Thursday, August 20, 2009

Peri Tidur

Aku bertemu Peri Tidur.
Ia mengenakan gaun berwarna ungu lembut, gaun yang berkilau meski tak satu pun kulihat ada batu permata atau manik-manik yang menempel di sana. Pendek kata, ia bercahaya. Terlebih wajahnya! Semu merah muda pada pipinya menambah kesan indah pada wajahnya yang bening. Dan dua matanya terang, berkilat, dan hitam pekat.

Aku mendengarnya bersenandung. Saat itulah aku menyadari kehadirannya. Senandung yang membuat mengantuk, membuai...

"Kenapa kau tak tidur?" tanyanya pelan dan terdengar sedih. Aku berniat menoleh ke kiri dan kanan untuk memastikan apakah ia bertanya padaku, tapi aku urungkan. Rasanya bodoh sekali melakukan hal itu padahal aku tahu pasti tak ada orang lain di tempat ini.

"Kenapa kau tak mau tidur?" ulangnya. Ia memiringkan kepalanya saat bertanya demikian. Tangan kirinya memegang pinggiran bangku kayu lapuk yang ia duduki, sementara tangan kanannya ia simpan di pangkuan. Kakinya diayun-ayunkan pelan... Sungguh menggemaskan. Aku tidak bisa menimbang-nimbang apa yang menjadikannya demikian memikat. Entah apakah karena gaunnya, gerak-geriknya, suaranya, wajahnya yang bercahaya, ayunan kakinya, atau mungkin karena kayu lapuk yang didudukinya dan sekitar yang gelap gulita hingga di tengah suasana ini, ia berjaya, bercahaya—kontras!

"Kau tahu tidak, aku sudah lelah bersenandung untukmu!" lanjutnya.

"Untukku?" Kata ini meluncur begitu saja, karenanya aku agak terkejut mendengar suaraku sendiri.

"Ya, untukmu. Karena kau tidak tidur. Kenapa menolak untuk tidur?" tanyanya lagi. Kali ini ia menegakkan kepalanya juga tubuhnya. Kedua tangannya saling menggenggam di pangkuan.

"Tak bisa tidur."

"Kenapa?"

"Bukan urusanmu." Peri Tidur tampak terkejut, dan aku merasa bersalah berbicara seperti itu pada makhluk seindah dia.

"Sungguh, aku tidak bisa tidur," sambungku lebih ramah.

"Tapi kenapa, pasti ada sebabnya?" tanyanya lagi sambil menggeser posisi duduknya, seolah mengisyaratkan padaku untuk duduk di dekatnya.

Aku pun mendekat, dan terasa ada waktu yang hilang saat aku sadar aku sudah duduk di sampingnya. Aku mencium wangi bunga atau daun atau perpaduan keduanya. Mungkin juga dicampur sedikit buah karena wanginya segar dan sedikit asam seperti citrus. Kiraku, wangi itu berasal dari rambutnya yang tergerai atau dari tubuhnya atau perpaduan keduanya. Entahlah. Ia memandangiku, menunggu jawaban.

"Aku tak tahu kenapa tak bisa tidur," ujarku putus asa. Aku memang tak tahu kenapa tubuhku menolak untuk tidur. Aku bahkan tak butuh kopi untuk bisa bertahan sampai pagi.

"Bukan tak tahu. Kau mencoba melupakan dan memilih tak tahu apa-apa."

"Mungkin...," jawabku sedikit tersinggung. Meski ia cantik, ia tak berhak menghakimiku.

"Maukah menemaniku sebentar?" tanyanya pelan. Suaranya lembut. Aku memandangnya—ragu. "Aku tak punya teman. Aku selalu terjaga di saat kalian tidur. Dan aku harus tidur saat kalian terjaga, agar aku tetap terjaga saat kalian tidur keesokan malam...," lanjutnya, terdengar seperti merajuk.

"Kau tidak menyukainya?" tanyaku heran.

"Apa?" Ia balik bertanya dan menatapku. Matanya memantulkan bayanganku.

"Menjadi Peri Tidur. Kau tidak suka?"

Peri Tidur lama memandangiku. Kemudian ia tertawa singkat, mengalihkan pandangan ke jauh langit yang penuh bintang, menyilangkan kakinya dan mengayunkannya pelan. "Aku tidak boleh bilang tidak suka, sama seperti aku tidak bisa bilang bahwa aku selalu suka menjadi Peri Tidur." Ia menoleh sambil tersenyum padaku.

Mataku berkedip cepat, karena tak mengerti dan sekaligus berusaha menghindari matanya.

"Ada banyak hal yang membuatku suka menjadi Peri Tidur, tapi ada juga yang membuatku tidak suka." 

"Maksudnya?" Aku berharap ia menjelaskan padaku hal-hal tersebut.

"Jangan memintaku merinci apa yang aku sukai dan apa yang ku benci dengan menjadi seorang Peri Tidur. Seringkali, apa yang kusukai hari ini bisa saja mengesalkanku keesokan hari, begitu pun sebaliknya," jawab Peri Tidur sambil memandang jauh ke depan. "Aku hanya harus menerima saat perasaan suka atau tidak suka datang, atau aku menyangkalnya." Lagi-lagi ia melirik mencari mataku dan tersenyum manja.

Aku lagi-lagi terkejut, ada perasaan aneh menjalari dada, entah karena mendengar kalimat terakhirnya atau karena matanya tiba-tiba menemukan mataku.

"Aku bisa apa lagi, coba? Aku tidak bisa menolak takdirku sebagai Peri Tidur." lanjutnya membela diri.

Aku hanya bisa mengangguk, menunduk. Tak tahu harus bicara apa.

"Seperti sekarang, misalnya...," Peri Tidur belum selesai rupanya. Dan ini membuatku senang karena berarti aku tak perlu mengatakan sesuatu. Aku meliriknya tanpa mencoba melihat matanya.

"Biasanya aku selalu kesal melihatmu tak juga tidur, sementara aku sudah kehabisan lagu. Aku merasa gagal. Aku tidak suka. Tapi malam ini, aku senang bisa bicara denganmu... Aku belajar menerima kamu yang tidak bisa tidur. Ini tidak mudah, tapi aku lega jadinya."

"Aku tidak mengerti...," ujarku.

"Ini melanggar peraturan. Tapi untuk malam ini, kupikir tidak masalah sesekali melanggar peraturan...," lanjut peri tidur tanpa peduli pada perkataanku. Ia mendongak ke langit. Tersenyum lebar dan lepas tanpa beban. Ia gerakkan tubuhnya ke kiri dan kanan.

Aku pun tersenyum, seolah tertular kebahagian yang tengah ia rasakan.

