dan tekstur langit yang berbeda pagi ini; sesuatu yang luput dari perhatian Mbak Erna yang berjalan lurus ke depan mendahuluiku.
Friday, May 15, 2009
Pengantar Es
Melihat ini, saya menduga bahwa setiap warung pastilah sudah berlangganan es batu. Kehadiran pengantar es batu pun terkesan hanya bagai angin lalu, karena ia datang dan pergi setiap hari. Dan sepertinya karena intensitas inilah, basa-basi seolah tak lagi diperlukan apalagi diusahakan. Bukankah kita sering abai/ tak hirau pada sesuatu yang memang sudah, selalu, atau seharusnya ada. Semoga di warung berikutnya, ada penjaga warung yang tidak menganggapnya angin (meskipun ia mengendarai “kendaraan angin”).
Mengenai transaksi, mengingat harga es batu pastilah murah, kemungkinan pemilik warung membayar pesanan es batu setiap seminggu sekali atau sebulan sekali. Dan pertanyaan berikutnya adalah berapa harga sebalok es batu untuk satu bulan? Lalu berapa pula penghasilan pengantar es batunya? Di mana rumahnya? Apakah balok es itu dibuat sekaligus diantar sendiri oleh pengantar bersepeda tersebut? Karena jika ia hanya petugas pengantar, tentu penghasilannya lebih minim lagi! Apakah ada pengantar es batu lain selain dia? Bagaimana mulanya ia bisa menguasai “pasar” per-es batu-an di lingkungan perumahan Pondok Indah dan sekitarnya? Lalu bagaimana atau apa yang membuat ia bertahan sebagai pengantar es? dsb.
Pagi ini, ia tak terlihat. Jadilah pertanyaan di atas tak punya jawaban. Dan sekalipun ia terlihat, bagaimana caranya mendapat jawaban untuk pertanyaan demikian banyak, sedang pengantar es selalu gegas pergi dari satu warung ke warung lainnya. Dan aku pun tergesa-gesa melangkah menuju kantor tercinta.
Monday, April 06, 2009
Keripik Setan
Aku sempat menyesal telah membeli keripik tersebut; yang warna merahnya begitu menggoda, begitu hebat menerbitkan liurku. Tapi kupikir-pikir, jikapun aku tidak membelinya minggu lalu, aku pasti membelinya minggu ini, atau minggu depan, atau bulan depan. Karena aku sudah telanjur tergoda dan tergiur oleh warna merahnya, wangi pedasnya yang samar-samar menyelinap ke hidungku, dan lain sebagainya.
Yah, paling tidak aku tidak penasaran, meskipun aku harus membayar cukup mahal untuk menebus rasa penasaran itu (menahan sakit seharian penuh). Paling tidak aku pernah mencoba, meski untuk itu aku harus memupuk keberanian ekstra tinggi, karena aku tak pernah suka pedas!
* Sabtu, 28 Feb '09. @ RL Writer's Circle. (Metafora).
Lukisan Pohon
Di beberapa bagian, ada daun/bunga berwarna merah bata. Aku tidak suka warna ini ada di sana; seperti noda saja! Tapi, saat kucoba membayangkan lukisan dengan daun yang seluruhnya hijau toska, tentu lukisan ini akan jadi berbeda. Mungkin ia tak akan lagi teduh dan harmonis. Aku sangat suka tentang bagaimana daun-daun itu dibentuk. Kupikir, perlu waktu lama untuk menitik-nitikkan kuas sambil membentuk ratusan pola bunga berkelopak lima: pola yang menyusun dedaunan pada dua pohon yang bersisian, yang jadi objek lukisan tersebut. Mungkin untuk alasan waktu dan tenaga dalam membuat pola titik-titik itulah yang membuat daunnya jadi sedikit.
Oh ya, bukankah hidup kita juga disusun oleh mozaik-mozaik atau titik-titik kecil yang nantinya menemukan polanya sendiri? Dan setiap noda/kesalahan/anomali pada pola atau warna kehidupan adalah mungkin suatu yang diperlukan agar ia menjadi sempurna. Seperti halnya warna merah bata pada lukisan.
Warna kulit kayunya tersusun dari banyak paduan warna. Ada kilasan warna ungu yang memberi efek gelap dan warna abu-abu, juga warna cerah krem. Persis seperti kulit pohon sungguhan. Aku yakin jika kulit pohon hanya dibuat dari satu warna--cokelat tua misalnya--ia akan sangat biasa, sederhana, apa adanya.
Sebuah pola yang tidak berlaku dalam kehidupan. Karena sekecil apapun realitas yang kita temukan setiap harinya, mereka tidak disusun dari suatu konsep apa adanya, melainkan dibuat secara terencana--mungkin kompleks--dan dibuat untuk sebuah alasan, sebuah rencana yang tak mungkin sia-sia!
