Monday, June 30, 2014

Free Writing Bersama Caca & Lala: Pizza Rasa Cinta!


Bisa dibilang ini kali pertama saya menulis bersama anak-anak. Siapa sangka, ternyata saya pun belajar beberapa hal dari mereka.

Suatu pagi menjelang siang (24/6), Caca masuk ke kamar sambil main game di HP saya. Saya pun melihat kesempatan mengajak Caca dan Lala untuk menulis bersama. Awalnya saya cerita pada Caca bahwa saya sering mengirim kuis ke majalah sewaktu masih kecil dan mendapat hadiah. Saya juga menulis artikel dan pernah dimuat juga, bahkan saya bisa jalan-jalan gratis karena saya menulis. Lalu saya menunjukkan buku kumpulan cerpen bersama teman-teman klub nulis di Bandung berjudul A to Z by Request--buku yang diterbitkan pertama yang mencetak nama saya, meski hanya menyumbang 1 cerpen saja.

Melihat nama saya tertera di sana, Caca tertarik membacanya. Ia pun membawa buku tersebut ke ruang tamu. Tak lama, mamanya datang dan melihat buku tersebut. Eh, kakak ipar pun tertarik membaca dan meminjamnya untuk dibawa pulang. Caca sempat bilang, "Yah bukunya dibawa Mama, padahal Caca pengen baca."

Mendengar ini, saya lalu mengajaknya untuk belajar menulis saja. Saya menceritakan bahwa konsepnya akan sama dengan kegiatan menulis bersama dengan teman-teman di klub nulis. Meski ragu-ragu, Caca akhirnya mau juga, termasuk Lala yang baru masuk kamar.

Seperti yang sudah disebutkan, prosedurnya mengadopsi apa yang saya praktekkan di klub nulis RLWC. Thanks to RLWC. Saya menentukan tiga tema (cupcakes, pizza, dan boneka anjing) yang ditulis dikertas lalu digulung dan diundi. Saya kasih waktu 10 menit. Selesai menulis, kami membacakan karya kami secara bergantian sesuai hasil 'hom-pim-pah'. Saya juga merekam suara mereka membacakan tulisan masing-masing.

Pada sesi pertama, Lala mendapat giliran pertama membaca. Ia begitu malu-malu membacakan ceritanya. Saat menulis pun ia banyak komentar, "Nulisnya gimana?" Saya mengusulkan, "Ya tulis aja, apa pun. Tulis aja 'duh nulis apa ya, misalnya.". Alhasil, tulisannya pun singkat saja. Di bawah ini nanti adalah tulisannya yang kedua. Setelah mendengar tulisan Aunty dan kakaknya, ia jadi lebih bersemangat menulis. Kami bahkan melewati 4 atau 5 kali sesi menulis, karena Lala minta nulis lagi dan lagi.

Berikut adalah beberapa hal yang saya pelajari kemarin:

Jujur dan apa adanya adalah hal pertama khas anak-anak. Itu pula yang saya rasakan saat saya mendengar tulisan mereka. Ada kesan tersendiri yang ditangkap oleh indera saat saya mendengar cara mereka menerjemahkan tema ke dalam tulisan.  

Meski sederhana, Caca bisa menuangkan idenya tentang "Cupcakes" di kertas dengan lancar dan jujur. 

Tulisan Caca, tema "Cupcakes"
Selain tulisan singkat di atas, Caca juga bahkan bisa menulis cerpen utuh dan selesai sebelum waktu yang ditentukan habis. Cerpen yang juga membuat saya terkesan, meski sederhana khas anak-anak. Saya tidak menyangka akan bakat mereka. Saya langsung membandingkan dengan diri sendiri; saat saya seusia mereka, belum tentu saya bisa menulis seperti itu.

Dari kegiatan menulis bersama ini, tentu saya juga berkesempatan mengenali emosi, perasaan, dan keinginan mereka. Saya jadi tahu, bahwa Caca belum pernah makan cupcakes dan bertanya-tanya seperti apa rasanya. Saya sempat bilang bahwa nanti kami akan belajar bikin cupcakes. Mereka sangat bersemangat dan terus menagih janji saya. Sayang saya belum bisa memenuhinya. Belum browsing resep dan bahannya saya belum tahu harus cari ke mana. Tapi dari game yang mereka mainkan, mereka menuliskan untuk saya resep cupcakes, hanya saja tidak ada takaran untuk tiap bahan. Duh, jadi makin merasa berdosa belum bisa ngajak mereka bikin. 

Saya jadi lebih mengenal mereka melalui media tulisan. Jika tidak melewati kegiatan ini, saya mungkin tidak pernah tahu bahwa Caca belum pernah makan cupcakes dan ia bertanya-tanya seperti apa rasanya. 

Saya juga jadi tahu bahwa meski masih kecil, Lala mengerti makna kata "Kecewa" dan bisa mengungkapkan makna kecewa dengan apik dalam sebuah cerita. Selama ini, Lala tampak jarang mengungkapkan emosinya. Ia banyak diam tapi diamnya adalah memperhatikan. Ia sangat peka terhadap lingkungan serta keadaan dan perasaan orang lain. Tapi ia jarang bicara tentang dirinya, keinginannya apalagi emosinya. Mendengar ia membacakan tulisan kecewa, saya (lagi-lagi) terkesan. 

Dalam tulisannya, tokoh aku menantikan kejutan ultah. Aku bahkan berpikir untuk berdandan cantik demi menyambut kejutan. Eh,di akhir cerita, aku harus kecewa karena kejutan yang ditunggu tak datang sebab ayah dan mama sangat sibuk. Kasian.... Saya langsung menanyakan kapan ia akan ultah, dan berjanji dalam hati akan mengingatnya. 

Tulisan Lala, tema "Kecewa"

Saya pernah membaca bawasannya feeling message atau ungkapan perasaan tentang apa yang kita alami (atau cara kita memaknai sesuatu) akan jauh lebih mengena dan menarik untuk didengar dari pada hanya ungkapan fakta tentang apa yang terjadi. Di dalamnya terdapat emosi. Feeling message memberi kita kesempatan untuk mengenali emosi seseorang lebih jauh. Hal ini terbukti saat saya mendengar setiap tulisan pengalaman mereka.

Selanjutnya yang saya pelajari saat menulis bersama mereka....hmmm... mungkin kalian pernah mendengar tips menulis bahwa sebelum menulis adalah penting menentukan siapa yang akan membaca tulisan kita (target pembaca). Selama ini, saya tahu tentang ini tapi sepertinya tidak sungguh-sungguh menerapkannya. Pentingnya tips ini baru sangat saya sadari saat saya menulis bersama mereka. Saat saya tahu pasti bahwa tulisan saya ditujukan untuk mereka atau tahu pasti siapa yang akan mendengar (atau membaca) tulisan saya, otomatis gaya bahasa, sebutan, dan cara saya menulis sudah terbentuk sejak awal.

Di tulisan saya yang bertema "Pizza", saya memilih memakai sebutan Aunty (panggilan mereka untuk saya), paman (panggilan untuk hubby-ku) dan Nyai (panggilan untuk nenek mereka) dan bukannya menyebut 'aku', 'hubby-ku', 'mama mertua-ku. Ada perbedaan besar hanya dengan mengganti panggilan (sebutan untuk tokoh) lantaran sudah tahu siapa target pembacanya--terkesan lebih spesifik dan lebih dekat.