"Mulai hari ini, apakah kau memilih tidur atau tidak tidur, aku akan merasa suka dan tidak suka sekaligus," lanjutnya lagi sambil tetap memandang langit. "Mungkin akan lebih sulit untuk menerima kedua perasaan ini secara bersamaan, tapi tak masalah. Aku memilihnya, dan akan terbiasa."

Aku masih juga tak bisa mengerti apa yang ia bicarakan.

"Aku harus pergi sekarang," ujarnya tiba-tiba. Ia melambaikan tangan di depan mataku, tersenyum, dan pergi begitu saja.

Aku tidak sempat mengatakan sesuatu, dan menyesal karenanya. Aku mengulang-ulang apa yang dikatakan Peri Tidur tadi, mencoba memahaminya. Tiba-tiba, walaupun aku masih tidak sepenuhnya mengerti maksud Peri Tidur—untuk pertama kalinya setelah setahun terakhir—aku ingin tidur dan berhenti menjadi insomniac! Aku ingin belajar menerima mimpi-mimpi yang datang berulang. Mimpi tentang kecelakaan malam itu, tentang darah Katharina di tanganku, tentang Katharina yang meninggal di depan mata, sementara aku hanya menderita luka ringan di bagian kepala.

Saturday, August 15, 2009

Cecila : Pada Suatu Senja

"Teman-teman, sebenarnya pikiran tentang ini sudah berbulan-bulan bersarang di kepalaku. Dan aku sudah tak tahan lagi menyimpannya," ujar Cecila Trefn sedih. "Hey kenapa tiba-tiba bicara seperti itu, Cecila? Ada masalah apa, kita sudah seperti saudara, jangan sungkan," ujar Mami Gocc sambil melirik Cecila Trefn yang duduk lebih tinggi di atasnya. "Apa kalian tidak merasa kalau kita demikian menyedihkan?" lanjut Cecila Trefn sambil memandangi langit di kejauhan yang mulai menguning. "Maksudmu bagaimana, Cecila?" kini giliran Wise de Spratner bersuara. "Aku jadi bingung memulainya. Aku merasa tidak berguna, tapi kenapa aku masih harus ada di sini. Seharusnya aku dibuang saja. Kadang malu rasanya dipajang terus seperti ini, padahal aku sudah rusak!" "Kita sama-sama rusak, Cecila," sambung Mami Gocc. "Justru karena rusak kita ada di sini. Kalau tidak rusak kita tentu ada di rumah yang hangat," sambung Wise de Spratner. "Paling tidak, di sini, kita tidak tercampur dengan sampah lain dan berbau busuk," sambungnya. "Selokan di bawah sana juga sama busuknya," rutuk Cecila Trefn. Mami Gocc dan Wise de Spratner serentak melongok ke bawah memandangi selokan hitam pekat yang menggenang. "Kau benar di sini memang busuk," Mami Gocc berkesah. "Dan makin hari kita makin lapuk, hancur dimakan cuaca!" tambah Cecila Trefn. "Dan papan di atas ini, sungguh menggangguku!" Mami Gocc dan Wise de Spratner yang masih memandangi selokan, langsung mengalihkan pandangan ke arah papan yang dimaksud Cecila Trefn. "Papan itu tidak mengenaimu, kan? Kau enak di atas sana, tempatmu lapang. Kau tak lihat ruang gerakku begini sempit. Aku terjepit di antara Wise dan tembok papan ini, hingga posisi badanku harus selalu miring agar lebih leluasa," Mami Gocc mengeluh. "Dan...ya...dipikir-pikir menyedihkan harus terus terjepit seperti ini," sambung Mami Gocc pelan sekali. Cecila Trefn melirik Mami Gocc, dan tidak berani berkata-kata sebab ia pun merasa kasihan melihat Mami Gocc. "Bukankah justru karena papan itu kita bermakna?" giliran Wise de Spratner bertanya pada dua sahabatnya. "Maksudmu bagaimana?" tanya Mami Gocc. "Kita dan papan itu saling melengkapi. Kita ada untuk mengukuhkan si Papan. Kita di sini membantunya agar lebih terlihat, dengan begitu akan banyak orang yang datang dan Pemilik Papan akan senang karena ia dapat pekerjaan, dan berarti dapat penghasilan." Wise de Spratner menjelaskan panjang lebar. "Kau benar, Wise," sambung Mami Gocc. "Membantu bagaimana? Kau baca baik-baik tulisan pada papan itu! Tidakkah ironis kita yang rusak ini dipajang di sini untuk mendukung si Papan? Apa kalian pikir akan ada orang yang mau memakai jasa Pemilik Papan setelah melihat keadaan kita. Pemilik Papan jelas-jelas tidak bisa memperbaiki kita, bagaimana ia bisa mempromosikan diri untuk memperbaiki yang lain?" Cecila Trefn menyangkal, suaranya meninggi. "Ah, kau juga benar. Aku sependapat denganmu, Cecila," ujar Mami Gocc. "Kita sudah tidak tertolong, Cecila," ujar Wise de Spratner sambil memandangi tubuhnya yang tinggi langsing tapi cacat—tak lengkap. Mami Gocc memandangi Wise de Spratner sedih, lalu memandangi tubuhnya sendiri, "Ya, kita memang sudah tidak tertolong, karena itu kita ditumpuk dan di sini," ujarnya pula sambil memandangi tubuhnya yang berkarat. Cecila juga ikut memandangi tubuhnya yang lapuk, berdebu, dan kehilangan baling-baling. Padahal, baling-balinglah yang membuatnya berguna—dulu. Hening. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri. Matahari di kejauhan memerah, dan bias cahayanya menodai langit sekitar. Merasa tak enak telah membuat teman-temannya bersedih, Cecila Trefn pun berujar: "Maaf, teman-teman... Aku tidak bermaksud—" "Hey...kita memang ditumpuk dan sengaja di pajang di sini... Tapi, pernah dengar tentang seni instalasi?" Wise de Spratner terdengar bersemangat. Mami Gocc langsung menyahut, "Apa itu seni instalasi? Apakah sama dengan instalasi rawat inap? Majikanku dulu pernah ke insta--" "Bukan, Mami Gocc. Aku juga tidak tahu pasti. Sewaktu aku tinggal di rumah majikanku yang seniman, aku pernah mendengar seni instalasi itu berhubungan dengan barang-barang yang ditumpuk atau disusun sedemikian rupa hingga barang-barang itu punya makna lain. Atau mewakili sesuatu yang lain, entahlah." "Lalu apa hubungannya dengan kita? Aku tidak mengerti," kembali Mami Gocc yang bertanya. "Aku juga," sambung Cecila Trefn. "Aduh bagaimana menjelaskannya, ya? Pokoknya aku pikir kita ini bisa disebut sebagai seni instalasi... Anggap saja begitu. Kita ditumpuk dan disusun di sini untuk sebuah maksud, yaitu mendukung si Papan. Agar ia lebih mudah terlihat! Kalian ingat tidak dengan Gadis Berkerudung yang sering lewat jalan ini. Hampir setahun dia lewati jalan ini, dan belakangan baru dia menyadari keberadaan kita. Bayangkan, kalau kita tak ada, ia mungkin tidak akan pernah sadar akan pentingnya si Papan, khususnya bagi Pemilik Papan. Dan kurasa bukan hanya Gadis Berkerudung yang tidak sadar dengan adanya si Papan." Mami Gocc dan Cecila Trefn saling tukang pandang, bingung. "Yaa... walaupun kita tidak layak diapresiasi, paling tidak kita bagian dari seni," lanjut Wise de Spratner sambil memandangi kedua sahabatnya, mengharap persetujuan. “Bagaimana?” sambungnya. "Ehm...kedengarannya bagus. Kita adalah bagian dari seni—seni instalasi. Bukan begitu Cecila?" Sebenarnya Cecila Trefn tidak berniat mengiyakan, tapi karena ia tak ingin merusak sore ini, ia pun berujar, "Ya...kupikir tidak ada salahnya menganggap diri bagian dari seni. Dan siapa bilang kita butuh apresiasi?! Kita bisa tetap ada, meski tanpa apresiasi." "Oh aku ingat, Gadis Berkerudung pernah memfoto kita... Apakah bisa berarti ia sedang mengapresiasi kita?" tanya Mami Gocc. "Ia mengambil foto kita sambil berkata betapa kita dan dan si Papan tampak kontradiktif," ujar Mami Gocc. "Benarkah ia pernah mengambil foto kita? Kontradiktif bagaimana?" tanya Wise de Spratner. "Dia bilang Papan ini menawarkan jasa service, tapi justru yang dipajang malah kita yang rusak. Bagaimana orang tertarik datang kemari, begitu katanya," jawab Mami Gocc. "Eh, jangan-jangan gara-gara mendengar Gadis Berkerudung itu kau jadi merasa menyedihkan Cecila?" sambung Mami Gocc. "Eh?" Cecila Trefn yang sedari tadi diam saja tampak kaget mendengar pertanyaan Mami Gocc, dan tidak menjawab apa-apa karena ia pun sibuk bertanya pada dirinya sendiri tentang hal tersebut. "Tapi, belakangan aku tidak pernah lagi melihat Gadis itu lewat jalan ini, yang sering digoda oleh pemuda-pemuda yang kerap duduk di warung sebelah itu kan?!" ujar Wise de Spratner. "Kabarnya ia sudah pindah ke luar kota." "Baguslah. Jadi Cecila tidak akan melihat dia lagi dan merasa menyedihkan karena teringat omongannya." Wise de Spratner melirik Cecila Trefn. Cecila Trefn mencoba tersenyum dan berujar, "Baiklah, kita adalah bagian dari seni!" ulang Cecila bersemangat. "Ah aku tahu alasan lain kenapa kita ada di sini," Mami Gocc menyela. "Dan kupikir kita memang harus terlihat menyedihkan. Dengan begitu, peran si Papan ini jadi lebih penting. Ia menawarkan jasa service kepada orang-orang agar barang-barang mereka yang rusak bisa diselamatkan dan bukannya jadi tidak tertolong seperti kita. Bisakah begitu, Wise?" "Aku tidak tahu kau bisa berpikir begitu, Mami Gocc. Kupikir-pikir kau ini lumayan pintar juga—kadang-kadang tapi...," Wise de Spratner menggoda Mami Gocc. "Apa kau bilang? Kadang-kadang?" Mami Gocc cemberut. "Ya... Kadang-kadang...," Wise de Spratner pun tertawa, disusul oleh tawa Cecila yang geli melihat ekspresi Mami Gocc. Mami Gocc, yang tidak bisa cemberut berlama-lama pun ikut tertawa. Di kejauhan, matahari yang merah hampir lelap di pangkuan langit. Bias cahayanya kini tidak hanya menodai langit tapi juga membekas pada wajah mereka bertiga. Notes: * Cecila Trefn anagram dari : Electric Fan * Wise de Spratner anagram dari : Water Dispenser * Mami Gocc anagram dari : Magic Com * Hahahahahahahaaaaaa... Demikian kisah tak begitu penting ini. Saya tidak bisa tidak menuliskan sesuatu tentang foto di atas! Bagaimanapun juga, Jakarta punya banyak cerita!