Friday, March 13, 2009
Menginap di RSHS
Pagi-pagi, perawat datang membereskan kasur, melakukan pemeriksaan, dan mengambil darah Arha. Elyn dan Sarti (teman Arha yang datang menjenguk) mengantar darah Arha yang kental ke lab, sementara aku menemani Arha. Aku tidak merasa sedang bersama seorang yang sakit. Arha sejak subuh sudah berkali-kali mengkhawatirkan aku: menyuruhku tidur lagi, menawarkan sarapan seolah-olah akulah yang sakit dan bukan dirinya. Ia juga dengan antusias bercerita tentang kost-an, dll. Ditengah pembicaraan, datang petugas kebersihan yang membuka korden pembatas ruang perawatan dan seorang gadis remaja. Awalnya, kami mengira gadis itu adalah salah satu kerabat dari dua pasien lain di ruang ini. Tapi rupanya kami salah, kami beberapa kali bertukar pandang mendengar celoteh gadis ini. Celoteh yang agak ganjil. Tanpa ada yang bertanya, ia berujar: "Nama aku Sumiyati." Ia lalu menghampiri pasien penyakit SOL dan berujar: "Teteh cepat sembuh ya, biar cepat nikah." Ia berbalik ke arah kami, "Aku juga mau nikah sebulan lagi."
Aku tak ingat bagaimana awalnya hingga Sumiyati dan Arha berbicara tentang pernikahan. Saat itu, Sumiyati sudah duduk di samping ranjang Arha. Arha kemudian bertanya apakah ia sedang menjenguk seseorang. Dan Sumiyati menjawab, "Enggak, aku juga di rawat di bawah. Ruangku di bawah, di ruang sakit jiwa."
Aku dan Arha berpandangan, aku sedikit takut mendengarnya dan takut kalau ia tiba-tiba mengamuk. Sementara Arha, ia kembali bertanya, "Sama siapa di sini, sendirian?" "Berdua sama Ibu." "Rumahnya di mana?" Sumiyati menjawab lengkap dengan nama kecamatan.
Sumiyati beralih ke jendela, menyapa seseorang yang ia panggil profesor, mengajak mengobrol, dan menyapa lebih banyak orang yang ia lihat. "Hai.. Halo.. Enggak, ini aku lagi jenguk temen." Mendengar ini, aku--yang kini duduk di kursi yang tadi diduduki Sumiyati--dan Arha lagi-lagi bertukar pandang.
"Wah, temennya banyak ya?" ujar Arha saat Sumiyati mendekatinya.
"Iya. Pacar aku ada 3."
"Oh ya? Banyak banget.."
"Iya. Ada A' Asep, ada A' Ian sama A' Beny."
"Wah banyak ya? Aku boleh minta satu, ga?" Tanya Arha. Aku tertawa mendengarnya.
"Ga boleh."
"Ga boleh ya? Soalnya aku belum punya pacar."
"Maunya yang gimana?"
"Ehm.. Bagusnya yang gimana ya kira-kira?"
"Kalau A' Beny aja gimana? Dia cakep soalnya."
"Oh ya? A' Beny ya.."
"Kalo aku sama A' Ian aja. Soalnya udah pernah dicium ma A' Ian. Pernah dipeluk juga."
"Oh gitu. Mungkin lebih kena di hati ya kalau udah pernah dicium."
Sumiyati tersenyum sangat manis mendengar Arha.
"Oh ya, siapa tadi namanya?" tanya Arha.
"Sumiyati." Lalu ia segera membaca whiteboard di atas meja, "Nama kamu Arhayani, 35 tahun."
"25 tahun," aku membenarkan.
"Oh iya. Kalau aku 18 tahun."
"Wah masih muda, ya? Masih sekolah?" tanya Arha.
"Udah enggak," jawab Sumiyati.
Sumiyati keluar ruangan, tapi tak lama kembali bersama seorang dokter praktek. "Sini gera'.. Sini gera'...," ajaknya pada dokter muda itu sambil menariknya ke tempat Arha. Sang dokter jadi kikuk melihat kami. Lalu Sumiyati bertanya pada Arha, "Kalau sama ini mau ga?" Belum sempat kami menjawab, dokter mundur satu langkah menghindari tatapan kami, dan bertanya pada Sumiyati, "Kenapa?"
"Soalnya teteh ini lagi nyari pacar."
Sang dokter langsung keluar ruangan, diikuti Sumiyati.
Arha mengaku alasan kenapa ia terus mengajak Sumiyati mengobrol adalah karena ia melihat Sumiyati tampak jinak.
Aku menikmati saat-saat menginap di RSHS, dan mengambil banyak pelajaran. Aku belajar dari Arha tentang keikhlasan, kesabaran, dan keceriaannya dalam melawan penyakit yang bisa dibilang tidak ringan. Aku tidak merasa bosan menungguinya, sebab ia selalu menceritakan kisah atau berujar sesuatu yang membuatku tertawa. Yang lebih mengesankan aku, Arha masih bisa bercanda tentang penyakitnya dan bahkan mau meladeni orang dengan gangguan jiwa; sesuatu yang tidak mungkin kulakukan baik saat aku sehat apalagi saat sakit.
Ketulusan Elyn sebagai sahabat terdekat Arha. Elynlah yang membawa Arha ke RSHS, mengurusi semua keperluan Arha, bolak-balik membelikan obat, membesarkan hati Arha, dan sering mengolok-olok mata kiri Arha yang menyipit dengan menyebutnya ”picek”: yang aku yakin merupakan salah satu bentuk usaha Elyn untuk menghibur Arha, untuk menganggap biasa mata yang menutup sebelah akibat saraf yang mungkin sedikit bermasalah. Padahal, sejak awal di RS, Elyn sudah berkali-kali menahan emosi menghadapi prosedur RS. Setiba di UGD, bukannya bertanya tentang keluhan pasien, seorang petugas malah berujar pada Arha: ”Kok mukanya seger gitu?!” Ia tidak kenal Arha, tidak tahu betapa Arha menguat-nguatkan dirinya padahal berjalan saja dia sudah sempoyongan; ia tidak tahu bahwa Arha sudah tidak nyambung diajak ngobrol lantaran tubuhnya sudah terlalu lemas. Setibanya di ruang perawatan kelas 2, Elyn harus bolak-balik ke apotek untuk membeli obat, cairan infus, bahkan jarum suntik untuk Arha, sehingga Dokter bisa melakukan tugasnya menyuntikkan obat tersebut, memasang infus, dll. Sistem yang aneh! Kekesalan kami pun bertambah saat mendengar Sarti bercerita tentang respon petugas pusat informasi saat ia menanyakan ruangan Arha. Petugas tersebut, saat ditanya letak ruang perawatan no. 19A, malah balik bertanya, ”Cuma nanya itu?!”
