Sunday, February 13, 2011

The Broken String

Meski sudah bertahun-tahun berlalu, aku masih sangat ingat hari itu...

Maaf, aku baru saja memutus satu senar harpa milik orang tuamu. Harpa warisan turun temurun keluargamu yang hampir semuanya pemusik. Aku sungguh tidak sengaja. Kan sudah kubilang; aku tidak berbakat dan sama sekali tidak bisa memainkan alat musik apapun, terlebih harpa. Tapi kau memaksaku untuk coba-coba. Sekarang, satu senarnya putus, lalu kita bisa apa?

Kau bilang tidak apa-apa, saat melihat ekspresi kaget pada wajahku. Tapi wajahmu demikian merah memendam marah atau ketakutan akan dimarahi, atau kombinasi keduanya. Aku tidak bisa menebaknya dengan pasti.

"Aku akan coba perbaiki, kamu tenang saja," ujarmu kemudian, membuatku lebih tenang.

"Aku akan bantu," sahutku cepat.

"Tidak perlu, tunggu saja di kursi itu."

Aku memandangimu--sedikit meragukanmu. Kau pun tampak tidak yakin dengan ucapanmu sendiri. Lalu gegas menghindari mataku dan menyibukkan diri dengan senar putus pada harpa. Untuk menghargaimu dan menjaga harga dirimu, aku diam dan menurut dan memaksakan diri untuk bersikap seolah-olah aku percaya kau bisa menanganinya.

Aku duduk dekat jendela sambil memandangimu yang hanya berdiri diam, tampak serius. Saat kau balik menatapku, aku khawatir jangan-jangan kau tahu aku meragukanmu. Maka aku cepat berbalik, memandang ke luar jendela. Melalui kaca jendela, meski samar, aku bisa melihat betapa khawatir dan serius ekspresimu saat memandangi senar yang putus. Aku semakin merasa bersalah.

Dengan sangat hati-hati aku memanggilmu. Ragu-ragu, aku bilang, "Bagaimana kalau seandainya senar yang putus dibuang saja?"

"Apa?!" nada suaramu yang tinggi membuatku kaget.

"Maaf. Ehm, maksudku... Harpa ini kan hampir tidak pernah dimainkan, kalau satu senarnya hilang mungkin tidak akan ketahuan."

"Tidak boleh begitu...," ujarmu tak sabar. "Jika senarnya diputus, bagaimana dengan mamamu nanti."

"Apa hubungannya dengan mamaku? Maksudmu ibumu mungkin? Aku tahu, ibumu pasti akan marah."

"Bukan. Ini tentang mamamu."

Aku bingung. Aku pun hanya bisa megerjap-ngerjapkan mata, menunggu penjelasan lebih lanjut.

"Kalau aku membuang senar putus ini, bisa-bisa aku tak jadi menikahimu nanti."

Aku menggaruk kepala, kian bingung, "Kamu ngomong apa sih? Memangnya siapa yang mau menikah? Anak kecil tidak boleh menikah."

"Aku bilang kan nanti, sekitar sepuluh tahun lagi."

"Lalu, apa hubungannya dengan mamaku?"

"Nenekku pernah bilang pada ibuku; saat ada benang kusut, Ibu tidak boleh memotongnya. Ibu harus mencoba meluruskan. Karena kalau tidak, Ibu akan tidak berdamai dengan mertuanya--ibu dari ayahku. Kau bayangkan apa yang akan terjadi jika kita justru dengan sengaja memutus senar ini?"

Aku hanya diam, masih bingung.

"Aku tidak mau punya masalah dengan mamamu--calon mertuaku. Makanya, senar putus ini harus disambung lagi," jelasmu.

Saat mendengar ini, aku tiba-tiba ikut merasa khawatir tak bisa menikah denganmu. "Tapi ini kan bukan benang," ujarku, berharap fakta ini bisa mengurangi resiko kegagalan menikah denganmu di masa depan.

Kau diam--berpikir, lalu bilang, "Sama saja. Kita harus membenarkan yang kusut atau putus."

***

Di tengah kebahagiaan dan kehangatan yang menjalari hati saat mendengar petikan harpa yang menggema di gedung ini, aku bersusah payah menyembunyikan senyum sebab ingat hari itu.
Mungkin kepercayaan nenekmu tentang benang kusut itu benar; kita tidak pernah menikah.

Maya Hasan baru saja menyelesaikan petikan harpanya disambut riuh tepuk tangan penonton yang memadati gedung konser mewah ini. Aku bahkan berdiri dan penuh semangat bertepuk tangan sambil menoleh ke kanan; membalas senyum suamiku yang kupaksa menemaniku menonton konser ini.