Sunday, August 09, 2009

Bukan Kejora

Aku senang mendengarkan sebuah bintang
hanya sebuah bintang
satu dari sekian ribu bintang

Bukan karena dia kejora
bukan karena ia paling memesona
bukan pula karena ia lebih bercahaya

karena ia, bicara--
itu saja!

*

Untitled

Semalam aku terjaga pada pukul tiga
Semalam saat aku terjaga aku bertanya,
"Aku mau ke mana?"

Semalam saat aku bertanya
aku malah mengulang pertanyaan yang sama
"Aku mau ke mana?"


*

Monday, June 29, 2009

Ironi

Dan aku jatuh cinta padamu
saat langit oranye berselimut biru
mengundang burung-burung bercericip lagu-lagu

Dan aku merindukanmu
saat senja turun berjubah ungu
sementara bulan menyembul malu-malu

Dan aku tak tahu kenapa jadi benci kamu
saat kamu mulai memandu bayang-bayang
mengiring langkahku

Padahal justru saat itulah
saat terdekatku denganmu
matahariku...


 *Jakarta, 26 Juni 2009*

Friday, June 26, 2009

Menunggu Roti

Jakarta, 11 Maret 2008
  ^Under The Roof of My Boarding House’s Balcony^

Menunggu Roti… This is what I'm doing this morning.

Sejak pindah kost ke sini, saya jarang kesiangan. Ada alarm gratis dari tukang roti yang lewat, banyak lagi. Tapi satu yang lagunya enak di kuping: Dari Sari Roti…(hehe…iklan…).

Sepagi ini selain suara tukang roti, ada suara pemilik warung sebelah dan tetangga depan menyapu halaman. Lalu, ada suara mesin metromini yang dipanaskan. Selebihnya, suara kendaraan lalu lalang di jalan raya (Jl. Ciputat Raya) mulai memeriahkan suasana pagi.