Selain itu, ada pemandangan lain yang menarik perhatianku di ruang perawatan yang dihuni tiga pasien ini. Aku bersimpati pada seorang pasien perempuan yang berbicara saja sudah tidak jelas dan sangat kurus dan sudah tidak bisa ke kamar mandi lagi. Tapi aku lebih bersimpati pada ibunya yang juga sangat kurus dan terlalu tua untuk menungguinya seorang diri! Seorang diri! Ibu setua itu sudah seharusnya beristirahat di rumah dan menikmati hari tua. Aku tak tega membayangkan ibu ini harus bolak-balik naik-turun ke lantai 1 untuk membeli obat di apotek. Karena begitulah sistemnya, jika mau disuntik obat, yang menjaga pasienlah yang harus menyediakannya. Tapi mudah-mudahan para perawat dan dokter berbaik hati pada ibu ini, dan membawakan obat untuk anaknya.
Aku menikmati saat-saat menginap di RSHS. Tidur beralas karpet, berbantal tas, dan (untungnya) berselimut bukanlah suatu masalah; suara mengorok seorang bapak yang menunggui ibunya (pasien di sebelah Arha) yang sambung menyambung sepanjang malam bukanlah gangguan. Aku, Elyn, dan Arha beberapa kali tergelak mendengar irama mengorok yang masih perlu dilatih agar terdengar lebih terlatih; bangun pukul 3 dini hari untuk membeli infus di apotek bukanlah suatu yang menyusahkan, kecuali jika mengingat bahwa sistem membeli obat seperti ini sangatlah aneh.
Mohon doanya ya teman-teman, agar Arha cepat sembuh. Karena bisa dibilang penyakit Arha bukanlah penyakit ringan, meski bukan juga penyakit yang teramat serius. Semoga!
Wednesday, February 25, 2009
Menjelang Resign
Senin, 9 Feb '09, tugas pertamaku mengecek email dan mengeprint berkas lamaran yang masuk. Dan membalas email yang tidak memenuhi kualifikasi, sesuai keputusan ibu direktur.
Dua orang pelamar datang memenuhi undangan. Seorang pelamar, datang sangat terlambat tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Aku pun menanyakan kenapa ia terlambat.
Ia menjawab sesuatu seperti : "... Ibu saya ... Pecah."
Aku mendengarkan, tapi informasi yang ia sampaikan tidak masuk ke telingaku dengan sempurna. Begitu Bu Dir bertanya kenapa ia terlambat, ragu-ragu aku menjawab: "Saya kurang tahu bu, kalau ga salah ban mobil ibunya pecah."
Sang pelamar menjalani proses interview dan tes menulis surat dalam Bahasa Inggris dan menerjemahkan. Setelah sekian puluh menit, Bu Dir memanggilku ke ruangannya, menyatakan pelamar tersebut tidak memenuhi kualifikasi dan memintaku untuk menyilakannya pulang. Akupun menuju ruangan interview dan menyampaikan pesan Bu Dir untuk menyilakannya pulang dan menunggu hasil interview, serta tak lupa menanyakan kembali alasan keterlambatannya dan kali ini kupasang telinga baik-baik.
Ia menjawab: "Ini.. Ibuku kan punya varises.. Pecah. Jadi tadi aku ke RS dulu.."
"Ooh...," aku menjawab singkat. Saat itu, yang terlintas di pikiranku adalah bukannya merasa bersalah telah 'menyamakan' betis ibunya dengan ban mobil, aku justru merasa malu pada Bu Dir karena telah memberi info yang salah. Aku memang sering tidak konsentrasi seperti ini, dan intensitas kemunculannya meningkat sejak aku memutuskan untuk resign! Aku tipe orang yang hanya melihat/mendengar apa yang ingin kulihat/kudengar, atau aku melihat tapi tak benar2 melihat. Aku juga sangat kurang bagus dalam hal lateral thinking.
Selasa, 10 Feb '09, aku datang di jam makan siang karena ada keperluan di luar kantor. Lagi-lagi ada dua orang pelamar. Email yang masuk makin banyak hingga aku tak mungkin mengeprint semua, kecuali cv yang memenuhi syarat.
Dari sekian banyak lamaran yang masuk, ada beberapa yang melekat dalam ingatan. Pelamar yang paling pertama kukirimi email notifikasi (tidak memenuhi kualifikasi) dan yang paling mendapat sorotan dari kami adalah email dari seorang yang dari pose fotonya saja sudah "menarik perhatian". Pelamar ini terlalu memaksakan diri untuk menulis lamaran dalam Bahasa Inggris.
