Friday, April 26, 2013

Melukis Bunga Melulu

Hari ini saya menulis cepat. Sudah beres dan semoga ga ada editan lagi. 

Baca email sudah, FBan bosen, BBMan males ngetik, nelpon mamah males juga, mau chatting lebih males (entah sejak kapan saya mendadak berhenti chatting, terbukti ym di BB tidak pernah aktif lagi). 

Nah, jadi aja, aja jadi mati gaya!!

Saya pun memutar otak untuk menyibukkan diri. Ada TV cuap-cuap sendiri tapi sedang tidak tertarik nonton. Menulis blog adalah hal yang terpikirkan. Rasanya ingin menulis materi yang berbobot hasil dari kontemplasi dan proses berpikir yang baik dan bijak (halaah eta bahasa.....), tapi apa daya saudara-saudara writer's block melanda. Seperti biasa gitu deh. 

Terus saya putuskan melukis menggunakan program paint. Saya suka background hitam karena akan tampak kontras dengan gambar. Gambarnya melulu bunga dan sulur-sulurnya, sebab hanya bisa gambar itu.  Gambar orang saya ga bisa, meski sangat ingin. Untuk pilihan warna, sudah tentu tidak lain tak bukan warna ungu, ya as the whole universe know it--I love purple color. 

Proses kreatif pun dimulai. Padahal ga ada kreatif-kreatifnya. Asal tarik garis ke sana-ke sini ga pake mikir dan jadilah gambar yang kurang artistik sih, tapi ya udah lah ya.... Ga buat lomba juga. 


Ini nih hasil karya hari ini, kali aja suatu hari nanti jadi masterpiece....hehehee... ngarep! 

Gambar 1


Gambar 2



Gambar kedua ini agak burem ya, soalnya pake brush jadi warnanya ga setegas rahang seseorang, eh salah maksudnya ga setegas gambar pertama. Nah, terus latar belakang yang berwarna hitam saya timpah dengan warna merah yang diaplikasikan secara acak-acakan. Warna merah ini sempet pengen dihapus aja, tapi paint-nya nge-hang. Jadi apa adanya aja.

Hmmm, lebih suka gambar yang mana? Yang ke-1 atau ke-2 atau tidak kedua-duanya? Berikan alasannya  di kolom yang telah disediakan. :p

Ngomong-ngomong ini hari Jumat! TGIF: Thanks God It's Friday! 

Rencana weekend sudah dijadwalkan. Bagaimana pun bersosialisasi atau pergi ke suatu tempat saat akhir pekan bersama teman adalah penting bagi jiwa. Karena kalau tidak, kamar kostan sepetak itu akan jadi terasa seperti penjara. Dan seminggu berikutnya, bisa-bisa saya menjalani hari-hari sambil berharap cepet Jumat lagi dna ingin balas dendam weekend yang sebelumnya garing. 

Saya bukannya stress ya. Butuh bersosialisasi, berbagi cerita, bergosip, atau mengunjungi tempat-tempat tertentu sebagai refreshing dari penat rutinitas. 


Selamat berakhir pekan!

Thursday, April 11, 2013

Surat Tak Terkirim #5: Have Fun Go Mad!

Dear kamu yang suka makan tempe, hehehe.....

Orang bilang pengalaman pertama itu penuh kesan. Kesannya bisa macam-macam: menyenangkan, tak terlupakan, menakutkan, memalukan, membingungkan, menantang, dan lainnya. Nah, ngomong-ngomong soal kesan pengalaman pertama, hari Sabtu kemarin (6/4) saya punya pengalaman pertama. 

Dan kesannya sungguh menyenangkan, tapi tak semenyenangkan saat ketemu kamu kali pertama... #eaaaa.... Lupakan soal pertemuan kita kali pertama, cukup saya simpan dalam memori saja. 

Saya sangat excited menyambut hari itu deh. Saya memutuskan bahwa hari Sabtu kemarin harus jadi hari yang menyenangkan. Sejak pagi, saat saya menumpang motor Fuzzie, saya sudah bernyanyi riang "have fun go mad...." berulang-ulang serupa merapal mantra, lirik yang itu-itu aja karena saya emang ga hapal lagunya. 

Setelah kurang lebih satu jam naik motor, saya dan Fuzzie mampir ke Imah Seniman. Salah satu tempat wokeh untuk menghabiskan akhir pekan bersama orang-orang terkasih. Pasti menyenangkan. 

Kami memotret kegiatan tamu Imah Seniman, dari mulai kegiatan mereka lomba masak, ATV, dan naik kuda. Mereka menyambut ramah dan mengizinkan kami memotret sepuasnya. Bahkan kami dikasih capcay hasil lomba masak. 