Saya menulis: 
Suatu hari, paman pulang bawa pizza ukuran besar. Yummy. Pizzanya rasa sapi lada hitam. Enak deh. Rasanya hampir mirip semur daging buatan Nyai. Saat Aunty dan Paman makan pizza, Nyai datang. Nyai pun ditawari pizza, tapi langsung menolak. 

Akhirnya ya udah deh, Aunty pun makan 2 potong besar pizza, eh malah 3 potong! Besoknya, Aunty juga sarapan pizza. Pizzanya masih bagus kok, soalnya Aunty simpan di kulkas. Saat ingin dimakan, pizzanya dihangatkan dulu di rice cooker...... dst.

Oh ya ada kejadian lucu tentang tulisan pizza ini. Rupanya kalimat pembuka tulisan ini sangat melekat di ingatan Lala. Hingga, saat kami sudah selesai menulis dan sedang duduk bersama, Lala mengulang kalimat pembuka tersebut, "Suatu hari paman pulang bawa pizza...."

Mendengar ini kontan saya bertanya, "Terus...? Pizzanya rasa apa?" Karena di tulisan saya, rasa pizza adalah kalimat lanjutannya. Saya ingin menguji ingatannya.

Belum sempat Lala menjawab, Caca nyeletuk dengan entengnya, "Rasa cintaaaa...."

Hahaha.... Pizza rasa cinta! Kami tertawa bersama mendengarnya.

Di tulisan lain, saya menutup tulisan dengan sebuah pertanyaan. Dan selesai saya membacanya, mereka langsung menjawab pertanyaan saya tersebut. Mungkin mereka merasa harus menjawabnya, sebab merasa tulisan saya ditujukan untuk mereka. 

***

Sudah lama saya tidak mempraktekkan free writing bersama. Kegiatan kemarin menjadi semacam nostalgia, hanya saja teman menulisnya anak-anak. Karenanya, saya 'mengalami' dan belajar beberapa hal baru. 








Saturday, June 28, 2014

Seminggu Bersama Caca dan Lala

Seminggu belakangan, sejak hubby terbang ke pulau nun jauh di sana, ada dua keponakan yang menginap di rumah sini. Ada Caca (10 thn) dan Lala (7 tahun).

Meski mereka lebih banyak sibuk main game di Ipad pamannya (hubbyku--red.) atau di HP saya, kehadiran dua bocah yang sedang libur sekolah ini membuat ramai rumah. Ada saja tingkah atau celotehan mereka yang membuat tertawa, terheran-heran, takjub, juga termasuk kesal. Tapi, kesan tersebut yang membuat hari-hari belakangan jadi lebih 'kaya'--kaya dalam hal emosi, cerita dan lainnya. 

Saat bangun pagi, hal pertama yang mereka cari adalah Ipad, dan sebelum tidur hal terakhir yang mereka lakukan adalah men-charge Ipad agar bisa langsung dipakai esok paginya. Sarapan Ipad. Bisa dibilang mereka hanya berhenti ketika harus makan, mandi atau ketika Nyai (panggilan untuk nenek mereka a.k.a mama mertua) mereka melarang. Saat Caca yang pegang Ipad, Lala akan pegang dan main game di HP saya dan sebaliknya. 

Meski hampir seharian mereka sibuk dengan game masing-masing, mereka tak pernah membiarkan saya berlama-lama sendiri. Terlebih lagi Lala. Setiap saya masuk kamar, bisa dipastikan tak lama ia akan masuk dan menyapa. Sambil membawa Ipad ia akan berbaring main game di dekat saya. Pernah pagi-pagi sekali, ditengah kesibukan main game, tiba-tiba ia mencium kening saya. Tanpa rasa berdosa. Saat saya memandanginya, ia hanya tertawa malu. Kadang saya menggodanya, "Siapa yang sayang aunty?" Lalu Lala dengan cepat menjawab, "Nggak ada."

Pernah juga suatu kali ia masuk (tanpa Ipad di tangan sebab dipakai oleh Caca), hanya untuk bertanya "Aunty kok ga keluar-keluar kamar?" Atau beberapa kali, ia sekedar datang memeluk atau ragu-ragu menciumi pipi aunty-nya yang sibuk dengan HP.

Bahkan ketika di depan TV; saat Ipad di tangan Caca, dapat dipastikan Lala akan nempel pada saya; memeluk lengan saya atau kadang-kadang melotot pada saya saat saya menasehati ia, misal saat saya menyuruh mandi atau makan atau melarang ini itu. Kami juga pernah adu melotot tapi sambil tertawa-tawa. Pokoknya kalau aunty-nya tampak diam, Lala tidak akan tinggal diam. Dengan caranya sendiri ia berusaha 'ada' untuk saya. Saya merasa disayang.

Lain Lala, lain Caca... Caca lebih sering membuat saya takjub dengan pertanyaan-pertanyaannya. Pernah dia bertanya, "Aunty, emang kalau cokelat diliatin aja bisa abis ya?" Hahahah.... Bagaimana cerita cokelat dipelototin bisa abis?

***

Sebagai orang dewasa (ceileehh...), saya prihatin dan merasa bersalah melihat mereka sibuk dengan game. Saya mengadili diri saya sendiri "Aunty macam apa saya ini, ga bisa mengajak mereka melakukan sesuatu yang bisa mengalihkan mereka dari game."

Dengan pendekatan pelan-pelan, saya berhasil mengalihkan mereka. Meski tak banyak pengalihan yang saya lakukan, paling tidak porsi main game mereka berkurang. Hari Selasa kemarin (24/6), kami melakukan ritual menulis bersama. Saya tidak menyangka dengan kemampuan mereka menulis, terlebih Caca. Ia bahkan menulis cerpen utuh hanya dalam waktu sekira 15 menit.

Konsepnya sama dengan klub nulis yang saya ikuti; pertama akan ada tema yang diundi, setiap orang mendapat satu tema dan harus menulis dengan tema tersebut selama waktu yang ditentukan, lalu akhirnya setiap orang akan membacakan masing-masing tulisan karyanya.

Lala yang tadinya malu-malu dan ogah-ogahan jadi ketagihan menulis. Aunty-nya sudah bosan dan ngantuk, ia masih semangat ingin nulis lagi. Saya akan ceritakan karya mereka dan apa yang saya pelajari dari mereka, khususnya tentang menulis, di tulisan terpisah.

Kami juga membaca buku bersama. Caca menghabiskan novel tebal Sundea, berjudul "Dunia Adin" dalam 2 hari. Woww... Aunty aja butuh waktu berminggu-minggu. Kalau Lala ini manja, dia nggak mau baca sendiri. Saya pun membacakannya cerita dari "Salamatahari". Saya minta ia memilih sendiri cerita mana yang ingin dia dengar dengan melihat daftar judul-judul. Sejak itu, besoknya ketika akan tidur, dia akan bilang, "Salamatahari...." sambil menyodorkan buku kecil yang tadinya hanya dimain-mainkan pita kuningnya. Saya akan membacakan 2 atau 3 cerita, lalu ia pun tidur.