Bukan bermaksud menghina--Bahasa Inggrisku juga tidak begitu bagus--tapi paling tidak aku sering membuka kamus untuk memastikan pilihan dan penulisan kata sudah benar, sehingga aku tak akan menulis reading menjadi reeding, knowledge dengan knowled sebanyak 2 kali, graphic design dengan disaint grafis, photoshop dengan photo shope, dan translator dengan translater. Uniknya, ia menulis kata translater di bagian pengalaman kerja di mana ia pernah bekerja sebagai penerjemah selama 3 bulan. Pengalaman kerja sebelumnya juga hanya 3 bulan. Dan pengalaman terakhirnya adalah bekerja di sebuah perusahaan selama 2 minggu!
Ada juga pelamar yang lupa mengganti Attention suratnya, sehingga meski surat tersebut dikirim ke email kami, surat tersebut ditujukan kepada PT lain. Masih dimaklumi walau kami jadi tidak berminat memanggilnya. Ada pula pelamar yang mengirim lamaran sekaligus ke email beberapa perusahaan. Sepertinya ia tidak tahu bahwa semua alamat email yang ia tuju akan tetap terbaca di semua email penerima. Ada beberapa cv yang dibuat dan dimodifikasi dengan sungguh-sungguh, dihiasi bunga-bunga sambil tak lupa memajang foto gaya. Beberapa melampirkan foto close up yang diambil dengan kamera HP. Bahkan ada foto pelamar yang memakai T-shirt "U Can See"!
Hey.. What do they expect?!
Seumur hidupku tak pernah terlintas untuk menjadi sekretaris. Aku bahkan memandang sebelah mata profesi ini, karena imej yang kurang baik tentang beberapa sekretaris. Kita memang sering mengidap penyakit men-generalisasi-kan sesuatu bukan? (hehe...membela diri). Dan siapa sangka, menjadi sekretaris adalah pekerjaan pertamaku setelah lulus kuliah. Mungkin ini yang dinamakan "termakan omongan sendiri". Dan pengalaman selama 1 tahun 2 bulan ini mengajarkanku bahwa menjadi sekretaris tidaklah semudah yang kubayangkan dan tidaklah senista yang kupikirkan. Karena tidak mungkin aku menistakan diriku sendiri, kan? Hehe...
Tuesday, February 24, 2009
SKYCAR
Skycar….
Disebut-sebut sebagai mobil terbang masa depan, solusi kemacetan lalu lintas.
Moller M400X Skycar, diciptakan oleh Paul S. Moller dari California, Amerika. Setelah melewati berbagai uji coba, prototype pertama Skycar sukses terbang pada tanggal 26 Agustus 2002.
Disebut Skycar karena pesawat ini memiliki ukuran dan di-desain layaknya mobil. Skycar ini dilengkapi dengan system thrust deflection vanes yang membuat mobil jadi-jadian (pesawat bukan, mobil juga bukan) ini dapat take off/landing secara vertikal pada hampir setiap jenis permukaan. Skycar juga dilengkapi dengan system komputerisasi untuk mengoperasikannya (dikutip dari majalah Terbang, Edisi Agustus-September 2004).
Yup…satu lagi kemajuan teknologi manusia. Terdengar menarik bahwa ada mobil yang bisa terbang. Dan sepertinya, mobil pesawat ini tidak berisik dan tidak punya baling-baling seperti helicopter yang menerbangkan apapun disekitar tempatnya mendarat. Dapat dibayangkan saat orang lain sibuk mengeluh, menggerutu, memencet klakson, berteriak, protes, dsb karena kemacetan, mobil ini akan dengan sangat anggun terbang, memukau setiap orang yang melihat.
Dan beberapa orang pun akan bermimpi, menabung, mengkredit, bahkan berhutang, dll sebagai usaha untuk memiliki mobil bergengsi ini. Dan masalah akan muncul saat sudah banyak orang memiliki mobil jenis ini. Lalu lintas udara—bukan tidak mungkin—akan semakin padat. Lalu, akan pula dibutuhkan rambu-rambu lalu lintas di udara agar Skycar tidak saling tabrak.
Rambu lalu lintas udara? Hmm…menurut kalian, akan seperti apa rupanya? Apakah rambu ini akan dipancang dengan tiang maha tinggi? Di pasang di pohon-pohon? Atau di gantung di…langit, mungkin?
Selain rambu—yang paling utama, tentu diperlukan adanya jalur yang jelas agar Skycar berlalu lintas dengan rapi di udara. Kira-kira, bagaimana membuat jalur penerbangan untuk mobil jenis ini? Tidak terpikir, untuk orang awam seperti saya. Di aspal? Tidak mungkin. Dipasang tali/kawat memanjang sebagai batas/marka jalan? Ehm…kayaknya kok kurang efektif ya. Atau mungkin akan ada alat canggih baru yang mampu menjadi solusi dalam hal ini. Menggunakan Positioning System?
Selain rambu-rambu dan jalan, saya pikir perlu juga ada polantas udara. Bukankah banyak orang yang tidak “kenal” dan bersikap sombong terhadap rambu-rambu lalu lintas? Kira-kira, pos polantas udara ini akan bagaimana? Pos pohon mungkin? Seperti rumah-rumah pohon. Atau mungkin para polantas tidak perlu pos, hanya berpatroli dengan Skycar juga.
Kalau Skycar banyak, kasihan burung-burung. Sudah pohon sebagai rumah banyak ditebangi, eh…kok ya jalur terbang mereka juga dibajak. Sesekali akan ada burung yang tertabrak Skycar lalu mati sia-sia, seperti halnya nasib ayam, tikus got, yang kerap jadi korban di jalan raya darat.