*Gambar dari sini.

P.S:
Ditulis di Reading Light Writer's Circle; Sabtu, 12 Februari 2011.
Tema: Setting di kota besar, instrumen musik memiliki peran penting dalam cerita.

Thursday, February 10, 2011

Diam

"Dan dalam keraguan, seseorang akan merasa lebih baik diam," ujar Dewi Lestari di salah satu buku kumpulan cerpennya Recto Verso.

Untuk kesekian kalinya saya mengutip kata-kata ini, baik untuk tulisan di blog seperti sekarang ini atau untuk meng-update status di Facebook.

Setahu saya, diam sebab tengah berada dalam keadaan kebingungan bukanlah suatu yang menyenangkan. Tapi sialnya, terkadang kita memang perlu melewati fase ini: diam. Tidak mengatakan sesuatu. Tidak melangkah. Tidak melakukan sesuatu. Menyimpan dan bukannya membagi apa yang seharusnya diungkapkan. Pasif dan bukannya melakukan apa yang bisa diusahakan.

Sebab ada masa dimana diam, menunggu, memperhatikan, membaca arah dan langkah adalah suatu yang diperlukan agar tak gegabah menentukan sikap. Atau semata karena bingung!


Diam-diamlah saja dulu. Aku pun akan diam dulu.

Diam bukan berarti tak bisa dibaca dan atau dipahami. Diam adalah juga bahasa. Bahasa bingung, hahaha...

Eh maksudnya, bahkan saat diam pun kita bisa memaknai dan membacai sesuatu. Sebab tetap ada proses yang tengah berlangsung meski dalam diam.

Diam-diamlah dulu. Aku pun akan diam dulu.

Sampai bertemu nanti; saat bahasa diam ini menemukan jalannya sendiri untuk bicara pada masing-masing kita. Apapun bahasa yang nanti berhasil kita dengar atau kita terjemahkan, kita akan baik-baik saja.
Semoga.


*gambar dipinjam dari sini

Monday, February 07, 2011

Rahasia Diam

dalam jeda
aku sasar
di labirin-labirin asa

saat bersama
aku hilang
di luas misteri bahasa

sebab kita terperangkap
di lahan rahasia
yang penuh dengan diam...




*gambar dari sini

Sunday, February 06, 2011

Buanglah Pacarmu pada Tempatnya

Saya suka sekali dengan foto ini.
Eh, tepatnya dengan kata-kata yang ada di foto ini:


Thanks to Rama, teman saya yang entah dari mana mencatut foto ini.

Saya suka kata-kata tersebut mungkin ada hubungannya dengan niat saya untuk mengusir seseorang yang belakangan berhasil mengacak-acak pikiran.
Jangan salah sangka, niat ini bukan karena saya membencinya atau karena terganggu olehnya. Tapi lebih karena saya ingin menempatkannya pada tempat yang tepat.
Dan tempatnya tidak seharusnya di kepala saya. Sebab dia masih hidup di tempat terjauh: masa lalu.

Demi kebaikan saya sendiri dan (mungkin juga) dia.

Eh, tapi dia kan bukan pacar saya???



*

Sunday, January 30, 2011

Minggu Hari Ini

Suatu hari nanti, saya akan merindukan hari ini. Hari minggu yang malas. Sepenuhnya bermalas-malasan setelah seminggu penat oleh rutinitas. Bebas melakukan apa saja yang saya suka. Bangun siang tanpa dihantui rasa bersalah dan diburu oleh jam kantor yang terlalu pagi. Ngomong-ngomong jam kantor yang terlalu pagi, kemarin saya ditegur oleh atasan sebab sering terlambat... :)

Saya terbangun oleh dering telepon dari seorang sahabat terbaik. Kami mengobrol selama kurang lebih dua jam, tanpa saya beranjak dari tempat tidur. Membicarakan banyak hal yang sebenarnya masalah itu-itu juga. Hanya saja entah kapan masalah macam ini berhenti dan berujung pada sebuah jawaban. Tapi saya yakin jika pun masalah ini nantinya akan menemukan akhirnya, akan ada lagi masalah baru untuk dibicarakan.

Setelah dua jam bicara di telepon, saya kembali tidur!:D

Saya terbangun lagi oleh dering telepon dari teman yang sama. Obrolan berlanjut. Kali ini, teman saya mengaku menelpon sambil mencuci. Saya pun teringat cucian saya sendiri, lalu beranjak melakukan kegiatan yang sama. Jadilah kami berduet mencuci... Maklum anak kost!

Obrolan telepon berhenti sebab lowbat.

