Saturday, August 22, 2009
Saya Senang Merasa Sedih
Seminggu terakhir, saya merasa penyakit lama waktu SMA kambuh: suka melamun dan merasa biru untuk alasan yang tidak jelas. Tidak jelas karena saya tidak berusaha memperjelas atau mengakui alasan yang melatarbelakangi nya; ini saya tahu. Padahal, beberapa minggu sebelumnya saya merasa begitu ceria dan percaya bahwa saya adalah seorang periang. Dan saya berbangga karenanya. Tapi belakangan, saya seolah lupa bagaimana caranya menjadi riang. Segala kata-kata bijak atau "quotes" yang biasanya bisa menyulut semangat tidak bisa membantu. Saya menolaknya. Saya sepertinya tengah menikmati ini: merasakan kesedihan. Ijinkan saya.
Saya baru ingat, rasanya sudah lama sekali tidak merasakan pergantian emosi senang dan sedih sejelas sekarang ini. Rutinitas kerja yang menyita waktu dan pikiran serta (secara tidak langsung) membatasi saya dari bersinggungan dengan "kehidupan lain", membuat saya baal rasa. Datar. Kadang ini terasa nyaman. Tapi tak jarang membuat saya merasa kesepian.
Merasakan kesedihan tidak bisa dibilang nyaman dan tidak juga membebaskan saya dari merasa sepi. Tapi paling tidak, ini membuat saya tahu saya tidak sendirian. Saya kembali bersinggungan dengan "kehidupan lain" dan kembali merasakan emosi lain yang ternyata saya rindukan.
Thursday, August 20, 2009
Musik Sampah yang Keren
Pelayan yang sepertinya sudah menunggu kedatangan kami, dengan lekas tapi kikuk dan ragu-ragu mengantar kami ke meja 24. Meja yang tidak strategis; meski ia berada di depan kanan panggung, pilar-pilar yang tadi saya ceritakan menghalangi pandangan ke panggung. Makanan dan minuman dipesan. Makanan dan minuman tandas. Dan acara belum juga dimulai. Tepat pukul 19.30, tampil di atas panggung grup musik keroncongan. Mereka membawakan beberapa lagu tapi telinga saya tidak menangkap perbedaan yang signifikan antara satu lagu dan lagu lainnya. Entah karena saya tidak memperhatikan atau karena musik dan lagunya terlalu sama atau terlalu dinamis (padahal penyanyinya bergantian seorang perempuan dan seorang laki-laki yang jelas suaranya berbeda), saya tetap tak bisa membedakan apalagi mengingat lagu mereka. Saya berkata seperti ini bukan berarti penampilan mereka buruk, hanya saja suguhan musik mereka tidak memanjakan telinga saya. Terlebih lagi telinga kedua teman saya, Myra dan Nia, yang bertepuk tangan penuh semangat saat MC mengatakan, "Ya, inilah lagu terakhir" dari grup keroncongan tersebut.
Setelah MC berbasa-basi, berinteraksi dengan pengunjung Resto dan membagi-bagikan beberapa souvenir dan hadiah, tibalah penampilan Lungsuran Daun; demikian grup musik ini menamakan diri. Tiga orang di atas panggung, masing-masing memegang alat musik yang aneh bentuknya. Suara gumaman atau humming mengalun pelan dari mulut seorang yang paling tua. Ditingkah suara kecapi dan sesekali suara gemuruh seperti angin atau debur ombak di kejauhan, yang membuat saya bertanya-tanya suara apa gerangan.
Beberapa pengunjung rela meninggalkan kursi mereka dan berdiri mendekati panggung. Sepertinya mereka pun penasaran dari apa dan dari mana datangnya suara yang mereka dengar. Dua orang berkamera menghalangi pandangan saya yang enggan beranjak dari kursi. Ditengah kekesalan karena dua orang tersebut, mata saya tiba-tiba beralih ke arah jalan masuk. Seorang paruh baya berpakaian hitam-hitam, berkalung menumpuk berbentuk bulat-bulat, serta berambut keriting gondrong melangkah masuk ke arah panggung sambil menggerakkan sebuah benda yang di atasnya berlubang dan pada lubang itu, sang Bapak mengarahkan microphone. Tahulah saya darimana suara gemuruh tadi berasal.
Serupa magnet, kehadiran laki-laki yang penampilannya mengingatkan saya pada dukun atau pawang hujan ini menarik lebih banyak pengunjung mendekat ke panggung. Mang Dodo, begitu ia memperkenalkan diri. Dan Tornado adalah nama alat bersuara gemuruh yang ia bawa. Alat yang terbuat dari labu yang bagian bawahnya dilapis barang bekas (saya lupa barang bekas apa) dan berlubang pada bagian atas, tempat suara gemuruh keluar. Benda yang mengingatkan saya pada tempat minum Dewa Mabuk di serial Cina jaman dahulu kala. Mendengar suara yang dihasilkan Tornado itu, saya tak berhenti berujar, "Kok bisa sih?" Dan pertanyaan ini terus berlanjut saat Mang Dodo mengenalkan lebih banyak alat musiknya yang ia buat dari sampah.
