Tuesday, August 14, 2012

Kartu Pos The Secret Garden

Sekira 2 tahun yang lalu, itulah terakhir kali saya mendapatkan sebuah kartu pos sebagai oleh-oleh yang dibeli di sebuah museum di Irlandia. Itu pun diberikan langsung, tidak dikirim melalui pos. Tanpa bermaksud berlebihan, menerima kiriman kartu pos berperangko dari seorang sahabat di zaman yang serba digital ini adalah sebuah kemewahan varietas baru! :D

Kartu pos (tampak depan)
Andika Budiman lah pengirim kartu cantik tersebut yang bergambarkan cover buku "The Secret Garden", karangan F.Hodgson-Burnett. Kalimat pembuka dan pesan di baris terakhirnya sudah cukup membuat saya merasa betapa Dika, salah satu sahabat terbaik saya ini, begitu mengenal pribadi saya tapi tidak pernah (seingat saya) men-judge atau menghakimi saya karena sifat-sifat dan karakter saya tersebut. Karenanya, saya selalu nyaman mengenalnya... :)

Untuk urusan teman bercerita, Dika adalah pendengar yang baik tapi juga berbahaya, hehhehe.... Saya hanya perlu bercerita sedikit, lalu Dika akan sudah dapat mengenali emosi terdalam di balik cerita saya dan memahami hal-hal yang bahkan tidak saya katakan. Saya baru bercerita A-B-C, tapi ia sudah mendengar dan memahami hingga huruf N atau seterusnya. Terdengar lebay tapi begitulah adanya.

"Neni, jangan ragu mengungkapkan perasaan, apalagi jika itu ungkapan afeksi. Seperti kata Nia Janiar (sahabat kami juga--red.), niat baik tidak pernah sia-sia." Inilah sebaris pesan Dika di kartu posnya sebelum mengucap salam.

Kartu pos (bagian belakang); sengaja blur agar isinya tidak terbaca... :p

Niat baik memang tidak pernah sia-sia, Dika. Dan ini termasuk niat baik kamu mengirim kartu pos pada "sebuah ikon" yang kemudian kamu sesali karena malu atau entahlah, namun ternyata justru jadi menginspirasi. Dan yang akhirnya membuat saya menerima kartu posnya. 

Terima kasih, kartu posnya ya, Dika. Rasa kantuk yang merusak mood seharian dan rasa sebal karena kemacetan lalu lintas yang saya bawa pulang sore ini jadi hilang seketika setelah baca kartu posnya. Mudah-mudahan kamu tidak keberatan saya menulis di sini. Saya janji saya akan balas kartunya... :)

Oh iya, kartu pos yang saya terima 2 tahun yang lalu juga bergambar perempuan. Seorang perempuan bertubuh ringkih yang memegang payung dan memandang ke arah samping di kejauhan (tidak memandang ke depan). Gambar tersebut tepatnya adalah sebuah lukisan perempuan berpayung yang di pajang di museum Irlandia tersebut. Si pemberi mengatakan bahwa kartu pos itu mengingatkan dia pada sosok saya yang menurutnya terlihat begitu "confident, but fragile at the same time". Saya cukup kaget juga mendengar frasa tersebut. 




Sunday, July 29, 2012

Rasionalisasi


Sekotak mimpi

Bukankah ini sekotak mimpi
yang tidak pernah kau pesan
meski pernah diam-diam kau inginkan?
lalu kenapa saat ia melintas, hilir-mudik
bersama-sama dengan ketukan angin
di depan jendela kamarmu yang berkabut
kau malah sangat gelisah,
bahkan menjadi sedikit kesal:
(tanpa merasa perlu membuka jendela lebar-lebar)
kau malah berani berharap
ke jendela kamarmu ia akan diantar
dan singgah tidak sebentar.



Aku Tidak Lupa

Dengar, aku tidak lupa
mungkin takkan pernah lupa
rasa ini hanya kuarahkan ke mana suka
asal tidak mendarat di tempatmu sekarang berdiri
karena aku terlalu takut; itu akan membuatmu beranjak pergi.