Selesai mencuci, saya pun blogwalking. Tidak seperti hari kemarin--di mana saya tak menemukan tulisan yang sesuai selera saya--hari ini saya justru menemukan banyak sekali tulisan bernutrisi, plg tidak versi saya sendiri. Tidak ketinggalan, chatting bersama beberapa teman di akun jejaring sosial, Facebook, jadi selingan wajib.

Lalu, teman saya menelpon lagi. Mengabarkan kelanjutan kisah yang menemukan lanjutannya sendiri. Multitasking pun tak terhindarkan; saya bicara di telepon sambil chatting di Facebook dan sesekali membacai tulisan blog orang lain. Selain itu, saya mendengarkan lagu-lagu yang juga terdengar oleh teman baik saya, hingga beberapa kali kami berduet menyanyikan lagu tersebut, terlebih saat kami jeda bicara beberapa jenak sebab kehilangan bahan bicara.

Kegiatan eksis di dunia maya berlanjut hingga malam sangat larut. Meski tidak kemana-mana, meski hanya sekedar blogwalking, tapi mungkin karena namanya juga walking, saya tetap merasa kelelahan. Selain itu, saya mengunduh lagu-lagu banyak sekali sambil mendengarkan playlist Winamp favorit. Waktu sekarang menunjukkan pukul 23.42 WIB. Ehmm, lagi-lagi saya gagal tidur lebih awal. Dulu saya kesulitan tidur larut. Tapi sekarang, sejak pulang dari Jerman, saya kesulitan tidur lebih awal. Insomniasiasmusristus; begitu saya menyebut kebiasaan baru ini. Alas! Sialnya, sepertinya saya ketagihan dengan penyakit satu ini.

Berbicara tentang blogwalking, dari sekian banyak tulisan yang saya baca, ada satu tulisan yang paling berkesan. Cek di sini.

Apa yang disampaikan tulisan tersebut seolah mewakili saya. Dan alasan ini cukup untuk membuat saya menyukainya.


Aku tidak lari bersembunyi hingga mustahil kautemukan.
Aku tidak kabur terlalu jauh hingga kau kehilangan jejak.

...
Hei Tuan-Lambat-yang-Aku-Tunggu,
Ayo...kejar aku.
Kamu tahu aku hanya mau kalah olehmu
.



*

Hei Langit Biru!


Hei langit biru, apa kabarmu hari ini? Kamu sedang abu-abu, saya tahu. Tapi bagi saya kamu tetap langit biru, yang jauh tinggi hingga sulit saya jangkau. Maha luas hingga tangan saya takkan kuasa sampai. Yang selalu ada dan setia, dan akan selalu ada hingga matahari dititah berhenti bersinar dan bumi dijadikan berhenti berputar.

Hei langit biru... salahkah jika saya bilang sangat mengenalmu? Padahal sering kesulitan menebak warnamu. Dan kewalahan menghadapi betapa jauh dan luasnya birumu...

Hei langit biru... adakah kamu menebak-nebak biru yang menoreh di hatiku?
Saat kamu justru tengah abu-abu...

Tuesday, January 11, 2011

Ialah Rasa!

saya sudah mengenalinya mungkin sejak lama,
tapi hari ini saya baru mengakuinya
--untuk pertama kalinya...
Mau tau namanya?
...
ialah rasa!



gambar dipinjam dari sini

The Idea of Jealousy

jealousy and guilty feeling in this early morning...
make me hungry of food, of achievement, of true happiness at once!

it shouldn't be jealousy
it may be proud
if only there is no guilty...
so sorry...



*gambar dipinjam dari sini

Wednesday, January 05, 2011

Melangkah Sepatu Peri



Bintang menari
malam menjadi panggung

Bulan sesekali berkunjung
bernyanyi lagu pasi

aku kehilangan diri
terikat hari-hari limbung

sesak sudah memuncak menggunung
sebab terpaksa melangkah sepatu peri...




gambar dipinjam dari sini

Sunday, January 02, 2011

The Senseless Morning



The bird's singing in a wet branch of rainy season
but I pretend not to hear the songs rushing into my ears
the morning fairy blossoms a flower out silently
and I'm still in doubt to admit its beauty this early

Where will this senseless morning lead me up to?
while the darkness of night still wrap the sunshine in the far east
how can I clear up the veiled sky of mist?
when I cannot help myself from being cold in a corner of my room

The senseless morning, where will it leads me in?
when the sunshine wins the battle and thus clear the misty sky
then the evanescences complete the morning beauty,
for what I feel is nothing but pain and doubt:
how to enjoy the burned sunrise without threatening
the presence of morning dews...