Oh iya, katanya, Skycar dilengkapi delapan mesin, jadi kalau ada satu atau lebih mesin yang tidak berfungsi, Skycar masih dapat beroperasi dengan baik. Nah, kalau kedelapan mesin mati, kira-kira gimana ya?
Selain itu, katanya, jika pesawat mobil ini mengalami guncangan karena turbulensi, system komputer yang ada akan langsung menstabilkannya.
Kalau tiba-tiba mogok, gimana? Apakah pesawat bisa bertahan di udara sampai ada jasa derek mobil datang? Derek mobil? Di udara?!
Kalau sudah begini, lebih enak macet di jalan raya (darat). Kita masih bisa teriak-teriak memarahi pengemudi di depan; mencet klakson sekeras-kerasnya; kalau tenggorokan mulai sakit, kita tinggal panggil pedagang kaki lima untuk beli minuman, dan kalau minuman sudah habis padahal kita masih haus, kita bisa pukul setir sebagai ungkapan kekesalan, tanpa harus takut mobil meluncur/jatuh ke bawah. Dan bla…bla…bla…
Well, tulisan ini hanya unek-unek seorang awam. Tapi, bukan berarti menentang perkembangan teknologi. Bukan juga skeptis. Hanya menulis apa yang terlintas di pikiran. Hanya kurang setuju pada artikel yang jadi sumber tulisan ini, yang membanding-bandingkan mobil dengan pesawat ini. Jelas-jelas bukan bandingan; mobil ya mobil, pesawat bandingkan lagi dengan pesawat dong! Sungguh tidak BER-PERI-KE-MOBIL-AN! Hehe…=p
Berikut kutipan yang kurang saya setujui:
Skycar VS Mobil
Mari kita bandingkan M400 Skycar dengan mobil yang paling canggih maupun mewah. Secanggih apapun mobil yang Anda miliki tetap memiliki berbagai keterbatasan, bahkan Anda tidak bisa berbuat apa-apa apabila terjebak dalam kemacetan. (Terbang, 2004).
Jadi, harap maklum kalau saya me-mobil-kan (mengibaratkan sebagai mobil) pesawat Skycar dalam tulisan ini!
Friday, January 30, 2009
Sendal Jepit dan Pengamen
Ketemu di Blok M, disambut hujan angin. Untung hujan tak lama, karena Mbak Erna mengajak ke Tanah Abang. Setelah berpikir lama, dan setelah putar2 Ramayana, aku pun rela diajak ke sana meski tak niat belanja.
Sepanjang perjalanan, Mbak Erna yang hobi "mendongeng" dan sedikit "GorDes" (Gorowok Desa) tak henti2 bercerita. Aku bahkan tak menyadari kehadiran pengamen lantaran telingaku dibajak oleh suaranya. Hingga Sang Pengamen menghadapkan gitarnya ke arah kami dan memetiknya sedikit lebih keras dari yang seharusnya. Aku dan Mbak Erna saling pandang--heran.
"Kenapa??" tanya Mbak Erna dengan alis melengkung.
"Mbaknya gordes teuing sih...," jawabku asal tanpa prasangka buruk.
"Oh iya ya? Gua ga tau deh, kalau ketemu lu gordes gua keluar ... padahal kalau ma orang lain, gua mah lemah lembut...," sambung Mbak Erna juga tanpa prasangka macam2.
Dan sungguh di luar dugaan, pengamen yang buru2 menyelesaikan lagunya nyeletuk: "Tolong hargai dulu, Bu. Dengerin dulu suara orang nyanyi..."
"IIHH...apa??! Orang dari tadi juga ngobrol bedua," cetus Mbak Erna tak terima.
"Iya tapi sayanya keganggu ... hargai dulu suara orang. Satu bus suara ibu semua!" ujar Pengamen sambil menyodorkan plastik permen ke bangku depan. Dan sesampainya di bangku kami, ia masih merasa perlu membela harga dirinya: "Ga ngasih juga ga pa-pa, asal hargai aja ... ga pa-pa ga ngasih juga..."
"Ih..! Baru ini deh gua dimarahin pengamen..."
"Udah biarin aja...," jawabku pendek karena cukup shock juga dengan kejadian ini.
Untuk beberapa saat kami terdiam, tapi kemudian Mbak Erna kembali berceloteh. Mungkin untuk mengobati harga dirinya, atau mungkin juga untuk menunjukkan pada penumpang lain bahwa seorang pengamen tak bisa mempengaruhinya. Untuk menghormatinya, aku menjawab seadanya.
Setibanya di Tanah Abang; macet. Bangunan berwarna hijau yang mencolok tampak sangat dekat di depan mata, tapi tak kunjung tercapai, stuck. Akhirnya kami diturunkan beberapa ratus meter dari bangunan tersebut.
"Masih jauh ya, Mbak?"
"Ya itu, bangunan ijo itu..lu ga liat? Ga pa-pa ya jalan kaki, kan namanya juga jalan2?"
Dan aku baru tahu saat itu, bahwa aku telah salah persepsi tentang Tanah Abang. Aku pikir Tanah Abang serupa pasar2 kain tradisional dengan los2 panjang berjajar. Eh ternyata, serupa Pasar baru di Bandung, bahkan lebih wah untuk model bangunannya.