Tersedak Mimpi

Ia lah gadis kecil yang kemarin itu
yang gemar meniupkan tiap-tiap harapan
pada kuntum-kuntum dandelion
di padang belakang

Di antara rimbun ilalang yang tinggi
angin bulan Juli berdesing sunyi
hangat mentari adalah saksi:
ia berdiri menikmati manisnya cuaca
menghirup sebanyak-banyak udara
lalu tersedak oleh mimpi
yang baru saja ia tiupkan dengan sangat hati-hati.




Saturday, July 28, 2012

Kupu-Kupu di Telapak Tanganku

Izinkan aku merekam sekeping kenangan manis itu, Ibu:

kau lukiskan pada telapak tanganku
seekor kupu-kupu kecil
yang bersayap lengkap
namun tak bisa mengepak

di luar, langit hampir selalu abu-abu
musim semakin dingin,
daun semua gugur,
namun hati kita musim semi

kupu-kupu kecil itu mati setelah tiga hari, Ibu
namun hangat ingatan tentangnya
masih menyengat hati hingga kini--
saat diri tak tahu lagi jalan kembali
ke hangat rumahmu yang ramai namun terasa sepi

sekarang aku mengerti, Ibu
kenapa di bawah naungan langitku kini
yang selalu biru dan bermatahari
aku gemar sekali melukis bunga-bunga kecil
di telapak-telapak tangan yang subur--
mungkin diri ini mengimpi
bunga kecil akan mengundang kupu-kupu kembali




*suatu hari, di dapur yang hangat.



Thursday, July 26, 2012

Warna Laut Hari Ini

Warna laut hari ini
serupa wajahmu kemarin itu:
biru pucat,
tampak tenang:
menimang badai yang disembunyikan


lalu diam-diam
kau kayuh rinduku yang berkabut
sejauh-jauh pandangan!


Sunday, July 01, 2012

Hujan Seminggu

Kemarin aku melihat kamu di warna pelangi
lalu mendadak rindu menyergap bagai hujan
yang memang kerap turun sejak seminggu yang lalu:
adakah musim hujan yang sama
telah pula singgah di lapang hatimu?
atau hanya aku yang gelisah sendiri
di pojok musim--bimbang menimang keinginan:
antara ingin main hujan-hujanan
tapi takut sakit dan deman di keesokan?

Selembar Daun yang Terbang ke Bulan

Ada selembar daun yang terbang ke bulan, Sayang
saat malam menggigil di bulan Desember
menyaksikan dua anak kecil bermain di taman:
sepatu mereka meninggalkan jejak yang dalam
di hamparan salju yang disimbah cahaya bulan

Ada selembar daun yang terbang ke bulan, Sayang
tidakkah kau lihat bayangannya melambai-lambaikan perpisahan?
tidakkah kau dengar suaranya yang kian lama kian mirip igauan?

Ada selembar daun yang terbang ke bulan, Sayang
ada kisah yang dijejalkan ke dalam kotak kenangan



Saturday, June 23, 2012

Little Prince, Bintang, dan Aku

Saat menulis ini ada satu bintang di luar sana yg bisa terlihat dari balik pintu kamarku yang sedikit terbuka. Dia begitu genit, berkedip-kedip riang menggoda. Selagi membaca "Little Prince" untuk kali kedua, aku sudah beberapa kali menyempatkan diri menoleh bintang tersebut. Dan aku berpikir, sepertinya antena di antara kedua alis kita tidak hanya bisa menangkap basah orang yang sedang memandangi kita, tapi bisa juga menangkap basah sebuah bintang yang sedang memandangi kita!

Atau mungkin juga alasan kenapa aku bolak-balik meliriknya adalah karena Little Prince sedang berbicara tentang bintangnya. Selesai membaca, aku memeriksa keluar dan menemukan bahwa bintang-bintang malam ini begitu riang. Dan bintang yang sejak tadi bermain mata padaku adalah yg paling bersinar, paling terang, paling besar, dan satu2nya yang bisa kulihat dari tempatku tadi berbaring...


# ditulis di Jakarta, 2009.

Rinduku Padamu

Rinduku padamu
adalah abu yang masih menyimpan bara
yang ditinggalkan pengembara,
di balik rimbun pepohon nipah tepi sungai
tempat kunang-kunang berpesta
dalam gelimang cahaya

Sunday, June 17, 2012

Mwathirika: Tentang Sejarah Kehilangan dan Kehilangan Sejarah

Saya benci harus mengakui bahwa saya menangis saat menyaksikan sebuah teater boneka. Ya, teater boneka! Saya akan menceritakan sebagian besar cerita dan akhir teater boneka ini di sini, agar saya tidak lupa atau sekedar untuk membaginya pada kalian. Jadi berhati-hatilah bagi yang tidak suka spoiler.