Kecapi yang membuka pertunjukan mereka ternyata resonatornya terbuat dari tabung mesin cuci yang dibelah oleh Mang Dodo sendiri. Dibuang sayang, ujar Mang Dodo. Inilah alasan dia menggunakan barang-barang sampah sebagai bahan membuat alas musik yang tidak biasa, yang menghasilkan efek suara yang luar biasa! Ada pula Alpedo (Alat Petik Dodo) yang menghasilkan suara yang identik dengan musik tradisional korea. Ada pula alat musik yang ia namai Indonesia Pernah Menangis, yang dibuat karena mengingat Tsunami di Aceh. Berbentuk bidang segi empat dan terbuat dari kanvas, berwarna merah putih sebagai latar, dan memiliki cekungan berwarna gelap di tengahnya, alat musik ini bersuara aneh dan keras saat Mang Dodo menggerakkannya pelan. Lagi-lagi saya berseru, "Ih kok bisa, sih?"
Selanjutnya Mang Dodo menunjukkan alat musik yang digesek seperti biola, tapi bentuknya sama sekali berbeda. Alat ini terbuat dari kayu bekas jendela, senar, dan kaleng susu. Saat Mang Dodo menggeseknya kembali terdengar suara nyaring, entah seperti suara apa tapi yang pasti mengingatkan pada alam saat mendengarnya. Mang Dodo bilang kabarnya burung-burung di Bandung mulai berkurang, dan ia berkelakar ini disebabkan oleh asap rokok. Karena tak ingin melupakan kicau burung, ia membuat alat dari bekas penghisap sisha, yang menghasilkan suara burung yang nyaring. Ada pula alat yang ia buat dari bekas pintu yang menghasilkan suara motor yang tengah "ngebut" di jalanan. Tak hanya itu, Mang Dodo kembali mengeluarkan alat musik yang terbuat dari alat cukur, yang menghasilkan suara kodok; suara yang sudah jarang terdengar sekarang ini karena sawah yang jadi habitat mereka pun pelan-pelan punah. Terakhir, Mang Dodo mengenalkan suling yang baru ia buat tadi pagi. Suling yang aneh karena bentuknya serupa tanda petir atau tanda tegangan tinggi pada tiang-tiang listrik. Sebelum membunyikan suling tersebut Mang Dodo menyempatkan membacakan pengantar sebagai berikut: Dulu saya lurus dan runcing Sekarang saya bongkok dan tua tapi masih ada bunyi untuk Indonesia.
Mang Dodo dan rekan-rekannya mengakhiri aksi mereka dengan memainkan sebuah komposisi dari alat yang ditiup bersama-sama. Penampilan Mang Dodo terasa singkat lantaran ia lebih banyak berdialog mengenalkan alat musiknya dan sesekali mengingatkan untuk lebih peduli pada lingkungan.
Setelah Mang Dodo, giliran Musik Genteng dari Jatiwangi yang unjuk gigi. Terdiri dari 3 remaja berusia belasan tahun dan seorang anak laki-laki, Musik Genteng pun beraksi. Mereka hanya menggunakan stik kayu atau bambu yang dipukul-pukulkan ke genteng dan menciptakan musik. Selebihnya, ada pula alat musik yang berbentuk seperti kendi tapi bolong di bagian perutnya. Kendi ini dipukul-pukul layaknya kendang. Saya bisa membedakan dari musik satu ke musik yang lainnya, padahal mereka hanya menggunakan stik kayu dan genteng!
Setiap orang boleh punya ide. Tapi, hanya sedikit orang yang merealisasikan ide mereka, setia memelihara dan mengembangkannya, untuk kemudian membuat perbedaan dari ide tersebut. Mang Dodo dengan Lungsuran Daun-nya dan penggagas Musik Genteng adalah salah dua dari sedikit orang tersebut. Jam tangan saya menunjukkan pukul 21.30 saat Musik Genteng mengakhiri pertunjukkan mereka. Meski masih ada Mukti-Mukti—pelantun musik perjuangan—kami memutuskan untuk pulang karena sudah terlalu malam.
Roemah Nenek masih remang-remang oleh cahaya lampu yang berpendar dari balik kap handmade berbentuk cupcakes paper berukuran raksasa, yang di pasang terbalik di atas tiap meja, saat kami pergi meninggalkannya.
Peri Tidur
Ia mengenakan gaun berwarna ungu lembut, gaun yang berkilau meski tak satu pun kulihat ada batu permata atau manik-manik yang menempel di sana. Pendek kata, ia bercahaya. Terlebih wajahnya! Semu merah muda pada pipinya menambah kesan indah pada wajahnya yang bening. Dan dua matanya terang, berkilat, dan hitam pekat.