Sayang, hari itu hujan, jadi kami ga bisa mengekplorasi Imah Seniman lebih jauh lagi. Saya suka dengan bangunan-bangunan di Imah Seniman. Dibuat dari kayu-kayu tua yang ga dicat ulang. Jadi kesan antik atau vintage jelas sekali terasa dari warna cat kayu yang pudar atau dari tekstur kayunya yang tidak teratur tapi tetap cantik. Kabarnya beberapa kayu didatangkan dari Jepara, kayu bekas teralis jendela atau kusen bangunan lama, diangkut ke sini dan dibikin jadi bangunan baru. Saya suka pintu di dua bangunan yang ada di sana. Antik banget. Ga sempet difoto keburu hujan....

Saat membangun Imah Seniman, pemiliknya yang namanya Pak Bob Doank, melarang menebang satu pohon pun. Bangunan-bangunan dan cottage hanya boleh dibangun dengan memanfaatkan lahan kosong yang ada. Saya curi dengar info ini saat Fuzzi wawancara wakil dari pihak pengelola. Saat Fuzzi wawancara saya sibuk dengan kamera. Potret sana-sini, terus potret kaki sendiri. :D

Saya suka lantainya. Antik!
Selesai wawancara, hujan pun reda. Perjalanan lanjut ke De Ranch. De Ranch ini adalah tempat wisata unik di Lembang, Bandung yang menyuguhkan wisata berkuda dengan latar alam pegunungan yang cantik dan sejuk. Konsepnya mengadopsi peternakan kuda ala Amerika. Berada di sana, rasanya menyenangkan sekali. Pemandangan dan suasana yang disuguhkan membuat merasa seolah sedang tidak di Bandung. 

Di sana kami akan bertemu Aris dan Mbak Ocha yang memang bertugas meliput ke sana. Saya juga untuk tujuan liputan. Mbak Ocha akan menulis tentang profil De Ranch, sementara saya akan menulis tentang kegiatan berkuda serta manfaatnya. Dan terutama, saya ingin naik kuda.

Selesai wawancara, kami makan siang dulu. Karena saya sedang tidak nafsu makan belakangan ini, saya (dan teman-teman lain) beli tempe mendoan. Kamu pasti suka, mendoannya enak! Kabarnya jadi favorit di De Ranch. Pilihan makanan juga banyak yang lain kok. Jadi wisata kuliner pun bisa di sini. 

Saatnya naik kuda..... Tak tanggung-tanggung, kami berkuda sambil berkostum ala koboi. Inilah kali pertama saya naik kuda. Iya, ini dia pengalaman pertama yang tadi saya maksud. Tapi ya pengalaman pertama naik kuda itu sebenarnya ga terlalu luar biasa sih. Saya masih lebih suka kesan waktu naik gajah zaman dulu banget waktu saya masih SD. Tapi tetap saja, pengalaman ke De Ranch hari itu rasanya sungguh sangat menyenangkan.

Sebenarnya saya agak takut kuda ini tiba-tiba ngamuk dan membawa saya kabur, halaaah.... Untuk mengalihkan pikiran buruk, saya ajak ngobrol jokinya yang mendampingi saya berkeliling satu putaran. Dari sang joki saya tau bahwa nama kuda yang saya tunggangi adalah Tinker Bell. Nama peri dalam kisah dongeng Peter Pan! 

Berkuda ala kostum koboi hahahaa... ada fotonya tapi saya malu untuk dipublikasikan di sini. Jadi, saya tampilkan saja foto saat kami duduk-duduk di rerumputannya. Lihat latarnya adalah arena kuda blasteran impor yang sedang merumput serta pepohonan pinus dan cemara yang berjajar rapi. Di belakangnya lagi adalah kaki Gunung Putri. 

It's so damn good place to visit.
Dua gentong yang kami duduki ini menjadi semacam spot foto paling TOP di De Ranch
Selain bisa berkuda, ada banyak pilihan kegiatan di sini, terutama untuk anak-anak. Bahkan kalau ga mau ngelakuin apa-apa pun, ya tinggal duduk-duduk saja di rumputnya yang nyaman. Tampak di kejauhan, Gunung Tangkuban Perahu dan Gunung Putri anggun berdiri. Betah ada di sana berlama-lama. Kalau bukan karena cuaca yang mendung dan waktu sudah sore, rasanya masih ingin duduk di rerumputan sambil terus puas-puasin foto-foto. 