The senseless morning,
give me a clue to pass this through...


Friday, March 4, 2005

Note:
photo is taken from here

Saturday, December 25, 2010

Basi

Tiba-tiba saja pikiran tentang ini merayapi dinding benak.
Kita mengenal konsep awal dan akhir. Sebab yang mengawali sesuatu akan berakibat sebuah akhir. Yang hidup pada akhirnya akan mati. Yang muda pasti akan tua. Yang tadinya suka atau cinta bisa saja berubah bosan dan berhenti samasekali mencinta.

Pada titik tersebut: hidup, muda, dan cinta menemukan ajalnya ketika sampai pada mati, tua, dan tak lagi cinta atau benci.

Tapi benarkah semua sungguhan berakhir? Sementara kita kerap mendengar bahkan mengimani konsep tentang adanya kehidupan setelah mati. Yang tua akan digantikan yang lebih muda. Bahkan, saat kita berhenti mencintai sesuatu atau seseorang, seringkali kita akan segera menemukan objek baru untuk dilimpahi cinta. Nah, jika sudah begini, bukankah yang semula adalah akhir justru menjadi titik tolak lahirnya sebuah awal yang baru? Kiranya inilah kehidupan; berkesinambungan.

Semua ada waktunya: ada tanggal terbit dan tanggal kadaluwarsa. Ada masa dimana sesuatu yang awalnya hangat akan berubah menjadi dingin bahkan basi.

Karenanya, jangan heran atas reaksiku saat mendengar kabar terbaru darimu. Rasaku padamu sudah basi sejak lama. Meskipun cukup lama waktu yang kubutuhkan berikut deretan usaha yang kuupayakan demi melupakanmu; saat rasa ini sampai pada tanggal kadaluwarsa, semua baik-baik saja.

Aku turut berbahagia saat mendengar kabar pernikahanmu. Lalu cepat lupa.
Karena kini, sudah ada dia yang memenuhi hati dan isi kepala!



*Ditulis di sesi pertemuan Reading Lights Writers' Circle. Tema: "Berakhirnya suatu masa..."

Tuesday, December 21, 2010

Lelaki Tua di Suhu Minus Lima

Dia berdiri melongok ke bawah jembatan, dimana mengalir sungai kecil yang cukup jernih. Seluruh pakaiannya hitam termasuk topi model lama yang menutupi sebagian rambutnya yang seluruhnya putih, seputih salju di sekitar. Saya pun mengenal lelaki ini hanya sebatas tampak belakang. Atau sebut saja sebatas punggung.

Meski sekelilingnya tertutup salju dan membeku, air sungai yang mengalir di bawah jembatan sama sekali tidak terganggu. Bahkan itik-itik liar masih berenang riang di sana. Saya tidak mengira bahwa itik masih bisa berenang di air yang pasti demikian dingin.

Lelaki tua di jembatan terlihat gusar, lalu buru-buru mengeluarkan sesuatu dari kantung yang dibawanya. Remah roti. Cepat ia taburkan ke bawah jembatan. Lalu, entah apa yang dilihatnya, ia berlari menyebrang jalan sambil memegang kantung berisi remah roti yang terguncang-guncang. Saya tak bisa berhenti memandanginya meski sambil terus melangkah. Lelaki tua menuju sisi lain jembatan, ia menabur semua remah roti yang dibawanya. Begitu selesai, ia melenggang tenang seolah baru saja selesai menunaikan tugas penting. Rupanya, itik liar berenang ke sisi lain jembatan dan lelaki tua mengejar demi memberikan remah roti yang sengaja disisihkannya.

Saya pun melanjutkan langkah dengan pandangan ke depan (sebelumnya saya berjalan sambil melihat ke belakang--ke arah lelaki tua). Kedua telapak tangan tersembunyi di kantung jaket sebab sarung tangan tak cukup menangkal dingin. Saya berjalan sambil menunduk, demi menghangatkan sebagian wajah dengan cara menyembunyikannya di balik syal wool warna maroon. Minus lima derajat; suhu udara pagi ini. Begitu yang saya dengar dari berita prakiraan cuaca hari ini.

Saat-saat seperti ini, sebagian besar orang akan memilih untuk berada di rumah yang hangat sambil minum teh bunga kamomil, dan bukan berada di jalanan apalagi untuk alasan memberi makan itik liar di bawah jembatan!

***

Sepertinya saya memang diberi kesempatan mengenal lelaki tua hanya sebatas pungggung. Beberapa hari kemudian, saya melihatnya (tampak belakang) hendak menyeberang jalan. Jaket hitam dan topi hitam yang sama, yang menutupi rambut seputih salju, membuat saya yakin bahwa dia memang lelaki tua yang memberi makan itik liar di bawah jembatan.