Aku mendengarnya bersenandung. Saat itulah aku menyadari kehadirannya. Senandung yang membuat mengantuk, membuai...
"Kenapa kau tak tidur?" tanyanya pelan dan terdengar sedih. Aku berniat menoleh ke kiri dan kanan untuk memastikan apakah ia bertanya padaku, tapi aku urungkan. Rasanya bodoh sekali melakukan hal itu padahal aku tahu pasti tak ada orang lain di tempat ini.
"Kenapa kau tak mau tidur?" ulangnya. Ia memiringkan kepalanya saat bertanya demikian. Tangan kirinya memegang pinggiran bangku kayu lapuk yang ia duduki, sementara tangan kanannya ia simpan di pangkuan. Kakinya diayun-ayunkan pelan... Sungguh menggemaskan. Aku tidak bisa menimbang-nimbang apa yang menjadikannya demikian memikat. Entah apakah karena gaunnya, gerak-geriknya, suaranya, wajahnya yang bercahaya, ayunan kakinya, atau mungkin karena kayu lapuk yang didudukinya dan sekitar yang gelap gulita hingga di tengah suasana ini, ia berjaya, bercahaya—kontras!
"Kau tahu tidak, aku sudah lelah bersenandung untukmu!" lanjutnya.
"Untukku?" Kata ini meluncur begitu saja, karenanya aku agak terkejut mendengar suaraku sendiri.
"Ya, untukmu. Karena kau tidak tidur. Kenapa menolak untuk tidur?" tanyanya lagi. Kali ini ia menegakkan kepalanya juga tubuhnya. Kedua tangannya saling menggenggam di pangkuan.
"Tak bisa tidur."
"Kenapa?"
"Bukan urusanmu." Peri Tidur tampak terkejut, dan aku merasa bersalah berbicara seperti itu pada makhluk seindah dia.
"Sungguh, aku tidak bisa tidur," sambungku lebih ramah.
"Tapi kenapa, pasti ada sebabnya?" tanyanya lagi sambil menggeser posisi duduknya, seolah mengisyaratkan padaku untuk duduk di dekatnya.
Aku pun mendekat, dan terasa ada waktu yang hilang saat aku sadar aku sudah duduk di sampingnya. Aku mencium wangi bunga atau daun atau perpaduan keduanya. Mungkin juga dicampur sedikit buah karena wanginya segar dan sedikit asam seperti citrus. Kiraku, wangi itu berasal dari rambutnya yang tergerai atau dari tubuhnya atau perpaduan keduanya. Entahlah. Ia memandangiku, menunggu jawaban.
"Aku tak tahu kenapa tak bisa tidur," ujarku putus asa. Aku memang tak tahu kenapa tubuhku menolak untuk tidur. Aku bahkan tak butuh kopi untuk bisa bertahan sampai pagi.
"Bukan tak tahu. Kau mencoba melupakan dan memilih tak tahu apa-apa."
"Mungkin...," jawabku sedikit tersinggung. Meski ia cantik, ia tak berhak menghakimiku.
"Maukah menemaniku sebentar?" tanyanya pelan. Suaranya lembut. Aku memandangnya—ragu. "Aku tak punya teman. Aku selalu terjaga di saat kalian tidur. Dan aku harus tidur saat kalian terjaga, agar aku tetap terjaga saat kalian tidur keesokan malam...," lanjutnya, terdengar seperti merajuk.
"Kau tidak menyukainya?" tanyaku heran.
"Apa?" Ia balik bertanya dan menatapku. Matanya memantulkan bayanganku.
"Menjadi Peri Tidur. Kau tidak suka?"
Peri Tidur lama memandangiku. Kemudian ia tertawa singkat, mengalihkan pandangan ke jauh langit yang penuh bintang, menyilangkan kakinya dan mengayunkannya pelan. "Aku tidak boleh bilang tidak suka, sama seperti aku tidak bisa bilang bahwa aku selalu suka menjadi Peri Tidur." Ia menoleh sambil tersenyum padaku.
Mataku berkedip cepat, karena tak mengerti dan sekaligus berusaha menghindari matanya.
"Ada banyak hal yang membuatku suka menjadi Peri Tidur, tapi ada juga yang membuatku tidak suka."
"Maksudnya?" Aku berharap ia menjelaskan padaku hal-hal tersebut.
"Jangan memintaku merinci apa yang aku sukai dan apa yang ku benci dengan menjadi seorang Peri Tidur. Seringkali, apa yang kusukai hari ini bisa saja mengesalkanku keesokan hari, begitu pun sebaliknya," jawab Peri Tidur sambil memandang jauh ke depan. "Aku hanya harus menerima saat perasaan suka atau tidak suka datang, atau aku menyangkalnya." Lagi-lagi ia melirik mencari mataku dan tersenyum manja.