Hari itu sepertinya kami lebih banyak berpose sendiri daripada motret untuk kebutuhan liputan, hahaha.... Sayang kalau tempat seindah itu, cuaca yang begitu cerah dan semenyenangkan itu, dan kami yang juga sangat senang di hari itu tidak diabadikan dalam kamera. (Padahal narsis... :D).


Wednesday, March 27, 2013

Surat Tak Terkirim #4: Perihal Janji

Dear kamu, a social butterfly... :p

Maaf ya kemarin saya ingkar janji. Saya ga nulis surat buat kamu dan memberikan bocoran jawaban teka-teki di surat sebelumnya. 

Saya capek banget. Hari kemarin menemani tamu Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif berwisata belanja di Bandung. Tamunya adalah blogger dari Malaysia yang disponsori oleh KLM (Royal Ducth Airline) untuk terbang ke Jakarta. Follower blog, twitter, dan FB mereka banyak banget, ribuan makanya diundang sama KLM dan juga Kemenparekraf. Harapannya sih dengan mereka bercerita tentang perjalanan mereka, secara ga langsung mereka akan mempromosikan KLM dan pariwisata (khususnya wisata belanja) di Indonesia. Dari pihak Kemenparekraf diwakili oleh Mbak Cindy. Untuk berita yang saya tulis tentang kunjungan mereka itu, bisa dilihat di sini. 

Sing Yee, Chia Yunsin, Annas, si kembar Iena dan Ida Mansor, Yuyu, dan Fatin.
Cantik-cantik yaa?? 
Saya tahu kamu ga suka kalau saya dinas luar kantor. Tapi ini kan di Bandung, dan saya pun meliputnya berdua dengan Fuzzi. Fasilitas seperti biasa terjamin. Tinggal bawa badan dan kamera dan recorder untuk merekam pembicaraan dengan mereka yang bisa jadi bahan berita. Ngelipu gini kadang ada ga nyamannya memang. Tapi kadang sesekali perlu juga biar ketemu orang baru. Tapi,  sebenernya saya mah kan agak introvert. Jadi walau ketemu orang baru, saya suka ogah-ogahan berinteraksi. Saya lebih suka berinteraksi dengan orang yang saya sudah nyaman dengannya. 

Eh iya, kalau kamu sepertinya ekstrovert yang kadang introvert ya? Nah loh?! Karena katanya kamu adalah social butterfly. Saya tidak tahu pasti arti social butterfly jika diartikan dalam Bahasa Indonesia. Mungkin kira-kira artinya adalah orang yang suka bergaul kali ya.... 

Eh iya, hampir lupa dengan janji kemarin. Saatnya memberikan bocoran jawaban teka-teki kemarin. Tadaaaaaa....

Pertanyaan pertama, yaitu tentang telur dalam keranjang, jawabannya adalah karena ada satu orang yang menerima telur plus keranjangnya (tanpa dikeluarkan dari keranjang). Makanya tetap ada satu telur di keranjang meskipun telur tersebut semua sudah dibagikan.

Pertanyaan kedua, yang seharusnya paling gampang jawabnya kalau kamu lebih teliti, jawabnya tentu saja Mary. Coba deh baca lebih hati-hati pertanyaannya. :)

Yang ketiga adalah karena lelaki tersebut adalah lelaki yang tidak terlalu tinggi postur tubuhnya. Jadi kalau dia hanya sendiri di lift dan hari itu tidak hujan (maka dia tidak bawa payung), dia tidak bisa menjangkau tombol lantai apartemennya di lantai paling atas itu. Karena tidak ada orang dan atau tidak ada payung yang bisa membantunya memijit tombol lantainya tersebut.

Dengan ini, janji sudah ditepati. Jadi gimana? Jawaban kamu bener semua ga? Atau salah semua? :p

Sampai ketemu di surat berikutnya ya, wahai kamu yang sulit ditebak hatinya.











Monday, March 25, 2013

Surat Tak Terkirim #3: Teka-Teki untuk Kamu

Dear kamu....

Saya malas mencari dan memilih cerita buat kamu ah. 

Saya mau cerita kegiatan kemarin aja dan saya mau kasih tantangan di akhir tulisan. Iya, tantangan buat kamu. Itung-itung ngelatih kemampuan lateral thinking--masih inget kan dengan istilah itu? Kemampuan seseorang untuk bisa menyelesaikan masalah dengan mempertimbangkan beberapa aspek atau dengan cara-cara yang kreatif. 