Kadang ia masih mengganggu saya, saat saya sibuk menerima telpon pamannya atau bbman dengan teman. Jadi dia yang balik nyuruh tidur, ya usap-usap pipi atau pencet-pencet hidung saya, sambil curi-curi cium pipi malu-malu. 

Pernah ia bilang sambil mencet hidung, "si pesek..."
"Siapa yang pesek?" tanya saya.
"Aunty..."
"Emang  Lala mancung?"
"Enggak...hehehehe..."
Saya pun terbahak mendengarnya. 

Pernah saya suruh ia lekas tidur sementara saya sibuk bbman, dia bilang: "Enggak. Saya nggak mau tidur. Saya belum siap."

Ealaaahhh....apaaa kali? hahaa....

Kami juga sempat bikin kue bersama. Mereka ingin sekali bikin cupcakes, tapi sayang saya belum bisa merealisasikan. Awalnya karena tulisan Caca yang bertema tentang cupcakes. Saya menjadikan cupcakes sebagai tema karena mereka suka main game cupcakes. Di akhir tulisan, Caca bilang belum pernah makan cupcakes. Lalu tercetus dari saya, "Mau bikin nggak? Tar kita bikin."

Dan sodara-sodara, jangan pernah menjanjikan apapun pada anak-anak karena mereka akan ingat dan menagih janji. Karena bahannya susah kayaknya, saya tawarkan bikin kue kering, mereka juga excited. Tapi sayang alatnya nggak ada. Lalu Lala meminta, "Bikin kue bolu aja, Aunty. Pake keju dan susu." Jadilah bikin bolu tapi bolu gula merah dengan sedikit keju, hahahaa....

Mereka saya beri tugas, Lala parut keju, Caca ngayak tepung, dll. Di tengah proses bikin kue, yang marut keju nyerah karena kejunya susah diparut dan beralih jadi seksi dokumentasi, motretin aunty dan kakaknya.

Pernah kami nonton Aksi Junior Indosiar, dimana ada penceramah cilik bernama Asep. Nah, selama Asep ceramah, Lala sibuk mukul-mukulin bantal kursi ke mukanya atau dilempar-tangkap beberapa kali. Saya sempat melarang karena debunya keluar semua nantinya. Saya nggak mikir aneh-aneh tentang sikap Lala.

Lalu tiba-tiba, Caca nyeletuk begini: "Kenapa sih, La kamu La? Orang lain yang ceramah kok kamu yang malu."

Mendengarnya, saya terbahak. Saya pun ikut-ikutan menggoda Lala, "Oooh...jadi Lala suka Asep ya?" Tentu saja pertanyaan ini langsung disangkal mentah-mentah sambil melotot-melotot ga jelas.

Kami juga main game Tebak Gambar bersama. Game ini kadang-kadang bikin bingung. Kalau udah bingung gamenya dialihkan ke game lain, nanti dibuka lagi, dibahas dan didiskusikan bareng-bareng jawabannya. Setelah diendapkan, sering bisa kejawab deh.

Dan masih banyak lagi 'keajaiban' mereka yang meramaikan suasana dan hari-hari saya, khususnya seminggu ini.


Tadi siang mereka pulang. Dan rumah langsung sepi. :(




NB:
Saya ingin mengingat momen bersama mereka karena itu saya menuliskannya. 



Monday, June 23, 2014

Kenangan yang Nyaris Hilang: Pulau Lembongan Bali

Pulau Lembongan sepertinya tidak terlalu akrab ya di telinga kita. Tapi, mengunjungi pulau ini saat kalian berkesempatan ke Bali akan memberikan pengalaman tersendiri. 

Pemandangan sepanjang jalan menuju Pulau Lembongan

Pulau Lembongan memang agak jauh dari pusat pariwisata Bali, untuk mencapainya harus naik perahu kayu atau speedboat dari Pantai Sanur. Atau bagi yang berkocek tebal bisa menikmati kemewahan jasa cruise (kapal pesiar) yang memang menyediakan jasa mengunjungi pulau tersebut, lengkap dengan kemewahan lain yang bisa dinikmati di cruise-nya itu sendiri. Dibutuhkan waktu sekira satu jam dengan cruise atau speedboat dan 1,5 jam dengan menumpang perahu kayu untuk tiba di pulau tersebut. 

Meski saya tidak berkocek tebal, beruntung saya bisa mengunjungi pulau cantik di Tenggara Bali ini dengan menumpang cruise, Bali Hai II Reef Cruise namanya. Tiket menunjukkan harga Rp800.000,00 dengan mendapat fasilitas untuk menikmati hampir semua kesenangan yang ditawarkan di cruise (banana boat, snorkeling, scuba diving, village tour, coral viewer, makan siang, dll). Fasilitas seperti parasailing tidak termasuk dalam paket ini. 

Bisa dibilang saya beruntung ya bisa naik cruise gratis, tapi sayangnya sebab saya sedang bekerja (meliput--red.) maka semua kesenangan tersebut tidak bisa sepenuhnya saya nikmati. Lah wong saya harus kerja nenteng-nenteng kamera dan mengabadikan gambar. 

salah satu ruangan cruise. pemandangan air laut dengan biru sembpurna dari dalam pesiar....
Ada rasa bangga tapi juga sedih sekaligus saat saya naik cruise ini. Pasalnya hampir semua penumpang cruise (mungkin 99%) adalah bule. Orang Indonesia hanyalah para pekerjanya. Saya sempet mikir jangan-jangan hanya saya penumpang yang orang Indonesia. Lalu, saya melihat satu keluarga Indonesia saja. Orang Indonesianya ke mana? Apa kurang mampu atau memang ga tertarik ya? Kalau karena kurang mampu bayar cruise yang mahal, miris amat ya... Keindahan alam kita hanya untuk orang asing. Dan kita hanya jadi pekerja, termasuk saya yang naik karena urusan kerja. 

Tufa dan suami menikmati banana boat, saya menonton. Lalu...lalu....eh ada coral viewer. Karena tak harus berbasah-basahan dan tetap aman dengan menenteng kamera, saya ikut naik fasilitas ini. Coral viewer ini memungkinkan kita bisa melihat alam bawah laut tanpa berbasah ria (tanpa harus bersnorkeling atau diving). Coral viewer memiliki ruang yang memungkinkan kita duduk manis di bangku kayu, kedua sisi ruangnya tembus pandang dan langsung menampilkan pemandangan bawah laut di kedalaman lebih 10 meter. Nah, jadi begitu masuk coral viewer, kita akan langsung turun tangga yang mengantar kita ke ruangan bawah laut tersebut. 

ini dia coral viewer
Kesenangan melihat ikan-ikan sambil muter-muter di sekitar cruise utama ini hanya berlangsung 15 menit. Saya bisa melihat banyak ikan kecil-kecil tapi sayang ga bisa difoto. Sayangnya pula, terumbu karangnya kurang indah. Menurut seorang pegawai (orang Bali), yang datang menemani saya duduk, dulunya karang di sini banyak, tapi karena apa ya lupa, jadi banyak yang rusak. Pegawai cruise ini lumayan lama juga ngajak ngobrol padahal saya lagi malas berbasa-basi. Tapi berhubung saya lagi kerja, lumayan juga cari-cari tambahan informasi dari beliau, seperti tanya-tanya tentang kedalaman coral viewer yang kami tumpangi, penyebab rusaknya terumbu karang di sekitaran, dll.