Mwathirika adalah judul teater boneka yang saya maksud. Bertempat di gedung pertemuan IFI Bandung, 16 Juni 2012, inilah sebuah teater boneka yang berkisah tentang sejarah kehilangan dan kehilangan sejarah berlatar masa kelam Indonesia pada September 1965. Mwathirika dibawakan oleh papermoon puppet theater yang sejak awal menggunakan seni teater boneka tanpa kata untuk bicara tentang banyak hal, kepada lebih banyak orang agar sama-sama mengingat atau untuk membagi rasa.

Kisah ini terkesan sederhana, tapi dibalik kesederhanaannya ia sesungguhnya begitu kaya, baik dari ceritanya sendiri, sejarah yang melatarinya, dinamika kehidupan tokoh-tokohnya, dan lain sebagainya. Meski berlatarkan gejolak politik yang kelam, ia tidak bercerita urusan politik secara muluk dan ekstrim. Tidak "menunjuk" tentang siapa membunuh siapa. Mwathirika menceritakan kisah mereka yang mau tidak mau terkena imbas pahit dari sebuah kepentingan yang berujung pada kehilangan orang-orang terkasih.


Pertunjukkan yang mengesankan ini dimulai dengan mengenalkan Baba dan Haki; dua orang ayah yang "merupakan tetangga baik yang tinggal 'berseberangan'." Baba yang bertangan satu tinggal di rumah berwarna merah bersama dua  anaknya: Moyo (10 tahun) dan Tupu (4 tahun). Sementara Haki, tinggal di rumah berwarna hijau dengan ukuran lebih kecil di seberang rumah Baba bersama anaknya Lacuna. Lacuna adalah gadis kecil berkursi roda, bermata juga berhati besar.

(ki-ka) Moyo, Tupu, Lacuna, Haki, Baba, Anjing gila... Kisah mereka membuat saya menangis...
Keheningan di dalam ruangan, tiba-tiba hilang saat sekelompok orang bertopeng yang membawa balon merah menjajah pentas. Mereka seolah membawakan tarian dan bersuara gaduh mengelu-elukan sesuatu yang mereka lihat di layar yang menampilkan serangkain gambar. Berikutnya, teater kemudian berganti menyorot Tupu, yang baru bangun tidur dan langsung buang air di depan rumahnya. Adegan ini tentu saja menuai tawa penonton. Tupu lalu bermain sendirian di halaman rumahnya: melompat dari satu balok ke balok lain dan terjatuh. Ia lalu bermain kuda-kudaan yang terbuat dari kayu. Tepat saat ia tengah asyik menunggang kuda, tiba-tiba susana menjadi tegang akibat muncul seekor anjing hitam besar yang menyalak garang pada Tupu. Tupu yang ketakutan refleks meniup peluit merah yang selalu ia kalungkan sambil menodongkan kuda kayunya ke arah anjing. Mungkin dengan meniup peluit ia berharap sang anjing patuh padanya. 

Bersamaan dengan itu, dari dalam rumah muncullah Moyo sang kakak yang tergopoh-gopoh mengarahkan peluru ketapelnya ke arah anjing tapi tidak berhasil mengusir. Kemudian, kuda kayu pun dilemparkan ke anjing tersebut dan membuatnya lari tunggang langgang. Tupu kecil menangis, mungkin sedikit syok. Moyo berusaha menghibur adiknya. Kuda kayu yang dipakai melempar anjing rusak.

Saat Moyo kebingungan tak berhasil membujuk sang adik, Baba muncul. Ia baru saja pulang dan membawa balon merah untuk Tupu. Tupu menjadi riang kembali namun menangis lagi saat Moyo menggodanya dengan cara merebut balon merahnya dan tertawa-tawa mengikik. Kejahilan khas seorang kakak kepada adik yang disayanginya. Tak tega melihat Tupu sedih, si jahil Moyo mengembalikan balon yang segera diambil oleh Tupu lalu masuk ke rumah bersama Baba. Tak lama kemudian, Haki datang. Setelah menyapa Tupu yang kini sibuk sendiri dengan mainan barunya, ia memanggil Lacuna dan menyerahkan sebuah kotak musik. Lacuna senang sekali dengan hadiah tersebut. Bahkan Tupu pun ikut bergoyang sambil mendekati Lacuna saat mendengar musiknya. Tupu bahkan membuang balonnya dan meminta kotak musik yang tentu saja tidak diberikan oleh Lacuna.

