Di matanya, terperangkap sebaris hujan
semoga hujan yang ini segera reda
dan pelangi terbit di sana...
Saturday, December 10, 2011
Tuesday, December 06, 2011
Sebuah Mimpi dan Rel Kereta Jurusan Langit
![]() |
| Rel kereta yang akan belok menuju ke langit (photo courtesy: Nia Janiar) |
mimpi ini sudah saya titipkan
pada sebuah kereta tua
yang akan menempuh jalur langit
semoga ia selamat sampai ke langit biru
dan tak ingat jalan pulang;
memeliharanya sendiri di bumi
hanya membuat hati meradang!
*Ditulis untuk prompt foto dari Nia Janiar: rel kereta, oleh-oleh dari Cepu... :)
Thanks to Ambu Trizsa Vas untuk ide rel kereta yang melengkung ke langit... :)
Thursday, October 27, 2011
?
pada akhirnya aku tetap bertanya,
setelah jauh melintasi warna-warni musim
setelah letih menyusur abu-abu harapan
hingga menggadaikan keraguan yang hijau
lalu sampai pada
mencermati pekat malam
di bawah bayang-bayang bulan
yang pucat:
--adakah hatimu tercemar sedikit saja warna?
Monday, September 26, 2011
Kita Bertemu di Sini
Kita bertemu di sini
pada bait-bait puisi
tentang waktu yang curang:
sepasang kursi tua, meja kayu,
dan boneka-boneka
kertas di atas meja
adalah kisah yang membiru
seperti bilur
di lekuk-lekuk kaki masalalu
Kita bertemu di sini
pada bait-bait puisi
tentang daun yang tak boleh
dipetik rindu
dari dahan tempat burung-burung kecil
berkicauan memanen kenangan
mengunyah ingatan
hingga mual dan kebingungan
memilah mimpi dan kenyataan
Kita bertemu di sini
pada bait-bait puisi
tentang kata-kata yang terik sekaligus sunyi...
pada bait-bait puisi
tentang waktu yang curang:
sepasang kursi tua, meja kayu,
dan boneka-boneka
kertas di atas meja
adalah kisah yang membiru
seperti bilur
di lekuk-lekuk kaki masalalu
Kita bertemu di sini
pada bait-bait puisi
tentang daun yang tak boleh
dipetik rindu
dari dahan tempat burung-burung kecil
berkicauan memanen kenangan
mengunyah ingatan
hingga mual dan kebingungan
memilah mimpi dan kenyataan
Kita bertemu di sini
pada bait-bait puisi
tentang kata-kata yang terik sekaligus sunyi...
Sunday, September 25, 2011
Seperti Balon
kamu sudah seperti balon merah saja
di tangan gadis kecil yang kita temui siang itu
sekali lengah,
angin membawamu lari
jauh ke pangkuan langit biru,
dan tak kembali
tak peduli gadis kecil bersusah hati--
takut kau pecah
atau sesat
di kebiruan yang asing
di langit yang maha tinggi
di tangan gadis kecil yang kita temui siang itu
sekali lengah,
angin membawamu lari
jauh ke pangkuan langit biru,
dan tak kembali
tak peduli gadis kecil bersusah hati--
takut kau pecah
atau sesat
di kebiruan yang asing
di langit yang maha tinggi
Sunday, September 11, 2011
Watch Me Bounce Contest: Menang!
Tanggal 7 September kemarin, saya mendapat email dari salah satu editor Watch Me Bounce Contest.
Isinya adalah.... notifikasi bahwa puisi yang saya kirimkan dinobatkan sebagai pemenang. Horeeeee... :D
Berhubung dihubung-hubungkan, tanggal 9 September kemarin adalah hari ultah saya, maka saya menganggap kemenangan ini sebagai salah satu hadiah ultah tahun ini. :)
Hadiahnya memang tidak 'wah', tapi buat saya ini sih alhamdulillah sesuatu banget... *Syahrini syndrome :p
Untuk melihat daftar pemenang semua kategori dalam kontes ini, silakan klik di sini.
Puisinya berjudul The Broken House.
Hadiahnya adalah review atau komentar gratis dari editor dan juri lomba sebagai berikut (link-nya klik di sini):
Selain itu, puisi ini akan di-publish di watchmebounce.com selama satu bulan ke depan.
***
Sedikit sharing tentang perihal penulisan puisi ini, jika dilihat dari bentuk, puisi ini disebut Nonet. Ini adalah nonet pertama yang pernah saya tulis, dalam rangka mengikuti prompt menulis oleh One Stop Poetry.