Selesai makan siang, saya mengajak Tufa dan suaminya untuk ikut village tour ke Pulau Lembongan. Cruise tidak menuju ke pulau ini, ia hanya berenti (stand by) di pontoon (kira-kira tempat parkir gitu deh). Kami harus menumpang speedboat lagi untuk sampai di Lembongan. Jadwal village Tour setiap 1 jam sekali. 

cantiiik...
Seorang tour guide sudah menyambut kami. Rombongan terdiri dari sekira 10 orang. Banyak rumput laut tampak dijemur di sepanjang jalan perkampungan di Pulau Lembongan. Memang banyak penduduk yang bekerja sebagai petani rumput laut.

Kami juga di antar melihat pohon yang usianya ratusan tahun, di dekat pohon banyak terdapat kuburan sementara orang-orang Bali yang belum bisa di Ngaben karena alasan biaya. Maklum biaya Ngaben bisa puluhan juta, dan sebelum dana itu terkumpul, jasad dikubur sampai waktunya nanti di bakar dengan upacara Ngaben. Bisa sampai belasan tahun, jasad tersebut belum bisa diNgaben-kan.


rombongan tour
Tour berlangsung sekira 45 menit. Kami berjalan menyusuri kampung; melihat puskesmas, mengobrol bersama pengrajin tenun ikat, melihat anak manjat pohon. Untuk para turis asing, atraksi ini menarik. Beberapa dari mereka mencoba ikut memanjat pohon dan tertawa-tawa riang karenanya. Kami juga mengunjungi toko yang menjual kain khas tradisional. Kami disuguhi air kelapa muda di toko ini. 

Selesai village tour, kami duduk di sebuah warung sambil menunggu boat yang menjemput datang. Tidak merasa bosan-bosan amat karena pemandangannya menyejukkan mata, menyenangkan hati yang gundah gulana... *apa coba? hehe....

kami duduk di bawah warung tepi pantai menunggu jemputan dan dimanjakan dengan pemandangan cantik ini
***

Kenapa kenangan ini saya bilang nyaris hilang? Saya bahkan lupa nama pulau yang sempat saya kunjungi dengan pesiar tersebut, kemewahan yang (seharusnya) bisa saya nikmati dan secara gratis pula, serta keindahan alam yang (seharusnya) sangat mengesankan saya, dan kenangan lainnya yang seharusnya terekam baik di memori mereka yang suka jalan-jalan. 

Untung ada tulisan news di web Kemenparekraf yang menjadi dokumentasi singkat perjalanan ke sana. Dari artikel tersebut, saya bisa menggali ingatan saat ke Lembongan. Ini link nya di sini

Semua hal yang sebelumnya menjadi impian dan membuat iri banyak pecinta jalan-jalan itu jadi tidak penting dan nyaris terlupakan (karena tidak dinikmati) dan sebabnya adalah karena... GALAU. Heheheh... jadi pada akhir Januari 2013 itu adalah masa yang sangat rentan (ceileh); istilahnya mah badan di mana pikiran ke mana... (aduhai curcol).

Uppss... sebelum jadi curhat colongan, dan karena galaunya sudah lewat, jadi mending bahas latar belakang penugasan saya ke sana.

Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, akhir Januari 2013, saya ditugaskan meliput dan menemani kegiatan pemenang lomba lari New York Marathon yang berlibur ke Bali, namanya Tufa dari Ethiopia. Apa hubungannya New York Marathon dan Bali dan saya? 

Jadi ceritanya ajang New York Marathon itu kan ditonton ratusan juta penduduk dunia, nah, Kemenparekraf melihat ini sebagai peluang besar untuk mempromosikan keindahan dan pariwisata Indonesia (khususnya Bali). Kemenparekraf pun menjadi salah satu sponsor untuk event dunia tersebut dengan memberi hadiah gratis jalan-jalan bagi pemenang lomba marathon. Dengan harapan, keindahan Bali akan kian tersiar melalui cerita pengalaman para pemenang lari yang diundang berlibur gratis ke Bali. 

Saya menemani mereka selama 3 hari di Bali, termasuk sehari perjalan PP ke Yogyakarta. Kala itu saya masih menjadi copywriter untuk konten website resmi Kemenparekraf. 

Demikian. :)




Wednesday, May 28, 2014

Senyum Karyamin dan Surabanglus = Mood Susah

Kemarin saya membaca sebuah buku kumpulan cerpen karya Ahmad Tohari, "Senyum Karyamin". Saya sudah membelinya beberapa waktu lalu, tapi baru sempat membaca. Saya pikir saya ingin mengenal Tohari dari cerpennya terlebih dahulu. Saya penasaran dari dulu tentang bukunya yang berjudul "Ronggeng Dukuh Paruk" tapi belum juga berkesempatan membaca. Pernah menonton filmnya, meski tidak secara intens (baca: konsentrasi) dan tidak tertarik. Dan itu belum juga mengubah kenyataan bahwa saya belum membaca bukunya itu.

Nah, dari pengantar kumpulan cerpen ini saya sudah merasa bahwa cerpen-cerpennya akan tentang kesusahan wong cilik, rakyat jelata yang berjuang hidup sehari-hari dan ketidakadilan hidup yang mereka tanggung. Dan rupanya dugaan saya tidak meleset.

Kumpulan cerpen ini dibuka dengan "Senyum Karyamin"--judul yang dijadikan judul buku. Berkisah tentang Karyamin, seorang kuli yang mengambil batu kali untuk dijual pada tengkulak. Gaya berceritanya memang menarik, kita diajak mengenali tokoh dan masalahnya dengan pertama-tama diceritai tentang kondisi tubuh Karyamin yang lemah karena belum sarapan. Ia berkali-kali jatuh berikut batu yang diangkutnya sebab lemah. Hingga akhirnya memutuskan pulang, karena disarankan pula oleh kawan-kawannya. Dari obrolan kawan-kawan tersebut, kita diajak lebih mengenal Karyamin, istrinya, tengkulak yang telat membayar, dsb. Celotehan mereka hanya ditimpali senyuman oleh Karyamin.

Saat memutuskan pulang, Karyamin menolak tawaran nasi pecel tak jauh dari sungai sebab ia tak ingin berhutang pada sang pedagang. Pedagang itu pun menanggung hutang para kuli batu yang belum bisa membayar sebab tengkulak tak kunjung memberi upah. Cerpen ini berakhir miris saat dalam perjalanan pulang, petugas desa meminta Karyamin membayar sumbangan untuk korban kelaparan di Afrika. Helllooo...korban kelaparan di Afrika? Sementara Karyamin sedari pagi menahan lapar hingga mata berkunang-kunang dan harus pulang. Karyamin tertawa saat mendengarnya bukan lagi tersenyum, dan saat itu pula tubuhnya ambruk jatuh ke jurang.

Tragis.