Sebelum sampai di Bangunan Hijau tersebut, aku dan Mbak Erna mampir di Masjid karena sudah waktunya Dzuhur. Aku melamun sambil menunggu Mbak Erna selesai shalat. Maklum mood ku sedang tidak bagus hari ini.
"Lu ngelamun aja, lu... Gua yang dimarahin pengamen, kok jadi lu yang menderita gitu... biasa aja kali, gua aja biasa."
Aku tertawa mendengarnya.
Selesai shalat, di pintu masjid, Mbak Erna bilang: "Neni, sendal gua ga ada... Neni?"
"Hah? Ga ada Mbak?" aku membeo.
"Ga ada.."
"Nah lho... ada yang minjem kali. Ke kamar mandi..."
Dan saat itu juga, kami merasa berkepentingan pada setiap orang yang keluar dari kamar mandi. Satu-persatu jamaah keluar dari kamar mandi, dan tak ada yang memakai sendal Mbak Erna.
"Ya ampun Mbak, padahal sendal Mbak jelek ya? Ga diliat gitu ada jarum pentolnya tiga? Gimana kalau bagus ya, Mbak?"
Mbak Erna terbahak, "Iya ga diliat gitu, tapaknya udah dalam gitu?"
"Rupanya, di sini akhir sendal itu, Mbak. Mbak kayaknya kehilangan banget ya, Mbak?"
"Iya, soalnya tuh sendal udah berjasa banget buat gua. Udah 6 bulan dia menemani gua kemana-mana."
Maklum sodara-sodara, sendal Mbak Erna yang berwarna Pink agak keungu-unguan itu adalah andalannya. Sendal tersebut telah sangat setia menemani langkah Mbak Erna dari mulai ke kamar mandi, ke kantor, jalan2 ke bogor, bahkan ke bank! Terakhir bertemu, pentol yang dipakai untuk menahan tali yang putus hanya dua ... dan pada pertemuan kali ini, Mbak Erna mengumumkan pentolnya sudah tiga. Dan selalu, setiap jalan bareng Mbak Erna dia pasti sesekali minta berhenti dan bilang: "Tunggu Neni ... Sendal gua, Neni..."
"Ya udah tunggu bentar lagi aja..." Dan saat itu, aku melihat sendal jepit karet berwarna ungu full-color. Sebelumnya aku sudah melihatnya, tapi baru pada detik ini aku mendapat feeling : "Mbak, jangan2 ketuker sama yang ini?"
"Iya gitu?"
"Kayaknya iya, kan warnanya hampir sama. Kalau feeling saya mah kayaknya ketuker deh..."
"Feeling lu lagi bener ga? Gua takut dosa."
"Ga tau deh. Tapi kayaknya iya deh, Mbak ... Soalnya kalau orang niat ngambil pasti ngambilnya yang agak bagus, bukan sendal Mbak yang pentolnya ada tiga ... iya kan?"
Mbak Erna diam, berpikir.
"Aduh maaf ya, Mbak ... Saya mah orangnya jujur..."
Akhirnya kami putuskan untuk menunggui orang2 shalat, kalau2 ada salah satu diantara mereka yang memiliki sendal ini. Tapi, setelah beberapa orang yang seangkatan/berbarengan datangnya dengan kami meninggalkan masjid dan tak ada satupun yang melirik sendal tersebut, kami berpandangan:
"Gimana nih, Neni? Gua takut dosa pakai sendal orang."
"Ga tau deh Mbak, feeling saya mah ketuker sama yang tadi... tapi saya takut salah, tar saya ikut dosa lagi... Feeling Mbak gimana?"
"Gua ga da feeling!"
Akhirnya, Mbak Erna terpaksa memakai sendal tersebut.
"Mbak kayaknya kehilangan banget ya Mbak? Saya mah kebayangnya, kalau sendal itu dah benar2 ga bisa dipake, kayaknya bakal Mbak kubur. Ini mah gimana mau nguburnya ya Mbak, jasadnya aja ga ada."
"Iya, gua mah ga akan ngelepasin tuh sendal sampai dia benar2 ga bisa dipake lagi."
Pernah terlintas membelikan Mbak Erna sendal baru, sekalian kenang2an kalau2 dia jadi kembali ke Padang dan kerja di sana. Tapi, ga semudah itu memberi sendal pada Mbak Erna. Mbak Erna punya koleksi sendal lain, ia juga cukup mampu beli yang baru. Masalahnya adalah Mbak Erna sepertinya telah jatuh hati pada sendal ini. Kalaupun ia membeli sendal baru yang persis sama, aku tak yakin Mbak Erna akan menyayangi sendal baru itu seperti ia menyayangi sendal yang hilang.
Mbak Erna tipe orang yang sangat memilih segala sesuatu yang masuk dalam kehidupannya. Memilihnya dengan hati dan benar2 menjaga pilihan hatinya. Pernah aku dan Mbak Erna beli tas, dan tas yang ia beli belum pernah dipakainya dengan alasan ia sangat suka tas itu. Tas berwarna coklat, dengan aksen manik2 dan bulu2 benang. Ia sangat takut manik2nya lepas dan bulu2nya rontok! Tas yang jika didiskon hingga 95% sekalipun, tak kan pernah terpikir untuk kubeli! Karena aku tak akan punya cukup rasa percaya diri untuk menyandangnya; karena aku tak mau mengundang perhatian orang2 dengan manik2 dan bulu2nya...dll.