Nonet adalah puisi yang terdiri dari 9 baris. Baris pertama terdiri dari 9 suku kata (ingat: suku kata, bukan kata!). Baris kedua harus terdiri dari 8 suku kata, baris ketiga memiliki 7 suku kata, dan begitu seterusnya hingga nanti pada baris ke-9 (baris terakhir) hanya ada 1 kata saja. Jika disederhanakan, jumlah suku kata dari baris pertama hingga terakhir adalah: 9-8-7-6-5-4-3-2-1.
Berhubung pemenggalan suku kata dalam Bahasa Inggris sangatlah berbeda dengan pemenggalan dalam Bahasa Indonesia (ya iya lah!) dan saya belum paham pola pemenggalannya, maka saya menulis puisi ini dengan mengandalkan kamus. Saat itu, saya berkutat di bagian huruf 'r'. Maka, jangan heran jika di puisi ini mengandung banyak kata yang dimulai dengan huruf 'r'. Jadi, sekarang kalian tahu, saya mencari-cari kata yang menarik buat saya di bagian huruf 'r', yang kemudian dihitung-hitung jumlah suku katanya, lalu dipadukan dengan kata lain hingga ia bisa punya makna atau maksud, kemudian 'disesuaikan' grammarnya, dsb. agar memenuhi syarat sebagai sebuah Nonet.
Puisi (Nonet) ini, sebelumnya sudah pernah saya publish di blog ini. Beberapa waktu kemudian, saya membaca pengumuman tentang lomba yang diadakan Watchmebounce.com dengan tema resilience. Kebetulan sekali, ada kata resiliency di puisi ini, yang berarti sesuai dengan tema. Maka, tanpa gundah dan ragu, saya langsung mengirimkannya via email. Kurang lebih sebulan kemudian, editor lomba memilihnya sebagai pemenang debut Watch Me Bounce Contest yang mengusung tema utama resilience.
***
Watch Me Bounce adalah online literary magazine berbasis di Kolombia, Amerika Serikat. Pendiri sekaligus Editor-in-chief website ini adalah Rocky Reichman. Ia merintis online magazine ini sejak usianya 15 tahun. Ia kini sedang menimba ilmu di bangku kuliah, mengambil jurusan psikologi. Muda sekali, ya? Nah untuk profil lengkapnya bisa baca di sini.
Isinya adalah.... notifikasi bahwa puisi yang saya kirimkan dinobatkan sebagai pemenang. Horeeeee... :D
Berhubung dihubung-hubungkan, tanggal 9 September kemarin adalah hari ultah saya, maka saya menganggap kemenangan ini sebagai salah satu hadiah ultah tahun ini. :)
Hadiahnya memang tidak 'wah', tapi buat saya ini sih alhamdulillah sesuatu banget... *Syahrini syndrome :p
Untuk melihat daftar pemenang semua kategori dalam kontes ini, silakan klik di sini.
Puisinya berjudul The Broken House.
The Broken House
By Neni Iryani
Raspy whisper of wind is still rumbling
through a house fallen into a ruin
one night storm made it rubble–
salient proof of fall.
I now rare to know
if resiliency
will rummage
the broken
house!
Hadiahnya adalah review atau komentar gratis dari editor dan juri lomba sebagai berikut (link-nya klik di sini):
This poem is the clear winner of this contest due to the open-ended appeal that reaches into the lives of many who face tragedy. “The Broken House” can apply to anyone whether what they face is the actual loss of a home due to fire or the metaphorical home of one’s soul. No matter the case, he or she facing destruction often wonder, sometimes with anger, if the house will be rebuilt – if it is rebuilt, will it be what we hope, fall short, or become a palace. To write a poem that reaches everyone can lead to such general language that it seems to speak to no one. “The Broken House” walks a fine line that opens the door for the world to walk in while creating an enjoyable seat indoors to get comfortable. There is a sadness in the poem’s end that whispers of doubt. Reality is a brilliant tool in poetry even if people think dreamscapes don’t need it – often it is essential.
-The Watch Me Bounce Editorial Staff
Selain itu, puisi ini akan di-publish di watchmebounce.com selama satu bulan ke depan.
***
Sedikit sharing tentang perihal penulisan puisi ini, jika dilihat dari bentuk, puisi ini disebut Nonet. Ini adalah nonet pertama yang pernah saya tulis, dalam rangka mengikuti prompt menulis oleh One Stop Poetry.