Dan oke saya masih penasaran dengan cerita berikutnya. Saya melahap kisah kedua, ketiga, dan keempat berjudul "Surabanglus". Surabanglus rupanya adalah sebutan untuk singkong beracun yang dibakar oleh dua orang tokoh (dianggap sebagai pencuri kayu) yang kelaparan sebab bersembunyi dari kejaran polisi hutan. Seorang tokoh menyadari bahwa singkong tersebut beracun sebelum sempat memakannya. Tokoh ini melarang temannya untuk makan singkong tersebut, dan ia kemudian berhasil turun gunung mencari makanan sebab temannya sudah sangat lemah menahan lapar. Pada akhir cerita, surabanglus tinggal kulit saat tokoh tersebut berhasil kembali membawa makanan. Ia memeluknya temannya yang meregang nyawa karena memamah surabanglus. Tak kalah tragisnya dengan kisah Karyamin.

Dan saya merasa cukup membaca buku kumpulan cerpen ini. Saya tidak mau melanjutkan membaca karena empat kisahnya sudah membuat mood saya ikut susah.



*Salut for Tohari.

Wednesday, April 23, 2014

Menakjubi Kanawa

Kanawa Island atau Pulau Kanawa mungkin tidak terlalu akrab di telinga, apalagi jika dibandingkan dengan Pink Beach yang pasirnya berwarna sesuai namanya itu. Meski begitu, pulau cantik ini layak dikunjungi dalam rangkaian perjalanan Anda menjelajahi kehidupan liar TNK. Ya, pulau ini berada dalam kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) di Nusa Tenggara Timur. Di kawasan inilah satu-satunya habitat alami komodo di dunia. Karena keunikannya, TNK pernah dinominasikan dalam daftar tujuh keajaiban dunia.

Saya berkesempatan mengunjungi Pulau Kanawa pada awal Desember 2012 bersama pemenang quiz yang diadakan Kemenparekraf. Saya ditugaskan meliput kegiatan perjalanan tersebut dan menuliskan beritanya. Kami berkesempatan menjejak Kanawa setelah mengunjungi Pulau Rinca yang merupakan salah satu dari 3 pulau yang menjadi habitat alami komodo. Dari Pulau Rinca, Pulau Kanawa dapat ditempuh dengan menggunakan speedboat sekitar....ehhhmmm berapa lama ya.... agak lupa.... mungkin sekitar 45 menit. 

Selain cantik, di pulau ini kita juga bisa berenang dan snorkeling. Airnya yang biru kehijauan itu duuuh jernihnya sungguh mengundang untuk diselami. Alam bawah lautnya memang kalah indah jika dibandingkan Pink Beach. Tapi perlu kalian tahu, berhubung saya belum pernah snorkeling dan butuh latihan, pelatih dadakan snorkeling saya bilang bahwa snorkeling di Pulau Kanawa adalah momen tepat untuk berlatih menyiapkan diri snorkeling di Pink Beach keesokan harinya. "Nyesel kamu kalau ga belajar snorkeling di sini, besok di Pink Beach itu lebih bagus." 

Mendengar ini saya pun semangat belajar snorkeling, beberapa kali rasanya mual ingin muntah setiap kali snorkel (selang atau apa itu namanya) dimasukkan ke mulut agar saya bisa leluasa bernapas dan melihat pemandangan bawah laut. Susahnya bernapas lewat hidung. 

Sebelum menakjubi bawah lautnya, yuk intip kecantikan pulau ini.

Picture speaks a thousand words. So, enjoy the beauty of this island since the first time you step your feet on the nearest jetty.


Welcome di Pulau Kanawa; speedboat nya parkir di sini ya...
Untuk sampai ke pulau, kita harus melewati jetty yang tampak eksotik ini. Dan jangan lupa buka mata lebar-lebar, rekam keindahan pemandangan sekitar: bukit gundul, barisan cottage di kejauhan, langit biru yang maha luas, dan birunya laut yang menenangkan. :)

Exotic wooden jetty
Jukung biru ini langsung menarik perhatian saat masih di parkir di dekat jetty. Eh, ternyata ada yang punyanya.
two fishermen
 Ayo, kita makin dekat dengan pulau. Makin cantik kan?

What a beautiful scenery, right?
Birunya laut dibingkai gugusan pasir putiiiiih bersih, lalu berlatarkan langit yang juga biru; aduhai siapakah gerangan pelukisnya?
kuning. ngambang. :D
Hup, sesampainya di ujung jetty, nih tulisan penanda Pulau Kanawa siap menyambut. Jangan lupa foto-foto narsis di sini. Saking sibuknya foto-foto, tas kamera ketinggalan tergantung di sini. Untung ada yang bawain.


Saya tidak tahu nama pohon ini apa, tapi pohon ini lah yang banyak terdapat di sini. Rindang dan teduh; pas untuk bersantai selagi menikmati pemandangan alam dan atau sesudah snorkeling.

Dan lihat, ternyata jetty-nya lumayan panjang ya. Jangan lupa pakai sunblock karena saat melintasinya atau saat berenang, Matahari akan memandikan kita dengan cahayanya tanpa ampun.


siap-siap snorkeling
snorkeling di laut jernih biru kehijauan.

ngintip dari balik pohon tepi pantai
Transportasi:
Untuk tiba ke Pulau Kanawa ini, sebelumnya kalian harus terbang dengan pesawat kecil dari Denpasar, Bali menuju Labuan Bajo, NTT. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 1 jam. Dari Labuan Bajo, pergilah ke dermaga, dan penjelajahan bisa dimulai dari sini. Tidak hanya kehidupan hutan liar berikut satwa endemiknya yang terancam punah (komodo) dan satwa liar lainnya, keindahan pantai di bagian Timur Indonesia akan menjadi destinasi yang tak mudah dilupakan.

Nah, besok saya akan menuliskan pengalaman yang mengesankan saat saya menyelami keindahan bawah laut Pink Beach. Sensasinya melekat dalam kenangan karena sangat kuatnya kesan yang saya dapat kala itu.  

Sunday, March 02, 2014

Haiiihhh

Siapa sangka, pagi ini Facebook memberi saya sebuah kesadaran!

Dari media social paling banyak dihuni umat dunia ini, saya bisa melihat perkembangan, kabar, cerita teman-teman yang kini jaraknya sudah jauh sekali. Melihat postingan beberapa teman tentang kabar mereka, karya atau prestasi mereka sekecil apa pun itu, saya merasa ketinggalan!

Kemana saja saya selama ini? Saat orang lain masih terus mengejar mimpi, berkarya, mencipta, saya kemana atau di mana?

Duuh ini nih yang dinamakan serangan need for achievement. Saya ingin kembali berkarya. Tapi ngapain?!

PR besar.

Friday, February 28, 2014

Yang Berubah dari Bandung

Jangan terlalu serius. Tentu saja tulisan ini tulisan ringan yang sifatnya subjektif di sana-sini sodara-sodara, apalagi mengingat ditulis oleh saya berdasarkan pengamatan sekilas saat berkesempatan kembali mengunjungi Bandung pada awal Februari lalu (tepatnya pada 6-9 Februari 2014). 

Time flies
Ga kerasa udah sekitar 3 bulan saya meninggalkan kota yang pernah 'membesarkan' saya ini dan kota yang membuat saya jatuh cinta padanya sejak kunjungan pertama berpuluh tahun lalu. 