Sementara–-mengenai pemandangan–-sejauh mata memandang yang terlihat hanya atap-atap rumah, lengkap dengan antena TV, tiang listrik, dan kabel-kabel yang semrawut. Ada juga tiga menara–-entah menara apa. Dan ada 6 (enam) penampung air milik tetangga sekitar: 3 warna orange, 2 warna biru tua, 1 biru muda. Eh…eh…tukang roti datang…

Sunday, June 14, 2009

Piala

Aku pernah meninggalkanmu dengan tergesa
bahkan dengan bersuka cita
sama tergesa dan suka cita-nya
sewaktu aku datang kali pertama...

Aku pergi mengejar mimpi
alasan yang tidak bisa kau interupsi
saat kau percaya aku kan kembali
(setelah lelah berburu mimpi)
aku kian gigih untuk bersegera lari

tidakkah kau merasa
kita berlomba mementingkan diri sendiri?

*Dan kau benar, aku kembali
tapi sungguh hanya untuk sementara
untuk mengulang perpisahan kedua
demi membiasakan diri
pada jarak yang kian kentara

Hingga disaat hari itu tiba,
aku percaya masing-masing kita
akan memenangkan sebuah piala:
yang selalu bisa dipajang,
di rak memori dalam kepala
yang selalu bisa dibanggakan,
dalam kehangatan hati dan jiwa

karena ia bukan piala bergilir
ia lah piala yang dibuat khusus
untuk kita...


  *Jakarta, 16 Mei 2009*

Saturday, June 06, 2009

Belimbing & Anak Tetangga

Di depan dan di samping rumahku, tumbuh pohon belimbing yang lumayan rajin berbuah. Suatu hari, saat di rumah sedang ada hajatan, anak-anak tetangga dan saudara (yang ibunya membantu memasak di dapur) memetik belimbing dan memakannya beramai-ramai di teras rumahku. Semua kebagian, semua sibuk mengunyah belimbing. Suara "kriusz...kriusz..." daging belimbing yang berair membuat mereka kian semangat mengunyah dan membuat iri siapa pun yang mendengar.

Ditengah kerumunan anak-anak tersebut, aku melihat seorang anak yang bukannya sibuk mengunyah belimbing, melainkan hanya sibuk menelan liur dan menyipit-nyipitkan mata. Sebuah ekspresi yang muncul saat seseorang mencecap rasa asam yang kuat. Padahal, tak ada sebuah belimbing di tangannya, apalagi yang masuk ke mulutnya. Ternyata belum semua kebagian, pikirku. Aku pun menyodorkan belimbing yang kupegang. Ia menggeleng.
"Ini...," aku tetap menawarkan. Ia tetap menggeleng. "Nggak apa-apa ambil aja... Nih...," aku memaksa.
Ia menggeleng lagi. Sambil menelan sisa liur, ia berkata: "Nggak boleh sama Mamah." 
"Kenapa? Nggak apa-apa kok, ini ambil aja...," Aku terus menawarkan karena sempat terpikir anak ini mungkin pemalu.
 "Soalnya lagi sakit batuk, kata Mamah nggak boleh makan yang asem asem...," jawabnya polos dan lantang, tanpa sedikitpun ada kekesalan atau penyesalan di nada suaranya atas larangan tersebut.
"Oh..." Aku pun tak lagi memaksa.

 Mamanya sedang sibuk di belakang. Jika ia mau, ia bisa saja mencicip belimbing tanpa sepengetahuan mamanya. Tapi, daripada mengkhianati mamanya, ia lebih memilih menelan liur sambil mata tersipit-sipit menahan rasa asam belimbing khayalan, rasa asam belimbing yang nyata menyengat lidah anak-anak lain!

Umurnya saat itu belum lagi 5 tahun!

Sunday, May 24, 2009

Tentang Kepekaan

"Lu nggak peka, Neni. Lu hanya mikirin diri lu sendiri," suara Mbak Erna menyerobot masuk ke telinga. 

"Masa sih, Mbak? Perasaan, saya cukup peka deh. Saya dulu pernah nyebut temen nggak peka, karena saya ngerasa lebih peka. Eh, sekarang malah saya yang Mbak bilang nggak peka."

"Buktinya lu nggak ngeh dengan hubungan mereka kalau nggak ada yang ngomong ke elu, kan?"

"Iya sih. Tapi saya kan mikirnya mereka temen deket banget. Jadi ya biasa aja. Emang darimana sih Mbak bisa baca hubungan mereka, Mbak kan baru ketemu mereka?"

"Ya keliatan, Neni." Mbak Erna pun membeberkan teorinya tentang bagaimana seharusnya dua orang lawan jenis menjalin hubungan, yang mana dilanggar oleh 2 orang yang sedang kami bicarakan. Sejak malam itu, kepekaan kerap mewarnai obrolan kami yang berbagi satu kamar kost-an.

"Saya mah emang suka nggak ngeh sama hal-hal yang bukan urusan saya," aku membela diri suatu hari. Lalu aku pun menceritakan bagaimana aku sering kesulitan menghafal jalan/tempat/bangunan yang tidak pernah berurusan denganku atau tidak pernah kukunjungi, meskipun sering kulewati; sebagai contoh kasus.

"Iya itu karena lu mikirin diri lu sendiri. Yang penting buat lu aja yang lu ingat. Cepet lu ngeh kalau nyangkut diri lu. Kalau nggak, lu cuek."

"Gitu ya, Mbak? Iya kali ya," ujarku pasrah. Pada kesempatan lain, aku bertanya: "Emang gimana sih Mbak caranya biar bisa peka?" Mbak Erna menjawab panjang tapi aku lupa detailnya. Intinya Mbak Erna menyarankan untuk latihan membaca situasi dan lingkungan agar kemudian tahu bagaimana membawa dan menempatkan diri. 

Obrolan tentang kepekaan pun terus berlanjut. Tak jarang setiap aku bertanya tentang hal-hal tertentu yang Mbak Erna tak tahu, Mbak Erna akan bilang "Wah gua nggak peka deh masalah begitu" untuk membela diri. Hingga suatu pagi, dalam perjalanan menuju kantor, kepekaan lagi-lagi terselip dalam obrolan kami. Mbak Erna sekali lagi bilang bahwa ia tidak peka dengan hal yang sedang kami bahas (aku lupa tentang apa). Tiba-tiba sebuah pemahaman masuk perlahan tapi pasti ke kepalaku.

"Mbak, orang kan beda-beda ya... pengalamannya beda-beda... jadi kepekaannya beda-beda juga. Mbak peka ke satu hal, saya pekanya ke hal lain," ujarku sambil mengeluarkan Handphone, menyetel kamera, dan mengarahkannya ke langit. Aku memotret langit pagi itu.

Bersamaan dengan itu, dalam hati aku berkata dan percaya: Inilah salah satu kepekaanku. Aku peka akan warna dan tekstur langit yang berbeda pagi ini; sesuatu yang luput dari perhatian Mbak Erna yang berjalan lurus ke depan mendahuluiku.