Orang bilang : 'U'll never know what you've got till it's gone." Buat Mbak Erna, kata2 ini ga berlaku karena ia tahu pasti apa yang dia punya, dan walau pun begitu (atau justru karena itu), dia tetap merasa sangat kehilangan.
Thursday, January 29, 2009
Membaca Pikiran Mustafa
Hari ini di harian Kompas, aku tak bisa berhenti memandangi sebuah foto lagi dan lagi. Ada seorang anak kecil bernama Mustafa (5) sedang duduk dalam posisi jongkok dengan latar belakang reruntuhan bangunan. Gaza-Palestina nama tempat ia berada. Dan reruntuhan tersebut adalah rumahnya yang terkena bom pada tanggal 27 Desember 2008. Foto Mustafa diambil pada hari Jumat, 23 Januari 2009.
Seperti yang terlihat di foto, tatapan mata Mustafa kosong. Tangan kanannya memegangi paha kanan, sementara tangan kirinya, dengan keempat jari terkepal, menutup bibirnya. Sedangkan jempolnya berkhianat dari keempat jari lain saat ia memutuskan menekan pipi Mustafa.
Melihat ekspresi Mustafa, aku seolah tersihir. Tak bisa berpaling dari memandangi wajah polosnya untuk waktu yang cukup lama. Dengan tatapan kosong, dan jari-jari yang membekap mulutnya, gaya melamun Mustafa tampak seperti gaya melamun seorang dewasa. Aku tiba-tiba jadi sangat penasaran, kira-kira gerangan apa yang sedang dipikirkan anak sekecil ini, yang duduk di antara reruntuhan rumahnya.
Dan aku mendadak kehilangan kemampuan mengira-ngira... Aku tak punya ide meski hanya untuk mengira-ngira... Atau aku tak tega atau tak berani mengira-ngira pikiran anak ini.
Semakin aku mencoba mengira-ngira, semakin mataku berkaca-kaca.
Akhirnya kuputuskan menyerah. Aku hanya bisa berdoa semoga Mustafa masih percaya pada kekuatan doa dan masih menjaga mimpi kanak-kanak yang semoga tak senasib dengan rumahnya. Agar ia masih bisa berdiri menyambut esok hari (meski tak pasti).
Bukankah doa dan mimpi (yang bisa menjadi motor sebuah atau serangkaian aksi) bisa menembus batas-batas kemustahilan, menghancurkan dinding penghalang, melesat melampaui kenyataan (yang dikenal orang kebanyakan), atau (khusus untuk Mustafa) mungkin mimpi bisa sekedar membuatnya percaya bahwa esok yang lebih baik pastilah ada.
Wednesday, January 28, 2009
Suatu Pagi...
Seperti cuaca pagi di Bandung Utara; tempat yang masih sangat kusuka dan sering kurindukan.
Aku pun tak menyiakan momen ini. Kuputuskan duduk di pintu kamar, menikmati cuaca yang tidak biasa menyelimuti Jakarta. Dari balik teralis melingkar--yang jika hujan menjadi cabang tempat mutiara-mutiara air bertahta--aku melihat beberapa anak laki-laki menaiki metromini yg belum beroperasi dan diparkir tak jauh dari kamarku. Seorang anak laki-laki yang dahinya tertutup rambut dan bermata sipit memandu teman-temannya untuk naik metromini dan bertingkah layaknya seorang kenek sungguhan.
Aku tertawa sendiri melihat tingkahnya yang begitu menghayati peran. Terlebih saat ia berdiri di pintu metromini, dengan satu tangan berpegang pada besi yang melintang di atas kepalanya, sementara tangan yang lain menunjuk-nunjuk ke depan seolah ia melihat penumpang dan menawarkan tumpangan. Ia pun berteriak, "Psar... psar... psar". Tentu saja penumpang itu khayalan, dan laju bus pun hanya khayalan. Tujuan pun khayalan, karena tidak ada kenek yang menyebut "Pasar" saja, sebab ada banyak pasar di Jakarta.
Sementara kenek menunjuk-nunjuk ke luar, penumpang lain duduk dengan tenang di dalam metromini. Lalu, seorang penumpang meminta turun, diikuti semua penumpang lain. Dengan fasih, sang kenek berteriak, "Kiri... Kiri... Kiri". Tak lupa ia melambai-lambaikan tangan, sambil tubuhnya condong ke sisi luar. Ia berhenti melambai, dilanjutkan dengan memukul-mukul badan metromini, dan melongok ke arah bangku supir yang kosong, seolah ingin mengintimidasi supir yang juga khayalan untuk mengindahkan ia punya permintaan. Saat mobil belum berhenti (menurut perkiraannya sendiri), ia menghalangi penumpangnya untuk tidak terburu-buru turun. Para penumpang pun menurut sambil melongok ke depan, seolah mereka memang harus berhati-hati dengan kendaraan lain di depan sana. Sang kenek melambaikan tangan lagi, demi menjaga keamanan penumpang, yang turun bergantian.
Kiraku, jalan yang mereka tempuh adalah jalur dua arah, dan sepertinya metromini berhenti di tengah-tengah. Jika jalur searah, penumpang dan kenek yang melambaikan tangan akan melihat ke belakang dan bukan ke depan.
Tak lama, melintas seorang anak bersepeda dari arah depan. Oh rupanya anak ini yg mereka pandangi, yang membuat mereka kompak memandang ke satu arah. Satu adegan yang mempertajam harmoni drama ini.
Saat pengendara sepeda melintas di depan mereka, sang Kenek pun menyilakan penumpangnya turun. Ia memegangi bahu setiap mereka yang turun, sebentuk asistensi sebagai wujud dedikasi.