Dan pada kesempatan kunjungan kali ini, tentu saja ada beberapa perubahan yang terasa, baik secara fisik atau non-fisik. Nah loh? Perubahan fisik jelas terlihat dari tampilan Bandung dan sangat mungkin dirasakan oleh orang lain. Tapi perubahan non-fisik (saya ga tau istilah yang lebih tepatnya) mungkin akan sangat personal.

Saya berkesempatan lagi merasakan udara Bandung yang terasa dingin menggigiti kulit. Saya merasa betapa cepat saya melupakan aroma cuaca Bandung. Tapi sayangnya saya ga sempat ketemu banyak teman-teman, kecuali seorang teman baik sejak masa kuliah, Eva namanya. 

Saya mau jujur, salah satu alasan utama saya ke Bandung adalah karena saya sangat ingiiiin sekali sungguh benar-benar berjalan bergandengan tangan bersama Hubby tercinta di sepanjang jalan Braga, di bawah payung warna-warni yang 'digantung' di langit.  Setiap Sabtu malam, Braga Culinary Night Festival, adalah salah satu perubahan yang terjadi di Kota Bandung yang digagas sendiri oleh walikota kebanggaan, Ridwan Kamil. 

Dan kenapa saya begitu ingin jalan di sana? Pasalnya saya pernah melihat sebuah foto di FB yang bergambar payung warna-warni 'digantung' di antara dua gedung bergaya klasik di antah berantah di luar negeri sana. Di luar negeri! Dan saya bermimpi bisa jalan di sepanjang jalan itu bersama seseorang. Nah, ketika ternyata payung semacam ini hadir di Bandung, apa salah jika saya berpikir inilah momen untuk mewujudkan mimpi saya. Walaupun payungnya ga sepenuh dan sebanyak luar negeri. *fiuh


Tapi keinginan ini sepertinya belum boleh terwujud. Mendengar kabar Braga sangat padat setiap kali payung-payung tersebut 'digantung' di langit dan mengingat hubby ingin makan menu favoritnya di salah satu cafe, jadwal ke Braga gagal. Tapi saya ga sedih, nyatanya bukan tempatnya, tapi bersama siapa yang lebih penting kan? hihii... :p

Perubahan lain yang juga digagas oleh sang arsitek kenamaan ini adalah taman-taman di Bandung. Saya pernah menulis artikel news tentang rencana Ridwan Kamil untuk menjadikan sekira 100 lebih taman kota di Bandung menjadi taman tematik. Selain bertema, taman-taman akan diberi label/nama, dirapikan, ditambah fasilitasnya (bahkan kabarnya akan ada toilet umum di taman). Waktu itu taman pertama yang 'dirapikan' adalah Taman Cempaka. Taman ini bertema fotografi dan simbol yang terdapat di sana adalah huruf 'C', untuk 'camera'--media super penting dalam ranah fotografi. 

Dan saya sengaja meminta hubby lewat sana sehabis mengunjungi Gasibu di hari Minggu pagi. Fotografi bisa dinikmati di taman ini. Ide yang unik ya? Biasanya foto dipajang dan dipamerkan di ruangan tertutup, lah ini di taman terbuka. Ada banyak foto yang dipajang rapi di media khusus di salah satu sisi taman. Saya tidak turun, tidak sempat ambil foto. Terakhir dulu, saya baru melihat bangku taman, ayunan, dan mainan lain di taman ini dicat dengan warna cerah.

Taman ini punya tempat khusus di hati; saya pernah sengaja mengunjunginya pada suatu sore bersama Nia, Andika, Marti--jalan kaki dari rumah Nia. Serasa menjadi anak kecil lagi saat main ayunan dan minta teman mengayunkan atau menahan ayunan agar berhenti, lalu jerit-jerit saat ayunan terlalu tinggi. Dan foto-foto narsis tentunya tak lupa.

Foto gadis-gadis ini diambil oleh Andika

Selain Taman Cempaka, sudah ada banyak taman lain yang dipercantik. Tapi sayang, saya belum berkesempatan ninggalin jejak kaki di sana. 

Gasibu juga sudah berbeda ya. Entah sejak kapan, mungkin sudah lama hanya saya baru tau karena memang jarang ke sana. Pagi-pagi sekali kami memutuskan ke Gasibu, dengan misi utama mencari sarapan. Lalu sekalian menemani suami belanja (Loh kok kebalik yah? hehe...kidding... :p). 

Lapangan gasibu bersih dari penjual pasar kaget, dan khusus untuk mereka yang ingin berolahraga. Jadi lahan lapak para pedagang yang direlokasi ke sepanjang jalan sekitaran. 

Kemacetan di Gasibu sini masih belum berubah ternyata sodara-sodara. Dan keberadaan pengamen (yang saya sering sebel dengernya ngamen sambil ceramah saklek) masih juga bercokol di perempatan lampu merah Binong adalah hal kecil lain yang belum berubah di Bandung. *penting!

**

Oh ya, dalam perjalanan menuju Bandung, Bandung terasa kian 'jauh'. Jauh dalam bilangan jarak sudah pasti, tapi jauh yang ini rasanya asing. Mungkin karena Bandung sudah bukan lagi tempat saya berdomisili, bekerja, nongkrong bareng saat weekend bersama sahabat, dan tempat pulang kedua setelah rumah ortu di Lampung. Bandung cukuplah kini menjadi kota kenangan dan dikunjungi sesekali saja.  

Saat memasuki kamar kost, perasaan asing lain datang. Ini lebay ga ya terdengarnya di telinga kalian? hehhe....Yang jelas, saat hidup membuat kalian harus memilih dan atau mengambil keputusan besar, manuver tak pelak harus dijalani sepaket dengan segala risiko dan harapan baru. Tentu saja, manuver ini akan membawa banyak perubahan dan banyak 'sensasi'. Hihii...

Meski saya mencintai Kota Kembang ini, saya--pada akhirnya, tanpa pernah saya duga jalannya--memutuskan meninggalkannya dengan sukarela dan sukahati dan tanpa dendam tentu saja. 

Ada cinta yang lain, yang menarik saya untuk kembali ke kampung halaman. ;)

Thursday, August 15, 2013

Review N-Ach Project

Well, ini mungkin agak terlambat. Berhubung kemarin libur Lebaran saya pulang tanpa bawa laptop dan hanya modal smartphone yang kurang asyik untuk ketik panjang, jadi baru bisa me-review project untuk diri sendiri kemarin.

N-Ach Project digadangkan selama 2 minggu, dari total waktu yang ditentukan ada 3 kali saya alpa posting. Jadi, bisa dibilang proyek ini gagal (jika dilihat dari konsistensi terhadap janji). Tapi, untuk hal lain, misal dalam hal niat atau usaha untuk memenuhi target, hasilnya tidak terlalu buruk. Saya jadi lumayan produktif atau terpaksa produktif demi memenuhi janji pada diri sendiri. 