***
Hari Minggu kemarin, saya ketemu temen lama, Cimot namanya. Eh, diinget-inget kami udah setahun ga ketemu. Setahun! Tapi rasanya baru kemarin kami nangis sesegukan sambil pelukan super erat dan lama pas acara perpisahan kantor, tepat tanggal 31 Maret 2012. Nangis sesegukan itu jangan dianggap lebay ya.... We have certain issues before and that is why it's so sad to be separated when everything is getting better. Tapi mungkin kalau ga ada perpisahan itu, kami (terutama saya) ga akan menyadari hal yang lebih penting dari pada ego sendiri. 

Selain ketemu dia, sebelumnya saya kumpul dengan teman-teman arisan: ada Teh Nita, Bubu dan pacarnya. Yang lainnya ga dateng, padahal arisan terakhir. Ahmad yang memilihkan tempat dan yang rencana datang bareng pacarnya pun ga jadi datang. Tau gitu pindah tempat deh... hehehehe... Saya kurang nyaman di Hummingbird, udah mah mahal makanannya biasa aja rasanya.

Selesai dari Hummingbird itu, saya dan Teh Nita ke BIP. Sengaja. Saya ingin ke Books and Beyond beli novel Paolo Coelho lagi. Kali ini judulnya "The Winner Stands Alone". Kalau ada yang menarik di sana, saya janji akan bagi ceritanya ke kamu ya....


Terus pas di BIP itulah ketemuan Cimot. Ngobrol di foodcourt BIP berjam-jam. Tentang banyak hal. Tentang ibu-ibu ga penting yang ditemui Cimot hari itu, tentang kerjaan, hubungan percintaan, tentang gosip kantor lama, cerita di kantor baru atau kerjaan baru masing-masing, dsb... dsb. 

Tak lupa, si Cimot yang makannya masih aja menghabiskan waktu lamaaa banget ini, jualan segala rupa. Terus foto-foto deh. 


Eh iya hampir lupa, ngomong-ngomong tentang lateral thinking. Saya tau kamu tipe pemikir. Kita ini sama-sama punya energi yang besar baik secara fisik atau mental. Dan itu artinya kita ga bisa diem. Kita senang tenggelam sama kesibukan melakukan sesuatu (fisik) atau memikirkan sesuatu (mental). Stress deh kalau ga melakukan sesuatu atau ga ada kegiatan yang menarik buat kita. Bedanya, saya ga bagus kemampuan lateral thinking-nya. 

Saya hanya membayangkan, kamu kalau lagi mikir, kira-kira suka sambil mandangin langit malam ga ya? Kan di sana langitnya maha luas dan nyaris tidak tertutup atap dari perumahan apalagi gedung-gedung tinggi. Terhampar gitu aja di atas kepala. Begitu nyata di cakrawala, bukan fatamorgana, hehehehe..... Mungkin kamu sering ke lantai paling atas, terus berdiri di sebuah sudut sambil mandangin langit di kejauhan... (ceeileeh bahasanya). Mungkin sambil berkacak pinggang atau merokok? Pasti bintang-bintangnya keliatan semua. Kalau seandainya sempat mandangin langit malam gitu, cari deh satu bintang yang paling terang. Itu bintang genit banget, kelap-kelip ga henti. Pernah denger kalau katanya bintang yang paling terang itu sebenernya bukan bintang, tapi Planet Venus. Terus nama lainnya ya bintang kejora.

Oke cukup dengan bayangan dan andai-andainya. Sekarang waktunya ngasih pertanyaan iseng-iseng untuk ngelatih lateral thinking. Ini lebih kayak teka-teki sih. Untuk bocoran jawabannya, saya kasih di surat selanjutnya ya.... Oke?

Pertanyaan pertama:
Ada 6 telur dalam keranjang. Nah, keenam telur ini dibagikan ke enam orang masing-masing dapet 1 telur. Pertanyaannya, kenapa setelah semua orang dapet 1 telur, kok masih ada sisa satu telur di dalam keranjang?

Pertanyaan kedua:
Ibunya Mary punya empat orang anak.
Anak pertama namanya April .
Anak kedua dikasih nama Mei. 
Anak ketiga dinamailah Juni.
Lalu, siapakah nama anak yang keempat?

Pertanyaan ketiga:
Ada seorang laki-laki yang tinggal di apartemen lantai paling atas. Setiap pagi, laki-laki ini pergi kerja dan turun ke lobby menggunakan lift. Tapi, sekembalinya dia kerja, dia hanya bisa naik lift setengah perjalanan. Sisanya dia harus naik tangga. Kecuali hari hujan atau kalau dia kebetulan naik lift sama orang lain, barulah dia bisa naik lift sampe ke lantai apartemennya. 
Nah, kira-kira kenapa bisa begitu???