Keesokan harinya, sekelompok sirkus keliling melewati rumah mereka. Suasana dalam ruangan menjadi demikian meriah oleh musik yang keras dan ramai, sorakan, dan tepuk tangan pemain sirkus. Kedua keluarga tertawa-tawa riang menyaksikan mereka. Dan yang menarik pada bagian ini adalah bahwa penonton diajak untuk ikut bersorak, tepuk tangan, dan pendeknya "terlibat". Perasaan terlibat pada sebuah pertunjukkan atau apa pun, meskipun kecil, ia punya dampak yang hebat. Menyenangkan sekali rasanya ada di tengah keramaian yang membahagiakan bersama boneka-boneka yang bergerak dengan bahasa tubuh selincah manusia padahal mereka hanya benda mati yang digerakkan oleh manusia-manusia kreatif dari Yogyakarta. 

Di akhir pertunjukkan sirkus keliling, seorang pemain sirkus menghampiri Baba yang tengah menonton dari jendela rumah dan memberikan secarik bendera merah. Belum habis keriangan atas pertunjukkan sirkus, penonton dibawa pada suasana malam saat sekelompok orang bertopeng menandai jendela rumah Baba dengan segititiga merah. Baba terbangun, membuka jendela tapi tak menemukan siapa-siapa. Ia lalu menyalakan rokoknya. Haki juga terbangun dan menyapa Baba. 

Baba yang terbangun sesaat setelah jendela rumahnya ditandai dengan segitiga merah.
Pagi-pagi sekali, Haki yang sedang menyapu halaman kaget melihat ada tanpa segitiga merah di jendela rumah Baba. Ia menghindar saat Baba yang menuju halaman menyapanya. Tak perlu waktu lama, Baba pun melihat tanda tersebut dan sangat marah. Ia berusaha menghapusnya dengan sapu lidi, tapi sia-sia. Ia kemudian tak memedulikan tanda tersebut dan segera mengambil kembali palu yang sejak tadi dibawanya untuk membetulkan kuda kayu Tupu. Sebelum selesai membetulkan kuda kayu tersebut, sekelompok orang bertopeng dan bersenjata datang dan memerintahkan Baba untuk ikut mereka. Baba tidak melawan. 

Baba berhenti melangkah ketika mendengar Moyo dan Tupu keluar untuk bermain baris-berbaris atau berakting tentara. Baba meminta waktu sejenak kepada orang-orang bertopeng. Ia menghampiri Moyo dan Tupu dan mengecup kening mereka. Ia sempatkan pula menyelesaikan kegiatannya sebelumnya, yaitu membetulkan kuda kayu. Ia serahkan kuda kayu yang sudah baik pada Tupu yang kegirangan dan menciumnya sekali lagi. Moyo sudah merasa ada yang tidak beres, tapi Baba hanya menepuk bahunya, menciumnya lagi kemudian pergi. Sejak kejadian itu, keriangan yang masih gegap gempita mewarnai hati para boneka dan para penontonnya seketika sirna.

Setelahnya, penonton diajak menyaksikan kepedihan dua anak yang masih terlalu kecil untuk hidup tanpa ayah. Siang berganti malam, malam berganti siang. Pada suatu waktu, Tupu merengek pada Moyo sambil membawa piring dan sendok. Ia lapar. Moyo kebingungan. Tiba-tiba muncul di hadapan mereka dua ekor kodok yang melompat-lompat. Tanpa pikir panjang, Moyo menangkap kedua kodok tersebut. Tupu memukul-mukulkan sendok ke piring tanda kegirangan saat Moyo berhasil menangkap mereka. Yang terlihat selanjutnya adalah kedua anak ini muntah-muntah. Kiranya mereka memakan kodok tersebut! Hari-hari selanjutnya Tupu sudah tidak mau makan.