Nah, dalam hal kualitas tulisan... oke saya mengaku, beberapa tulisan lahir karena dipaksa. Dan yang namanya terpaksa, kadang hasilnya ya maksa. Beberapa tulisan hadir sekedar hadir sebagai penggugur kewajiban. Tanpa ruh, tanpa isi. Tapi untungnya tidak semua tulisan. Semoga, hehehe.... 

Beberapa tulisan panjang memang terkesan sangat personal dan berani. Berani dalam artian saya mengungkapkan perasaan di media publik seberani itu. Terus terang untuk orang yang melankolis dan tertutup seperti saya (melabeli diri sendiri), hal tersebut kadang memalukan. Makanya saya lebih suka menulis puisi karena tidak harus gamblang menggambarkan keadaan. Tapi tetap saja, emosi dari tulisan bisa terbaca oleh orang lain--meski bisa saja mereka salah interpretasi. 

Dan mungkin tulisan personal seperti itu, bagi sebagian orang, memalukan dan tidak penting. Karena katanya, hal-hal pribadi hendaknya tidak dibagi apalagi di publikasi. Entahlah. 

Mungkin ini ada pengaruh dari bacaan yang saya baca belakangan, intinya tentang mengakui perasaan sendiri, mengenalinya, dan menerima. Saya jadi lebih santai membuka diri, menyatakan emosi. Saya tidak tahu apakah pemahaman saya akibat membaca bacaan tersebut yang kemudian turut mempengaruhi kondisi psikologi saya ada dalam kadar dan aplikasi yang benar, tapi yang pasti saya lebih nyaman. Nyaman terhadap adanya diri saya sebagai pribadi--seada-adanya saya. 

N-Ach project: A desire to be effective or challenged sangat membantu saya untuk kembali produktif nge-blog. Sejak Agustus tahun 2012 lalu, blog ini nyaris tidak diisi. Pemiliknya mengalami disorientasi atau tiba-tiba lupa bagaimana cara menulis puisi. Cerpen apalagi---entah sejak kapan saya kehilangan kemampuan menulis fiksi. 

Dipikir-pikir, tulisan review ini berubah jadi curcol. Penyakit deh! Hehehee... 

Intinya, project kemarin ini yang membawa saya kembali "berpikir" untuk membuat blog lilalily yang tahun ini berusia 5 tahun tetap "bersuara". Dan proses kreatif dalam menulis blog pribadi seharusnya menjadi kegiatan menyenangkan, karena kontennya tidak harus yang berat, tapi lebih personal dan dekat. Kadang-kadang, kegiatan menulis terhambat karena merasa takut tulisan yang dibagi tidak penting. Padahal, selama tidak menyalahi hak asasi atau melukai orang lain, apa salahnya? Toh, judulnya juga blog pribadi. -->> (Ini lebih merupakan pesan untuk diri sendiri, hehhee... !)

Happy blogging... :)







Wednesday, August 14, 2013

Bandung, Here I Come

Di tangan kanan bergantung tas warna pink berisi penuh pakaian, sementara di tangan kiri ada tas berwarna maroon campur krem berisi penuh oleh-oleh; saya siap berangkat ke Bandung. Tak lupa, tas kecil cokelat diselempangkan di bahu.

Papah saya yang mengantar ke tempat angkot warna kuning ngetem, tujuan Bakauheni. Saya duduk di depan, di samping supir yang sibuk menyetir. Perjalanan terasa garing hingga sampai didaerah Blambangan, seorang lelaki dengan logat Lampung yang kental yang ternyata teman si supir ikut naik. Nah, sejak laki-laki ini naik, ia duduk di belakang supir dan tak henti bicara. Bicara dengan bahasa Lampung. Setidaknya ada suara yang mengusik telinga. Musik di mobil tidak dihidupkan, dan ini menjadi masalah bagi pria Lampung yang satu itu. "Adu kelot mawat penumpang, musik mak diukhion muneh...," ujarnya. Sang supir menjawab santai tapi tidak mengikuti permintaannya yang ingin musik di mobil diperdengarkan.

Banyak yang mereka bicarakan sepanjang perjalanan, apalagi saat mobil harus terpaksa menyusul penumpang langsung ke rumah mereka. Ada-ada saja celetukan lelaki tersebut yang mengundang senyum. Si supir bahkan bilang (dalam bahasa Lampung), "Ga kebayang saya kalo kamu tua nanti cerewetnya kayak apa." Si laki-laki malah tertawa dan tetap banyak bicara. Sampai akhirnya dia membuat saya dan beberapa penumpang terbahak. Duh, susah payah saya nahan diri untuk berhenti tertawa. 


Ceritanya ada seorang ibu yang naik angkot ini, diantar oleh seorang perempuan dan anak kecil. Begitu si ibu naik, si anak nangis sambil lari menjauh. Dan ini adalah jalan trans sumatra yang banyak mobil ngebut. Saya sempet khawatir juga liat tuh anak kalau-kalau lari ke tengah jalan. Terlebih lagi perempuan yang bersama si anak. Dia lari mengejar tapi ragu karena mungkin takut justru membuat si anak lari lebih jauh. 

Melihat hal tersebut, laki-laki cerewet tak tinggal diam. Dengan logat Lampung yang kental dia berseru, "Jangan bunuh diriii, kamu... susah buatnya...." 

Saya dan beberapa penumpang kontan terbahak. Untungnya si anak sudah digandeng perempuan yang bersamanya. Tapi tak cukup berkata begitu, lelaki cerewet ini menambahkan, "Udah jangan nangis, mak kamu mau berangkat dulu."


Kok ya kepikiran bicara dengan nada bercanda begitu sama anak kecil saat orang lain khawatir liat tuh anak lari-lari sambil nangis di pinggir jalan raya.


Hehehee begitu ceritanya. Saya mengetik postingan ini di kapal ferri Dharma Kencana IX, di depan ada live musik oleh biduan bergaun mini warna fuschia dengan ikat pinggang besar warna hitam yang bagi saya dipasang ketinggian (di atas pinggang). Well, mungkin memang model pakaiannya seperti itu kali ya. Untung suaranya lumayan jadi ga mengganggu telinga.

Demikian cerita perjalanan yang biasa saja ini. Neni melaporkan dari Selat Sunda... :)


P.S: Kapal sebentar lagi sandar di Pelabuhan Merak. Arus balik ramai lancar. Penumpang kapal masih ramai tapi tidak terlalu padat.


Tuesday, August 06, 2013

N-Ach #12: Tentang E-Book

Ssssstttt....Saya sedang menyelesaikan sebuah bacaan. Dari sebuah e-book. Tapi isinya gas bisa saya ceritakan semua di sini. Yang pasti setelah saya membaca petunjuk di buku tersebut dan lalu belajar menerapkan ilmunya, percaya atau tidak.... it works!

Kadang-kadang kita memang perlu belajar dari pengalaman orang lain untuk lebih bisa memahami keadaan yang  sedang kita hadapi. Atau kadang-kadang kita lebih bisa memaknai sesuatu setelah kita mengetahuinya dari kacamata orang lain.

Hasil yang saya peroleh memang belum maksimal. Jalan masih panjang. Tapi dengan adanya buku ini perjalanan jadi lebih mudah dan menyenangkan! :)

Doakan saya agar berhasil dan selamat sampai tujuan....