*Musim Dingin di Hamburg, 2009

Happy or Unhappy

What makes you think that I'm happy or not happy?
Moreover, me myself sometimes can't predict the idea of feeling happy or unhappy to come.
It's a vast field of world, of issues, of people around us, and of the feeling itself.
They oftentimes influence my feeling; it's my fault. I just can't always choose to be happy facing what's happening.

I may be happy this time, and then feeling sad within another second. That's an extreme shift of emotion, yes I know. But, it's possible, right?

The ups and downs are the rhythm of life's tunes. I'm still learning to enjoy the beat and get used to it.



*bengong iseng: Bandung, 20 Desember 2010*

Sunday, December 19, 2010

Tangga


Saya melihat ada tangga, di depan sana.
Sederhana, natural, dari bebatuan alam, melingkar turun dipagari pepohonan hijau.
Lalu ujungnya menghilang dibalik rerimbun pohon.

Saya suka tangga ini, tapi ragu untuk melangkah menitinya.
Sebab saya tak tahu, akan ada apa dibalik rerimbun pohon yang menyembunyikan kemana tangga ini menuju...
Tapi saya penasaran...
juga ragu...

Sekarang saya masih berdiri di dekat tangga, sibuk menimbang-nimbang langkah...

Teman Perjalanan

Saya bertemu dengannya sewaktu dalam perjalanan balik mudik, dari Lampung menuju Bandung. Ia berdiri di belakang saya saat mengantri tiket ferry. Ia menanyakan sesuatu pada saya, kalau tidak salah harga tiket. Dan dimulai dari sana kami resmi berteman, teman seperjalanan.

Sebagaimana biasa, arus balik setelah Lebaran selalu penuh sesak. Antrian tiket demikian panjang. Cuaca demikian panas. Jalur antrian diteduhi terpal, dilengkapi kipas angin besar sebagai penyejuk yang sebenarnya tidak terlalu membantu. Melewati antrian tiket, kami berjalan menuju ferry. Dari kejauhan ferry sudah tampak penuh sesak. Ia bilang bahwa kami harus cepat, agar dapat tempat duduk. Tapi percuma, ferry sudah telanjur dipadati penumpang arus balik. Banyak orang terhenti di tangga menuju kabin penumpang, sebab tidak ada lagi ruang di atas sana, sebagian lagi memilih duduk beralaskan koran di tempat yang harusnya tempat parkir kendaraan yang juga menumpang kapal. Kami pun tidak bisa kemana-mana selain ikut duduk beralaskan koran di ruang yang demikian panas.

Selanjutnya saya sibuk memperhatikan orang-orang sekitar tempat saya duduk. Ada bayi yang tidur beralas koran diantara karung dan dus-dus barang bawaan penumpang, ada yang cuek tidur berbantalkan tas berisi pakaian, ada yang makan bekal perjalanan, ada yang ngegosip, para lelaki merokok, dsb.

Tapi entah kenapa, sebab ada seorang teman, perjalanan kali ini terasa ringan-ringan saja. Kami berbagi makanan, bertukar cerita yang umum-umum saja; tentang mau kemana dari mana, kerja apa dimana, membicarakan tentang keadaan kapal dan penumpang lain di sekitar kami, dsb.

Setelah kurang lebih tiga jam berlayar, kami pun merapat di pelabuhan Merak. Dari dermaga, kami harus berjalan lagi menuju tempat parkir bus yang akan membawa kami ke kota tujuan masing-masing. Sekali lagi sebab bersama seorang teman, beban yang saya bawa tidak terlalu menyusahkan rasanya, udara panas tak terlalu mengganggu.

Hingga setiba di terminal bus, kami pun berpisah. Sampai saat itu, saya tidak tahu namanya apalagi nomor telponnya. Dia pun sebalikanya. Kami tidak saling menanyakan. Mungkin karena masing-masing kami tahu bahwa kemungkinan besar kami tidak akan bertemu lagi; atau bahwa kami memang cukup menjadi teman seperjalanan.

Saat menuliskan ini, saya bahkan tidak lagi ingat wajahnya. Tapi saya masih sangat ingat bahwa dia adalah salah seorang teman saya: teman perjalanan. Kalau saya tidak bersamanya saat itu, kemungkinan besar saya sangat tidak menikmati perjalanan menyebrang dengan ferry yang penuh sesak, yang membuat saya harus duduk beralaskan koran di tempat kendaraan yang demikian panas dan bau sebab mesin-mesin kendaraan itu sendiri.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...