Aku lagi-lagi terkejut, ada perasaan aneh menjalari dada, entah karena mendengar kalimat terakhirnya atau karena matanya tiba-tiba menemukan mataku.
"Aku bisa apa lagi, coba? Aku tidak bisa menolak takdirku sebagai Peri Tidur." lanjutnya membela diri.
Aku hanya bisa mengangguk, menunduk. Tak tahu harus bicara apa.
"Seperti sekarang, misalnya...," Peri Tidur belum selesai rupanya. Dan ini membuatku senang karena berarti aku tak perlu mengatakan sesuatu. Aku meliriknya tanpa mencoba melihat matanya.
"Biasanya aku selalu kesal melihatmu tak juga tidur, sementara aku sudah kehabisan lagu. Aku merasa gagal. Aku tidak suka. Tapi malam ini, aku senang bisa bicara denganmu... Aku belajar menerima kamu yang tidak bisa tidur. Ini tidak mudah, tapi aku lega jadinya."
"Aku tidak mengerti...," ujarku.
"Ini melanggar peraturan. Tapi untuk malam ini, kupikir tidak masalah sesekali melanggar peraturan...," lanjut peri tidur tanpa peduli pada perkataanku. Ia mendongak ke langit. Tersenyum lebar dan lepas tanpa beban. Ia gerakkan tubuhnya ke kiri dan kanan.
Aku pun tersenyum, seolah tertular kebahagian yang tengah ia rasakan.
"Mulai hari ini, apakah kau memilih tidur atau tidak tidur, aku akan merasa suka dan tidak suka sekaligus," lanjutnya lagi sambil tetap memandang langit. "Mungkin akan lebih sulit untuk menerima kedua perasaan ini secara bersamaan, tapi tak masalah. Aku memilihnya, dan akan terbiasa."
Aku masih juga tak bisa mengerti apa yang ia bicarakan.
"Aku harus pergi sekarang," ujarnya tiba-tiba. Ia melambaikan tangan di depan mataku, tersenyum, dan pergi begitu saja.
Aku tidak sempat mengatakan sesuatu, dan menyesal karenanya. Aku mengulang-ulang apa yang dikatakan Peri Tidur tadi, mencoba memahaminya. Tiba-tiba, walaupun aku masih tidak sepenuhnya mengerti maksud Peri Tidur—untuk pertama kalinya setelah setahun terakhir—aku ingin tidur dan berhenti menjadi insomniac! Aku ingin belajar menerima mimpi-mimpi yang datang berulang. Mimpi tentang kecelakaan malam itu, tentang darah Katharina di tanganku, tentang Katharina yang meninggal di depan mata, sementara aku hanya menderita luka ringan di bagian kepala.
Saturday, August 15, 2009
Cecila : Pada Suatu Senja
Notes:
* Cecila Trefn anagram dari : Electric Fan
* Wise de Spratner anagram dari : Water Dispenser
* Mami Gocc anagram dari : Magic Com
* Hahahahahahahaaaaaa... Demikian kisah tak begitu penting ini. Saya tidak bisa tidak menuliskan sesuatu tentang foto di atas! Bagaimanapun juga, Jakarta punya banyak cerita!
Sunday, August 09, 2009
Bukan Kejora
hanya sebuah bintang
satu dari sekian ribu bintang
Bukan karena dia kejora
bukan karena ia paling memesona
bukan pula karena ia lebih bercahaya
karena ia, bicara--
itu saja!
*
Untitled
Semalam saat aku terjaga aku bertanya,
"Aku mau ke mana?"
Semalam saat aku bertanya
aku malah mengulang pertanyaan yang sama
"Aku mau ke mana?"
*
Monday, June 29, 2009
Ironi
saat langit oranye berselimut biru
mengundang burung-burung bercericip lagu-lagu
Dan aku merindukanmu
saat senja turun berjubah ungu
sementara bulan menyembul malu-malu
Dan aku tak tahu kenapa jadi benci kamu
saat kamu mulai memandu bayang-bayang
mengiring langkahku
Padahal justru saat itulah
saat terdekatku denganmu
matahariku...
*Jakarta, 26 Juni 2009*
Friday, June 26, 2009
Menunggu Roti
^Under The Roof of My Boarding House’s Balcony^
Menunggu Roti… This is what I'm doing this morning.
Sejak pindah kost ke sini, saya jarang kesiangan. Ada alarm gratis dari tukang roti yang lewat, banyak lagi. Tapi satu yang lagunya enak di kuping: Dari Sari Roti…(hehe…iklan…).
Sepagi ini selain suara tukang roti, ada suara pemilik warung sebelah dan tetangga depan menyapu halaman. Lalu, ada suara mesin metromini yang dipanaskan. Selebihnya, suara kendaraan lalu lalang di jalan raya (Jl. Ciputat Raya) mulai memeriahkan suasana pagi.