Friday, May 15, 2009

Pengantar Es

Kemarin sewaktu saya pergi lebih pagi menuju kantor, saya melihat pengantar es batu yang mampir di setiap warung kecil di sepanjang jalan yang saya lewati.

Ia bersepeda. Balok es yang panjangnya mencapai satu meter diikat di boncengan. Setiap kali berhenti di warung, ia mengeluarkan besi tajam dan memotong balok es dengan sangat mudah. Tanpa pelindung tangan atau alas, ia mengangkut balok es langsung ke box minuman dingin yang biasanya diletakkan di depan setiap warung, lalu pergi begitu saja melanjutkan kayuhan. Tidak ada basa-basi (apalagi transaksi) dengan penjaga terlebih lagi dengan pengunjung warung yang sedang duduk santai. Sudah dua warung ia singgahi, dan ia hanya “berinteraksi” dengan tutup box pendingin minuman.

Melihat ini, saya menduga bahwa setiap warung pastilah sudah berlangganan es batu. Kehadiran pengantar es batu pun terkesan hanya bagai angin lalu, karena ia datang dan pergi setiap hari. Dan sepertinya karena intensitas inilah, basa-basi seolah tak lagi diperlukan apalagi diusahakan. Bukankah kita sering abai/ tak hirau pada sesuatu yang memang sudah, selalu, atau seharusnya ada. Semoga di warung berikutnya, ada penjaga warung yang tidak menganggapnya angin (meskipun ia mengendarai “kendaraan angin”).

Mengenai transaksi, mengingat harga es batu pastilah murah, kemungkinan pemilik warung membayar pesanan es batu setiap seminggu sekali atau sebulan sekali. Dan pertanyaan berikutnya adalah berapa harga sebalok es batu untuk satu bulan? Lalu berapa pula penghasilan pengantar es batunya? Di mana rumahnya? Apakah balok es itu dibuat sekaligus diantar sendiri oleh pengantar bersepeda tersebut? Karena jika ia hanya petugas pengantar, tentu penghasilannya lebih minim lagi! Apakah ada pengantar es batu lain selain dia? Bagaimana mulanya ia bisa menguasai “pasar” per-es batu-an di lingkungan perumahan Pondok Indah dan sekitarnya? Lalu bagaimana atau apa yang membuat ia bertahan sebagai pengantar es? dsb.

Pagi ini, ia tak terlihat. Jadilah pertanyaan di atas tak punya jawaban. Dan sekalipun ia terlihat, bagaimana caranya mendapat jawaban untuk pertanyaan demikian banyak, sedang pengantar es selalu gegas pergi dari satu warung ke warung lainnya. Dan aku pun tergesa-gesa melangkah menuju kantor tercinta.

Monday, April 06, 2009

Keripik Setan

Entah karena apa, tiba-tiba aku teringat keripik setan saat aku mengingatmu pagi ini. Dan aku jadi membanding-bandingkan dirimu dengan keripik setan terbuas yang pernah kumakan seminggu lalu, yang membuatku sakit perut seharian.

Aku sempat menyesal telah membeli keripik tersebut; yang warna merahnya begitu menggoda, begitu hebat menerbitkan liurku. Tapi kupikir-pikir, jikapun aku tidak membelinya minggu lalu, aku pasti membelinya minggu ini, atau minggu depan, atau bulan depan. Karena aku sudah telanjur tergoda dan tergiur oleh warna merahnya, wangi pedasnya yang samar-samar menyelinap ke hidungku, dan lain sebagainya.

Yah, paling tidak aku tidak penasaran, meskipun aku harus membayar cukup mahal untuk menebus rasa penasaran itu (menahan sakit seharian penuh). Paling tidak aku pernah mencoba, meski untuk itu aku harus memupuk keberanian ekstra tinggi, karena aku tak pernah suka pedas!

 * Sabtu, 28 Feb '09. @ RL Writer's Circle. (Metafora).

Lukisan Pohon

Teduh dan harmonis; inilah kesan pertama yang kutangkap saat aku melihat lukisan pohon di depanku. Tapi saat kupandangi berlama-lama, aku tidak suka pada cabangnya yang menumpuk--rumit dan tidak realis. Terutama satu cabang besar tepat di tengah-tengah. Dan untuk sebuah pohon, daun2nya terbilang sedikit. Untungnya, kesan ini tertutupi oleh latar yang berwarna senada dengan daun: hijau toska! Jenis warna hijau yang kupikir tidak biasa digunakan untuk melukis daun.

Di beberapa bagian, ada daun/bunga berwarna merah bata. Aku tidak suka warna ini ada di sana; seperti noda saja! Tapi, saat kucoba membayangkan lukisan dengan daun yang seluruhnya hijau toska, tentu lukisan ini akan jadi berbeda. Mungkin ia tak akan lagi teduh dan harmonis. Aku sangat suka tentang bagaimana daun-daun itu dibentuk. Kupikir, perlu waktu lama untuk menitik-nitikkan kuas sambil membentuk ratusan pola bunga berkelopak lima: pola yang menyusun dedaunan pada dua pohon yang bersisian, yang jadi objek lukisan tersebut. Mungkin untuk alasan waktu dan tenaga dalam membuat pola titik-titik itulah yang membuat daunnya jadi sedikit.

Oh ya, bukankah hidup kita juga disusun oleh mozaik-mozaik atau titik-titik kecil yang nantinya menemukan polanya sendiri? Dan setiap noda/kesalahan/anomali pada pola atau warna kehidupan adalah mungkin suatu yang diperlukan agar ia menjadi sempurna. Seperti halnya warna merah bata pada lukisan.

Warna kulit kayunya tersusun dari banyak paduan warna. Ada kilasan warna ungu yang memberi efek gelap dan warna abu-abu, juga warna cerah krem. Persis seperti kulit pohon sungguhan. Aku yakin jika kulit pohon hanya dibuat dari satu warna--cokelat tua misalnya--ia akan sangat biasa, sederhana, apa adanya.

Sebuah pola yang tidak berlaku dalam kehidupan. Karena sekecil apapun realitas yang kita temukan setiap harinya, mereka tidak disusun dari suatu konsep apa adanya, melainkan dibuat secara terencana--mungkin kompleks--dan dibuat untuk sebuah alasan, sebuah rencana yang tak mungkin sia-sia!