Mereka (termasuk kenek) kemudian berlari mengejar si pesepeda; mengakhiri drama, meninggalkan metromini yang mendadak sepi tiada sesuara.
Aku masih tersenyum sendiri mengingat momen saat sang Kenek menunjuk-nunjuk penumpang khayalan yang berdiri di pinggir jalan yang juga khayalan. Tiba-tiba, terlintas dalam kesadaran bahwa setiap profesi--sesederhana apa pun itu--membutuhkan keterampilan. Seorang kenek baiknya lincah dan gesit memandu dan melindungi penumpang saat mereka naik/ turun, terlebih jika metromini berhenti di tengah jalan di antara kendaraan lain yang kebanyakan berlomba menguasai jalanan. Seorang kenek juga hendaknya bersuara lantang agar bisa berteriak keras, cepat, tegas, dan jelas (setidaknya jelas untuk dirinya sendiri). Mungkin, kenek pun belajar teknik bagaimana membuat irama ketukan koin pada rangka metromini baik itu pada kaca, besi, atau dindingnya sebagai tanda kepada supir untuk berhenti. Ia juga mungkin belajar, bagaimana menggoyang beberapa koin di genggaman agar penumpang tahu ia sedang menagih, dan sepertinya ia juga belajar bagaimana teknik mencolek bahu penumpang yang sedang melamun hingga lupa membayar... :->
Seekor Kupu-kupu dan Gerombolan Semut
Dan fenomena ini berakibat pada lahirnya fenomena lain. Aku melihat banyak pria keluar dari mobil, menyingkir ke semak-semak tepi jalan dan membuang hajat di antara rimbun dedaun liar! Sangat banyak! Dari ujung depan maupun ujung belakang, dari sisi kanan maupun kiri jalan. Tapi jangan bayangkan mereka berdiri berjajar, jaraknya berjauhan antara satu pria dan pria lain, dan mereka menyingkir bergantian, tidak serempak. Dan aku yang sejak awal bertekad menikmati perjalanan hari ini harus memalingkan wajah dari pemandangan tersebut, demi menjaga keindahan/ esensi perjalanan. Apa bagusnya menyaksikan punggung laki-laki di semak-semak? Ups..tapi bukan berarti aku ingin melihat bagian depan mereka saat itu, lho.. :-P
Jadilah aku memandangi rerumputan di sisi mobil melalui jendela yang tertutup. Aku melihat seekor kupu-kupu putih yang sedang hinggap di hijau rumput tepian jalan beraspal. Aneh. Tidak biasanya kupu-kupu hinggap berlama-lama di rerumputan, di dekat aspal pula. Lama kuperhatikan, aku merasa ganjil dengan kelincahan si kupu-kupu. Ia mengepak-ngepakkan sayapnya tapi tidak kemana-mana. Hanya sedikit bergeser ke kiri, ke depan, ke kanan, lalu sedikit berputar di tempat itu juga. Mungkinkah sayapnya terluka, tanyaku dalam hati. Kemudian, samar-samar aku melihat sesuatu bergerak di dekat kupu-kupu, di sekitar aspal berbalut pasir. Kutempelkan dahiku ke kaca mobil untuk menyiasati penglihatan. Dan aku melihat segerombol semut merah mengepung si kupu-kupu. Mereka berusaha mencabik sayapnya yang tipis rapuh dan mengoyak tubuhnya yang lunak. Gerakan lincah yang ganjil rupanya bentuk usaha kupu-kupu untuk membebaskan diri dari semut-semut. Dan sepertinya kupu-kupu itu lelah dan mungkin sebentar lagi menyerah, karena kulihat makin lama ia makin tak lincah.
Aku tak tahu apakah kupu-kupu ini sudah terluka atau cacat sayap, saat semut menyerangnya. Atau apakah memang sejak awal semut menyerangnya lebih dulu, lalu berusaha menyantapnya. Jika yang pertama adalah sebab prosesi ini, sungguh tragis nasib kupu-kupu harus berakhir di perut puluhan semut kecil, yang mungkin tidak pernah diketahuinya ada. Jika yang kedua jawabannya, betapa semut sekecil itu bisa berbahaya bagi seekor kupu-kupu yang bersayap, yang badannya puluhan kali lebih besar dari mereka. Kebersamaan gerombolan semut, meneguhkan kekuatan mereka.
Demikianlah aku menjadi saksi pertarungan antara gerombolan semut dan kupu-kupu. Bayangkan, satu gigitan semut merah saja bisa menyusahkan kita, apalagi untuk seekor kupu-kupu, digigit semut beramai-ramai pula.
Aku sempat bertanya-tanya, apakah kupu-kupu ini pernah melakukan kesalahan selama hidupnya hingga berakhir tragis? Atau mungkin semut-semut telah berusaha giat mendapatkan makanan selama berhari-hari dengan tekun dan sabar, hingga akhirnya mereka diganjar seekor kupu-kupu? Atau kupu-kupu pernah berdoa agar ia mati dalam keadaan berguna, dan menjadi makanan semut adalah jalannya?
Apapun itu, aku hanya mencoba percaya... Kejadian ini memang perlu terjadi untuk sebuah alasan atau beberapa alasan yg baik--bagi kupu-kupu, bagi semut-semut, dan bahkan bagi diriku sendiri.
* Renungan Sabtu, 17 Januari 2009.