Sementara–-mengenai pemandangan–-sejauh mata memandang yang terlihat hanya atap-atap rumah, lengkap dengan antena TV, tiang listrik, dan kabel-kabel yang semrawut. Ada juga tiga menara–-entah menara apa. Dan ada 6 (enam) penampung air milik tetangga sekitar: 3 warna orange, 2 warna biru tua, 1 biru muda. Eh…eh…tukang roti datang…
Sunday, June 14, 2009
Piala
bahkan dengan bersuka cita
sama tergesa dan suka cita-nya
sewaktu aku datang kali pertama...
Aku pergi mengejar mimpi
alasan yang tidak bisa kau interupsi
saat kau percaya aku kan kembali
(setelah lelah berburu mimpi)
aku kian gigih untuk bersegera lari
tidakkah kau merasa
kita berlomba mementingkan diri sendiri?
*Dan kau benar, aku kembali
tapi sungguh hanya untuk sementara
untuk mengulang perpisahan kedua
demi membiasakan diri
pada jarak yang kian kentara
Hingga disaat hari itu tiba,
aku percaya masing-masing kita
akan memenangkan sebuah piala:
yang selalu bisa dipajang,
di rak memori dalam kepala
yang selalu bisa dibanggakan,
dalam kehangatan hati dan jiwa
karena ia bukan piala bergilir
ia lah piala yang dibuat khusus
untuk kita...
*Jakarta, 16 Mei 2009*
Saturday, June 06, 2009
Belimbing & Anak Tetangga
Ditengah kerumunan anak-anak tersebut, aku melihat seorang anak yang bukannya sibuk mengunyah belimbing, melainkan hanya sibuk menelan liur dan menyipit-nyipitkan mata. Sebuah ekspresi yang muncul saat seseorang mencecap rasa asam yang kuat. Padahal, tak ada sebuah belimbing di tangannya, apalagi yang masuk ke mulutnya. Ternyata belum semua kebagian, pikirku. Aku pun menyodorkan belimbing yang kupegang. Ia menggeleng.
"Ini...," aku tetap menawarkan. Ia tetap menggeleng. "Nggak apa-apa ambil aja... Nih...," aku memaksa.
Ia menggeleng lagi. Sambil menelan sisa liur, ia berkata: "Nggak boleh sama Mamah."
"Kenapa? Nggak apa-apa kok, ini ambil aja...," Aku terus menawarkan karena sempat terpikir anak ini mungkin pemalu.
"Soalnya lagi sakit batuk, kata Mamah nggak boleh makan yang asem asem...," jawabnya polos dan lantang, tanpa sedikitpun ada kekesalan atau penyesalan di nada suaranya atas larangan tersebut.
"Oh..." Aku pun tak lagi memaksa.
Mamanya sedang sibuk di belakang. Jika ia mau, ia bisa saja mencicip belimbing tanpa sepengetahuan mamanya. Tapi, daripada mengkhianati mamanya, ia lebih memilih menelan liur sambil mata tersipit-sipit menahan rasa asam belimbing khayalan, rasa asam belimbing yang nyata menyengat lidah anak-anak lain!
Umurnya saat itu belum lagi 5 tahun!
Sunday, May 24, 2009
Tentang Kepekaan
"Masa sih, Mbak? Perasaan, saya cukup peka deh. Saya dulu pernah nyebut temen nggak peka, karena saya ngerasa lebih peka. Eh, sekarang malah saya yang Mbak bilang nggak peka."
"Buktinya lu nggak ngeh dengan hubungan mereka kalau nggak ada yang ngomong ke elu, kan?"
"Iya sih. Tapi saya kan mikirnya mereka temen deket banget. Jadi ya biasa aja. Emang darimana sih Mbak bisa baca hubungan mereka, Mbak kan baru ketemu mereka?"
"Ya keliatan, Neni." Mbak Erna pun membeberkan teorinya tentang bagaimana seharusnya dua orang lawan jenis menjalin hubungan, yang mana dilanggar oleh 2 orang yang sedang kami bicarakan. Sejak malam itu, kepekaan kerap mewarnai obrolan kami yang berbagi satu kamar kost-an.
"Saya mah emang suka nggak ngeh sama hal-hal yang bukan urusan saya," aku membela diri suatu hari. Lalu aku pun menceritakan bagaimana aku sering kesulitan menghafal jalan/tempat/bangunan yang tidak pernah berurusan denganku atau tidak pernah kukunjungi, meskipun sering kulewati; sebagai contoh kasus.
"Iya itu karena lu mikirin diri lu sendiri. Yang penting buat lu aja yang lu ingat. Cepet lu ngeh kalau nyangkut diri lu. Kalau nggak, lu cuek."
"Gitu ya, Mbak? Iya kali ya," ujarku pasrah. Pada kesempatan lain, aku bertanya: "Emang gimana sih Mbak caranya biar bisa peka?" Mbak Erna menjawab panjang tapi aku lupa detailnya. Intinya Mbak Erna menyarankan untuk latihan membaca situasi dan lingkungan agar kemudian tahu bagaimana membawa dan menempatkan diri.