Sabtu, 7 Maret '09. @RLWriter'sCircle

Friday, March 13, 2009

Menginap di RSHS

Seingatku, inilah kali pertama aku menginap di rumah sakit. Sekitar pukul 10 malam--Bandung masih diguyur hujan--aku dan Elyn meluncur dengan mengendarai motor menuju RSHS; berbekal 2 ransel berisi karpet dan selimut dan sekantung camilan. Arha sudah pulas saat kami sampai, tapi kemudian terbangun karena keributan yang kami buat. Arha bermandi keringat: indikasi bagus untuk kesehatannya. Sebelum tidur kami mengobrol sejenak, Elyn menceritakan pada Arha bagaimana perjalanannya menuju kost dan kembali ke rumah sakit bersamaku. Elyn menerobos banjir yang tak diduga, melanggar jalan tak rata hingga ia oleng, lupa mengganti gigi hingga kesulitan menanjak dan akhirnya menggunakan kakinya untuk memacu motor, melewati lubang yang tidak kelihatan, dll.

Pagi-pagi, perawat datang membereskan kasur, melakukan pemeriksaan, dan mengambil darah Arha. Elyn dan Sarti (teman Arha yang datang menjenguk) mengantar darah Arha yang kental ke lab, sementara aku menemani Arha. Aku tidak merasa sedang bersama seorang yang sakit. Arha sejak subuh sudah berkali-kali mengkhawatirkan aku: menyuruhku tidur lagi, menawarkan sarapan seolah-olah akulah yang sakit dan bukan dirinya. Ia juga dengan antusias bercerita tentang kost-an, dll. Ditengah pembicaraan, datang petugas kebersihan yang membuka korden pembatas ruang perawatan dan seorang gadis remaja. Awalnya, kami mengira gadis itu adalah salah satu kerabat dari dua pasien lain di ruang ini. Tapi rupanya kami salah, kami beberapa kali bertukar pandang mendengar celoteh gadis ini. Celoteh yang agak ganjil. Tanpa ada yang bertanya, ia berujar: "Nama aku Sumiyati." Ia lalu menghampiri pasien penyakit SOL dan berujar: "Teteh cepat sembuh ya, biar cepat nikah." Ia berbalik ke arah kami, "Aku juga mau nikah sebulan lagi."

Aku tak ingat bagaimana awalnya hingga Sumiyati dan Arha berbicara tentang pernikahan. Saat itu, Sumiyati sudah duduk di samping ranjang Arha. Arha kemudian bertanya apakah ia sedang menjenguk seseorang. Dan Sumiyati menjawab, "Enggak, aku juga di rawat di bawah. Ruangku di bawah, di ruang sakit jiwa."

Aku dan Arha berpandangan, aku sedikit takut mendengarnya dan takut kalau ia tiba-tiba mengamuk. Sementara Arha, ia kembali bertanya, "Sama siapa di sini, sendirian?" "Berdua sama Ibu." "Rumahnya di mana?" Sumiyati menjawab lengkap dengan nama kecamatan.

Sumiyati beralih ke jendela, menyapa seseorang yang ia panggil profesor, mengajak mengobrol, dan menyapa lebih banyak orang yang ia lihat. "Hai.. Halo.. Enggak, ini aku lagi jenguk temen." Mendengar ini, aku--yang kini duduk di kursi yang tadi diduduki Sumiyati--dan Arha lagi-lagi bertukar pandang.

"Wah, temennya banyak ya?" ujar Arha saat Sumiyati mendekatinya.

"Iya. Pacar aku ada 3."

"Oh ya? Banyak banget.."

"Iya. Ada A' Asep, ada A' Ian sama A' Beny."

"Wah banyak ya? Aku boleh minta satu, ga?" Tanya Arha. Aku tertawa mendengarnya.

"Ga boleh."

"Ga boleh ya? Soalnya aku belum punya pacar."

"Maunya yang gimana?"

"Ehm.. Bagusnya yang gimana ya kira-kira?"

"Kalau A' Beny aja gimana? Dia cakep soalnya."

"Oh ya? A' Beny ya.."

"Kalo aku sama A' Ian aja. Soalnya udah pernah dicium ma A' Ian. Pernah dipeluk juga."

"Oh gitu. Mungkin lebih kena di hati ya kalau udah pernah dicium."

Sumiyati tersenyum sangat manis mendengar Arha.

"Oh ya, siapa tadi namanya?" tanya Arha.

"Sumiyati." Lalu ia segera membaca whiteboard di atas meja, "Nama kamu Arhayani, 35 tahun."

"25 tahun," aku membenarkan.

"Oh iya. Kalau aku 18 tahun."

"Wah masih muda, ya? Masih sekolah?" tanya Arha.

"Udah enggak," jawab Sumiyati.

Sumiyati keluar ruangan, tapi tak lama kembali bersama seorang dokter praktek. "Sini gera'.. Sini gera'...," ajaknya pada dokter muda itu sambil menariknya ke tempat Arha. Sang dokter jadi kikuk melihat kami. Lalu Sumiyati bertanya pada Arha, "Kalau sama ini mau ga?" Belum sempat kami menjawab, dokter mundur satu langkah menghindari tatapan kami, dan bertanya pada Sumiyati, "Kenapa?"

"Soalnya teteh ini lagi nyari pacar."

Sang dokter langsung keluar ruangan, diikuti Sumiyati.

Arha mengaku alasan kenapa ia terus mengajak Sumiyati mengobrol adalah karena ia melihat Sumiyati tampak jinak.

Aku menikmati saat-saat menginap di RSHS, dan mengambil banyak pelajaran. Aku belajar dari Arha tentang keikhlasan, kesabaran, dan keceriaannya dalam melawan penyakit yang bisa dibilang tidak ringan. Aku tidak merasa bosan menungguinya, sebab ia selalu menceritakan kisah atau berujar sesuatu yang membuatku tertawa. Yang lebih mengesankan aku, Arha masih bisa bercanda tentang penyakitnya dan bahkan mau meladeni orang dengan gangguan jiwa; sesuatu yang tidak mungkin kulakukan baik saat aku sehat apalagi saat sakit.

Ketulusan Elyn sebagai sahabat terdekat Arha. Elynlah yang membawa Arha ke RSHS, mengurusi semua keperluan Arha, bolak-balik membelikan obat, membesarkan hati Arha, dan sering mengolok-olok mata kiri Arha yang menyipit dengan menyebutnya ”picek”: yang aku yakin merupakan salah satu bentuk usaha Elyn untuk menghibur Arha, untuk menganggap biasa mata yang menutup sebelah akibat saraf yang mungkin sedikit bermasalah. Padahal, sejak awal di RS, Elyn sudah berkali-kali menahan emosi menghadapi prosedur RS. Setiba di UGD, bukannya bertanya tentang keluhan pasien, seorang petugas malah berujar pada Arha: ”Kok mukanya seger gitu?!” Ia tidak kenal Arha, tidak tahu betapa Arha menguat-nguatkan dirinya padahal berjalan saja dia sudah sempoyongan; ia tidak tahu bahwa Arha sudah tidak nyambung diajak ngobrol lantaran tubuhnya sudah terlalu lemas. Setibanya di ruang perawatan kelas 2, Elyn harus bolak-balik ke apotek untuk membeli obat, cairan infus, bahkan jarum suntik untuk Arha, sehingga Dokter bisa melakukan tugasnya menyuntikkan obat tersebut, memasang infus, dll. Sistem yang aneh! Kekesalan kami pun bertambah saat mendengar Sarti bercerita tentang respon petugas pusat informasi saat ia menanyakan ruangan Arha. Petugas tersebut, saat ditanya letak ruang perawatan no. 19A, malah balik bertanya, ”Cuma nanya itu?!”