Coba jawab ya.... 
Sampe besok..... :)







Sunday, March 24, 2013

Surat Tak Terkirim #2: Cinta dalam Secangkir Kopi Asin

Dear kamu,

Apa kabar warna langit di sana? Semoga biru cerah saat siang dan penuh bintang saat malam. Karena itu akan berarti laut sedang tenang, kan?

Kali ini saya punya cerita yang ingin saya bagi untuk kamu. Kemarin-kemarin, tidak sempat atau tidak diberi kesempatan. Sekarang lebih-lebih lagi, bahkan untuk mendengar kabarmu saja, tidak bisa. Maka mulai sekarang, izinkan saya menulis surat-surat seperti ini yang tidak akan pernah bisa dikirimkan tapi semoga pesannya bisa sampai ke tujuan. Entah dengan cara apa!

Saya sempat terpikir ingin bisa membacakan cerita ini atau cerita lainnya langsung atau via telepon untuk kamu. Tapi kamu bilang kamu tidak suka baca, kamu lebih suka baca berita. Jadi, saya pun tak berani menawarkan membacakan cerita untuk kamu, lagi pula saya khawatir saya akan tampak seperti ibu-ibu yang membacakan dongeng untuk anaknya sebelum tidur. Eh, tapi kalau suatu hari nanti saya jadi ibu, saya memang akan melakukannya untuk anak-anak saya.

Cerita ini sederhana. Alasan saya memilihnya kali ini karena saya suka sekali cerita ini dan ingin membaginya untuk kamu. Bahwa kebohongan tidak selamanya sebegitu buruk. Bahwa cinta bisa membuat hal-hal tak terduga bahkan konyol bisa terjadi. Saya copas cerita berikut dari kemudian.com. Selamat membaca.

***

Cinta dalam Secangkir Kopi Asin (Kebohongan Yang Indah)

Dia bertemu dengan gadis itu di sebuah pesta, gadis yang menakjubkan. Banyak pria berusaha mendekatinya. Sedangkan dia sendiri hanya seorang laki-laki biasa. Tak ada yang begitu menghiraukannya. Saat pesta telah usai, dia mengundang gadis itu untuk minum kopi bersamanya. Walaupun terkejut dengan undangan yang mendadak, si gadis tidak mau mengecewakannya.

Mereka berdua duduk di sebuah kedai kopi yang nyaman. Si laki-laki begitu gugup untuk mengatakan sesuatu, sedangkan sang gadis merasa sangat tidak nyaman. "Ayolah, cepat. Aku ingin segera pulang", kata sang gadis dalam hatinya. Tiba-tiba si laki-laki berkata pada pelayan, "Tolong ambilkan saya garam. Saya ingin membubuhkan dalam kopi saya." Semua orang memandang dan melihat aneh padanya. Mukanya kontan menjadi merah, tapi ia tetap mengambil dan membubuhkan garam dalam kopi serta meminum kopinya.

Sang gadis bertanya dengan penuh rasa ingin tahu, "Kenapa kamu suka minum kopi asin?". 

Laki-laki tersebut menjawab: "Dulu ketika kecil, aku tinggal di daerah dekat pantai. Setiap hari  aku suka sekali bermain di laut dan dapat merasakan asinnya air laut. Sama seperti rasa kopi ini. Sekarang, tiap kali  minum kopi asin, aku jadi teringat akan masa kecil dan tanah kelahiranku. Aku sangat merindukan kampung halaman, rindu pada kedua orangtuaku yang masih tinggal di sana", lanjutnya dengan mata berkaca-kaca. 

Mendengar hal itu, sang gadis tersentuh atas ungkapan perasaan yang begitu dalam dari seorang laki-laki yang mengungkapkan kerinduan akan kampung halamannya. Ia pasti seorang yang mencintai dan begitu peduli akan rumah dan keluarganya. Ia pasti mempunyai rasa tanggung jawab akan tempat tinggal dan keluarganya. Kemudian sang gadis juga mulai bercerita tentang tempat tinggalnya yang jauh, masa kecilnya, keluarganya... Suasana yang sebelumnya kaku langsung berubah menjadi perbincangan yang hangat. Dan itu menjadi awal yang indah dari kisah cinta mereka. Semua bermula karena secangkir kopi asin!

Cerita berlanjut seperti tiap kisah cinta yang indah: sang putri menikah dengan sang pangeran, dan mereka hidup bahagia... Setiap pagi ketika sang istri membuatkan kopi untuk suaminya, ia selalu membubuhkan garam di dalamnya, karena ia tahu itulah yang disukai suaminya.