Obrolan tentang kepekaan pun terus berlanjut. Tak jarang setiap aku bertanya tentang hal-hal tertentu yang Mbak Erna tak tahu, Mbak Erna akan bilang "Wah gua nggak peka deh masalah begitu" untuk membela diri. Hingga suatu pagi, dalam perjalanan menuju kantor, kepekaan lagi-lagi terselip dalam obrolan kami. Mbak Erna sekali lagi bilang bahwa ia tidak peka dengan hal yang sedang kami bahas (aku lupa tentang apa). Tiba-tiba sebuah pemahaman masuk perlahan tapi pasti ke kepalaku.
"Mbak, orang kan beda-beda ya... pengalamannya beda-beda... jadi kepekaannya beda-beda juga. Mbak peka ke satu hal, saya pekanya ke hal lain," ujarku sambil mengeluarkan Handphone, menyetel kamera, dan mengarahkannya ke langit. Aku memotret langit pagi itu.
Bersamaan dengan itu, dalam hati aku berkata dan percaya: Inilah salah satu kepekaanku. Aku peka akan warna dan tekstur langit yang berbeda pagi ini; sesuatu yang luput dari perhatian Mbak Erna yang berjalan lurus ke depan mendahuluiku.
Friday, May 15, 2009
Pengantar Es
Melihat ini, saya menduga bahwa setiap warung pastilah sudah berlangganan es batu. Kehadiran pengantar es batu pun terkesan hanya bagai angin lalu, karena ia datang dan pergi setiap hari. Dan sepertinya karena intensitas inilah, basa-basi seolah tak lagi diperlukan apalagi diusahakan. Bukankah kita sering abai/ tak hirau pada sesuatu yang memang sudah, selalu, atau seharusnya ada. Semoga di warung berikutnya, ada penjaga warung yang tidak menganggapnya angin (meskipun ia mengendarai “kendaraan angin”).
Mengenai transaksi, mengingat harga es batu pastilah murah, kemungkinan pemilik warung membayar pesanan es batu setiap seminggu sekali atau sebulan sekali. Dan pertanyaan berikutnya adalah berapa harga sebalok es batu untuk satu bulan? Lalu berapa pula penghasilan pengantar es batunya? Di mana rumahnya? Apakah balok es itu dibuat sekaligus diantar sendiri oleh pengantar bersepeda tersebut? Karena jika ia hanya petugas pengantar, tentu penghasilannya lebih minim lagi! Apakah ada pengantar es batu lain selain dia? Bagaimana mulanya ia bisa menguasai “pasar” per-es batu-an di lingkungan perumahan Pondok Indah dan sekitarnya? Lalu bagaimana atau apa yang membuat ia bertahan sebagai pengantar es? dsb.
Pagi ini, ia tak terlihat. Jadilah pertanyaan di atas tak punya jawaban. Dan sekalipun ia terlihat, bagaimana caranya mendapat jawaban untuk pertanyaan demikian banyak, sedang pengantar es selalu gegas pergi dari satu warung ke warung lainnya. Dan aku pun tergesa-gesa melangkah menuju kantor tercinta.
Monday, April 06, 2009
Keripik Setan
Aku sempat menyesal telah membeli keripik tersebut; yang warna merahnya begitu menggoda, begitu hebat menerbitkan liurku. Tapi kupikir-pikir, jikapun aku tidak membelinya minggu lalu, aku pasti membelinya minggu ini, atau minggu depan, atau bulan depan. Karena aku sudah telanjur tergoda dan tergiur oleh warna merahnya, wangi pedasnya yang samar-samar menyelinap ke hidungku, dan lain sebagainya.
Yah, paling tidak aku tidak penasaran, meskipun aku harus membayar cukup mahal untuk menebus rasa penasaran itu (menahan sakit seharian penuh). Paling tidak aku pernah mencoba, meski untuk itu aku harus memupuk keberanian ekstra tinggi, karena aku tak pernah suka pedas!
* Sabtu, 28 Feb '09. @ RL Writer's Circle. (Metafora).
Lukisan Pohon
Di beberapa bagian, ada daun/bunga berwarna merah bata. Aku tidak suka warna ini ada di sana; seperti noda saja! Tapi, saat kucoba membayangkan lukisan dengan daun yang seluruhnya hijau toska, tentu lukisan ini akan jadi berbeda. Mungkin ia tak akan lagi teduh dan harmonis. Aku sangat suka tentang bagaimana daun-daun itu dibentuk. Kupikir, perlu waktu lama untuk menitik-nitikkan kuas sambil membentuk ratusan pola bunga berkelopak lima: pola yang menyusun dedaunan pada dua pohon yang bersisian, yang jadi objek lukisan tersebut. Mungkin untuk alasan waktu dan tenaga dalam membuat pola titik-titik itulah yang membuat daunnya jadi sedikit.