Nonet adalah puisi yang terdiri dari 9 baris. Baris pertama terdiri dari 9 suku kata (ingat: suku kata, bukan kata!). Baris kedua harus terdiri dari 8 suku kata, baris ketiga memiliki 7 suku kata, dan begitu seterusnya hingga nanti pada baris ke-9 (baris terakhir) hanya ada 1 kata saja. Jika disederhanakan, jumlah suku kata dari baris pertama hingga terakhir adalah: 9-8-7-6-5-4-3-2-1.
Berhubung pemenggalan suku kata dalam Bahasa Inggris sangatlah berbeda dengan pemenggalan dalam Bahasa Indonesia (ya iya lah!) dan saya belum paham pola pemenggalannya, maka saya menulis puisi ini dengan mengandalkan kamus. Saat itu, saya berkutat di bagian huruf 'r'. Maka, jangan heran jika di puisi ini mengandung banyak kata yang dimulai dengan huruf 'r'. Jadi, sekarang kalian tahu, saya mencari-cari kata yang menarik buat saya di bagian huruf 'r', yang kemudian dihitung-hitung jumlah suku katanya, lalu dipadukan dengan kata lain hingga ia bisa punya makna atau maksud, kemudian 'disesuaikan' grammarnya, dsb. agar memenuhi syarat sebagai sebuah Nonet.
Puisi (Nonet) ini, sebelumnya sudah pernah saya publish di blog ini. Beberapa waktu kemudian, saya membaca pengumuman tentang lomba yang diadakan Watchmebounce.com dengan tema resilience. Kebetulan sekali, ada kata resiliency di puisi ini, yang berarti sesuai dengan tema. Maka, tanpa gundah dan ragu, saya langsung mengirimkannya via email. Kurang lebih sebulan kemudian, editor lomba memilihnya sebagai pemenang debut Watch Me Bounce Contest yang mengusung tema utama resilience.
***
Watch Me Bounce adalah online literary magazine berbasis di Kolombia, Amerika Serikat. Pendiri sekaligus Editor-in-chief website ini adalah Rocky Reichman. Ia merintis online magazine ini sejak usianya 15 tahun. Ia kini sedang menimba ilmu di bangku kuliah, mengambil jurusan psikologi. Muda sekali, ya? Nah untuk profil lengkapnya bisa baca di sini.
Saturday, August 13, 2011
Hingar
Nanti dulu; jangan beranjak pergi
Euphoria dan gelegak rindu belum lagi reda
Nada-nada riang masih berdenting-denting
Isyaratkan kita menarikan kata dalam diam
'Ingar bingar yang kita dengar di halaman luar
Riuhnya renyah, ramainya pecah
Yang tak terdengar adalah jingga matahari
Adalah debur pantai saat pasang
Namun camar-camar mendengarnya dan mengerti
Iring-iringan angin merambati sayapnya, lalu mengisi telinganya dengan makna.
*Note:
Ditulis di sesi Reading Light Writer's Circle (Sabtu, 13 Agust 2011);
Tema: Puisi Akrostik (Nama masing-masing peserta).
Euphoria dan gelegak rindu belum lagi reda
Nada-nada riang masih berdenting-denting
Isyaratkan kita menarikan kata dalam diam
'Ingar bingar yang kita dengar di halaman luar
Riuhnya renyah, ramainya pecah
Yang tak terdengar adalah jingga matahari
Adalah debur pantai saat pasang
Namun camar-camar mendengarnya dan mengerti
Iring-iringan angin merambati sayapnya, lalu mengisi telinganya dengan makna.
*Note:
Ditulis di sesi Reading Light Writer's Circle (Sabtu, 13 Agust 2011);
Tema: Puisi Akrostik (Nama masing-masing peserta).
Random Thought
I dont know what happens to me lately. It seems so hard to have a piece of mind.
Does something bad happen without I know it exactly?
Or is it a mere symptom of upcoming PMS?
Or my unconcious knows something, but my concious tries to ignore it as a truth?
Or is it simply unreasonable feelings and worries?
Lehrer says, "Every feeling is really a summary of data, a visceral response to all of the information that can't be accessed directly."