Moyo tampak berlari-lari mengejar orang bertopeng sambil membawa sepucuk surat. Tupu ditinggal sendirian. Saat berhasil menarik perhatian seorang bertopeng, Moyo hanya berujar: "Baba Moyo" sambil menyodorkan surat yang kiranya ia tulis untuk Baba. Orang bertopeng melihat peluit merah di leher Moyo dan langsung menggiring Moyo yang tak pernah kembali lagi. Tupu menunggu di jendela hingga malam. Ia meniup-niup peluitnya sendirian dan suara peluitnya tidak lagi lantang. Saat siang, Tupu akan duduk di beranda rumah di samping balon merah yang ditaruh di pojok beranda sambil meniup peluit yang suaranya kian lama kian lemah. Sesekali ia akan melihat ke arah dimana ia berharap Moyo muncul.

Sejak kepergian Baba, saya sungguh berharap Haki akan muncul dan membantu mereka setidaknya memberi makan. Tapi rupanya, tanda segitiga merah di jendela rumah membuat Haki menjauhi mereka sebagai jalan aman. Kiranya tanda segitiga merah adalah berarti sebuah masalah. Ia bahkan marah saat Lacuna menghampiri Tupu dan berniat memberikan kotak musik yang kemarin-kemarin tidak diberikannya pada Tupu. 

Tampak Baba berada di dalam sel dan digiring keluar. Seorang bertopeng membawa benda serupa timbangan ke hadapan penonton dan menyusun boneka putih ukuran kecil yang pada dadanya tergambar segitiga merah. Setelah disusun berbaris ke belakang, seketika boneka-boneka putih tersebut roboh diiringi suara letusan balon merah pemberian Baba. Tupu kecil terkejut dibuatnya; musik latar yang serupa lolongan bernada sedih seolah menjadi penanda kesedihan yang tiba-tiba menyergap Tupu.

Ditengah kesedihan Tupu yang mendalam, Lacuna kembali menghampirinya dan menyerahkan kotak musik. Tupu menolak, ia sudah tidak butuh apa-apa lagi. Lacuna tak peduli, ia meninggalkannya begitu saja. Tupu tak memedulikan kotak musik, ia masih saja meniup peluit yang suaranya kian lemah dan pilu. Lalu Tupu dipeluk erat oleh yang menggerakkanya. Rumah Tupu dihancurkan sekelompok orang bertopeng.

Haki dan Lacuna keluar rumah membawa koper; mereka berniat pindah, lagi-lagi untuk alasan keamanan. Haki meminta Lacuna menunggunya sebentar, sebab ia harus kembali ke dalam untuk mengambil sesuatu. Sepeninggal Haki, Lacuna melihat rumah Tupu yang sudah berantakan, memanggil-manggil Tupu tapi tak beroleh jawaban. Ia hanya menemukan kotak musiknya di tempat ia meletakkan terakhir kali, topi Tupu yang segera diambilnya, dan peluit merah yang kemudian ia tiup dengan keras seolah berharap didengar oleh Tupu.

Sekembalinya Haki, ia hanya menemukan koper cokelatnya dan kursi roda Lacuna yang terbalik tanpa tuannya. 

***

Banyak simbol-simbol dalam kisah yang berdurasi sekira 55 menit ini; sebut saja segitiga merah, balon merah, bendera merah, peluit merah, boneka putih dengan tanda segitiga merah di dada, pasukan bertopeng, dan lain sebagainya. Meski penuh simbol dan pahit dikunyah, pementasan teater boneka yang sukses menuai standing applaus ini tetap mudah dipahami dan menggugah naluri kemanusiaan. Meskipun mungkin pemahaman tersebut hanyalah sebatas permukaan, ia mampu menggiring untuk berempati dan bahkan menguras air mata sejumlah penonton, termasuk saya. Lega rasanya saat mengetahui bahwa saya tidak sendirian menangis saat itu.

Tiket Mwathirika

P.S: 
September mendatang, papermoon puppet theatre akan tur keliling Amerika dalam rangka pementasan Mwathirika. Semoga sukses!