Oh ya, bukankah hidup kita juga disusun oleh mozaik-mozaik atau titik-titik kecil yang nantinya menemukan polanya sendiri? Dan setiap noda/kesalahan/anomali pada pola atau warna kehidupan adalah mungkin suatu yang diperlukan agar ia menjadi sempurna. Seperti halnya warna merah bata pada lukisan.
Warna kulit kayunya tersusun dari banyak paduan warna. Ada kilasan warna ungu yang memberi efek gelap dan warna abu-abu, juga warna cerah krem. Persis seperti kulit pohon sungguhan. Aku yakin jika kulit pohon hanya dibuat dari satu warna--cokelat tua misalnya--ia akan sangat biasa, sederhana, apa adanya.
Sebuah pola yang tidak berlaku dalam kehidupan. Karena sekecil apapun realitas yang kita temukan setiap harinya, mereka tidak disusun dari suatu konsep apa adanya, melainkan dibuat secara terencana--mungkin kompleks--dan dibuat untuk sebuah alasan, sebuah rencana yang tak mungkin sia-sia!
Friday, March 13, 2009
Menginap di RSHS
Pagi-pagi, perawat datang membereskan kasur, melakukan pemeriksaan, dan mengambil darah Arha. Elyn dan Sarti (teman Arha yang datang menjenguk) mengantar darah Arha yang kental ke lab, sementara aku menemani Arha. Aku tidak merasa sedang bersama seorang yang sakit. Arha sejak subuh sudah berkali-kali mengkhawatirkan aku: menyuruhku tidur lagi, menawarkan sarapan seolah-olah akulah yang sakit dan bukan dirinya. Ia juga dengan antusias bercerita tentang kost-an, dll. Ditengah pembicaraan, datang petugas kebersihan yang membuka korden pembatas ruang perawatan dan seorang gadis remaja. Awalnya, kami mengira gadis itu adalah salah satu kerabat dari dua pasien lain di ruang ini. Tapi rupanya kami salah, kami beberapa kali bertukar pandang mendengar celoteh gadis ini. Celoteh yang agak ganjil. Tanpa ada yang bertanya, ia berujar: "Nama aku Sumiyati." Ia lalu menghampiri pasien penyakit SOL dan berujar: "Teteh cepat sembuh ya, biar cepat nikah." Ia berbalik ke arah kami, "Aku juga mau nikah sebulan lagi."
Aku tak ingat bagaimana awalnya hingga Sumiyati dan Arha berbicara tentang pernikahan. Saat itu, Sumiyati sudah duduk di samping ranjang Arha. Arha kemudian bertanya apakah ia sedang menjenguk seseorang. Dan Sumiyati menjawab, "Enggak, aku juga di rawat di bawah. Ruangku di bawah, di ruang sakit jiwa."
Aku dan Arha berpandangan, aku sedikit takut mendengarnya dan takut kalau ia tiba-tiba mengamuk. Sementara Arha, ia kembali bertanya, "Sama siapa di sini, sendirian?" "Berdua sama Ibu." "Rumahnya di mana?" Sumiyati menjawab lengkap dengan nama kecamatan.
Sumiyati beralih ke jendela, menyapa seseorang yang ia panggil profesor, mengajak mengobrol, dan menyapa lebih banyak orang yang ia lihat. "Hai.. Halo.. Enggak, ini aku lagi jenguk temen." Mendengar ini, aku--yang kini duduk di kursi yang tadi diduduki Sumiyati--dan Arha lagi-lagi bertukar pandang.
"Wah, temennya banyak ya?" ujar Arha saat Sumiyati mendekatinya.
"Iya. Pacar aku ada 3."
"Oh ya? Banyak banget.."
"Iya. Ada A' Asep, ada A' Ian sama A' Beny."
"Wah banyak ya? Aku boleh minta satu, ga?" Tanya Arha. Aku tertawa mendengarnya.
"Ga boleh."
"Ga boleh ya? Soalnya aku belum punya pacar."
"Maunya yang gimana?"
"Ehm.. Bagusnya yang gimana ya kira-kira?"
"Kalau A' Beny aja gimana? Dia cakep soalnya."
"Oh ya? A' Beny ya.."
"Kalo aku sama A' Ian aja. Soalnya udah pernah dicium ma A' Ian. Pernah dipeluk juga."
"Oh gitu. Mungkin lebih kena di hati ya kalau udah pernah dicium."
Sumiyati tersenyum sangat manis mendengar Arha.
"Oh ya, siapa tadi namanya?" tanya Arha.
"Sumiyati." Lalu ia segera membaca whiteboard di atas meja, "Nama kamu Arhayani, 35 tahun."
"25 tahun," aku membenarkan.
"Oh iya. Kalau aku 18 tahun."
"Wah masih muda, ya? Masih sekolah?" tanya Arha.