Selain itu, ada pemandangan lain yang menarik perhatianku di ruang perawatan yang dihuni tiga pasien ini. Aku bersimpati pada seorang pasien perempuan yang berbicara saja sudah tidak jelas dan sangat kurus dan sudah tidak bisa ke kamar mandi lagi. Tapi aku lebih bersimpati pada ibunya yang juga sangat kurus dan terlalu tua untuk menungguinya seorang diri! Seorang diri! Ibu setua itu sudah seharusnya beristirahat di rumah dan menikmati hari tua. Aku tak tega membayangkan ibu ini harus bolak-balik naik-turun ke lantai 1 untuk membeli obat di apotek. Karena begitulah sistemnya, jika mau disuntik obat, yang menjaga pasienlah yang harus menyediakannya. Tapi mudah-mudahan para perawat dan dokter berbaik hati pada ibu ini, dan membawakan obat untuk anaknya.

***

Aku menikmati saat-saat menginap di RSHS. Tidur beralas karpet, berbantal tas, dan (untungnya) berselimut bukanlah suatu masalah; suara mengorok seorang bapak yang menunggui ibunya (pasien di sebelah Arha) yang sambung menyambung sepanjang malam bukanlah gangguan. Aku, Elyn, dan Arha beberapa kali tergelak mendengar irama mengorok yang masih perlu dilatih agar terdengar lebih terlatih; bangun pukul 3 dini hari untuk membeli infus di apotek bukanlah suatu yang menyusahkan, kecuali jika mengingat bahwa sistem membeli obat seperti ini sangatlah aneh.

Mohon doanya ya teman-teman, agar Arha cepat sembuh. Karena bisa dibilang penyakit Arha bukanlah penyakit ringan, meski bukan juga penyakit yang teramat serius. Semoga!

Wednesday, February 25, 2009

Menjelang Resign

Sabtu, 7 Feb '09, iklan lowongan yang kami pasang untuk mencari sekretaris yang nantinya menggantikanku dimuat di Kompas. Pada hari itu juga, cv dan lamaran memenuhi inbox email perusahaan. Hari minggu, kami masuk untuk mengurusi pajak dan keuangan, aku sudah mem-print smua berkas yang masuk dan menelpon beberapa orang untuk interview besok.

Senin, 9 Feb '09, tugas pertamaku mengecek email dan mengeprint berkas lamaran yang masuk. Dan membalas email yang tidak memenuhi kualifikasi, sesuai keputusan ibu direktur.

Dua orang pelamar datang memenuhi undangan. Seorang pelamar, datang sangat terlambat tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Aku pun menanyakan kenapa ia terlambat.

Ia menjawab sesuatu seperti : "... Ibu saya ... Pecah."

Aku mendengarkan, tapi informasi yang ia sampaikan tidak masuk ke telingaku dengan sempurna. Begitu Bu Dir bertanya kenapa ia terlambat, ragu-ragu aku menjawab: "Saya kurang tahu bu, kalau ga salah ban mobil ibunya pecah."

Sang pelamar menjalani proses interview dan tes menulis surat dalam Bahasa Inggris dan menerjemahkan. Setelah sekian puluh menit, Bu Dir memanggilku ke ruangannya, menyatakan pelamar tersebut tidak memenuhi kualifikasi dan memintaku untuk menyilakannya pulang. Akupun menuju ruangan interview dan menyampaikan pesan Bu Dir untuk menyilakannya pulang dan menunggu hasil interview, serta tak lupa menanyakan kembali alasan keterlambatannya dan kali ini kupasang telinga baik-baik.

Ia menjawab: "Ini.. Ibuku kan punya varises.. Pecah. Jadi tadi aku ke RS dulu.."

"Ooh...," aku menjawab singkat. Saat itu, yang terlintas di pikiranku adalah bukannya merasa bersalah telah 'menyamakan' betis ibunya dengan ban mobil, aku justru merasa malu pada Bu Dir karena telah memberi info yang salah. Aku memang sering tidak konsentrasi seperti ini, dan intensitas kemunculannya meningkat sejak aku memutuskan untuk resign! Aku tipe orang yang hanya melihat/mendengar apa yang ingin kulihat/kudengar, atau aku melihat tapi tak benar2 melihat. Aku juga sangat kurang bagus dalam hal lateral thinking.

Selasa, 10 Feb '09, aku datang di jam makan siang karena ada keperluan di luar kantor. Lagi-lagi ada dua orang pelamar. Email yang masuk makin banyak hingga aku tak mungkin mengeprint semua, kecuali cv yang memenuhi syarat.

Dari sekian banyak lamaran yang masuk, ada beberapa yang melekat dalam ingatan. Pelamar yang paling pertama kukirimi email notifikasi (tidak memenuhi kualifikasi) dan yang paling mendapat sorotan dari kami adalah email dari seorang yang dari pose fotonya saja sudah "menarik perhatian". Pelamar ini terlalu memaksakan diri untuk menulis lamaran dalam Bahasa Inggris.

Bukan bermaksud menghina--Bahasa Inggrisku juga tidak begitu bagus--tapi paling tidak aku sering membuka kamus untuk memastikan pilihan dan penulisan kata sudah benar, sehingga aku tak akan menulis reading menjadi reeding, knowledge dengan knowled sebanyak 2 kali, graphic design dengan disaint grafis, photoshop dengan photo shope, dan translator dengan translater. Uniknya, ia menulis kata translater di bagian pengalaman kerja di mana ia pernah bekerja sebagai penerjemah selama 3 bulan. Pengalaman kerja sebelumnya juga hanya 3 bulan. Dan pengalaman terakhirnya adalah bekerja di sebuah perusahaan selama 2 minggu!

Ada juga pelamar yang lupa mengganti Attention suratnya, sehingga meski surat tersebut dikirim ke email kami, surat tersebut ditujukan kepada PT lain. Masih dimaklumi walau kami jadi tidak berminat memanggilnya. Ada pula pelamar yang mengirim lamaran sekaligus ke email beberapa perusahaan. Sepertinya ia tidak tahu bahwa semua alamat email yang ia tuju akan tetap terbaca di semua email penerima. Ada beberapa cv yang dibuat dan dimodifikasi dengan sungguh-sungguh, dihiasi bunga-bunga sambil tak lupa memajang foto gaya. Beberapa melampirkan foto close up yang diambil dengan kamera HP. Bahkan ada foto pelamar yang memakai T-shirt "U Can See"!