Sunday, June 10, 2012

Akan Ada Saatnya

Ada saatnya, percayalah, akan ada saatnya
kita merindukan burung-burung kecil
yang gemar menyibukkan kita dengan liuk kepaknya
yang kita usir sebab kerenyahan siulannya
yang kita abaikan sebab tulus kicaunya:

saat sepi adalah satu-satunya wacana
yang nyaring gumamannya

Ada saatnya, percayalah, akan ada saatnya
kita mengerti kemegahan bunga-bunga kecil
yang setia mengurung kita dengan warna
yang wanginya kita hina dalam kekeruhan pikir
yang ingin kita petik hanya agar ia gugur:

saat musim berhasil mengajarkan kita
bunga adalah pertanda semi telah tiba

Ada saatnya, percayalah, akan ada saatnya
burung dan bunga kecil akan genap maknanya
di hati yang menanggung luka dunia...

Wednesday, April 18, 2012

Perihal Menyimpan

Untuk satu dan lain alasan kita kadang harus "menyimpan". Tapi sampai kapan atau seberapa kuat kita harus menyimpan?

Menyimpan uang untuk membeli barang tertentu atau untuk berjaga-jaga kalau-kalau ada kebutuhan mendesak di masa datang. Menyimpan makanan di kulkas agar tetap segar. Menyimpan perhiasan hadiah seseorang sebab kita tak ingin benda kenangan tersebut rusak. Menyimpan cokelat oleh-oleh dari negeri yang jauh untuk teman-teman baik. Menyimpan buku-buku di meja untuk dibaca saat bosan atau saat merasa perlu membaca. Menyimpan rahasia untuk satu dan lain alasan, tak peduli bahwa rahasia itu telah juga menjadi rahasia umum. Atau menyimpannya sambil menunggu saat yang tepat untuk mengungkapkannya, tanpa pernah tahu kapankah saat yang paling tepat itu.

Uang yang disimpan pada akhirnya akan juga digunakan. Makanan yang disimpan di kulkas akan pula dikeluarkan untuk dimasak dan dimakan atau justru membuangnya sebab telah busuk di kulkas sebab lupa. Perhiasan yang disimpan akan juga dipakai saat  suatu hari dengan tanpa alasan kita tiba-tiba merasa harus memakainya sebab itulah gunanya dihadiahkan. Cokelat dari negeri jauh yang disimpan untuk teman--yang sejak kepergian ke negeri jauh itu telah pula menjadi jauh dalam bilangan jarak--terpaksa harus dibuang sebab sadar bahwa cokelat tersebut telanjur kadaluarsa sebelum sempat "diantarkan". Buku-buku yang disimpan dimeja, pada akhirnya akan dibaca, meski kedudukannya sekarang adalah nomor sekian, di mana aktifitas di dunia maya rupanya telah menjajah waktu yang dulunya adalah untuk membaca. Rahasia yang disimpan pada akhirnya akan juga diungkapkan saat ia sudah "matang". Meskipun kematangan tidak menjadikan keadaan lebih baik, tapi setidaknya ia menjadikan proses melepaskan jauh lebih mudah.

Mungkin tidak berlebihan jika kita menyebutkan bahwa waktu yang jadi indikator penting dalam proses menyimpan ini. Waktu yang "mematangkan" semua alasan menyimpan, hingga apa yang kita simpan tidak lagi bisa kita pertahankan. Akan datang saatnya kita harus melepaskan (tidak menyimpan lagi), mau tidak mau, direncanakan atau tidak. 

Dan saat hari itu datang, itulah saat yang tepat. 


Trivia Hari Ini

Sebenarnya tidak ada yang teramat spesial yang terjadi di hari ini. Tapi, saya ingin menuliskannya. 

Pukul 7.57 saya sudah sampai di absensi di kantor, dan ini berarti saya tiba 3 menit lebih awal dari jam kerja yang sudah ditetapkan. On time! Awal yang bagus untuk hari ini. Sudah sempat pula memesan nasi kuning untuk sarapan. 

Sebab Nitnet* tidak dibawa ngantor, saya langsung "turun gunung" dan mengedit powerpoint Fun Learning English 6 begitu selesai sarapan. Istilah "turun gunung" memang biasa kami (teman-teman editor--red.) gunakan saat harus ke lantai bawah dan mengedit di monitor komputer. Ruang editor memang terletak di lantai dua Green House--sebutan untuk gedung yang kami huni dan kami cintai ini. Suasana sudah tidak lagi sama memang. Sepi. Meski penghuninya baru saja bertambah sejak Jumat kemarin, nuansa sepi masih belum pergi.