Monday, August 05, 2013

N-Ach #11: Di Lengkung Hati


Karena pelangi yang melengkung busur
di ujung cakrawala sore itu
selalu tahu:
ada mejikuhibiniu
di lengkung hatimu




N-Ach #10: Jatuh

Jika pun suatu hari nanti
takdir tidak berpihak pada kita,
aku tegaskan dari sekarang:
ya, aku pernah sangat jatuh cinta padamu
dan sungguh tak ingin menyesalinya--
pengalaman jatuh yang satu itu.

Saturday, August 03, 2013

N-Ach #9: Ragu di Ruang Tunggu

Ada ragu yang menunggu
di ruang tunggu
tak perlu kau jemput ia
atau kau tanya mengapa;
ia hanya duduk sementara di sana
sebelum waktu mengajaknya bicara
tentang apa yang kini masih rahasia

Thursday, August 01, 2013

N-Ach #8: You Are What You Think!

Well, saya absen posting lagi kemarin, hehehe.... Tapi maaf kan saya, hari ini saya akan posting tentang suatu hal yang baik untuk kita semua. 


You are what you think!--adalah motto yang sering saya pakai ketika harus menulis kolom motto di personal data FB misalnya, di formulir-formulir pendaftaran yang meminta menuliskan motto.

Kenapa? Karena saya adalah tipe orang yang kadang lebih memilih memikirkan dampak negatif dari suatu aksi atau kejadian dari pada berpikir positif. Karena saya tipe orang yang berhati-hati--takut melakukan kesalahan. Dan selain itu, hal ini muncul sepertinya akibat rasa kurang PD yang ada pada saya. Jangan ditiru. 

Saya sungguh berjuang untuk jadi orang yang lebih positif atau setidaknya PD. Kasian ya? Saat orang lain bisa berjalan dengan nyaman dengan segala yang ada di dirinya, saya (apalagi saya yang dulu) kesulitan berpikir bagaimana caranya berjalan di depan orang lain agar tampak nyaman, karena saya tidak nyaman. 

Sekarang sudah berkurang. Tapi kadang-kadang, ketika ada di lingkungan baru yang saya kurang nyaman, penyakit ini mucul. 

Hanya jangan aneh jika suatu waktu melihat saya sangat bersemangat atau PD. Itu berarti saya sedang sangat nyaman, baik dengan diri saya, lingkungan, orang-orang di sekitar saya. Well, memang kenyamanan harus kita sendiri yang menciptakan. Mengingat motto ini adalah salah satu bentuk usaha nyata untuk itu. 

Saya mengingat-ingat motto itu agar menjadi semacam pengingat diri bahwa mind over body! Saya sudah membuktikannya beberapa kali. Bahwa kekuatan pikiran bisa membantu kita mengubah atau menguasai keadaan. Misal, saat sedih, katakan pada diri sendiri bahwa kalian bahagia dengan sungguh-sungguh dan mempercayai perkataan itu, maka kalian pun akan seketika merasa bahagia atau paling tidak lebih rileks. Teorinya memang semudah itu, dan memang mudah dan tidak ada salahnya dicoba sesekali. 

Nah, hari ini saya mendapat email dari sebuah program energy healing. Saya berlangganan email mereka tapi tidak pernah terlibat. Email-emailnya hanya saya buka saja agar semua terbaca tanpa saya membaca kontennya. Tapi hari ini, email tersebut berkata bahwa saya tidak pernah memberi komentar apapun tentang email yang mereka kirim dan mereka memberi saya apa yang berjudul 3-Day Fear Cleanse

Setelah saya baca, konsepnya sama dengan apa yang diusung oleh motto saya tersebut di atas. Berikut langkah-langkahnya langsung saya copas (tapi ada yang dikurang-kurangin):

3-Day Fear Cleanse

First thing: Make sure you do this in the evening, preferably before bed - because what we're going to do here is reflect on the day that just went by. Find a quiet place with no distractions. Maybe you could sit in your bedroom for a while. Get seated comfortably. Take 3 deep breaths, try and clear your mind.


Step 1
Think of a moment in the day where you feel a subconscious fear may have been blocking your abundance. Maybe it was a conversation you had at work. Maybe it was when you were buying something in a store. Maybe it was just a random thought you had that made you feel poor or unworthy.

Write down the feeling you were experiencing in that moment. 
For example: I didn't call back that potential client because I figured he wouldn't like me anyway. Or, I was nervous to check my bank account because I was afraid there wouldn't be enough money in it.

Step 2
Create a Target Statement, which you do by first rephrasing your earlier statement.
For example, if your earlier statement was: I was nervous to check my bank account because I was afraid there wouldn't be enough money in it...

Then you would rephrase it to: Even though I'm nervous to check my bank account because I'm afraid there won't be enough money in it, I deeply and profoundly love and accept myself anyway.

Step 3
Tap on it. Start Tapping on the meridian points on your face and body while focusing on the emotional resistance to access and eliminate the emotional or energetic resistance that is blocking you.

Step 4
Convert the negative target statement into a positive one, and start Tapping again.
Using the earlier example, the negative statement was: I was nervous to check my bank account because I was afraid there wouldn't be enough money in it...

And when you convert that into a positive statement, it would be: I'm confident to check my bank account and my finances, because I am abundant and I have more than enough.

Start Tapping on this statement, and while you're doing it add other positive uplifting affirmations and suggestions that will help raise your vibrations and get you into a receptive energetic state.
Sample Positive affirmations:
I am financially abundant.
I am confident about my finances.
I manifest wealth every day.

If you find yourself annoyed or frustrated with these statements, or if they don't yet feel real, this is likely because the subconscious fear is still lodged in your energetic core - which means you need to again Tap on the earlier negative statements.

I hope you enjoyed that exercise! If you want to make Tapping a daily habit and be more aware of the fears holding you back, remember to commit to the 3-Day Fear Cleanse. Just do this exercise once every evening for at least 3 days, and see how much more mindful and conscious it makes you feel about your thoughts, your fears and your actions. 

***


Untuk gampangnya, berikut form pelatihan sistem ini dan keterangan apa yang dimaksud dengan tapping dalam hal ini dan dimana letak titik yang yang harus di-tapping



Coba deh dan buktikan bagaiman metode ini bekerja untuk kalian. Kalau tidak cocok, ya jangan dipaksakan. Tapi jangan juga dihina, metode ini berhasil untuk banyak orang. 

Tuesday, July 30, 2013

N-Ach #7: Tentang Kebohongan

Kamu pikir kebohongan akan bisa menyelamatkanmu?

Mungkin. Sangat bisa.
Tapi percayalah hanya untuk sementara.
Lagi pula apa yang diharapkan dari hidup dalam kebohongan--sehebat apa pun ia?
Tidak ada.

Yang ada hanya rasa lelah harus mengarang cerita.
Rasa malu saat cerita yang diulang tidak sama.
Rasa bersalah di sudut hati nurani.
Akui saja.
Tak ada ketenangan dalam kebohongan.

Kau mungkin tertawa atas keberhasilan membohongi orang lain.
Mungkin juga mendapat keuntungan.
Tapi kau akan merasa jengah terhadap diri sendiri.
Akui saja.
Tak ada yang menyenangkan dari sebuah kebohongan.




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...