Hey.. What do they expect?!

Seumur hidupku tak pernah terlintas untuk menjadi sekretaris. Aku bahkan memandang sebelah mata profesi ini, karena imej yang kurang baik tentang beberapa sekretaris. Kita memang sering mengidap penyakit men-generalisasi-kan sesuatu bukan? (hehe...membela diri). Dan siapa sangka, menjadi sekretaris adalah pekerjaan pertamaku setelah lulus kuliah. Mungkin ini yang dinamakan "termakan omongan sendiri". Dan pengalaman selama 1 tahun 2 bulan ini mengajarkanku bahwa menjadi sekretaris tidaklah semudah yang kubayangkan dan tidaklah senista yang kupikirkan. Karena tidak mungkin aku menistakan diriku sendiri, kan? Hehe...

Tuesday, February 24, 2009

SKYCAR

Skycar….

Disebut-sebut sebagai mobil terbang masa depan, solusi kemacetan lalu lintas.

Moller M400X Skycar, diciptakan oleh Paul S. Moller dari California, Amerika. Setelah melewati berbagai uji coba, prototype pertama Skycar sukses terbang pada tanggal 26 Agustus 2002.

Disebut Skycar karena pesawat ini memiliki ukuran dan di-desain layaknya mobil. Skycar ini dilengkapi dengan system thrust deflection vanes yang membuat mobil jadi-jadian (pesawat bukan, mobil juga bukan) ini dapat take off/landing secara vertikal pada hampir setiap jenis permukaan. Skycar juga dilengkapi dengan system komputerisasi untuk mengoperasikannya (dikutip dari majalah Terbang, Edisi Agustus-September 2004).

Yup…satu lagi kemajuan teknologi manusia. Terdengar menarik bahwa ada mobil yang bisa terbang. Dan sepertinya, mobil pesawat ini tidak berisik dan tidak punya baling-baling seperti helicopter yang menerbangkan apapun disekitar tempatnya mendarat. Dapat dibayangkan saat orang lain sibuk mengeluh, menggerutu, memencet klakson, berteriak, protes, dsb karena kemacetan, mobil ini akan dengan sangat anggun terbang, memukau setiap orang yang melihat.

Dan beberapa orang pun akan bermimpi, menabung, mengkredit, bahkan berhutang, dll sebagai usaha untuk memiliki mobil bergengsi ini. Dan masalah akan muncul saat sudah banyak orang memiliki mobil jenis ini. Lalu lintas udara—bukan tidak mungkin—akan semakin padat. Lalu, akan pula dibutuhkan rambu-rambu lalu lintas di udara agar Skycar tidak saling tabrak.

Rambu lalu lintas udara? Hmm…menurut kalian, akan seperti apa rupanya? Apakah rambu ini akan dipancang dengan tiang maha tinggi? Di pasang di pohon-pohon? Atau di gantung di…langit, mungkin?

Selain rambu—yang paling utama, tentu diperlukan adanya jalur yang jelas agar Skycar berlalu lintas dengan rapi di udara. Kira-kira, bagaimana membuat jalur penerbangan untuk mobil jenis ini? Tidak terpikir, untuk orang awam seperti saya. Di aspal? Tidak mungkin. Dipasang tali/kawat memanjang sebagai batas/marka jalan? Ehm…kayaknya kok kurang efektif ya. Atau mungkin akan ada alat canggih baru yang mampu menjadi solusi dalam hal ini. Menggunakan Positioning System?

Selain rambu-rambu dan jalan, saya pikir perlu juga ada polantas udara. Bukankah banyak orang yang tidak “kenal” dan bersikap sombong terhadap rambu-rambu lalu lintas? Kira-kira, pos polantas udara ini akan bagaimana? Pos pohon mungkin? Seperti rumah-rumah pohon. Atau mungkin para polantas tidak perlu pos, hanya berpatroli dengan Skycar juga.

Kalau Skycar banyak, kasihan burung-burung. Sudah pohon sebagai rumah banyak ditebangi, eh…kok ya jalur terbang mereka juga dibajak. Sesekali akan ada burung yang tertabrak Skycar lalu mati sia-sia, seperti halnya nasib ayam, tikus got, yang kerap jadi korban di jalan raya darat.

Oh iya, katanya, Skycar dilengkapi delapan mesin, jadi kalau ada satu atau lebih mesin yang tidak berfungsi, Skycar masih dapat beroperasi dengan baik. Nah, kalau kedelapan mesin mati, kira-kira gimana ya?

Selain itu, katanya, jika pesawat mobil ini mengalami guncangan karena turbulensi, system komputer yang ada akan langsung menstabilkannya.

Kalau tiba-tiba mogok, gimana? Apakah pesawat bisa bertahan di udara sampai ada jasa derek mobil datang? Derek mobil? Di udara?!

Kalau sudah begini, lebih enak macet di jalan raya (darat). Kita masih bisa teriak-teriak memarahi pengemudi di depan; mencet klakson sekeras-kerasnya; kalau tenggorokan mulai sakit, kita tinggal panggil pedagang kaki lima untuk beli minuman, dan kalau minuman sudah habis padahal kita masih haus, kita bisa pukul setir sebagai ungkapan kekesalan, tanpa harus takut mobil meluncur/jatuh ke bawah. Dan bla…bla…bla…

Well, tulisan ini hanya unek-unek seorang awam. Tapi, bukan berarti menentang perkembangan teknologi. Bukan juga skeptis. Hanya menulis apa yang terlintas di pikiran. Hanya kurang setuju pada artikel yang jadi sumber tulisan ini, yang membanding-bandingkan mobil dengan pesawat ini. Jelas-jelas bukan bandingan; mobil ya mobil, pesawat bandingkan lagi dengan pesawat dong! Sungguh tidak BER-PERI-KE-MOBIL-AN! Hehe…=p

Berikut kutipan yang kurang saya setujui:

Skycar VS Mobil

Mari kita bandingkan M400 Skycar dengan mobil yang paling canggih maupun mewah. Secanggih apapun mobil yang Anda miliki tetap memiliki berbagai keterbatasan, bahkan Anda tidak bisa berbuat apa-apa apabila terjebak dalam kemacetan. (Terbang, 2004).

Jadi, harap maklum kalau saya me-mobil-kan (mengibaratkan sebagai mobil) pesawat Skycar dalam tulisan ini!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...