Setelah 40 tahun berlalu, si laki-laki meninggal dunia. Ia meninggalkan sepucuk surat bagi istrinya: "Sayangku, maafkanlah aku. Maafkan kebohongan yang telah aku buat sepanjang hidupku. Ini adalah satu-satunya kebohonganku padamu---tentang kopi asin. Kamu ingat kan saat kita pertama kali berkencan? Aku sangat gugup waktu itu. Sebenarnya aku menginginkan sedikit gula. Tapi aku malah mengatakan garam. Waktu itu aku ingin membatalkannya, tapi aku tak sanggup, maka aku biarkan saja semuanya. 

"Aku tak pernah mengira kalau hal itu malah menjadi awal pembicaraan kita. Aku telah mencoba untuk mengatakan yang sebenarnya kepadamu. Aku telah mencobanya beberapa kali dalam hidupku, tapi aku begitu takut untuk melakukannya, karena aku telah berjanji untuk tidak menyembunyikan apa pun darimu... Sekarang aku sedang sekarat. Tidak ada lagi yang dapat aku khawatirkan, maka aku akan mengatakan ini padamu: Aku tidak menyukai kopi yang asin. Tapi sejak aku mengenalmu, aku selalu minum kopi yang rasanya asin sepanjang hidupku. Aku tidak pernah menyesali semuanya. Dapat berada di sampingmu adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupku. Jika aku punya kesempatan untuk menjalani hidup sekali lagi, aku tetap akan berusaha mengenalmu dan menjadikanmu istriku walau pun aku harus minum kopi asin lagi."

***

Selamat tidur. Besok saya akan berbagi cerita yang lain lagi. :)


Wednesday, February 27, 2013

Surat Tak Terkirim #1

Untuk kamu yang tidak boleh disebut namanya,

Mungkin karena kita ini sama-sama belum bisa berdamai dengan diri sendiri, dengan masa lalu yang membentuk kita hari ini. Maka kita sering perang!

Perang. Damai. Perang lagi. Damai lagi. Baik dengan diri sendiri maupun satu sama lain. Terus begitu, hingga akhirnya pola ini akan menemukan ujungnya sendiri untuk berhenti atau berakhir pada sebuah titik.

Titik dimana masing-masing kita sudah terlalu lelah untuk maju ke medan perang yang sama--berulang-ulang. Dan juga sudah terlalu letih untuk memimpikan damai, yang biasanya hanya bertahan sekian hari.

Tidak perang, tidak juga damai. Tapi diam.

Mungkin ini lebih aman, lebih baik bagi saya.
Dan mungkin juga bagi kamu, yang tidak boleh disebut namanya.






Thursday, December 13, 2012

Ruang

Ada sebuah rumah. Tampak sejuk dan nyaman dari luar. Pintunya terbuka, kita sama-sama melangkah masuk dan duduk di ruang tamunya yang hangat. Sofanya sederhana saja; yang jelas empuk, berwarna merah, berukuran ramping. Sungguh sesuai dengan ukuran ruang tamu yang tidak terlalu besar ini. Mejanya terbuat dari kayu yang dipelitur--cokelat tua berukir sulur-sulur yang apik. Sepertinya pesanan. Di atas meja, terpasang secarik kecil taplak meja cantik dari Turki. Lampunya tidak nyala, tapi desainnya yang sederhana serupa bunga lotus di langit-langit itu sudah menarik perhatian sejak awal. Di pojok ruangan, tampak sebuah vas keramik yang tinggi ramping. Beberapa tangkai bunga kering ditaruh di sana. Selintas tampak jaring laba-laba berkilau terkena cahaya Matahari yang masuk dari celah jendela di seberang pojokan. Di sana, semilir angin yang sebelumnya ditimang dedauanan pohon angsana berhembus memenuhi ruangan. Sejuk namun hangat dan nyaman. Bisakah kamu bayangkan kenyamanan ruang seperti itu?

Lalu kita terlena berlama-lama duduk di sana. Berbicara dan tertawa tentang banyak hal: tentang kita terutama, tentang rasa. Sesekali kita ribut tentang hal-hal kecil yang membuat kita tidak sepaham, karena kita berbeda. Kita datang dari tempat yang jauh, dari masa lalu yang juga lebih jauh lagi, lalu tak sengaja bertemu di simpang jalan dan memutuskan berjalan berdampingan. Sungguh wajar banyak hal yang kita pertentangkan, meski kadang-kadang ada juga yang diam-diam kita syukuri dan banggakan. 