"Udah enggak," jawab Sumiyati.
Sumiyati keluar ruangan, tapi tak lama kembali bersama seorang dokter praktek. "Sini gera'.. Sini gera'...," ajaknya pada dokter muda itu sambil menariknya ke tempat Arha. Sang dokter jadi kikuk melihat kami. Lalu Sumiyati bertanya pada Arha, "Kalau sama ini mau ga?" Belum sempat kami menjawab, dokter mundur satu langkah menghindari tatapan kami, dan bertanya pada Sumiyati, "Kenapa?"
"Soalnya teteh ini lagi nyari pacar."
Sang dokter langsung keluar ruangan, diikuti Sumiyati.
Arha mengaku alasan kenapa ia terus mengajak Sumiyati mengobrol adalah karena ia melihat Sumiyati tampak jinak.
Aku menikmati saat-saat menginap di RSHS, dan mengambil banyak pelajaran. Aku belajar dari Arha tentang keikhlasan, kesabaran, dan keceriaannya dalam melawan penyakit yang bisa dibilang tidak ringan. Aku tidak merasa bosan menungguinya, sebab ia selalu menceritakan kisah atau berujar sesuatu yang membuatku tertawa. Yang lebih mengesankan aku, Arha masih bisa bercanda tentang penyakitnya dan bahkan mau meladeni orang dengan gangguan jiwa; sesuatu yang tidak mungkin kulakukan baik saat aku sehat apalagi saat sakit.
Ketulusan Elyn sebagai sahabat terdekat Arha. Elynlah yang membawa Arha ke RSHS, mengurusi semua keperluan Arha, bolak-balik membelikan obat, membesarkan hati Arha, dan sering mengolok-olok mata kiri Arha yang menyipit dengan menyebutnya ”picek”: yang aku yakin merupakan salah satu bentuk usaha Elyn untuk menghibur Arha, untuk menganggap biasa mata yang menutup sebelah akibat saraf yang mungkin sedikit bermasalah. Padahal, sejak awal di RS, Elyn sudah berkali-kali menahan emosi menghadapi prosedur RS. Setiba di UGD, bukannya bertanya tentang keluhan pasien, seorang petugas malah berujar pada Arha: ”Kok mukanya seger gitu?!” Ia tidak kenal Arha, tidak tahu betapa Arha menguat-nguatkan dirinya padahal berjalan saja dia sudah sempoyongan; ia tidak tahu bahwa Arha sudah tidak nyambung diajak ngobrol lantaran tubuhnya sudah terlalu lemas. Setibanya di ruang perawatan kelas 2, Elyn harus bolak-balik ke apotek untuk membeli obat, cairan infus, bahkan jarum suntik untuk Arha, sehingga Dokter bisa melakukan tugasnya menyuntikkan obat tersebut, memasang infus, dll. Sistem yang aneh! Kekesalan kami pun bertambah saat mendengar Sarti bercerita tentang respon petugas pusat informasi saat ia menanyakan ruangan Arha. Petugas tersebut, saat ditanya letak ruang perawatan no. 19A, malah balik bertanya, ”Cuma nanya itu?!”
Selain itu, ada pemandangan lain yang menarik perhatianku di ruang perawatan yang dihuni tiga pasien ini. Aku bersimpati pada seorang pasien perempuan yang berbicara saja sudah tidak jelas dan sangat kurus dan sudah tidak bisa ke kamar mandi lagi. Tapi aku lebih bersimpati pada ibunya yang juga sangat kurus dan terlalu tua untuk menungguinya seorang diri! Seorang diri! Ibu setua itu sudah seharusnya beristirahat di rumah dan menikmati hari tua. Aku tak tega membayangkan ibu ini harus bolak-balik naik-turun ke lantai 1 untuk membeli obat di apotek. Karena begitulah sistemnya, jika mau disuntik obat, yang menjaga pasienlah yang harus menyediakannya. Tapi mudah-mudahan para perawat dan dokter berbaik hati pada ibu ini, dan membawakan obat untuk anaknya.
Aku menikmati saat-saat menginap di RSHS. Tidur beralas karpet, berbantal tas, dan (untungnya) berselimut bukanlah suatu masalah; suara mengorok seorang bapak yang menunggui ibunya (pasien di sebelah Arha) yang sambung menyambung sepanjang malam bukanlah gangguan. Aku, Elyn, dan Arha beberapa kali tergelak mendengar irama mengorok yang masih perlu dilatih agar terdengar lebih terlatih; bangun pukul 3 dini hari untuk membeli infus di apotek bukanlah suatu yang menyusahkan, kecuali jika mengingat bahwa sistem membeli obat seperti ini sangatlah aneh.
Mohon doanya ya teman-teman, agar Arha cepat sembuh. Karena bisa dibilang penyakit Arha bukanlah penyakit ringan, meski bukan juga penyakit yang teramat serius. Semoga!