Tuesday, August 02, 2011
Silang Jalan
Tak ada lagi cinta yang benci
di antara kita, bukan?
di ujung jalan ini, rimbun pepohon
menuju hutan adalah saksi:
telah kita titipkan setiap keping benci
di kiri-kanan jalan setapak
sebelum sampai di sini
sebelum masing-masing hati
mengisyaratkan perpisahan
Jalan kita hanya sampai di sini
bersilangan!
di antara kita, bukan?
di ujung jalan ini, rimbun pepohon
menuju hutan adalah saksi:
telah kita titipkan setiap keping benci
di kiri-kanan jalan setapak
sebelum sampai di sini
sebelum masing-masing hati
mengisyaratkan perpisahan
Jalan kita hanya sampai di sini
bersilangan!
Friday, July 22, 2011
Saat Aku Hujan
![]() |
| Photo is from here |
Saat aku menjadi hujan
yang luruh dan meresap
di tanah-tanah berwarna gelap;
kau tak usah gusar, hanya coba hiruplahmanisnya petrichor yang meruah--
aroma hujan bercampur debu tanah
Saat aku menjelma hujan
yang jatuh singgah di dahan dan daun-daun
lalu menguap saat angin mengayun;kau tak perlu risau, hanya tunggulah sebentar
akan datang pelangi yang mekar
di mega-mega biru segar...
Wednesday, July 20, 2011
Moving Notification
Due to one and another reason, I'm making another blog. This new blog is designed especially for posts in English. Meanwhile, this blog--Lilalily--will be in Bahasa Indonesian. So, most of posts in English in this old blog will be exported to the new one.
The name of my new blog is Purple Nook. It's actually an old name; I've ever used it for this blog before I chose Lilalily as a new name. Now that I'm making the new one, I can't resist not using it again. I love this name.
This new blog is not fully maintained, but hope you are pleased to dropping by and taking a little look in this new nook. Here's the Purple Nook.
Happy blogging... :)
Monday, July 18, 2011
Salah Mengira
aku baru tahu
aku telah salah mengira jingga adalah ungu
aku baru saja mengerti
bahwa dia yang dulu bukanlah aku...
aku telah salah mengira jingga adalah ungu
aku baru saja mengerti
bahwa dia yang dulu bukanlah aku...
The Courtesy of the Wooden Mask
| Photo Courtesy of Tess Kincaid |
hanging on the wall of your past
It never once betrays you or me or us
for it only shows the real face of itself
not the real you or me--
not the real us
Now that you and me
want to see each other--
the real us
we're suddenly in doubt, worried
for we may betray
the courtesy of the wooden mask!
*Note:
Written for Magpie Tales #74
Tuesday, July 12, 2011
The Broken House
Raspy whisper of wind is still rumbling
through a house fallen into a ruin
one night storm made it rubble--
salient proof of fall.
I now rare to know,
if resiliency
will rummage
the broken
house!
*Note:
This Nonet is written for One Stop Poetry.
Nonet is a form of a poem with a total of nine lines. The first line must have nine syllables, second line eight syllables, third line seven syllables and so on until you end with one syllable.
Monday, July 11, 2011
You Can't Grow a Tree in a Kitchen
on a dining table made of glass
for a tree needs to grow its root
deep down rooted in the earth
You can't grow a tree in a kitchen
where the sun is blocked to enter
for a tree needs shafts of sunlight
to make a food in its green leaves
to make a food in its green leaves
You can't grow a tree in a kitchen
but you don't believe me and listen
the smile in your face make me worry
for it will turn to be angry and gloomy
as the tree will soon be weary
You can't grow a tree in a kitchen
but you don't believe me and listen
as well as you won't understand
that we should sometimes be kind
to let something go for peace of our mind
You just can't grow a tree in a kitchen
but you don't believe me and listen...
*Note:
This post is written for Thursday Short Story Slam Week-5 Children's Literature. Photo is taken from this website.
Besides, I also submit this post for Thursday Poets Rally Week 48.
***
Update:
It's surprising that I have won The Perfect Poet Award of Week 48.
The following is my award. Thank you for the award, Poets Rally.
Find my Haiku for the award picture as follows... :)
***
The Summer is Ready
dandelion clocks fly free
as light breeze blows gently
Oh, summer is ready!
***
I vote for Cherlyn!
*
Besides, I also submit this post for Thursday Poets Rally Week 48.
***
Update:
It's surprising that I have won The Perfect Poet Award of Week 48.
The following is my award. Thank you for the award, Poets Rally.
Find my Haiku for the award picture as follows... :)
***
The Summer is Ready
dandelion clocks fly free
as light breeze blows gently
Oh, summer is ready!
***
I vote for Cherlyn!
*
Labels:
Bluebell Books,
English Posts,
Lembar Puisi,
Poets Rally
Subscribe to:
Posts (Atom)