Kita lupa bahwa ruang ini bukan milik kita, bahwa kita hanyalah tamu tak diundang yang lancang masuk tanpa permisi. Rumah ini terlalu menyenangkan untuk dilewati begitu saja bukan? Apalagi setelah masing-masing kita terlalu lelah melanjutkan perjalanan yang belum tampak ujungnya. Rumah ini terlalu nyaman untuk tidak disinggahi dan ditelusuri tiap ruangnya. 

Tidak semua ruang kita suka. Seperti kebanyakan rumah pada umumnya, ruang tamu adalah yang paling tertata. Ruang ini lah yang pertama-tama memberi kesan pada orang lain--tamu tentu saja. Karenanya ia harus baik, apik, bersih, mengkilap, dan nyaman. Sebagai sebuah rumah, rumah ini menjanjikan perlindungan yang cukup memenuhi syarat kenyamanan. Namun, ada bagian atau ruang tertentu yang kurang berkenan. Tumpukan cucian, makanan basi di bak pencuci piring, gudang barang yang penuh debu dan sarang laba-laba adalah beberapa di antaranya. 

Habis semua ruang kita jelajahi, kita merasa lelah dan ingin kembali saja ke ruang tamu, yang dihembus semilir angin dari luar. Yang nyaman dan menyenangkan. Ruang ini memang masih nyaman, tapi ingatan tentang dapur yang kotor dan gudang yang berdebu sudah terekam di kepala. Harusnya bukan masalah besar, bukan? Ya, memang bukan masalah besar. Toh, rumah ini pun hanya tempat kita singgah. Dan justru inilah masalah terbesarnya. Lalu, kita pun sampai pada suatu waktu dimana kita mulai merasa bahwa tempat ini bukan untuk kita. bahwa kita harus melanjutkan perjalanan. Dan pergi adalah satu-satunya pilihan yang ada. Bayangan perjalanan panjang yang harus di tempuh di depan adalah tantangan atau ketakutan yang lain lagi. 

Apalagi saat kamu bilang, bahwa kita harus berpisah di persimpangan depan!

Kamu bilang saya bebas sekarang, menentukan langkah sendiri. Tapi apa sih sebenarnya kebebasan?
Paulo Coelho bilang, "Freedom is not the absence of commitments, but the ability to choose...what is best for me."

Dalam hal ini, saya tidak bisa memilih dan tidak punya pilihan lain, kecuali menerima! 




Tuesday, August 14, 2012

Kartu Pos The Secret Garden

Sekira 2 tahun yang lalu, itulah terakhir kali saya mendapatkan sebuah kartu pos sebagai oleh-oleh yang dibeli di sebuah museum di Irlandia. Itu pun diberikan langsung, tidak dikirim melalui pos. Tanpa bermaksud berlebihan, menerima kiriman kartu pos berperangko dari seorang sahabat di zaman yang serba digital ini adalah sebuah kemewahan varietas baru! :D

Kartu pos (tampak depan)
Andika Budiman lah pengirim kartu cantik tersebut yang bergambarkan cover buku "The Secret Garden", karangan F.Hodgson-Burnett. Kalimat pembuka dan pesan di baris terakhirnya sudah cukup membuat saya merasa betapa Dika, salah satu sahabat terbaik saya ini, begitu mengenal pribadi saya tapi tidak pernah (seingat saya) men-judge atau menghakimi saya karena sifat-sifat dan karakter saya tersebut. Karenanya, saya selalu nyaman mengenalnya... :)

Untuk urusan teman bercerita, Dika adalah pendengar yang baik tapi juga berbahaya, hehhehe.... Saya hanya perlu bercerita sedikit, lalu Dika akan sudah dapat mengenali emosi terdalam di balik cerita saya dan memahami hal-hal yang bahkan tidak saya katakan. Saya baru bercerita A-B-C, tapi ia sudah mendengar dan memahami hingga huruf N atau seterusnya. Terdengar lebay tapi begitulah adanya.

"Neni, jangan ragu mengungkapkan perasaan, apalagi jika itu ungkapan afeksi. Seperti kata Nia Janiar (sahabat kami juga--red.), niat baik tidak pernah sia-sia." Inilah sebaris pesan Dika di kartu posnya sebelum mengucap salam.

Kartu pos (bagian belakang); sengaja blur agar isinya tidak terbaca... :p

Niat baik memang tidak pernah sia-sia, Dika. Dan ini termasuk niat baik kamu mengirim kartu pos pada "sebuah ikon" yang kemudian kamu sesali karena malu atau entahlah, namun ternyata justru jadi menginspirasi. Dan yang akhirnya membuat saya menerima kartu posnya. 