Sebab tidak bawa Nitnet, dan memang belum mood browsing materi karakter bangsa atau video untuk powerpoint, sebagian besar kegiatan hari ini adalah copy paste icon penunjang powerpoint lengkap dengan menambahkan efek animasi dan hyperlink-nya. Mengedit sampai saatnya makan siang. Sekarang, makan tidak lagi dikantin, melainkan membawa "misting" dan makan di meja kerja. Kebiasaan ini bermula sejak bulan April ini. 

Selesai makan, salat, dan istirahat, saya kembali turun gunung dan lanjut mengedit sampai waktu Asar. Nah, setelah salat Asar, turun gunung lagi tapi sambil bawa novel Gaardner, Dunia Sophie. Lalu ngantuk menyerang. Saya putuskan untuk naik gunung. Mengobrol bersama teman-teman editor, tentang Maemunah dan Moemaneh (pelesetan berbahasa Sunda); tentang Johari dan  pelesetannya (jauh hari); tentang golodok yang saya kira adalah kerupuk, tapi kemudian sadar bahwa yang saya maksud adalah dorokdok.

Ada Ipeh yang hari ini datang ke kantor sebelum istirahat, lalu ada juga Cimot dengan penampilan barunya (berjilbab) yang datang saat sore.

Gosip kemarin masih ramai dibicarakan, tapi saya malas ikut membahas beramai-ramai. Bukan tidak peduli, hanya merasa sedikit tidak enak--entah kenapa atau kepada siapa. 

Beberapa jam menjelang jam pulang kantor, ngantuk rupanya kian gigih menyerang terlebih saat saya membaca Dunia Sophie. Lalu tiba-tiba ingin batagor sepulang kantor. Maka tepat jam 5, berangkatlah ke Buah Batu bersama Teh Nita, tapi jadinya beli bakso malang. Ngobrol sampai magrib, dan hujan tiba-tiba deras. Saat di angkot menuju ke kostan, saya melamun di angkot--bukan tentang saya--tentang orang yang menjadi objek gosip hangat kemarin dan hari ini. Kasihan. Kalaupun memang dia bersalah, tetap saja kasihan. Sesekali berdoa agar hujan reda saat saya harus turun angkot dan berjalan ke kostan. Doa saya terkabul. Ada genangan air di jalan depan gang meski hujan hanya sebentar mengguyur.

Facebooking dan menemukan jejak sinkronisasi dengan seseorang. Tapi tidak mau terlalu dipikirkan. Lalu blogwalking dan menemukan tulisan bertema sinkronisasi. Ini yang paling berkesan, dari kuwacikecil, tentang kisah nyata yang sedih, yang diangkat ke dalam sebuah teater boneka. Lalu disambung dengan cerita sinkronisasi dari salamatahari. Sepertinya saya memang gandrung dengan cerita sinkronisasi macam ini. Maklum, saya pun pernah mengalaminya--sering malah. Tapi yang paling berkesan adalah sewaktu berada di Hamburg, Jerman. Begitu luas dan banyaknya orang asing di Hamburg, siapa sangka kalau  ternyata satu-satunya sahabat baik dari seorang sahabat yang lain (yang juga ke Jerman, tapi tinggal di lain kota) adalah juga teman Ibu angkat tempat saya menumpang selama di sana. Ibu angkat memang sering bercerita tentang teman Indonesia--begitu ia menyebutnya--yang ia kenal saat menjalani studi penyetaraan yang wajib diikuti non Eropa yang ingin kuliah di Eropa. 

Suatu hari, saya bercerita pada Ibu bahwa saya mencari alamat seseorang--yang namanya kebetulan sama dengan nama teman Ibu. Entah pada poin apa, kami tiba pada dugaan bahwa orang yang saya cari adalah teman Indonesia Ibu. Ibu menyuruh saya mengirim email pada sahabatnya yang mungkin adalah sahabat baiknya teman saya, untuk klarifikasi perihal dugaan kami. Saat email dibalas, terbukti bahwa orang yang kami bincangkan di meja makan siang itu adalah memang orang yang sama. Die Welt is klein. Dunia itu kecil! 

Saat menulis ini, di luar hujan deras sekali. Pukul 21.24 tertera di pojok kanan bawah layar Nitnet.



*my netbook.

Monday, April 02, 2012

Tentang Daun #8: Pinky Promise

Pinky promise:
sudah membiru
di jejak waktu yang renyah
dikunyah penantian.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...