Terima kasih, kartu posnya ya, Dika. Rasa kantuk yang merusak mood seharian dan rasa sebal karena kemacetan lalu lintas yang saya bawa pulang sore ini jadi hilang seketika setelah baca kartu posnya. Mudah-mudahan kamu tidak keberatan saya menulis di sini. Saya janji saya akan balas kartunya... :)

Oh iya, kartu pos yang saya terima 2 tahun yang lalu juga bergambar perempuan. Seorang perempuan bertubuh ringkih yang memegang payung dan memandang ke arah samping di kejauhan (tidak memandang ke depan). Gambar tersebut tepatnya adalah sebuah lukisan perempuan berpayung yang di pajang di museum Irlandia tersebut. Si pemberi mengatakan bahwa kartu pos itu mengingatkan dia pada sosok saya yang menurutnya terlihat begitu "confident, but fragile at the same time". Saya cukup kaget juga mendengar frasa tersebut. 




Sunday, July 29, 2012

Rasionalisasi


Sekotak mimpi

Bukankah ini sekotak mimpi
yang tidak pernah kau pesan
meski pernah diam-diam kau inginkan?
lalu kenapa saat ia melintas, hilir-mudik
bersama-sama dengan ketukan angin
di depan jendela kamarmu yang berkabut
kau malah sangat gelisah,
bahkan menjadi sedikit kesal:
(tanpa merasa perlu membuka jendela lebar-lebar)
kau malah berani berharap
ke jendela kamarmu ia akan diantar
dan singgah tidak sebentar.



Aku Tidak Lupa

Dengar, aku tidak lupa
mungkin takkan pernah lupa
rasa ini hanya kuarahkan ke mana suka
asal tidak mendarat di tempatmu sekarang berdiri
karena aku terlalu takut; itu akan membuatmu beranjak pergi.

Tersedak Mimpi

Ia lah gadis kecil yang kemarin itu
yang gemar meniupkan tiap-tiap harapan
pada kuntum-kuntum dandelion
di padang belakang

Di antara rimbun ilalang yang tinggi
angin bulan Juli berdesing sunyi
hangat mentari adalah saksi:
ia berdiri menikmati manisnya cuaca
menghirup sebanyak-banyak udara
lalu tersedak oleh mimpi
yang baru saja ia tiupkan dengan sangat hati-hati.




Saturday, July 28, 2012

Kupu-Kupu di Telapak Tanganku

Izinkan aku merekam sekeping kenangan manis itu, Ibu:

kau lukiskan pada telapak tanganku
seekor kupu-kupu kecil
yang bersayap lengkap
namun tak bisa mengepak

di luar, langit hampir selalu abu-abu
musim semakin dingin,
daun semua gugur,
namun hati kita musim semi

kupu-kupu kecil itu mati setelah tiga hari, Ibu
namun hangat ingatan tentangnya
masih menyengat hati hingga kini--
saat diri tak tahu lagi jalan kembali
ke hangat rumahmu yang ramai namun terasa sepi

sekarang aku mengerti, Ibu
kenapa di bawah naungan langitku kini
yang selalu biru dan bermatahari
aku gemar sekali melukis bunga-bunga kecil
di telapak-telapak tangan yang subur--
mungkin diri ini mengimpi
bunga kecil akan mengundang kupu-kupu kembali




*suatu hari, di dapur yang hangat.



Thursday, July 26, 2012

Warna Laut Hari Ini

Warna laut hari ini
serupa wajahmu kemarin itu:
biru pucat,
tampak tenang:
menimang badai yang disembunyikan


lalu diam-diam
kau kayuh rinduku yang berkabut
sejauh-jauh pandangan!


Sunday, July 01, 2012

Hujan Seminggu

Kemarin aku melihat kamu di warna pelangi
lalu mendadak rindu menyergap bagai hujan
yang memang kerap turun sejak seminggu yang lalu:
adakah musim hujan yang sama
telah pula singgah di lapang hatimu?
atau hanya aku yang gelisah sendiri
di pojok musim--bimbang menimang keinginan:
antara ingin main hujan-hujanan
tapi takut sakit dan deman di keesokan?

Selembar Daun yang Terbang ke Bulan

Ada selembar daun yang terbang ke bulan, Sayang
saat malam menggigil di bulan Desember
menyaksikan dua anak kecil bermain di taman:
sepatu mereka meninggalkan jejak yang dalam
di hamparan salju yang disimbah cahaya bulan

Ada selembar daun yang terbang ke bulan, Sayang
tidakkah kau lihat bayangannya melambai-lambaikan perpisahan?
tidakkah kau dengar suaranya yang kian lama kian mirip igauan?

Ada selembar daun yang terbang ke bulan, Sayang
ada kisah yang dijejalkan ke dalam kotak kenangan



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...